Bagaimana Cara Menulis Flash Fiction Dalam 3 Langkah Mudah

Ada 3 tahap menulis yang bisa memudahkan Anda menulis flash fiction.

Mengapa saya tahu ?

Karena saya telah menghasilkan puluhan flash fiction dengan menggunakan tahapan tersebut.

Jika 3 tahap menulis tersebut bekerja bagi saya, kemungkinan besar juga akan bekerja bagi Anda.

Kedengarannya menarik ?

Jadi mari kita lihat apa saja tahap-tahap tersebut.

3 Tahap Menulis Flash Fiction

Catatan : Artikel ini berjumlah 1323 kata. Jika Anda ingin artikel tips menulis yang tipis, Anda bisa mencarinya di situs lain.

#1 Tahap Perencanaan Flash Fiction

Tahap ini dimulai saat sebuah ide melintas dikepala Anda.

Ide itu mungkin berbentuk humor, satir, sarkasme, pesan moral, fabel, kisah nyata, dan… (silahkan tambahkan sendiri).

Anda bisa mendapatkannya dari obrolan di kafe. Ketika membaca majalah….  menonton TV… saat Anda pergi-pulang kerumah…. atau bila Anda sedang duduk sendiri.

Kadang-kadang ide itu berupa cerita utuh dari awal sampai akhir. Tapi ide jenis ini jarang muncul.

Ide yang muncul lebih sering berupa sketsa.

Misalnya, sebuah pesan moral yang hendak Anda sampaikan… Atau kritik sosial yang ingin Anda suarakan ke publik.

Nah, ide seperti ini butuh pengolahan lebih lanjut.

Flash fiction berikut adalah contoh yang saya bangun dari sketsa gagasan :

IRING-IRINGAN PRESIDEN

Tetua semut berkisah. “Saat iring-iringaan pasukan Raja Sulaiman hampir saja melindas, tiba-tiba anak Daud itu turun dari keretanya. Beliau menyuruh pasukannya berhenti, menunggu sampai kawanan semut tiba diseberang jalan..”

“Tapi itu ribuan abad lalu, Kek.” Semut muda memprotes. “Lagipula, kereta penguasa sekarang tertutup kaca gelap. Mustahil melihat kita.”

Seberang jalan yang mereka tuju teramat jauh. Sementara dari kejauhan, sirene patwal presiden terus mendekat.

“Jangan takut. Penguasa sekarang sama bijaknya dengan Raja Sulaiman.“ Tetua semut meyakinkan.” Tuhan mereka sama.”

Maka, kawanan semut pun meyeberang.

Iring-iringan presiden menggilas mereka tepat ditengah jalan. Tak seekor pun hidup untuk kembali mengisahkan kebajikan Raja Sulaiman

Gagasan flash fiction diatas bermula  saat saya sedang menonton TV.

Waktu itu stasiun TV ramai memberitakan arogansi patwal presiden di jalan raya ibukota.

Disaat bersamaan, sebuah kisah tentang Raja Sulaiman muncul dikepala saya -Mungkin ceritanya juga familiar bagi Anda ?

Alkisah dahulu kala…. Raja Sulaiman sedang berkonvoi bersama balatentaranya. Mereka melintasi sebuah jalan dimana sekawanan semut hendak menyeberangi jalan.

Raja bijak itu memerintahkan pasukannya berhenti. Mereka menunggu sampai kawanan semut selesai menyeberangi jalan.

Nah, situasinya berbeda dengan tabiat penguasa dizaman sekarang.

..Dan korelasi kisah beda zaman inilah yang saya jadikan titik tolak merangkai sebuah flash fiction.

Yang pertama saya lakukan adalah mereka-reka sebuah kerangka cerita dari awal sampai akhir.

Tahap ini mungkin membutuhkan sebuah kertas guna mencatat setiap kemungkinan skenario.

Skenario baru akan membawa kisah kawanan semut & Raja Sulaiman ke zaman modern. Hanya karakter Raja Sulaiman diganti menjadi Presiden sekarang.

Skenario itu akan menjawab pertanyaan :

  • Apakah semut itu selamat sampai keseberang ?
  • Apakah rombongan presiden itu punya kualitas yang sama dengan raja Sulaiman ?

Pertanyaan terakhir sekaligus menjadi moral cerita yang hendak disampaikan.

Sampai disini kerangka plot telah jadi, lengkap dengan 4 unsur wajib dalam fiksi :

1. Konflik (semut vs patwal presiden, mahluk kecil vs penguasa)

2. Karakter (semut)

3. Setting (jalan raya)

4. Resolusi (pesan buat penguasa agar belajar pada kebajikan raja Sulaiman)

………Dan saya juga beranggapan, kalau cerita ini lebih baik diceritakan melalui sudut pandang semut (personifikasi).

Namun itu baru bahan mentah untuk melangkah ke tahap 2.

Kesimpulan/Tips

“ Kembangkan ide/tema cerita anda dalam satu kerangka cerita yang utuh dari awal sampai akhir.

Cukup satu konflik saja dalam satu cerita.

Tetapkan jumlah karakter yang layak hadir  berdasarkan konflik tersebut.

Tentukan latar tempat dan waktu terjadinya cerita (setting). “

#2 Tahap Penulisan Flash Fiction

Rahasia menulis flash fiction 100 kata ada pada pembukaan.

Banyak flash fiction gagal karena penulisnya memulai kalimat pertama dengan deskripsi… atau narasi berlebihan mengenai latar belakang cerita.

Itu bagus jika  anda ingin menulis cerpen atau novel.

Tapi pada flash fiction, cerita sebaiknya lansung dimulai dengan konflik.

Supaya lebih ringkas, mulai cerita lansung disaat krisis (puncak konflik) dan tepat di tempat (setting) terjadinya konflik.

Coba lihat kembali contoh flash fiction diatas.

Tema cerita yang membandingkan tabiat penguasa dahulu Vs. sekarang telah menciptakan konflik diantara semut. Konflik itu berupa perbedaan pendapat.

Krisis (puncak konflik) terjadi saat kawanan semut hendak menyeberangi jalan. Sementara suara sirene patwal presiden terdengar semakin dekat. Situasi itu menciptkan suspense.

Semut tua memilih untuk menyeberang.  Dia yakin penguasa sekarang (presiden) sama baiknya dengan Raja Sulaiman…. Bahwa rombongan presiden akan berhenti & menunggu sampai kawanan semut tiba diseberang jalan.

Sebaliknya, semut muda memiliki keyakinan berbeda.

Seperti Anda lihat, saya menulis pembukaan dalam bentuk dialog antara semut tua yang beroposisi biner dengan semut muda.

Flash fiction 100 kata tidak memungkinkan ruang untuk pengantar

Cerita diatas tidak menjelaskan kenapa semut itu sampai dijalan ? Apa maksud mereka menyeberangi jalan ? Berapa jumlah mereka ?Bagaimana situasi jalan saat itu ? Apakah cuaca cerah, mendung atau hujan ?

Tidak mungkin pula menulis tentang berapa jumlah rombongan presiden ? Apa jenis kendaraan mereka ? dari mana asal mereka dan kemana tujuannya ?

Ketidakhadiran deskripsi seperti diatas tidak akan menggagalkan tujuan cerita.

Nah, bagian pembukaan telah selesai

Pertengahan cerita saya isi dengan sebuah dialog dari semut tua yang mengambil keputuan untuk tetap menyeberangi jalan.

…Dan saya cuma perlu satu lagi narasi pendek untuk mengakhiri cerita, yaitu…….  rombongan presiden ternyata tidak berhenti dan melindas mati semua kawanan semut.

Ending tersebut berupa resolusi yang  menyampaikan moral cerita kepada pembaca…. Bahwa tabiat penguasa sekarang tidak meneladani Raja Sulaiman yang begitu menyayangi mahluk kecil (rakyat jelata).

Kesimpulan/Tips

“ Pembukaan cerita harus dimulai disaat krisis (puncak konflik).

Konflik bisa dilukiskan dalam bentuk satu baris narasi pendek, atau masing-masing satu dialog antara dua pihak.

Konflik antar karakter yang berbentuk dialog  cukup dalam satu atau maksimal dua dialog dari masing-masing karakter dengan tanda petik ( “ ….“ ).

Narasi pendek sebaiknya maksimal satu baris diawal, tengah dan akhir, yang menyelingi dialog-dialog antar karakter.

Kalimat terakhir, baik berbentuk dialog maupun narasi hendaknya menjadi pengikat cerita secara keseluruhan (resolusi)”

#3 Tahap Pengeditan Flash Fiction

Menulis di microsoft word memudahkan Anda mengetahui jumlah kata yang telah terpakai –coba tengok disudut kiri bawah.

jika hasilnya lebih dari 100 kata, itu tanda untuk mulai mengedit.

Rata-rata hasil tulisan saya lebih 10-20 kata selama menerapkan teknik diatas.

Sekarang, bagaimana cara mengetahui kata yang harus dibuang  ?

Berikut caranya :

Cukup melukiskan konflik dalam satu atau maksimal dua kali dialog antar karakter yang berbeda pendapat.

Isi dialog lansung ke pokok masalah yang mereka pertentangkan.

Jadi dialog yang sekedar basa basi harus dibuang.

Contohnya seperti…. selamat pagi ….. apa kabar…..  tolong jelaskan maksud anda….. baiklah akan saya jelaskan mengapa saya berbeda pendapat denganmu…… dsb.

Membuang kata keterangan yang mengikuti dialog

Contohnya seperti …. kata semut muda dengan nada jengkel…. teriak semut tua dengan keras ……kata di fulan sambil bersungut-sungut.

Kata jengkel, teriak, dengan keras, bersungut-sungut adalah jenis kata yang hadir tidak menambah, hilang tidak mengurangi.

Jika isi dialog anda kuat, maka pembaca bisa merasakan kejengkelan, kemarahan dan alasan penutur dialog bersungut-sungut.

Jenis kata yang sama kerap pula dijumpai pada narasi.

Misalnya… mata mereka melihat…… dia mendengar dengan telinganya sendiri…… patwal presiden itu melaju diatas jalan raya yang mulus……..

Mengganti kalimat yang panjang dengan kata yang bermakna ganda

Contohnya …  pencuri itu melangkah diam-diam dan hati-hati agar tidak ketahuan sipemilik rumah…

…….Diganti dengan……... pencuri itu mengendap-endap.

Coba terapkan 3 tips diatas.  Anda mungkin heran melihat jumlah kata berkurang signfikan tanpa mengubah jalan cerita.

Kesimpulan/Tips

“ Isi dialog sebaiknya lansung kepokok permasalahan, tanpa basa-basi.

Hati-hati dengan kata keterangan yang mengikuti setiap akhir dialog.

Buang setiap kalimat pada narasi yang sifatnya menjelaskan apa yang sebenarnya sudah jelas.”

Kembali ke Anda

Biasanya, satu teknik menulis hanya cocok bagi satu sudut pandang penceritaan.

Jadi silahkan cari teknik yang sesuai bila anda mencoba menceritakan kisah dari sudut pandang berbeda.

Saya menganjurkan agar anda luwes dan berani mengeksplorasi teknik bercerita anda sendiri.

Selanjutnya…

Saya ingin mendengar tanggapan Anda atas topik ini pada kolom komentar dibawah.

…Oh yah, jangan lupa berbagi artikel bermanfaat ini pada teman Anda via facebook & twitter

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia