Kiat Menulis Cerita Anak (Wawancara dengan Vanda Yulianti)

penulis cerita fiksi anak, fiksi anak, penerbit, menulis cerita fiksi anak

Berikut kiat menulis cerita fiksi Anak dari penulis Vanda Yulianti

Ingin tahu cara menulis cerita fiksi anak ?

…dan lebih bagus lagi, cara menulis itu datang dari seorang penulis fiksi anak berpengalaman ?

Anda akan mengetahui seluk beluk penulisan cerita fiksi anak. Lengkap. Mulai dari tahap konsep, teknik menulis, sampai cara menembus editor/penerbit khusus cerita fiksi anak.

Nah, Anda beruntung.

Hari ini Indonovel sengaja mengundang Vanda Yulianti menjadi tamu di Indonovel.

Ibu 2 anak ini baru saja menerbitkan 6 seri sekaligus cerita anak berjudul  Serial Vava dan Caca (Gemar Pustaka Capricorn, 2011).

Sebelum serial Vava dan Caca, pemilik Kemilau Indonesia (label produk batik) ini juga pernah menerbitkan buku cerita anak berjudul Mirel The Sweet Butterfly (Erlangga, 2005) dan 10 Kisah Dongeng untuk Anak Indonesia 1-2 (Happy Happy Strategic & KFC, 2010).

Jadi tanpa basa basi lagi, silahkan ikuti obrolan kami berikut ini…

Kiat Menulis Cerita Fiksi Anak Dari Awal Sampai Akhir

Sebelumnya selamat atas terbitnya 6 serial Vava dan Caca, Bagaimana proses menulis serial sebanyak itu ?

Terima kasih. Ide awal adalah membuat sebuah “serial”, yang akan sempurna jika tidak terbit satu persatu, tetapi sekian judul sekaligus.

Tahapan awal, adalah menciptakan konsep serial itu, untuk usia berapa, dan tujuan konsep itu sendiri.

Selanjutnya, berkomunikasi dengan illustrator terpilih, karakter seperti apa yang diinginkan.

Saya cukup beruntung bahwa penerbit memberikan kebebasan saya untuk menciptakan konsep karya saya.

Setelah tahap meeting demi meeting, plus sample ilustrasi yang disetujui oleh penerbit, mulailah seluruh naskah yang saya buat diolah secara visual judul per judul.

Apa ciri mendasar cerita fiksi untuk anak-anak ?

Pertama yang harus diketahui oleh seorang penulis fiksi adalah obyek.

Anak-anak sebagai obyek fiksi anak, tidak butuh buku yang rumit dan “memusingkan”. Yang mereka inginkan, tulisan yang tidak penuh, gambar yang menarik dan warna warni yang cantik.

Ini yang membedakan cerita anak dengan remaja dan dewasa.

Tinggal bagaimana si penulis mengolah dan membuat konsep buku ini menjadi buku yang berbeda, entah dari isi cerita, cara membacakan bukunya, dan banyak lagi.

Contoh, buku Serial Vava dan Caca ini memiliki konsep Interactive Story Book.

Apa itu?

Serial ini selain sebagai buku cerita, juga sekaligus buku yang bisa diwarnai, ditulis huruf dan angka, bahkan anak bisa menempel foto mereka di dalamnya.

Anda pernah menulis cerita fiksi untuk pembaca dewasa ? Apa tantangan terbesar anda  saat menulis cerita anak ?

Pernah. Menurut saya lebih sulit menulis cerita anak dibanding dengan fiksi dewasa, karena saya (sudah) bukan seorang anak.

Menulis cerita anak membuat saya harus menyelami dulu dunia anak (masa kini), baru bisa mengembangkan ide.

Sementara menulis fiksi dewasa, sebagian besar adalah hasil pengamatan dan mungkin pengalaman pribadi saya.

Lebih mudah, karena lebih menuangkan banyak hal sesuai usia saya.

Apa anda meminta seorang anak untuk menjadi first reader ?

Beruntunglah saya yang sudah memiliki anak. Dua anak, dua karakter dan dua jarak usia yang jauh, Czeivand 10 tahun dan Vacha 5 tahun. Merekalah “obyek”  dan ide serta pengamatan untuk karya saya. Dan tentu saja, mereka “editor” pribadi saya.

Semua naskah anak yang saya tulis, “lolos” editing di tangan mereka.

Ya, mereka first reader favorit saya.

Darimana Anda belajar menulis cerita anak ? 

Saya tidak melalui pendidikan formil untuk bisa menulis. Yang saya mampu adalah berimajinasi dan menuangkan dalam bentuk tulisan.

Latar pendidikan saya adalah S1 dari jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti, Jakarta.

Saya juga tidak memiliki cara khusus atau metode yang spesial, yang saya mampu lakukan hanya mencatat ide dimana pun berada, buat saya ide datang dengan sendirinya, kapan saja.

Tolong dijelaskan tips-tips dasar menulis cerita anak ?

Seperti penjelasan saya di point 2, konsep adalah langkah awal menulis cerita anak.

Konsep apa yang mau diangkat?

Lalu, setelah konsep matang, ide akan mengalir karena sudah memiliki “track”. Kenapa saya tekankan di konsep, karena konsep lah yang membedakan karya seseorang dengan orang lainnya.

Konsep ini juga yang membantu seorang penulis untuk membangun karakter tokoh, menampilkan latar, memicu konflik hingga menutup cerita dengan tujuan yang tercapai.

Mengapa bagian pembukaan cerita anak  lazim dimulai dengan narasi “ Pada suatu masa ketika…” atau “ Di sebuah negeri bernama…”

Jika penulis menulis dengan konsep yang kuat, percayalah, kalimat-kalimat “pakem” tersebut tidak akan ditulis ulang oleh penulis.

Sebagai contoh ketika saya menulis 10 cerita dongeng pada 2 Buku 10 Kisah Dongeng Anak Indonesia, pembaca tidak akan menemukan kalimat pembuka “ Pada suatu masa ketika…” , “ Di sebuah negeri bernama…”?, sebagai ciri khas dongeng yang pernah ada.

Saran saya, gali kreativitas dalam membangun imajinasi pembaca dengan kalimat pembuka yang berbeda, karena akan lebih baik jika seorang yang membaca buku Anda mampu menikmati kisah yang Anda tulis itu penuh dengan kejutan dari awal hingga akhir cerita.

Umumnya cerita fiksi anak diakhiri dengan pesan moral yang menggurui. Mengapa tidak membiarkan mereka menyimpulkan sendiri ?

Ketika menulis sebuah fiksi anak, posisikan diri kita adalah seorang anak, bukan orangtua, bukan guru, bukan kakak, bukan paman atau nenek dan kakek. Kita adalah teman mereka.

Teman tidak menggurui, tidak menasehati, tidak sok tahu. Tetapi teman, adalah seorang yang bersama-sama belajar, bersama-sama bermain, bersama-sama tertawa, dan bersama-sama menyimpulkan sesuatu.

Sejauh ini, ketika saya membuat sebuah fiksi anak, ada keinginan menyisipkan ilmu, wawasan, dan pengetahuan baru untuk anak-anak baik secara pengetahuan umum, sikap yang baik, dan tingkah laku yang terpuji.

Tetapi karena saya adalah “teman” si pembaca kecil, semua pesan itu bisa disampaikan dengan kalimat persahabatan antar teman.

Jadi, benar, biarkan saja pembaca menyimpulkan sendiri moral cerita. Biarkan mereka bermain dengan logika dan kemampuan berpikir mereka, penulis bukan pendikte, penulis sekedar pengantar cerita.

Bagaimana anda melihat prospek penerbitan buku fiksi anak ? 

Prospek hingga saat ini sangat bagus.

Penulis fiksi anak begitu banyak dengan beragam karya. Belum lagi karya para penulis kecil, salut melihat kecerdasan menulis mereka. Tinggal pengasahan ilmu menulis saja yang harus lebih dikembangkan di sekolah-sekolah, agar semakin banyak penulis hebat yang lebih baik.

Anda menulis sebatas hobby atau  komersial ?

Orientasi saya menulis adalah hobi yang menghasilkan. Jika karya saya semakin digemari itu adalah bonus.

Bagaimana cara penulis pemula memulai sampai bisa menembus media mainstream, sponsor dan penerbit.

Semua pekerjaan membutuhkan networking yang baik agar pekerjaan lebih dikenal orang. Begitu juga menulis.

Perbanyak bergaul dengan komunitas penulis.

Bergabung dengan milis penulis, jangan ragu menghubungi editor-editor dari penerbit-penerbit besar atau kecil. Langkah ini bisa menambah wawasan kita baik ilmu dan juga jaringan pertemanan.

Terima kasih

Terima kasih kembali, Vanda Yulianti.

Selanjutnya…

Apakah Anda tertarik menjadi penulis cerita fiksi anak ?

Anda bisa kontak lansung penulis yang ramah ini via twitter @vandayulianti.

..dan jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, harap membagikannya kepada teman Anda via facebook & twitter.

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. umma azura says:

    Kanda,
    saya kirim pertanyaan ke kita, kok tidak bisa terkirim yah? Pesannya, coba kontak administrator dengan cara lain

    • Rusdianto says:

      Iya benar. Maaf yah, Umma.

      ada kesalahan kode, tapi sekarang sudah bagus. Coba kirim ulang…. :)

  2. umma azura says:

    saya selalu suka artikel2 ta kanda . Sangat informatif… pengen tahu rahasianya :)

    • Rusdianto says:

      Tidak ada rahasianya, Umma :)
      Cukup pelajari semua informasi mengenai topik yang akan ditulis.
      Lalu sampaikan to the point (Tidak bertele-tele).

  3. pengin belajar nulis cerita anak, tapi kok susah ya…

  4. Ihhhh…saya pingin banget bisa seperti Mbak Vanda.
    Sekarang ini saya lagi belajar menulis, semoga bisa mengikuti jejak Mbak Vanda yaaa….
    Silahkan mampir ke blog saya
    Mohon saran dan kritiknya….. :)

    • Rusdianto says:

      saya yakin bisa, mbak Devi.
      keep writing.

      saya sudah mampir ke blognya. bagus..
      hanya tidak bisa meninggalkan komentar karena opsi komentator terbatas pada pemilik akun2 wp, blogger, AIM, etc..
      (mungkin bisa diubah settin-nya)

      salam..

  5. Murti Andrini says:

    Artikel yang sangat menarik. Benar-benar membuka wawasan dan menjadi masukan berharga bagi saya yang sedang belajar menjadi penulis cerita anak :)

  6. Ade Adhari says:

    Terima kasih, Mbak. telah memberikan motivasi buat berkarya.

  7. Laura Khalida says:

    wow amaziiiing

  8. Udi Sukrama says:

    Wah, penuh inspirasi sekali…Trima kasih untuk sharing wawasannya dan pengalamannya Mba Vanda. Kebetulan saya juga sudah membuat naskah cerita anak…. Saya mau coba mengirim ke penerbit, tapi masalahnya saya tidak tahu harus dikirim ke penerbit mana…. Mungkin Mba dapat memeberikan saran atau masukan kepada saya….Terima kasih

  9. Mas Didik says:

    Terima kasih atas sharingnya Mbak Vanda Yulianti dan Mas Rusdianto. Semoga semakin banyak penulis yang termotivasi untuk membuahkan karya yang memberi inspirasi pada anak-anak karena anak-anak adalah putera-puteri masa depan.

    • sama-sama, mas Didik.
      terima kasih pd mbak Vanda yang dengan senang hati membagi wawasan dan pengalamannya.
      salam

  10. sukses buat, Ibu Vanda.
    maju terus cerita anak indonesia.
    semoga kelak fiksi anak indonesia bisa tembus pasar buku internasional.

Speak Your Mind

*