Mungkinkah Menulis Fiksi Dalam 100 Kata ? (bagian 1)

Mungkin.

Terlebih dahulu mari kita meninjau contoh fiksi mini yang hanya terdiri dari 100 kata :

MABUK

“ Lagi ! “

Waitress melangkah gontai kearahnya. “ Anda sudah mabuk berat tuan “

“ Aku tidak mabuk bodoh ! “ katanya. Ia menuang bir kedalam gelasnya, warnanya kuning dan berbusa. “ Ini air kencing yah ? Hehehe…“

Waitress menghela nafas. “ Baiklah. Jika nanti tuan ingin ketoilet, panggil saja aku “

Ia meminum habis bir-nya, kemudian berdiri sempoyongan. Mulutnya mencibir kepunggung waitress. Dari selangkangannya mengucur air kuning berbusa.

Ia duduk kembali. Minum, lalu kencing lagi. Terus-menerus minum dari, sekaligus kencing pada gelas yang sama.

“ Ini baru bir ajaib, dari tadi tak ada habis-habisnya !? “. Dahinya berkerut.

Sumber : antojournal.com kategori flash fiction

Cerita yang baru saja anda baca diatas dsebut Flash fiction, sudden fiction, short short story, atau microfiction.

Sesuai namanya, flash fiction adalah cerita mini yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik.

Flash fiction bukan kategori baru. Hanya saja belakangan ini semakin meningkat popularitasnya seiring berkembangnya sastra dunia maya.

Karakteristik flash fiction yang pendek, padat, kuat & cepat dianggap sesuai dengan tipikal pengguna internet yang enggan membaca tulisan panjang.

Belum ada kesepakatan resmi tentang jumlah kata sebuah cerita untuk dapat digolongkan kedalam flash fiction.

Sebagian beranggapan, jumlah kata 300 – 1000 kata masih bisa disebut flash fiction, berada diantara microfiction (10 -300 kata) dan cerpen tradisional (3000 – 5000 kata). Sebagian lebih ekstrem lagi membatasinya maksimal 55 kata.

Namun yang populer adalah dibawah 100 kata diluar judul dan nama pengarang. Aku ikut kelompok ini.

Lalu bagaimana caranya menulis cerita fiksi hanya dalam 100 kata ?

Nah, mari kita belajar bersama dengan flash fiction MABUK diatas sebagai contohnya :

Memiliki Awal, Tengah & Akhir

Awal : memaparkan keberadaan seorang pemabuk pada sebuah bar.

Tengah : Mengetengahkan konflik yang terjadi antara waitress disatu sisi, khawatir tokoh utama kita mabuk & membuat ulah di bar-nya.

Sementara disii lain sang tokoh bersikeras mengklaim dirinya tidak -belum- mabuk (tak ada pemabuk yang mengakui dirinya mabuk :)

Akhir : Sang tokoh bingung dengan logika berpikirnya sendiri, mengapa bir didalam gelasnya tak habis-habis meski dia terus meminumnya. Minum air kencing sendiri adalah pertanda bahwa dia sebenarnya telah mabuk seperti dugaan waitress

Memiliki elemen cerita yang utuh

Karakter : ada dua, yaitu si pemabuk sebagai tokoh utama dan waitress.

Karakterisasinya jelas. Pemabuk melalui ucapan & tingkahnya betul-betul digambarkan sebagai seorang pemabuk, meski tak satupun kata ‘pemabuk’ tertera didalam cerita. D

an waitress, melalui kalimat ‘menghela nafas’ digambarkan layaknya pelayan bar pada umumnya dalam menghadapi pelanggan mabuk. Khawatir & was-was.

Setting : Menurut anda dimana cerita diatas bertempat ? Bar ! Tepat sekali. Tapi adakah kata ‘Bar’ dalam cerita 100 kata tersebut ?

Tidak ada bukan.

Penulisnya hanya memberikan pertanda; waitress, pelanggan mabuk & bir. Dimana lagi semua itu bisa berkumpul kecuali di bar.

Cerita 100 kata tak menyisakan ruang untuk mendeskripsikan bar itu; meja-meja seisi ruangan, kursi tanpa sandaran didepan meja bartender, lemari pajang dengan jejeran botol minuman bermerek, gentong bir, atraksi bartender meracik minuman, lampu temaram, dst, dst.. P

ilih satu atau dua kata saja yang bisa merepresentasikan tempat itu. Selebihnya buang & biarkan pembaca mendeskripsikan bar itu melalui imajinasinya sendiri.

Konflik : Konflik eksternal terjadi antara waitress vs si pemabuk;

Tuduhan vs penyangkalan. Kekhawatiran vs ketidakpedulian. Sementara konflik internal terjadi didalam diri si pemabuk; Mulai mempertanyakan logika berpikirnya sendiri. Ini bir koq koq diminum dari tadi tapi tak ada habisnya ? (Dasar pemabuk :) )

Resolusi : Penulis memberikan kesimpulan di akhir cerita bahwa tak ada orang mabuk yang sadar dirinya telah mabuk. Itu sekaligus menjadi tema (pesan moral) yang hendak disampaikan.

Pesan ini disampaikan melalui adegan pemabuk meminum bir, lalu kencing pada gelas yang sama, dan meminumnya kembali secara berulang-ulang, berhubung bir dengan air kencing sama-sama berwarna kuning & berbusa :)

Anda ingin mengetahui cara menulis fiksi mini 100 kata lebih lanjut  ? (bersambung ke Bagian 2)

copyright @2010 indonovel.com

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. agustini suciningtias says:

    jazzakumullah mas , tulisannya jelas banget , aku nyari2 bagian ke 2nya nih masih bersambung kan?

  2. cerita fiksi 100 kata yang tak terduga. :)

Speak Your Mind

*