Cara Menulis Cerita Pendek Yang Bisa Anda Pelajari Dari Kumcer Ernest Hemingway

Nah, sekarang kita akan meresensi salah satu kumpulan cerpen terbaik Ernest Hemingway.

The Fifth Column (Angkatan Kelima).

” Pada jaman dulu mereka menulis betapa manis dan terhormat orang yang mati demi negaranya. Tapi dalam perang modern kematianmu tidak lagi manis dan terhormat. Seperti seekor anjing kau akan mati tanpa alasan yang jelas.. (Notes for the Next War, Ernest Hemingway) “

Melalui 3 baris kalimat notes-nya diatas, Ernest Hemingway mencoba mengidentifikasi makna perang di era modern sebagai latar 1 karya drama, dan 4 cerita pendek mengenai kehidupan manusia dalam bukunya ini.

Bagi yang pernah menonton film bersetting perang semacam Brave Heart, Lord of The Ring, The Last Samurai, maka bersiaplah untuk kecewa saat membaca buku kumpulan cerita pendek ini.

Anda takkan menemukan seorang pun pahlawan didalamnya.

Perang yang ‘seharusnya’ mengisahkan tokoh pejuang, pemberani, ditangan Hemingway malah diisi oleh para penakut, pengecut & pengkhianat sebagai tokohnya.

Tapi disinilah kekuatan utamanya.

Peraih Nobel Kesusateraan tahun 1954 ini membawa kita hadir ditengah kancah Perang Sipil Spanyol tahun 1937 untuk menyaksikan betapa perang hanya semata aktivitas saling membunuh antar manusia. Tak kurang, tak lebih.

Tema Besar dalam Gambaran Kecil

Pada cerpen PENGADUAN (Hal.161-183), tokoh Aku (sudut pandang orang pertama subjektif) bersama seorang Waiter Bar terjebak dalam konflik bathin.

Keduanya terpojok pada keharusan mengadukan seorang kawan lamanya (Luis Delgado) yang dalam perang tersebut berdiri dipihak lawan mereka.

Tokoh Aku dan Waiter bar diawal cerita saling mengharap dan menekan satu sama lain untuk memikul tanggung jawab mengadukan Lusi Delgado pada markas polisi pemerintah.

Mereka pada satu sisi terbebani dengan keberanian Luis Delgado yang hadir di Bar tersebut yang notabene berada dalam wilayah demarkasi mereka.

Disisi lain mereka tidak mau dianggap berkhianat karena tidak melaporkan keberadaan sang musuh tersebut kepada polisi.

Dengan cara bertutur yang kuat dan cepat khas Hemingway kita juga disodori oleh deskripsi Bar Chicote’s sebagai latar tempat.

Meminjam Bar tersebut, Hemingway menelanjangi sisi kemanusiaan kita yang cenderung tidak masuk diakal. Bagaimana para pengunjung bar yang baru saja membunuh dipagi hari atau mereka yang dijadwal untuk maju ke garis depan esoknya bisa terlibat dalam pembicaraan dengan topik-topik ringan khas obrolan antar tetangga di waktu damai.

Bagaimana seorang Luis Delgado yang berani mengambil resiko mati dengan pergi ke Bar tersebut yang berada dalam wilayah kekuasaan lawannya, hanya untuk memenuhi hasrat manusiawinya; yaitu bertemu dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat lamanya.

Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Ernest Hemingway.

Perang bagaimanapun ganasnya tak mampu membunuh sisi-sisi kemanusiaan seseorang sebagai homo socius.

Dan pada akhir cerita, tokoh Aku menelpon polisi yang akhirnya menangkap Lusi Delgado, Memintanya memberitahu Luis Delgado bahwa dialah (Aku), sahabat lamanya yang mengadukannya.

Tokoh Aku ingin menegaskan bahwa dia –sebagai sahabat- masih punya sisi kemanusiaan yaitu, Rasa Bertanggung jawab.

Di 3 Cerpen berikutnya; Kupu-kupu dan Tank, Malam Sebelum pertempuran, Di atas Punggung Bukit, Hemingway kembali menggunakan sudut pandang tokoh Aku dalam melukiskan konflik-konflik kecil para tokoh ceritanya sebagai media penyampaian pesan.

Konflik kecil yang seolah tak ada artinya dihadapan perang besar dimasa itu justru diolah sebagai tema besar dalam mendefinisikan makna sejati perang itu sendiri.

Show Don’t Tell

Buku yang isinya ditulis tahun 1937 ini sebenarnya sangat cocok bagi para penulis pemula yang hendak belajar menulis fiksi.

Hemingway mengajar kita teknik menggiring pembaca seolah hadir sendiri dalam latar waktu & tempat terjadinya peristiwa.

Kalimat singkat, paragraf singkat, kalimat aktif & positif. Itulah 3 rumus dasar Hemingway dalam menulis cerpen.

Anda juga bisa meniru cara dia menyisipkan pesan/moral cerita secara tersirat.

Hemingway tidak menaruh pesan secara kasar & amatir lewat tuturan dialog atau di ending cerita sebagaimana kebiasaan banyak penulis sekarang.

Dia justru menyisipkannya secara halus dan hati-hati, tersebar merata pada semua paragraf dengan jalan menunjukkan (Show), bukan mengatakan (Don’t Tell).

Pembaca akan terkejut dengan kecerdasannya sendiri, saat berhasil menemukan pesan/moral cerita begitu selesai membaca tanpa merasa digurui oleh si pengarang.

Tak salah kalau Erza Pound menyebut Ernest Hemingway sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’.

The Fifth Column ( Angkatan Kelima). Penerjemah Ahmad Najib, Abd. Mukhid. Penerbit Pedati, Pasuruan. Cetakan I, Agustus 2003. Tebal Buku : 293 hal

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. sejak umur belasan saya sudah selalu ingin menulis, berkali mencoba tapi setiap kali selesai menulis selalu saja merasa cuma menghasilkan sampah.. dan tak tahu mesti berguru kemana…sekarang saya menyatakan diri berguru kepada anda daeng..tolong beberkan teknik tekniknya daeng..thx a lot

    • :)
      bagaimana caranya Deni menghakimi tulisannya sendiri, sebelum orang lain membacanya ?
      bagaimana mungkin orang lain bisa menghargai bila penulisnya sendiri tidak menghargai tulisan tersebut ?

      • Arif Haye says:

        Anda benar. Kadang kita terlalu menilai secara subjektif hasil tulisan kita. Mungkin agak lebih objektif jika teman-teman dekat juga diijinkan untuk turut membaca hasil jerih payah kita.

  2. daeng lalo says:

    Resensi Novel yang bernas. Bung Anto, saya ajak bergabung dalam organisasi citizen jurnalism bernama Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Sulawesi Selatan. Rencananya PPWI akan menerbitkan Tabloid “Suara Warga” dan ada rubrik Fiksi. Bila bersedia, bisa kirim statement kesediaan via email: muslimin.beta@pewarta-indonesia.com

    • menarik !
      asal azasnya independen, saya nyatakan ikut bergabung Daeng..
      sy barusan berkunjung ke situs pewarta.com. bagus, menarik..

  3. andi saidah says:

    selalu menarik…

  4. Mantap Bro .. Postingan pertamanya

Speak Your Mind

*