Mengapa Penulis Flash Fiction Harus Menggunakan Teknik Show Don’t Tell ?

Tiga bulan lalu untuk pertama kalinya saya membaca flash fiction 100 kata.

Judulnya Pengakuan karya Harvey Stanbrough, disusul Dragon Tales karya S. Joan Popek, (penulis yang menenerbitkan ezine flash fiction The Popper Gazette).

Ceritanya dimulai dipertengahan aksi, berjalan cepat, dan berakhir mengejutkan.

Kategori ini menawarkan pengalaman membaca cerita hanya sekedipan mata (yah, betul-betul sekejap).

Siapa sangka kesan yang ditimbulkannya mengendap berhari-hari. Kupikir saya telah jatuh cinta pada genre ini.

Maka, sebagai orang yang gemar menulis fiksi, kuputuskan mencoba menulis fiksi mini 100 kata.

* * *

Awal menulis flash fiction pertamaku yang berjudul Rekruitmen kukira bakal mudah saja.

Menulis fiksi dalam 100 kata sungguh perkara gampang. Terbukti draft awal bisa selesai tak kurang dari 20 menit. Hasilnya jangan ditanya.

Itulah fiksi terburuk yang pernah saya tulis seumur hidup. Cukup layak dijadikan contoh kasus pengkhianatan terhadap prinsip terpenting dalam penulisan fiksi; show don’t tell (tunjukkan, jangan katakan) :

“ Pada suatu hari, seorang pemuda ikut pengajian sebuah kelompok keagamaan. Pemimpin kelompok menanamkan ideologi jihad secara ekstrim kepada seluruh jamaahnya. Otak jamaah berhasil dicuci, kecuali pemuda itu. Sang pemuda merasa dalam hati kecilnya bahwa itu pemahaman yang keliru. Menurutnya, tak ada golongan yang berhak memaksakan kebenaran dan menyalahkan golongan diluar mereka. Ia lalu memutuskan keluar dari kelompoknya saat itu juga.“

Datar. Sukar menemukan orang yang sudi menghabiskan waktunya membaca cerita kronologis.

Lagipula cerita diatas terlihat seperti Berita Acara Penyidikan 🙂

Terbiasa menulis cerpen paling kurang 1.500 kata, membuat saya berkesimpulan, kalau memberitahu (tell) pembaca adalah jalan terbaik mengakali pembatasan maksimal 100 kata.

Mustahil rasanya menampilkan (show) gambaran mental kepada pembaca dengan mendramatisir suasana, melukiskan pemandangan, menghidupkan karakter, serta mengaktifkan adegan.

Atau jangan-jangan, inilah tantangannya ?

Mungkin disinilah letak seninya menulis flash fiction ?

* * *

Membaca flash fiction Pengakuan Harvey Stanbrough & Dragon Tales karya S. Joan Popek, serasa menyeret saya kedalam situasi yang sedang diceritakan.

Cerita berjalan interaktif. Plot didramatisir. Emosi karakter tersurat lugas. Adegan begitu hidup. Semuanya itu mampu diditunjukkan penulisnya kedalam kurang dari 100 kata. Tanpa kalimat deskriptif spesifik, mereka berhasil dengan gemilang menerapkan prinsip show don’t tell.

Lalu mengapa saya  gagal ?

Sebabnya, sejak awal saya sudah  keliru memahami apa yang dimaksud show, don’t tell.

* * *

Pemahaman mengenai show don’t tell memang kerap membingungkan. Rata-rata penulis fiksi tahu dan mendengung-dengungkan pentingnya pemakaian prinsip ini.

Masalahnya banyak penulis pemula semacam saya keliru memahaminya.

Sama seperti kebanyakan artikel tips menulis fiksi yang bertebaran di internet, yang mengartikannya sebagai cara melukiskan karakter lewat daftar spesifik; bentuk muka, kebiasaan, gestur, mimik, tabiat, ciri khas, dsb,

…Atau melukiskan detil-detil fisik tempat kejadian; gunung indah, pemandangan laut, perabotan kamar, dsb. Seolah menyajikan rincian fakta-fakta otomatis menampilkan (show).

Sesungguhnya, menampilkan berarti membuat pembaca aktif & ikut hadir kedalam suasana cerita.

Menampilkan memungkinkan pembaca mengalami cerita melalui tindakan, kata, pikiran, indera, dan perasaan para karakter, ketimbang melalui ringkasan, deskripsi dan eksposisi sang narator.

* * *

Menampilkan bersifat sinematik. Kata-kata tak ubahnya kamera yang menyorot lansung adegan yang terjadi.

Disini penulis berfungsi netral sebagai kameramen. Menampilkan fragmen demi fragmen tanpa melibatkan diri secara lansung. Kameramen menghindari mengintervensi pembaca.

Penulis enggan membiarkan karakternya berkata ‘ Aku marah padamu ‘, tapi menunjukkan kemarahan karakter melalui perilaku/tindakan orang marah, seperti wajah memerah, alis bertaut, nafas cepat, memukul, atau melempar piring, dsb.

Penulis bekerja objektif bak kameramen yang menunjukkan gambar demi gambar, dan membiarkan pembaca menginterpretasi sendiri rangkaian gambar-gambar sebagai satu kesatuan cerita tak terpisahkan.

Itulah sebabnya, mengapa terlihat aneh memelototi adegan konyol dihampir semua sinetron Indonesia, dimana sesosok karakter disorot tengah sendirian (dengan mulut tertutup), namun tiba-tiba terdengar suara (narrator) yang memberitahukan isi pikiran/perasaan sang karakter kepada pemirsa. Ironis sekali.

Memanfaatkan kelebihan sinematik yang mampu menvisualisasikan isi pikiran lewat gambar emosi, mimik, gestur, tindakan dan dialog masing-masing tokoh, pastinya prinsip show don’t tell inheren dengan sendirinya pada sebuah sinema.

Pemirsa gampang mencerna cerita melalui gambar. Toh tetap saja sutradara amatiran itu memilih metode pemberitahuan lansung mengenai isi pikiran tokoh memakai suara narrator.

Disini terlihat sutradaranya-lah yang gagal menvisualisasikan jalan cerita, lalu memilih jalan pintas; Pemberitahuan, pemberitahuan. Buat para pemirsa, ini loh isi pikiran sang tokoh.

* * *

Guna meluruskan kekeliruan, saya memilih berguru pada salah seorang terbaik dibidang ini. Ernest Hemingway.

Salah satu teknik penerapan show, don’t tell Hemingway kedalam cerita-cerita pendeknya, khususnya ketika menampilkan setting, yaitu meminjam mata/sudut pandang salah seorang tokoh, baik melalui adegan atau tindakannya.

Deskripsi sebuah lokasi tidak dituturkan lansung oleh subjektifitas penulis.

Hemingway memilih menghadirkan karakter terlebih dahulu ke lokasi tersebut.

Karakterlah yang terlibat – atau melibatkan diri– secara lansung dilokasi/setting.

Karakter berinteraksi secara fisik dengan situasi lewat tindakan atau gerakan. Semisal, pemandangan indah dipantai ditampilkan oleh sentuhan telapak kaki karakter diatas hamparan pasir nan lembut; riak rambut tertiup semilir angin; hidung menghirup asin bau laut, dsb.

Jarang kita temukan kalimat panjang bertele-tele mengenai pemandangan pada karya-karya Hemingway.

* * *

Melukiskan setting tanpa kehadiran karakter pada tempat & waktu kejadian itu memungkinkanpenulis kembali terjebak untuk memberitahu pembaca.

Saat pemandangan atau sebuah ruangan dilukiskan, pun dengan detil yang mendekati aslinya melalu teknik olah kata & racik kalimat tingkat tinggi, penulis sesungguhnya masih saja berupaya memberitahu pembaca, bukan menampilkan.

Ketiadaan karakter dilokasi yang dilukiskan membuat pembaca berjarak dari cerita.

Pembaca itu manusia. Dia butuh hadir pada cerita dalam wujud seorang manusia (karakter) juga yang tengah melihat pemandangan tersebut,

Penulis kreatif akan membiarkan pembaca menemukan sendiri apa yang sedang penulis coba tunjukkan, ketika menonton sebuah karakter bertindak atau berdialog.

Pembaca lebih suka menonton aktor-aktor memerankan suatu peristiwa di panggung sandiwara, daripada mendengarkan seorang dramawan monolog berdiri di panggung melukiskan karakter, setting, konflik, alur cerita dari awal sampai akhir.

* * *

Harvey Stanbrough & Joan Popek memahami teknik ini. Harvey Stanbrough misalnya dalam Pengakuan, memilih menampilkan cerita memakai dialog.

Gereja sebagai tempat kejadian berlansung dilukiskan lewat karakter seorang jamaah sedang mengaku dosa kepada pendeta dibilik pengakuan.

Tak ada deskripsi detil tentang gereja, tentang bilik pengakuan, tentang pakaian pendeta, dsb.

Malah kata ‘gereja’ tidak tertera sama sekali. Hanya ada dialog antara dua orang dari awal sampai akhir. Namun orang yang membaca fiksi mini ini boleh merasa seakan-akan sedang berada disebuah gereja yang sakral, sepi, indah & khusuk.

* * *

Ibarat seorang kekasih, pembaca tidak ingin mendengar penulis fiksi mengatakan ‘ aku mencintaimu’.

Pembaca ingin penulis mewujudkannya dalam bentuk tindakan & perbuatan.

Show, don’t tell!

copyright @2010 Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia