5 Cara Menulis Paragraf Pertama Seperti Cerpenis Kelas Dunia

kumpulan cerpen klasik dunia fiksi lotus

Bagaimana cara cerpenis kelas dunia menulis paragraf pertama ?

Tugas paragraf pertama sebuah cerpen adalah menarik orang agar membaca paragraf berikutnya.

Baik, Anda paham.

Pertanyaannya, bagaimana cara membuat paragraf pertama yang menarik ?

Menulis paragraf pertama pada draft awal mungkin bukan perkara sulit. Anda hanya perlu menulis tanpa mengedit, seperti nasihat Guy de Maupassant:

Untuk memulai menulis cerita, Anda cukup menggoreskan hitam diatas putih –> Click to tweet

Namun saat merevisi draft awal, Anda wajib mencemaskan paragraf pertama. Jika paragraf pertama Anda gagal menunaikan tugasnya, alamat sia-sialah seluruh kerja keras Anda.

Anda tidak mau itu terjadi, bukan ? Jadi pada posting ini kita akan belajar menulis paragraf pertama……dan kita akan mempelajarinya dari cerpen-cerpen klasik dunia.

Tapi mengapa dari cerpen-cerpen klasik dunia?

Karena cerpen-cerpen klasik terbukti bertahan melewati waktu, antara lain karena daya tarik paragraf pertamanya…..Selain soal selera. Juga.

5 Cara Menulis Paragraf Pertama Sebuah Cerpen

Sedikitnya ada 5 cara menulis paragraf pertama yang bisa ditiru dari cerpen-cerpen klasik.

Catatan : Anda bisa membaca utuh contoh cerpen-cerpen dibawah pada Fiksi Lotus (Maggie Tiojakin)… 2 diantaranya  termasuk dalam buku Kumpulan Cerpen Klasik Dunia Fiksi Lotus vol.1 (Gramedia Pustaka Utama, 2012).  Volume 2-nya akan terbit awal tahun 2013.

Berikut kelima cara tersebut :

1. Memunculkan Masalah Yang Harus Diselesaikan Oleh Karakter

Pembukaan ini favorit para penulis. Pembaca (dan manusia umumnya) tertarik pada masalah – khususnya yang terjadi pada orang lain.

Mari kita lihat contohnya pada cerpen The Gift Of The Magi (1906) karya O. Henry.

Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Cuma itu. Bahkan, enam puluh sen dari jumlah itu terdiri dari uang receh bernilai satu sen-an, hasil simpanannya selama ini—yang didapatnya dengan cara mendesak tukang sayur, tukang daging dan penjaga toko kelontong agar sudi menjual dagangan mereka kepadanya dengan harga termurah. Proses tawar-menawar itu tidak jarang membuatnya malu, hingga pipinya memerah, sebagaimana semua orang pasti merasakan hal yang sama jika mereka ada di posisinya. Tiga kali sudah Della mempermalukan diri. Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Lebih sial lagi, besok adalah Hari Natal.

Contoh pembukaan diatas lansung mengetengahkan pokok persoalan yang harus diselesaikan oleh karakter (Della) :

Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Cuma itu…

…… besok adalah Hari Natal.

Emosi pembaca terhubung dengan cerita karena mengangkat masalah yang familar. Di Indonesia, sebagian besar kita mengalaminya –minimal- sekali setahun (cukup mengganti Natal dengan Lebaran).

Untuk menonjolkan masalah, O. Henry mendramatisir latar belakang karakter yang hidup pas-pas-an.

Lewat detail; Uang receh. Mendesak pedagang untuk memberikan harga termurah. …membuatnya  malu hingga pipinya merah…. O. Henry menunjukkan beban hidup keseharian karakternya. Informasi ini dengan sendirinya meningkatkan intensitas masalah.

2. Memulai Dengan Aksi

Jenis pembukaan ini lansung melompat ke tengah cerita. Tanpa latar belakang.

Sebuah insiden memotong semua latar belakang yang bertele-tele (biasanya hadir dalam draft awal)…tepat saat aksi karakter mengambil alih cerita.

Contohnya cerpen The Man Who Shouted Teresa karya penulis Italia, Italo Calvino.

Aku menjauh dari trotoar, berjalan mundur beberapa langkah dengan wajah tengadah, lalu dari tengah jalan, seraya mengatupkan kedua tangan agar membentuk corong di sekitar mulut, aku berteriak sekeras-kerasnya: “Teresa!”

Teknik membuka cerpen dengan aksi mengacu ketat pada prinsip show don’t tell (tunjukkan, jangan katakan).

Lihat bagaimana Italo Calvino menunjukkan aksi tokoh ‘Aku’ lewat rincian; Menjauh, berjalan mundur, wajah tengadah, mengatupkan tangan

Menunjukkan membuat adegan lebih hidup. ketimbang hanya mengatakanaku berdiri di trotoar dan berteriak memanggil Teresa’.

3. Memberikan Garis Besar Cerita

Pembaca bisa mengidentifikasi garis besar cerita hanya dengan membaca paragraf pertama.

Namun hati-hati menggunakan jenis pembukaaan ini. Menampilkan seluruh garis besar cerita sama saja menyuruh pembaca Anda pergi. Karena itu, jenis pembukaan ini sengaja menahan informasi penting mengenai motif karakter (alasan mengapa kisah terjadi).

Contohnya cerpen Pesta Makan Malam (1973) karya Roald Dahl, seorang penulis dan penyair asal Inggris.

Begitu George Cleaver resmi menjadi seorang jutawan, dia dan istrinya, Mrs. Cleaver, pindah dari rumah kecil mereka di pinggiran kota ke sebuah rumah mewah di tengah kota London. Pasangan itu kemudian menyewa jasa seorang koki asal Prancis, Monsieur Estragon, dan seorang pelayan berkebangsaan Inggris, Tibbs—dengan tuntutan gaji yang sangat besar. Dibantu oleh kedua orang tersebut, pasangan Mr. dan Mrs. Cleaver pun berniat menaikkan status sosial mereka dan mulai mengadakan pesta makan malam yang luar biasa mewah sebanyak beberapa kali seminggu.

Pembaca bisa mengetahui, kalau cerpen ini berkisah tentang rencana pasangan Cleaver untuk meningkatkan status sosial mereka.

Dikatakan garis besar, juga, karena telah memperkenalkan karakter, yang terdiri dari Mr & Mrs. Cleaver, koki Estragon, dan pelayan Tibbs. Mengandung benih konflik antara pasangan Cleaver Vs. Koki & pelayan yang menuntut gaji besar…serta latar di rumah mewah kediaman pasangan Cleaver.

Yang tersisa hanya alasan; kenapa ?

Kenapa untuk meningkatkan status sosial, pasangan Cleaver mesti menggelar pesta-pesta makan malam yang mewah …sampai rela menggaji mahal seorang koki asal Perancis ?

Roald Dahl  sengaja menahan informasi tersebut sebagai trik menarik orang membaca.

4. Mengisyaratkan Bahaya (Ketegangan)

Pembukaan ini memberi pertanda kepada pembaca tentang bahaya yang menghampiri karakter – Manusia menyukai ketegangan, sebenarnya.

Contohnya bisa dilihat pada cerpen The Interlopers (1919) karya Saki (nama pena dari Hector Hugh Munro), seorang penulis asal Inggris

Di tengah rimbunnya pepohonan dalam sebuah hutan lebat di belah timur tebing Pegunungan Carpathian, seorang pria berdiri tegap mengawasi sekelilingnya. Saat itu musim dingin, dan ia tampak seolah sedang menunggu monster hutan datang menghampirinya, dalam jangkauan pandangannya, agar kemudian dapat ia bidik dengan senapan berburunya.

Saki mengirim pertanda bahaya melalui :

Karakterisasi ; ….berdiri tegap mengawasi sekelilingnya…dan ..tampak seolah menunggu monster hutan.

Latar ; …Pegunungan, tebing, hutan lebat, musim dingin, dan…

Peralatan untuk membunuh berupa…. senapan berburu.

5. Menampilkan Lokasi Cerita

Membuka dengan tempat kejadian hanya jika tempat tersebut berperan besar dalam cerita.

Contohnya seperti cerpen A Clean, Well-Lighted Place (1926) karya karya Ernest Hemingway.

Saat itu larut malam dan semua orang beranjak meninggalkan café tersebut kecuali seorang pria tua yang duduk dalam bayang-bayang dedaunan pohon yang berdiri kokoh di samping sebuah lampu listrik. Di siang hari, jalanan di depan café sarat akan debu kotor, namun di malam hari embun yang terbentuk di udara serta-merta menyingkirkan serpihan debu dari permukaan jalan. Itulah sebabnya si pria tua senang duduk di café saat semua orang justru ingin pulang ke rumah, karena ia tuli dan di malam hari suasana di jalan tersebut berubah sunyi, seolah membawanya ke alam lain.

Pembukaan ini memberi petunjuk kepada pembaca adanya hubungan spesial antara lokasi kejadian dengan karakter ….dan tema cerita secara keseluruhan – Hemingway sudah mengisyaratkan itu melalui judul. Juga.

Dengan kata lain, sebuah lokasi sekaligus merepresentasikan karakter & tema itu sendiri.

Lihat contoh diatas. Hemingway meminjam tempat sebagai media karakterisasi… Visualisasi lokasi cerita mewakili sifat penyendiri karakter si pria tua. Itulah tipe pria-pria berjiwa rentan, kesepian, dan biasanya mengidap insomnia – itu sebabnya memilih kafe (yang bercahaya terang). Bukan bar.

Catatan : tidak ada alasan pribadi kenapa saya memilih cerpen ini sebagai contoh :)

Paragraf Pertama Memancing Pertanyaan Pembaca

Paragraf pertama sebuah cerpen menarik karena memicu rasa ingin tahu pembaca.

Pertanyaan menyuap orang agar meneruskan bacaan.

Meski kelima paragraf pertama cerpen diatas berbeda, namun semuanya memancing pertanyaan dibenak pembaca :

– Membuka dengan masalah yang harus diselesaikan oleh karakter

Pembaca ingin tahu bagaimana karakter menyelesaikan masalah ? Perubahan apa yang terjadi pada diri karakter setelah melewati masalah ? (resolusi).

– Membuka dengan aksi (insiden)

Apa maksud karakter melakukan aksi (insiden) ?

– Membuka dengan garis besar cerita… TAPI menahan informasi penting mengenai motif; kenapa karakter melakukan sesuatu?

– Membuka dengan pertanda bahaya (ketegangan)

Apakah karakter berhasil melewati bahaya ? Apa  yang akan terjadi dengannya ?

– Membuka dengan menampilkan lokasi cerita

Mengapa tempat tersebut istimewa ? Apa hubungan lokasi cerita dengan karakter…dan tema cerita secara keseluruhan?

…Satu hal lagi. Selalu menampilkan karakter dalam paragraf pertama.

Ada alasan mengapa kelima pembukaan cerpen diatas lansung memperkenalkan karakternya. Penulisnya tahu sifat dasar manusia. Setelah semua, manusia paling tertarik dengan sesamanya. Itu sebabnya kehadiran karakter, atau nama orang, lansung menarik perhatian pembaca.

Sangkalan : Belum ada teknik menulis yang berlaku efektif bagi semua penulis… Teknik menulis yang sama tidak menjamin hasil yang sama ditangan dua penulis berbeda.

Bagaimana Dengan Anda ?

Apakah Anda punya pembukaan cerpen favorit ? Saya ingin Anda menulis kutipannya pada kolom komentar dibawah – dengan senang hati, mari kita mendiskusikannya.

…dan terima kasih. Saya sangat menghargai Anda, karena mau berbagi posting bermanfaat ini kepada teman Anda via facebook & twitter.

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. yolanda yurizky says:

    kak beri penilaian dong tentang paragraf pertamaku ini
    kenapa sih mereka benci aku apa karena aku katrok itu pasti karena memang aku orang desa yang baru pindah kekota tapi,sudahlah lupakan saja aku harus bisa beradaptasi dilingkungan ini

    • Anto Dachlan says:

      Yolanda, hindari membuka paragraf dengan pertanyaan… Lansung tunjukkan adegan.. apa yg terjadi ? Karakter melakukan apa ?

  2. linesa says:

    kak kalau cerpen/novel remaja itu bahasanya kadang baku, kadang tidak bagaimana?
    kalau antara bahasa baku dan tidak baku dicampur jg bagaimana?

    • Anto Dachlan says:

      Linesa… coba buka 5 cerpen atau novel populer… lihat jenis bahasa yang mereka pakai.

      Novel populer artinya pembaca menyukainya. Menyukai jenis bahasa yang digunakan penulis novel.

      Nah, ikuti saja… Jangan berspekulasi. Setiap gaya bahasa punya penggemarnya masing-masing. Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang :)

  3. Rhadyta Aji says:

    Mau ikutan juga ah…

    Masih miskin kosakata 😀

    Langkah Mayang tiba-tiba terasa berat begitu memasuki sebuah pekarangan rumah yang nampak sedikit tidak terawat. Rumah ini masih sama besarnya saat pertama kali dia meninggalkannya, tidak ada yang berubah pada setiap bagiannya, namun bedanya adalah rumah ini terlihat tidak terawat. Jantungnya berdetak kencang, perasaannya tidak karuan, sekujur tubuhnya bergetar diterjang perasaan aneh dan ragu untuk melanjutkan langkahnya. Untuk sesaat berdiri kaku dan semakin tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan sampai tiba-tiba sebuah suara yang terdengar tua dan santun dari samping rumah memanggil namanya, antara yakin dan sedikit ragu, sebuah suara Mayang belum berani untukmenoleh kearah suara tersebut. Mayang tahu betul suara siapa yang memanggil tersebut kembali memanggil namanya. Kali ini suara tersebut terdengar lebih mendekat. Sementara namanya itu. Ibunya. Yang hampir 10 tahun tidak dia jumpai. Mayang belum mau menyaksikan sosok tersebut sementara suara yang sekali lagi memanggil namanya semakin mendekat dan mendekat

    “Mayang? Benarkah itu kamu, sayang?”

    Terimakasih, Mas Anto

  4. Nadiya Putri says:

    Artikel yang sangat menginspirasi,terimakasih ^^
    Ini paragraf pertama cerpen saya,mohon kritik dan sarannya,kak.
    Levi bangun dengan napas tersengal. Peluh membasahi keningnya,jantungnya berdebar keras. Matanya memandang sekeliling dengan panik. Ia menggertakkan gigi,melempar selimutnya kesamping. Pemuda itu menyambar segelas air di meja kecil sebelah ranjangnya,meneguknya hingga tandas.Sudah tujuh hari berturut-turut ia bermimpi aneh. Yang dia ingat hanya bayangan-bayangan blur membentuk rupa seorang wanita. Raut wajah yang redup. Levi tak mengenal wanita itu,yang ia tahu hanya perasaan sesak tersisa hingga ia bangun dari tidurnya.

    Ini paragraf pertama cerpen saya,mohon kritik dan sarannya,kak.

    • Anto Dachlan says:

      Nadiya, hindari menggunakan kata ‘Dengan’.

      Misalnya : Levi terbangun. nafasnya tersengal.

      atau…. : Matanya panik memandang sekeliling.

  5. Vivi Maria Kristanty says:

    selamat siang kak, saya ingin bertanya apakah ini bisa dijadikan awalan cerpen ?

    Entah mengapa tiba-tiba saja pertanyaan bodoh itu kembali muncul didalam benakku.
    Mengenai apakah aku benar-benar mencintaimu ? atau aku hanya takut akan semua kenanganku dimasa lalu ? takut bila kenangan itu terulang kembali, sehingga aku terus saja membuatmu merasa bersalah.
    Jujur, bila boleh aku mengatakan sebuah kejujuran kepadamu, bahwa aku takut kau merasa lelah dengan semua kebodohanku ini, mengenai sikap kekanak-kanakanku, yang kian hari kian membuat tubuhku dipenuhi rasa amarah dan cemburu.
    Entah terlalu bodoh atau aku terlalu mencintaimu, entah terlalu kekanak-kanakan atau aku takut kehilanganmu, aku tak mengerti dan tak memahami.

    Mungkin saja aku tak mencintaimu, karena aku tak tau bagaimana cara menjawab ketika mereka bertanya mengenai apa yang aku suka darimu, apa yang aku lihat darimu sehingga aku memilihmu untuk temani hariku, dan apa yang membuat aku begitu mencintaimu, aku tak tau bagaimana dan dengan kata-kata seperti apa yang bisa membuat aku menjawab semua pertanyaan itu. Mungkin menggunakan kata-kata dari seorang penyair klas dunia seperti Khalil Gibran, atau mungkin kata-kata dari filsuf terkenal seperti Plato dan gurunya Aristoteles. Entah bisa terjawab atau tidak, aku tak tau yang aku tau hanya sekarang aku nyaman saat kau ada untukku, meskipun kini kau jauh dariku, hanya sedikit kabar darimu pun itu sudah cukup menenangkan hati kecilku. Dapatkah kau menjelaskan agar aku dapat mengerti mengenai semua ini, mengenai perasaan ini, mengenai perasaanku padamu ini. Yang kian hari membuatku menjadi seorang pencemburu tanpa alasan?

    mohon keritik dan sarannya kak :)

    • Anto Dachlan says:

      Tidak bisa Vivi. Maaf.

      Tidak ada yang suka membaca curhat.

      Coba baca sekali lagi aryikel diatas… lalu pilih salah satu jenis pembukaan.

  6. linesa says:

    Saya mau tanya kak,
    Kalau membuat novel atau cerpen dengan sudut pandang org pertama, yang harus diperhatikan apa saja?

    • Anto Dachlan says:

      Hati-hati mendeskripsikan si AKU atau menunjukkan apa yang dilakukan oleh karakter ‘Aku‘ dari sudut pandang orang lain.

      Sebab aneh jika seseorang (AKU) bisa melihat dirinya sendiri.

  7. “GITAaa” Teriak Bu Nina degan mata bulat yang hampir keluar, ia memegang pinggangnya dan bersiap mengeluarkan aumannya lagi. Aku segera berlari, sebelum lengkingan ganasnya mulai terdengar lagi.

  8. adetya ika zandika says:

    Kak boleh minta kritik dan saran ?

    Dum , suara gemuruh mulai terdengar. Batu kapur yg di hancurkan oleh dinamit . Ada banyak orang yg merintih kesakitan Sumarto hanya terdiam pilu melihat teman”nya terluka dan mati terkena reruntuhan gunung gamping . Hanya beberapa orang yang dapat selamat dari reruntuhan batu kapur . Ini bukti kejamnya penjajah penjajah jepang

  9. Permisi kakak hehehehe, saya baru memulai membuat cerita. Maukah kakak membaca Prologue saya.
    Tolong dinilai yak kak #Loh kok maksa wkwkkwk
    —Prologue — Di rumah yang sepi, hanya ada aku seorang diri. Terdengar suara yang menghancurkan suasana pagi

    Kring… Kring… Kringgg…
    Bunyi berisik yang terdengar ditambah getaran yang mengganggu semua makluk hidup yang sedang tidur, Khususnnya aku!

    ” Gggoahhhhh ” Keluhku menyambut pagi hari.

    Bukan silau mentari, Bukan hangat pagi yang membangunkanku, tapi suara Jam Wakerku yg berbunyi.

    Tanganku seketika segera mengambil jam berisik itu dan mematikannya.

    Entah kenapa tiba – tiba saja ada petir yang terlintas di dalam kepalaku, dan mengingatkanku kalau hari ini adalah hari MOS atau disingkat oleh diriku Masa Owari-nya Siswa. Di mana di masa itu seluruh siswa akan merasa berakhir kehidupannya, kebahagiannya, dan segalannya.

    Dengan reflect mata ini melirik angka jam yang telah menunjukan dengan sangat jelas bahwa sekarang pukul 07:00 Wib.

    “Aghh Sialll sepertinnya aku kesiangan”
    Dengan menutup mata sambil menghela nafas dan berharap ini hanya salah satu mimpiku saja. Namun apa daya semua ini ternyata Realita

    Pandanganku melirik kertas catatan yang ku catat kemarin, dan tanpa sadar tanganku mengambil catatan itu. Catatan Yang berisi kegiatan apa saja yang berlangsung selama MOS ini. Yang kudapatkan 2 hari lalu diacara briefing sekolah yang akan kunaungi 3thn kedepan.

    Beberapa kegiatan acara MOS yang berlangsung 2 hari ini adalah :

    Cat Penting jgn dibuang!!!
    Hari Pertama
    06:30 Wib – 07:30 Wib
    adalah Pembukaan Kepala sekolah dengan berbagai kata – kata yang tersirat omong kosong beserta Doktrin-doktrin menyesatkan yang sudah dia catat sebelumnnya.
    07:30 Wib – 08:00 Wib
    Perkenalan Wali kelas kepada Siswi dan Siswa barunnya dgn ditambah Canda tawa yang kaku dan taburan bumbu ancaman yang menyertainnya
    08:00 Wib – 09:30 Wib
    Acara bersama OSIS atau jika kuartikan sebagai Obrolan Sapa Intimidasi Sayang. Yang sangat hangat sehingga menyiksa untuk 2 hari kedepan

    Lalu Aghh… sudahlah aku malas meratapinnya.

    Walau memang di malam kemarin dengan sadar aku memasang alamarnnya pukul 07.00 wib. Tapi ada sedikit rasa penyesalanku kenapa tidak aku memulai masa smaku dengan lebih positive lagi…

    ” my High School my Adventures ” Yang bener saja!!!
    Atau jika di ingriskan sepenuhnnya akan menjadi
    ” my High School my Adventures ” What The Fuck!!!

    • Anto Dachlan says:

      Lansung mulai dengan Kring..kring…

      kemudian hapus semua kalimat setelahnya…. hingga Dengan reflect mata ini…

      dan lanjutkan.

      Perhatikan mengapa saya memotong : Sebab semua kalimat itu tidak menambah kedalaman. Tidak memberi kontribusi dalam alur cerita.

  10. Siti royani says:

    ceritaroyyani.wordpress.com

    mas maaf nanya punya akunt fb ndak ya? Bisa kasih tahu saya bila punya, makasih

    • Anto Dachlan says:

      Ada tapi untuk keperluan pribadi, bukan tentang menulis, fiksi, dsb.

      Btw, saya sudah mampir di blog kamu. Hei, kenapa kau tidak berpikir untuk merangkum semua cerita di blog itu kedalam satu buku ?

  11. Rifqi says:

    Kerenlah artikelnya, membantu banget apalagi buat saya seorang pemula. Janji, gak akan saya copas :)
    Saya minta sarannya dong bang, ini pembukaan cerita yang sedang saya buat. Diperbanyak kritiknya saja haha, biar bisa evaluasi. Dan, menurut abang, apakah gaya menulis saya sudah termasuk baik atau belum ya? Terima kasih sebelumnya.

    “Hap!” seruku saat mencoba mengangkat kardus terakhir dari mobil pengiriman. Isinya berkas-berkas penting semasa sekolah, satu seri buku panduan “Berhasil dalam Wawancara”, dan selusin lebih novel koleksiku. Tidak terasa semua barang-barangku sudah sampai, batinku sembari menghela napas panjang.
    Kulihat lagi rumah baruku yang minimalis bertingkat dua itu dari jauh. Berpagar baja hitam dengan hiasan-hiasan berbentuk burung bangau di bagian atasnya. Tembok luarnya terlihat cerah berkat paduan cat kuning-merah, menyisakan sebuah pintu kayu jati dan dua pasang jendela persegi panjang di setiap lantai. Benar-benar rumah idaman, bahkan bagiku ini sudah cukup mewah. Walaupun seluruh rumah yang sebaris dengan rumahku ini tidak jauh berbeda bentuknya.
    “Erik, ayo masuk. Makan malam.” Sesosok pria baruh baya berkumis tipis muncul dari balik pintu. Ayahku.
    “Aku nanti saja makannya. Masih kenyang,” balasku yang lalu beranjak dari atas mobil. “Mau berkeliling.”
    “Okelah. Jangan pulang terlalu larut.”
    Aku mengangguk satu kali.

    • Anto Dachlan says:

      Akhir paragraf pertama harus memancing rasa penasaran pembaca untuk melanjutkan ke paragraf berikutnya…

      Saya belum melihat itu. Tanamkanlah benih konflik, mungkin antara Ayah vs Aku.

      cobalah.

  12. FAHRUNNIZAR IRSAN HARAHAP says:

    Mohon Mas Anto Dachlan. Komentarnya.
    KEPERGIANMU
    Aku baru saja melepaskan pelukanku dan memandanginya yang kian jauh dariku. Sekali lagi dia membalikkan badannya dan melambaikan tangan ke arah ku sebelum akhirnya memasukkan kartu tiketnya pada pintu elektronik menuju peron keberangkatan kereta api Airport Railink System di Stasiun Besar Kereta Api Medan. Berat rasanya melepaskan dia pergi. Apalagi dia akan pergi jauh. Ke negeri Panda. Tiongkok. Sesaat dia telah menghilang dan menyatu dengan calon penumpang lain kereta api menuju Bandara Kualanamu itu. Aku berbalik dan menggandeng seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Ryan. Kekasihku. Kupandangi mata wanita itu berkaca-kaca seakan tak rela melepasnya pergi. Begitu juga aku. Seakan ada ganjalan berat yang mengganggu di hati. Dengan menumpang taksi kami putuskan untuk segera pulang ke rumah karena tampaknya Tante Hilda, mamanya Ryan sudah begitu letih.

    ———-

    Saya juga ada sedikit curhat Mas. Saya sudah menulis, namun tiba di pertengahan cerita terkadang ide untuk melanjutkan hilang. Apa yang akan selanjutnya terjadi dalam cerita itu saya bingung melanjutkannya gimana. Mohon bantuannya mungkin ada saran dari Mas Anto Dachlan

    • Anto Dachlan says:

      Saya bingung, Fahrunnizah. Paragraf pertamamu selesai… seolah cerita juga selesai. Coba deh baca sekali lagi :)

      Lain kali, buatlah outline sebelum menulis. Outline itu harus berisi kerangka, peta jalan cerita dari awal sampai akhir…

      Sama seperti kamu hendak menuju suatu tempat. Dengan menetapkan satu tujuan (akhir), kamu pasti tahu jalan yang harus kamu tempuh menuju kesana.

  13. lidya feby antony says:

    Kak aq mau buat cerpen tapi aq bingung ni soal nya cerpen nya buat gereja

    • lidya feby antony says:

      Kak aq mau buat cerpen ni tapi aku bingung gimana mau cari judul yang bagus dan aq juga masih bingung cara membuat cerpen
      Bantu kasih saran ya kak :)

      • Anto Dachlan says:

        baca artikel diatas untuk memulai menulis pembukaan.

        Soal judul nanti saja kamu cari setelah menyelesaikan cerpen. Biasanya datang sendiri tanpa dicari.

    • Anto Dachlan says:

      ya sudah, tulis saja cerpen tentang gereja. tentang fisik bangunannya, tentang kapel, bangku, serta orang-orang didalamnya… atau mungkin sebuah kisah cinta antara anggota paduan suaranya…. Ide tidak terbatas.

  14. fiona melinda says:

    halo Mas Anto,
    saya sudah tertarik ingin menulis cerpen sejak dulu. tapi karena banyak alasan tak satupun cerpen yang jadi. setelah membaca ilmu dari mas Anto, saya semakin bersemangat. di bawah ini draft paragraf pertama cerpen saya. mohon reviewnya ya mas. terima kasih telah berbagi ilmu.

    Rian terbangun dari lelapnya, berkeringat, dengan napas tersengal. Sambil mengelus keningnya ia kembali merebahkan tubuhnya. Matanya tertuju pada jam dinding di hadapannya. “ah… lagi-lagi aku terbangun di pagi buta” ujarnya tanpa tenaga. Ia putuskan beranjak dari kasurnya, berjalan lunglai menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya. Sejenak ia menatap cermin. Alis tebal, hidung mancung dan rambut ikal. “aku memang tampan” katanya dalam hati sambil tersenyum geli. Menyadari dirinya yang rupawan, tak melulu membuatnya lega. Selama 26 tahun umur hidupnya, ia hanya mengenal keluarga sang Ibu. Tak ada satu pun diantara mereka yang berambut ikal dan beralis tebal. “pastilah ayahku yang menurunkan gen rambut ikal dan alis tebal.” Rian menebak. Rian hanya tahu ayahnya meninggal saat ia berusia 20 hari. Hanya itu yang ibunya beri tahu. Lamunan tentang ayahnya menyadarkannya. Ia segera menuju laci tiga susun yang terletak di samping kasurnya. Membukanya, mengeluarkan sebuah amplop lusuh dan mengeluarkan isinya. Sebuah foto polaroid. Foto itu menunjukan sang Ibu yang menggendongnya saat bayi, dan seorang lelaki berambut ikal yang sedang mengecup kepalanya. “mungkinkah ia ayahku? Posisinya yang berdiri menyamping, membuat wajahnya tak terlihat dengan jelas. “akan ku tanyakan sekali pada Ibu, siapa ayahku? Dan di mana ia sekarang?” Rian membatin.

    • Anto Dachlan says:

      Oke, paragraf pertama kamu sudah selesai…

      lalu apa ? Kembali berhenti ? Tidak jadi ? Apa lagi alasanmu sekarang, Fiona ?

      Buktikan kalau saya salah. Caranya, selesaikan cerpen diatas.

  15. Reisza says:

    saya Reisza, minta koment dan saranya. . .

    Aku berlari, manaiki tangga, menyusuri gedung kelas. Kuambil langkah lebar. Beberapa pasang mata memperhatikanku, tidak heran lagi. Mungkin sudah biasa. Aku tidak peduli. Sambil kulirik jam digitalku. 7.06am. Sebuah peningkatan. Aku mempercepat langkahku. Saat menegakkan kepala, kurasakan tubuh menghantam sesuatu. Keras. Kepalaku terbentur. Sakit sekali. Apa tadi ? Cagak tembok ? Sial, semakin terlambat.
    Kulihat seorang perempuan berlari. Mendekat. Tampak panik. Benturan itu membuatku tidak bisa berpikir. Panik kepada siapa ? Perasaan hanya ada aku disini.
    “kakak nggak papa ? Sakit ? Saya antar ke UKS ?” Ohh, dia panik padaku. Menyadarkanku akan sesuatu yang penting.
    “aku terlambat… harus ke kelas.” Jawabku, masih berdiri sempoyongan.
    Samar-samar kulihat dia mengulurkan tangan. Hendak membantuku. Namun aku tidak mersakan sentuhannya. Pandanganku menggelap. Seperti mentari pagi itu lenyap.
    ‘Bruuuuggh’

  16. reisza says:

    Kak, saya reisza, minta koment dan sarannya. . .
    Aku berlari, menaiki tangga, menyusuri gedung kelas. Langkahku yang lebar sangat membantu disaat seperti ini. Beberapa pasang mata mengamatiku, tidak heran lagi. Mungkin sudah biasa. Aku tidak peduli. Kulirik jam digitalku. 7.06am. Sebuah peningkatan. Aku mempercepat langkahku. Berharap menit itu tidak bertambah saat sampai di kelas. Saat menegakkan kepalaku, kurasakan tubuhku menghantam sesuatu. Keras. Kepalaku terbentur, sakit sekali. Apa tadi ? Cagak tembok ? Sial, semakin terlambat.
    Aku melihat seseorang berlari. Mendekat.
    “kakak nggak papa ? Sakit ? perlu saya antar ke UKS ?” Panik, melihatku masih terhuyung.
    “aku terlambat… harus ke kelas.”
    Samar-samar kulihat, dia mengulurkan tangan, hendak membantuku, namun tidak kurasakan sentuhannya. Pandanganku menggelap.
    ‘Bruuuuggghh’

  17. Nadia Puspita says:

    tolong kasih sarannya ya… aku baru belajar..

    Dingin. Itu yang dirasakannya saat dia kembali menginjakkan kakinya di negeri Gingseng ini. Dua tahun yang lalu, dia meninggalkan negeri ini untuk menuntut ilmu di Amerika. Bukan hanya negeri, keluarga dan teman yang dia tinggalkan. Tapi ada seseorang yang saat itu tengah mengisi hari-harinya. Park Young Jae hanya satu-satunya orang bisa membuatnya bahagia saat itu. Kasih sayang yang diberikan Young Jae kepada Park Hyun Na sangatlah besar. Di minggu pertama Hyun Na tinggal di Amerika, Young Jae sering kali menelponnya hanya sekedar untuk menanyakan kabar. Namun, di minggu-minggu berikutnya Young Jae jarang menelpon atau mengiriminya pesan singkat. Sampai akhirnya, Young Jae tak pernah menghubunginya lagi. Sendiri. Sepi. itu yang dirasakannya saat ia tak mendapat kabar dari Young Jae. Satu-satunya lelaki yang dapat membuat Hyun Na bahagia saat itu, menghilang begitu saja.

  18. Pertama, artikelnya bagus banget buat kita-kita yang niat membuat cerita. Jempol buat abang :)
    Sekalian bang, minta kritik dan sarannya dong, ini salah satu paragraf pembuka cerita yg saya buat

    Seakan sengaja memecah fokusku, suara deringan bel sekolah yang terakhir kali hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Debu-debu yang berhasil menyelinap masuk melewati celah-celah jendela yang kubiarkan separuh terbuka, kembali mengotori keramik ruangan yang sudah aku bersihkan satu jam lalu. Terangnya sinar matahari kejinggaan dari luar kelas ini, menyinari puluhan pasang meja dan bangku kayu jati coklat yang berbau khas. Sementara, anak ini—laki-laki berseragam putih abu-abu yang sekarang berdiri di hadapanku—tetap tidak bergeming dari tempatnya.

    Terima kasih

  19. Alan tamalagi says:

    Komentari, bagus atau tidak? Ini paragraf pertama novel perdana saya, judulnya ‘PANAH PEMBURU DAN CERITA KEMATIAN’

    Angin sayup-sayup di telingannya, meniup pelupuk matanya yang basah. Tubuh itu seperti berubah hangat, mungkin karena ketakutan yang tak bisa dikendalikan. Kakinya tak henti bergetar, seperti ada yang menggetarkannya, tak bisa berhenti. Di balik dahan itu ia berusaha menutup mulutnya, menunduk seperti penyusup, seraya terus memandang keluar. Si raja rimba itu masih disana, keluhnya dalam hati. Tubuh besar sang singa sudah berdarah dan terpanah beberapa kali, namun entah kenapa masih bertahan hidup. Mungkin sekali tembakan lagi, pikirnya. Tangan putih berdarah itu bergerak menarik anak panah dengan gemetar. Sekali tembakan lagi, pikirnya terus menerus. Suarnya mengalir bercampur darah lalu membasahi keningnya, seraya terus membidik singa itu. Detik kemudian anak panah itu meluncur deras, keluar dari dahan-dahan pohon yang tebal, lalu mengenai tubuh si Singa. Tubuh gagah sang Singa mendadak terhuyung tak tentu arah, kemudian terjatuh dengan lemah, bidikannya kali ini tak meleset.

  20. Kak mohon sarannya untuk paragraf pertama saya:

    Pagi ini langit mendung, tapi tak setetespun air hujan yang turun. Ku singkap kain jendela kamarku, ku biarkan cahaya redup mentari menyinari ruang sederhana, yang telah menjadi bagian dari hidupku selama ini. Perhatianku masih tertuju pada beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai. Kertas yang hampir membuatku frustasi. Ku ambil kembali kertas itu, ku amati lagi, nilai-nilai yang melukis sederet angka yang nyaris sempurna. Matematika: 8,9, Bahasa inggris: 9,1, Ekonomi:9,5, Bahasa Indonesia:9,5 … Dst. Ah! Apa gunanya nilai-nilai itu sekarang? Bagiku, sudah tak berharga lagi. Aku muak dengan selembar Ijaza dan beberapa piagam penghargaan yang dengan susah payah ku dapat, namun sekarang hanya menjadi tumpukan kertas yang tak berharga.

    • Anto Dachlan says:

      Rumhy. Hindari menulis cuaca… :)

      Mulai kalimat pembuka pada ” Perhatianku masih tertuju…etc”

      • Rumhy says:

        Kalau yg ini gimana menurut kakak?

        Suara langkah kaki itu samar-samar mengusik ke dua anak telingaku. Aku menoleh. Sunyi. Hanya ada beberapa daun kering yang berterbangan tertiup angin malam. Aku kembali melangkah. Sesekali kulirik jam tangan yang melingkar dilengan kiriku, pukul 02.27. Mustahil ada kendaraan yang lewat. Tiba-tiba keringat dingin mengguyur seluruh tubuhku. Bulu kudukku berdiri. Suara langkah kaki itu kembali terdengar seperti denting jam yang seolah ingin menghentikan waktu. Aku berusaha untuk tidak peduli. Kupercepat langkahku. Tapi ah … Waktu terasa semakin lamban.
        “Tolong!” suara itu terdengar nyaring dari belakang. Tubuhku gemetar, tak berani berbalik. Aku tetap berjalan.
        “Tolong! Tolong!” suara itu mendekat. Aku menoleh dan … “bbuukk!” Seorang wanita setengah baya terjatuh tepat di belakangku. “Kau tak apa?” ujarku, ia merintih kesakitan. Wajahnya pucat, sorot matanya begitu sayu. Aku berusaha untuk menggendongnya tapi tak sengaja ketika tanganku menyentuh pinggangnya, kurasakan sesuatu yang lembab dan pekat. Darah.

  21. tolong kritikny yaa..

    Ketika kau memutuskan untuk menjadi sesuatu, berarti kau juga siap dengan segala resiko dan tanggung jawabnya. Dalam kasusku, aku memilih menjadi seorang pelaut, dan—yang dengan berat hati kukatakan—salah satu dari sekian banyak resiko yang harus kuhadapi adalah menjadi umpan ikan hiu. Kalau kau bertanya-tanya kenapa umpan ikan hiu, mungkin ini agak miris karena saat ini aku tengah berdiri di atas papan titian mengarah ke laut lepas dengan tangan terikat dan todongan pedang si tua Charro di punggungku.
    Aku membusungkan dadaku, bukan untuk berniat sombong, tapi karena aku merasakan dinginnya ujung pedang si tua itu semakin menekan punggungku.
    “Bi… bisa kau hentikan itu?” tanyaku agak terbata-bata, “setidaknya jadilah orang tua yang bijaksana.”
    “Bijaksana katamu? Kau bahkan tidak cukup bijaksana saat memutuskan untuk menipu kami. Hahaha…” Si tua itu tertawa diikuti beberapa anak buahnya.
    “Yaa,” aku memacu otakku untuk bekerja lebih keras, “setidaknya kau tahu kan peraturannya? Maksudku permintaan terakhir.” Oke, sebenarnya ini bukan peraturan hanya kebiasaan saja, tapi setidaknya aku masih bisa berharap.
    “Dasar bocah tengik,” hardik Charro, “kau tidak bisa membodohiku untuk kesekian kalinya! Maju!”
    Aku tersentak kaget dan mau tidak mau maju selangkah kecil dan hampir oleng karena si tua itu sekali lagi menekankan pedangnya ke punggungku. Jika saja aku tidak konsentrasi dan menahan keseimbangan, aku pasti sudah tercebur ke laut lepas.
    “Hei.. hei, hentikan itu!”
    “Aku tidak punya alasan untuk menghentikannya!”
    “PUNYA!” teriakku, “ya, kau punya!”
    Si tua itu berdehem dan sedikit melonggarkan pedangnya. Aku memalingkan kepalaku sedikit ke arahnya, sebelah alisnya tengah dinaikkan seakan bertanya “apa?”
    “Aku menawarkan kesepakatan.”

  22. Rahmawati says:

    Kak, kebetulan nih aku dapat tugas bikin cerpen. Kalo paragraf pertama ky gini gimana? Trs kira-kira buat ngenalin nama tokoh wanita itu apa harus di paragraf pertama juga atau gimana? Mohon sarannya. Thx :)

    Di atas tingginya gedung di yang berada di pusat Manhattan, seorang wanita duduk sambil memandang pemandangan kota yang begitu ramai. Dedaunan berterbangan di atas tanah ini tepatnya, di sebuah atap gedung yang dijadikan sebagai tempat bersantai untuk melepas penat setelah bekerja hampir seharian. Hari sudah mulai menjelang malam, matahari pun menenggelamkan dirinya. Ia pun masuk kembali ke dalam gedung karena jam pulang telah tiba.

    “ Apakah Pak Jinyoung sudah pulang?” Tanya seorang karyawan.
    “ Sepertinya beberapa menit yang lalu..”
    ..

    • Anto Dachlan says:

      Lumayan, Rahma. lanjutkan.

      Ya, sebaiknya kamu mengenalkannya. Coba ganti kata “Seorang wanita…etc” dengan nama wanita tersebut. Misalnya ” Rahma duduk sambil memandang..etc”

  23. Usman Djabbar says:

    Gaya belajar yg asyik. Sy menikmatinya. Trmhksh.

  24. Isyroq says:

    mas, kalo di novel, yang dimaksud pembukaan diatas itu prolog atau sinopsis?

  25. karena banyak yang share…

    saya juga ah.

    mohon kritikannya.

    Malam yang larut, seorang anak laki-laki berlari menyelesuri hutan setelah melihat cahaya merah berkobar dari desa tempat tinggalnya. Berlari di tengah kegelapan malam, tanpa henti menuju desanya. Kekhawatiran terlihat jelas pada wajahnya yang panik melihat cahaya itu yang semakin jelas saat dia mendekati desanya.

    Guaaarrr

    Suara ledakan dari gedung disertai dengan kobaran api yang menyebar ke seluruh desa. Dia sampai dan melihat keadaan desanya yang terbakar. Rumah dan pohon di sekitar desa dimakan oleh kobaran api yang ganas terus menjalar ke seluruh desa.

    “Hah… apa yang sudah terjadi di sini?”

    Masih teringat di benaknya, keadaan desa yang aman dan tentram beberapa jam sebelumnya. Saat dia dan temannya masih berlatih dan bermain bersama.

  26. wei muhsin says:

    mohon kritiknya,trims.
    Nafas berat menghempaskan punggungku bersandar di kursi kerja,di ruang pasien di klinik salah satu hotel di bilangan jakarta pusat ini aku menghabiskan waktuku mengais rejeki untuk menyambung hidup.Kehidupan yg berbeda jauh dari yg aku alami sebelumnya.Pikiranku melayang,menerawang asa yg kulalui lima tahun yang lalu.

  27. wei muhsin says:

    mohon kritiknya,terima kasih.
    Nafas berat menghempaskan punggungku bersandar di kursi kerja ini,di ruang pasien di klinik salah satu hotel bilangan jakarta pusat ini aku menghabiskan waktuku mengais rejeki untuk menyambung hidup.Kehidupan yg berbeda jauh dari yg aku alami sebelumnya.Pikiranku melayang,menerawang asa yg kulalui lima tahun yang lalu.

  28. linesa says:

    kak minta komen

    Satu detik, satu menit, satu jam, hingga kini. Delapan malam. Sendiri di jalanan, hanya bersama sebuah biola tua. Mengobral suara di alun-alun sebetulnya merupakan rutinitasku setiap malam, namun tidak untuk malam ini. Rasanya menyakitkan melihat anak-anak muda seusiaku yang sedang malam mingguan dan apalagi ini adalah malam valentine. Layaknya pasangan di cafe seberang jalan itu. Mesra. Aku sedikit membencinya.

  29. Nur aima Siagian says:

    KAK, boleh mnta email kakak ? mw sharing sedikit kak,, terimakasih kak

  30. Zean Elhamas Baihaqy says:

    Mohon kritiknya. Paragraf pertama cerpen saya.

    Senja menyelinap dinatara sayup-sayup ranting pohon kering di suatu desa, desa yang penghuninya tak seberapa, tetapi penuh dengan pertikaian dan hanya angin yang mampu meredam tikai mereka. Disinalah aku hidup luntang lantung seperti Menak Jinggo. Hidupku tidak karu-karuan, tidak punya aturan, tidak punya rumah, tidak tahu orang tuaku siapa, tidak punya agama dan (mungkin) tidak punya Tuhan. Namun, tampaknya hidupku lebih bahagia dibanding para petinggi yang duduk di senayan sana.

    • Anto Dachlan says:

      Zean. Coba mulai paragraf dengan kalimat Disnilah aku hidup……

      Lalu hapus kalimat terakhir Namun tampaknya…..

      Kemudian lanjutkan ceritamu sampai selesai. Caramu bertutur menarik.

  31. Melinda says:

    kak, tolong di komentari cerpen yang baru saya tulis, trimksh sbelumnya utk koment dan ilmunya.

    Sebuah langkah memecah genangan air sisa hujan tadi sore. Seorang gadis usia 20an dengan jaket tebal duduk dibangku kayu panjang di sudut terminal. Petugas terminal melihatnya heran, melirik jam di tangannya 23.03. perlahan menghampirinya untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. “mau pulang kemana, neng?” sapaan petugas itu membuatnya terlepas dari lamunan. “eh, ngga pak, saya mau jemput.” Jawabnya kaku. “oh, jemput siapa neng? Orang tua?” petugas terminal mulai lega, namun rasa ingin taunya masih sangat besar. “bukan, kakak.” Gadis itu manjawab dengan ragu, seolah ia tidak ingin ada yang tau. Tapi petugas masih terus bertanya, gadis itu terlihat mulai tidak nyaman dengan kehadiran sang petugas di tambah semilir angin malam yang terus menyelinap kedalam jaket tebalnya.

    • Anto Dachlan says:

      Melinda. Ini keren.

      Tapi coba hapus saja kalimat pertama. Lansung mulai dengan : Seorang gadis…

      Selebihnya bagus. Lanjjutkan sampai selesai yah. tolong :)

      • Melinda says:

        Terimakasih :-) jadi semangat. akan saya lanjutkan hanya saja waktu luang saya tidak banyak.
        saya mau tanya, Apakah cerpen itu harus to the point?

  32. putri says:

    keren artikelnya mas,, jadi pengen nulis lagi,, thanks yaa :)

  33. camuruyo! says:

    Kalo ini gmana kak?
    Kesunyian malam itu terhenti ketika terdengarnya jeritan melengking mengerikan yang tanpa sadar keluar dari mulut seorang gadis inggris berambut cokelat sebahu saat segerombolan mahluk hitam mirip belatung menggerogoti tubuhnya. Melahap tubuhnya dengan rakus seolah mereka tak pernah melakukan kegiatan umum yang manusia dikenal dengan “makan”.
    Hehe :v

    • Anto Dachlan says:

      Anisa… Gunakan tanda Koma & Titik. Kedua tanda itu GRATIS, jd jangan ragu menggunakannya sebanyak mungkin.

  34. adli dzil ikram says:

    pagi itu, di ruang lap bahasa. suasana tak seperti biasanya, aku merasa ada aroma aroma yang berbeda. tak tau entah dari mana asalnya. tapi aku terlalu mengabaikan hal itu. pikiran fokus kepada sepucuk kertas yang berisi bahasa entah-berantah itu. mr. ali memanggilku berkali kali tapi aku tetap pada lamunanku sendiri. hingga dia melanjutkan penjelasannya. mata sesekali melirik kiri-kanan, yang terlihat hanyalah suasana lama yang tak ada cinta sama sekali. tiba tiba, suara lembut keluar dari arah pintu. seiring itu, mata jeli kesana dan aku melihat seorang gadis yang membisik hatiku.

    • Anto Dachlan says:

      Coba baca seksama artikel diatas, Adil. Pilih salah satu jenis pembukaan dan praktekkan dalam tulisanmu.

  35. Fitri Nissa says:

    Kak, tolong di koreksi ya..

    Aku memandang jauh ke tepian pantai di penghujung senja, terasa sesak. Memoriku kembali memutar kenangan kenangan itu. Aku masih menggenggam kotak merah iti, berharap tak pernah tau isinya. “Aku serius. Will you marry me?” Kata itu masih terngiang dibenakku, masih kuingat bagaimana perasaanku tatkala ia memasangkan sebuah benda bulat di jari manisku, seperti mimpi, kucubit tanganku dan “aw”, sakit. Ini nyata, pikirku. Ya, itu memang nyata seperti waktu yang kembali menunjukkan kenyataannya kini.

  36. Embun says:

    Bagaimana dengan awalan cerpenku ini kak?

    Pagi yang cerah akibat pantulan sinar matahari ke bumi yang kini telah masuk ke sela-sela gorden kamar seorang gadis yang telah berhasil membangunkannya dari tidur nyenyaknya.

    Tolong direspont kak :)

    • Anto Dachlan says:

      Tidak menarik, Siti Fakhira.

      itu ornamen. Kalimat artistik tidak menambah kualitas tulisan, selain pemborosan belaka.

      baca kembali artikel diatas, pilih salah satu. praktekkan.

  37. myori says:

    Kak, tolong di kritik.

    Dalam situasi segenting itu, Nurida terus asyik mengamati setiap inci wajah Hamid dengan teliti, apa yang di lihatnya merupakan kompensasi dari yang ia dengar, kata-kata pedas Hamid sama sekali tak berpengaruh. Ia terus memuja Hamid, ketua Rohis pindahan dari pesantren Gontor, Jawa Timur itu. Hatinya selalu berdesir setiap berpapasan dengan Hamid, bagai ledakan aurora di belantara Amazonia, ia kacau oleh perasaannya yang tak terbendung, tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa ia telah jatuh cinta, kali ini benar-benar jatuh cinta!
    Enam bulan bukan waktu yang sebentar untuk ia bisa bicara empat mata dengan pria keturunan tampan keturunan Arab itu, meski hanya diperpustakaan dengan jarak tak kurang dari lima meter dari tempat duduknya, meski pertemuannya tak lebih dari bentuk kekesalan Hamid padanya.

  38. adhe rahmawati says:

    Aku menatap nanar keluar jendela. Mengamati pemandangan yang tersuguh sejak setahun belakangan. Sebenarnya aku tidak terlalu suka berada disini. Ya, aku bukan berasal dari kota ini. Aku datang kekota ini tujuannya adalah menuntut ilmu. Seperti kata keluargaku aku harus menuntut ilmu sampai sang Khalik memanggilku untuk kembali.
    Sebenarnya aku bosan berada dikota ini. Aku rindu rumahku dan segala kehangatan yang berada disana. Aku rindu suasana berkumpul bersama keluarga dan teman-temanku. Aku rindu, benar-benar rindu dengan suasana kotaku. Terutama aroma pedesaan yang masih kentara disana. Aroma kesejukan yang menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya. Mengingatnya membuatku semakin merindukan rumah.
    Aku menghela nafas pelan. Memejamkan mata kemudian menyandarkan kepalaku pada bantalan kursi yang kududuki.
    “Adel.. Adel.. Adel..” suara itu terdengar sangat familiar ditelingaku
    “Bu? Apakah itu kau bu??? Ibu ??? Ibu..!!!”

    Kalau begini gimana ya pak??? Apakah penjabarannya terlalu membosankan??

    • Anto Dachlan says:

      Benar, Adhe. membosankan.

      Pengantar kamu terlalu banyak. Baca ulang artikel diatas, lalu pilih salah satu contoh pembukaan untuk tulisanmu.

  39. Shabrina says:

    Aku mengerjapkan mata. Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang bisa kulihat. Aku mengerjapkan mata lagi. Blur. Buram. Semua tampak tak jelas. Aku mengerjapkan mata sekali lagi. Putih. Itu yang kulihat.
    Sakit. Itu yang kurasakan. Seluruh tubuhku terasa sakit. Dunia ini terasa berputar. Aku mengangkat tanganku untuk memegang kepalaku yang semakin bertambah sakit. Tapi tubuhku menolak. Sederajatpun aku bergerak terasa sakit.
    Terdengar deru-deru suara di kejauhan. Aku tak mendengar jelas. Aku membuka mulut. Mengeluarkan beberapa patah kata. Tapi tak ada satu suarapun yang bisa kukeluarkan. Hanya rasa sakit ini yang terus datang.
    Aku terdiam.
    Aku tak bisa apa-apa.

    Mohon dikritik. Terimakasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Apa sebenarnya yg hendak kamu ceritakan, Shabrina ?

      Tp kamu punya kualitas dalam menulis. Kalimatmu pendek-pendek. Tp itu saja belum cukup.

      Dalam 1 paragraf pertama, pastikan pembaca sudah punya gambaran tentang apa sebenarnya yg hendak kau sampaikan.

  40. juwita says:

    malam kak, terima kasih atas postingannya,
    tolong beri komentar atas tulisan saya ya kak, trims

    Empat ratus ribu rupiah,itu adalah jumlah uang yang ia genggam sekarang,dan tak terasa air mata jatuh di kedua pipinya.Ia merasa sangat bahagia dan terharu atas uang yang ia genggam sekarang. Dan di dalam pikirannya terngiang kembali perkataan kedua orang tuanya.

    tolong koreksinya ya kak, trims

    • Anto Dachlan says:

      Juwita, tidak perlu kau katakan sang tokoh sedang terharu. Tunjukkan saja melalui mimik, gestur, atau adegan. Biarkan pembaca yang menilai apakah dia sedang terharu atau tidak.

  41. Ari Mulyaningsih says:

    Assalamu’alaikum”, terdengar nyaring suara seorang laki-laki dari depan pintu. Suara yang sangat ku kenali, yaitu suara ayahku. Malam itu pukul 20:00 dan Beliau baru pulang bertugas. Lelah tergambar jelas di wajahnya. Namun tak seperti biasanya, malam itu Ayah tidak langsung beristirahat setelah bertugas, Ayah minta di buatkan teh dan memintaku menemaninya mengobrol. “Ayah ngga capek?” tanyaku sambil mengaduk teh untuknya. Beliau tak menjawab dan hanya melemparkan senyuman ke arahku.

    Kak mohon di koreksi pembukaan cerpen saya ini, mungkin masih banyk kesalahan karna ini tulisan pertama saya. Terimakasih.

    • Anto Dachlan says:

      Tulisan pertama ?

      Hindari mengatakan ‘lelah tergambar diwajahnya’. Tunjukkan atau lukiskan apa yg kau maksud dengan wajah yg lelah. Mungkin dengan kalimat ” keringat bertimbulan diwajah ayah. Sorot matanya redup, etc.

      oke, Ari, Lanjutkan.

  42. Linesa says:

    Ka minta komen
    Hening, senyap, sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas. Dan hanya Dea dengan ransel besar yang setia bertengger di punggungnya, berisi beberapa potong pakaian, laptop, surat-surat penting termasuk ijazah, dan sebuah dompet tipis berisi empat lembar seratus ribuanlah yang tampak malam itu. Kedua matanya ia biarkan berkelana mencari papan atau sekedar spanduk yang bertuliskan “Kost Putri”, bila ada yang diikuti tulisan ‘murah’. Langkahnya terhenti saat telinganya menangkap gelombang suara derap kaki di belakang. Ia toleh. Dan ternyata halusinasi. Dia berjalan lagi, menyusuri Kota Jogja. Lalu berhenti. Sebelum ia menoleh lagi, seseorang mencoba menarik ranselnya dari belakang dengan tarikan kuat.

    • Anto Dachlan says:

      Linesa. Ini lumayan keren.

      Kecuali… coba hapus 3 kata pertama ; Hening. senyap. sepi. Jangan boros menggunakan kata yg bermakna sama.

      Hanya satu dua kendaraan melintas…. bukankah itu sudah melukiskan suasan sepi ? Pembaca pintar, percayalah :)

      Dan kamu mengakhirinya dengan adegan mencekam. menggantung. memicu rasa penasaran. Itu poin plus kamu.

      Oke, lanjutkan.

  43. Linesa says:

    saya sebetulnya minat menulis tapi tulisan saya sering berhenti di tengah tengah cerita karena kesulitan merangkai kata-kata. mohon tipsnya….

    • Anto Dachlan says:

      Kamu tidak kesulitan. kamu hanya malas, Linesa.

      Lanjutkan saja sampai selesai. Seburuk apapun hasilnya. Selesai lebih baik daripada sempurna.

      Jangan terobsesi dengan kesempurnaan. Itu makanya kita mengenal EDITING :)

  44. Firda Sufi Nurani says:

    Menyenangkan membaca setiap postingan Pak Rusdianto. Terima Kasih Pak. Oya, Saya sangat berharap suatu saat tulisan saya bisa diterbitkan. Saya seorang pencari kerja yang baru seminggu berada di Makassar. Saya lulus dari Universitas Negeri Malang lalu memutuskan untuk bekerja di Makassar. Selain itu, saya ingin terus dapat menulis tentu dengan mengasah kemampuan menulis saya. Apakah di Makassar ada komunitas penulis pemula atau pelatihan-pelatihan kepenulisan? Dan lagi saya sangat menyukai perpustakaan, tetapi belum menemukan perpustakaan umum di Makassar.

    • Anto Dachlan says:

      Selamat datang di Makassar Firda.

      Coba kau cari nama MADIA GADDAFI di Facebook. Kau akan menemukan semua yg kau cari dari Dia. Katakan saja saya yg merekomendasikannya.

  45. Darojatun Ni'mah says:

    kak bagaimana kalo di awal cerita dimulai dengan percakapan ?

  46. Verrell says:

    Kak, coba tolong beri saran pada paragraf pembuka pada cerita saya ini. Terima kasih
    Aku menghempaskan semua buku-buku pelajaran itu, sambil membanting diriku kedalam sofa yang empuk. Kutarik nafas dalam-dalam untuk meringankan beban kepalaku ini yang sudah kira-kira 1 ton beratnya. Kuperhatikan jendela rumahku. Cahaya hangat mentari sore menyapa diluar pagar rumahku, ditemani belaian angin sepoi-sepoi serta nyanyian para burung kutilang. Banyak teman-teman sebayaku bermain bola diluar sana, di hamparan rumput hijau dikelilingi dengan untaian padi yang menguning. Ingin rasanya hati ini ikut menikmati suasana menyenangkan seperti itu, namun pikiranku tertuju pada satu hal. Ah, ya, bodoh sekali aku ini. Dua minggu lagi, ujian nasional akan datang mencengkram diriku.

    • Anto Dachlan says:

      Verrel… hilangkan saja kalimat seperti padi menguning… angin sepoi-sepoi… nyanyian burung.. Kalimat ornamen semacam itu tidak menambah apapun.

      cepatlah masuk kedalam cerita yg hendak kau sampaikan.

  47. Hyuga endang says:

    hay, pak saya endang.
    baru belajar nulis cerpen , menurut bapak bagai mana dengan pembukaan cerpen saya.

    Seharusnya aku percaya perintahnya, berakhir ditengah kesunyian yang mencekam seperti ini bukan tujuanku. “ Ayaaaaaaah, Ibuuuuuuuuu……..”. dimana-dimana kalian, ayah aku mohon jawab aku , Ibu jangan tinggalkan aku. “ Hikss…Hikss..”.Saat isakan itu lolos dari bibir ku yang kulakukan hanya berjalan, terus jalan jauh-jauh menuju kedalam sisi tergelap hutan . “ Ayaaah, Ibuu..” suara ku terdengar seperti bisikan di tengah hutan ini, hutan gelap nan sunyi ini,sejauh mata memandang hanya ada pohon yang menjulang di depan. “Jalan-jalan terus melangkah jangan berhenti”, seruan-seruan itu terus terdengar di telingga ku , seakan perintah mutlak, Kaki yang rasanya tak mampu bergerak lagi,kaki bengkak akibat berjalan terlalu jauh, darah yang menetes dari celah kulit akibat goresan duri-duri tumbuhan merambat yang kulewati tak ku hiraukan. Dimalam seperti ini, saat bulan tepat diatas kepala ku hanya satu yang ku pikirkan terus berjalan atau mati dalam kegelapan.

    • Anto Dachlan says:

      Endang, apa sebenarnya yg hendak kau ceritakan ?

      Paragraf pembuka seharusnya mengantar pembaca memahami tentang apa gerangan cerpen ini.

  48. Tiar arlanda says:

    Malam kak .? Aku baru mulai belajar nulis cerpen ,aku butuh pendapat dan komentar dari kk..
    Perasaan riang wahid terpancar dari kejauhan. Senyumnya tak pernah terhenti dari wajahnya. Langkah kakinya begitu bersemangat, kadang berlari kecil dan melompat, terkadang pula dengan berteriak.

    Gimana kak paragraf pertamanya ,hancur atau jelek..?

  49. nitha says:

    postingan ini sangat menarik bukan hanya isi yang disampaikan tapi pengemasannya dalam artikel sangat baik, saya baru belajar membuat cerpen awalnya kira-kira seperti begini:

    Langkahku bergerak perlahan, pandanganku pun ikut bergerak perlahan menelusuri hiruk pikuk jalan raya yang sedang ku lalui. Sejenak pandanganku terpaku pada sepasang kekasih yang bergandengan tangan di seberang jalan. Aku dapat melihat hawa itu terpancar diantara mereka tapi aku sudah tak ingat lagi bagaimana rasanya. Aku melanjutkan langkahku, Dua tahun sudah aku lewati tanpa seseorang yang spesial. Kosong, namun tidak hampa, itu yang aku rasakan. Hawa itu, apa aku masih bisa merasakannya?

    mohon koreksinya, terima kasih.

    • Anto Dachlan says:

      Nitha, kau menggunakan sudut pandang orang pertama, namun bercerita seperti orang ketiga.

      Langkahku bergerak perlahan, pandanganku pun ikut bergerak perlahan menelusuri

      Kau melihat dirimu sendiri ? Apa seperti itu yg manusia lakukan dalam keseharian ?

      Lansung saja katakan….

      Jalanan hiruk pikuk oleh kendaraan… Sepasang kekasih bergandengan tangan

      tidak perlu menambahkan kalimat :

      aku dapat melihat.. pandanganku terpaku

      sebab tentu saja kamu yg melihat. siapa lagi ? Pembca sudah tahu itu :)

      Nah sekarang, koreksi lagi.

  50. Mutiara says:

    kak mohon di kritik cerpen yang pertama saya buat
    ini paragraf awalnya

    langit bandung kini cukup dingin meskipun tidak turun hujan , mungkin efek dari ribuaan angin yang menyambangi tubuhku tak jauh beda dengan keadaan semalam . karena di luar dingin sekali akhirnya ku putuskan untuk mampir ke kedai coffe yang ada di seberang jalan.

  51. Mutiara says:

    kak anto. mohon di kritik cerpen pertama yang saya buat
    ini faragraf awalnya

    langit bandung kini cukup dingin meskipun tidak turun hujan , mungkin efek dari ribuaan angin yang menyambangi tubuhku tak jauh beda dengan keadaan semalam . karena di luar dingin sekali akhirnya ku putuskan untuk mampir ke kedai coffe yang ada di seberang jalan.

    • Anto Dachlan says:

      Mutiara… dalam paragraf pertama, pembaca sebaiknya sudah punya gambaran tentang apa yg hendak kau sampaikan. Saya belum melihat itu. Ada apa dgn tokoh ? mengapa dia masuk ke Kedai kopi ?

  52. Fauziya says:

    Kak, tolong kritik dan sarannya dari paragraf pertama ini : Sebeelumnya terimakasih kak, salam kenal saya Fuzi.

    Tiga kali musim hujan telah aku lalui, selama itu perasaanku masih sama, menunggumu. Selama itu pula beberapa orang telah datang kepadaku. Nyatanya aku menolak. Kamu tau? Tiga bulan lagi aku akan meninggalkan musim hujan. Apakah aku harus menunggumu lagi?

    • Anto Dachlan says:

      Lebih mirip diary… atau surat cinta ketimbang cerpen, Fuzi. Maaf.

      Cobalah bercerita menggunakan adegan, dialog atau deskripsi tempat.

  53. Renrena Nanda says:

    kak Anto tidak diragukan lagi kredibilitasnya dalam menulis cerita. Bisa minta tolong koreksi paragraf awal ini Kak Anto? Saya mau bikin cerpen tentang kisah sedih gitu.. hehehe… saya tunggu sarannya yah kak,, mkasiihh banyakk…

    Hujan, satu kata yang menarik dalam hidupku. Apabila tetesan air hujan yang merupakan anugerah terlalu banyak, berubahlah hujan menjadi bencana. Sama halnya dengan hati yang penuh rasa sayang, tapi tidak memiliki ruang yang cukup. Rasa sayang yang hanya mengisi penuh hatiku, tapi tidak mengisi sebagian ruangnya. Hujan yang selalu datang saat hati ini bahagia, sedih, atau membeku. Selalu mengingatkanku pada rasa sayang.

    • Anto Dachlan says:

      Koq rasanya tidak sedih sama sekali, Nanda ? :)

      OMG, lagi-lagi hujan..

      Topik hujan sudah jenuh, Nanda. Biarkan para penyair yg mengeksplorasi hujan dan cuaca.

      Tugas penulis seperti kamua dalah membuat cerita melalui adegan, dialog, mimik, gestur, deskripsi latar dan gestur para karaktaer didalamnya.

  54. Pangalo says:

    Mas. Kalau seperti ini, kira-kira bagaimana pendapat, mas?. Hehee.
    ——————-
    Perkenalkan, namaku adalah Adnan Rais. Nama yang keren bukan?, kalian tidak akan menemukan nama seperti itu ditempat lain, aku yakin hanya akulah yang memiliki nama sekeren itu. Adnan itu artinya… Ah! sudahlah, tak usah dibahas, tidak penting juga. Jika kalian mau, kalian boleh memanggilku Adnan atau Rais saja. Tapi jangan panggil aku Ad atau Nan. Aku benci jika ada yang memanggilku demikian. Oh iya, sebelumnya kalian harus tahu dulu. Aku adalah sebuah karakter yang diciptakan penulis muda dalam salah satu cerpennya. Maksudku, aku tidak seperti kalian. Kalian adalah manusia sedangkan aku hanya sebuah ide. Aku tidak memiliki wujud seperti kalian, tidak mempunyai tubuh dan tidak bisa dilihat dengan mata. Aku hanya buah pemikiran manusia bernama Suparto Lumban Raja. Bagiku tiada Tuhan selain Dia. Iya, Dialah yang mengatur seluruh hidupku, bagaimana sikapku, bagaimana kisahku, Dialah yang mengaturnya. Ah! Aku harap kalian tidak bingung. Tapi kalau ternyata kalian masih bingung. Lupakan saja, tak usah diambil pusing. Lagi pula, tugasku bukan untuk menjelaskan perihal eksistensi sebuah ide atau menjelaskan perbedaan keberadaanku dengan keberadaan kalian. Kalaupun suatu saat nanti aku ditugaskan untuk menjelaskan hal itu, aku pasti menolak, malah!, aku akan mengadakan mogok, pokoknya! aku tidak mau menjelaskan teori-teori membosankan itu. Baiklah, sebelum kalian menjadi lebih bingung, mari kita teruskan. Jadi begini, didalam cerita pendek ini, aku ditugaskan si penulis untuk menceritakan sebuah kisah kepada kalian—para pembaca. Entah tentang apa, kalian lihat saja nanti. Kisah ini sudah lama ditulis oleh tuhan Suparto Lumban Raja. Hahaa. Nama yang norak. Suparto Lumban Raja! nama macam apa itu. Dasar tuhan norak!. Maaf..maaf.., aku terbawa suasana lagi. Hahaa, tapi nama itu memang norak. Ehm..Ehm, Baiklah, langsung saja. Jadi begini ceritanya:”

    ————–
    Mohon kritik dan sarannya, mas. Terimakasih.

    • Anto Dachlan says:

      jangan mengandalkan tulisan pada kemampuan menulis itu sendiri.

      Cerpen adalah cerita, setelah semua. Ibarat menonton teater, penonton ingin melihat sendiri semua karakter bertindak, bergerak, berdialog, bukan menonton satu orang dipanggung membacakan monolog.

  55. Mohon kritik dan saran buat pembukaan novel saya ini kak 😀

    Aichi membasuh seragamnya dengan pasrah, menyadari bahwa saus tomat bekas praktik memasak masih menempel di bajunya. Tak sengaja jarinya yang terluka menyenggol keran air saat mematikan air yang masih mengalir. Terasa nyeri luar biasa pada telunjuknya yang tertutup plester, akan tetapi mimik wajah anak itu sama sekali tidak berubah, sama sekali tidak meringis atau terlihat kesakitan, mungkin karena banyak luka lebih serius yang pernah dialaminya ketimbang goresan kecil di telunjuknya.

    • Anto Dachlan says:

      Hapus kata dengan pasrah..

      hapus juga kalimat akan tetapi mimik wajah anak itu sama sekali tidak berubah, sama sekali tidak meringis atau terlihat kesakitan.

      Lukiskan apa yg dimaksud dengan mimik tidak kesakitan ? biarkan pembaca sendiri yg menilai bahwa mimik si Aichi benar tidak berubah.

  56. islahiyah says:

    minta koreksiannya
    Dengan gerak cepat yang mengikuti setiap detak jantung, kini ku melangkah secepat kilat untuk prepare ke sekolah seperti biasanya. dengan wajah yang masih mengantuk ku arahkan mata ini pada jam di tangan kiriku yang bergambar doraemon dengan paduan warna putih dan biru. Wajahku sontak berubah 90 derajat menjadi seperti wajah maling yang tertangkap massa saat jam menunjukkan pukul 07.15,berteriak histeris bagai melihat hantu seram di pagi hari,juga seperti tersangka atau buronan yang di kejar kejar polisi. sudah terbayang wajah guru BP di depan mata yang terkenal killer itu, sebelumnya ku tak pernah mengenal kata terlambat dalam 1 periode terakhir. Saat ku menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu, terdengar sangat jelas suara bising akibat sepatuku yang menapak dan melintasi anak tangga itu secara terburu buru.

  57. Hayu Rosita says:

    kak tolong commentnya ya please,
    Bagaimana bisa aku mengemis cinta, aku seorang wanita, dan tidak sewajarnya begitu. Namun, ketika kita terlanjur jatuh cinta hal-hal gila yang tak pernah terpikirkan akan kita lakukan tanpa logika. Aku merenungi dan berpikir berulang kali tentang hal ini, tentang perasaan yang luar biasa kepada Binggo. Binggo Prasetyo, dia adalah laki-laki yang membuat aku menjadi seperti ini, membuat aku terlalu gila mencintai. Binggo memang laki-laki yang tampan, yang disukai banyak wanita, dengan hidung mancung, mata yang indah, tubuh yang tinggi dan ideal, kulitnya cokelat dengan khas kulit wilayah tropis, ditambah dengan keahliannya yang sangat pandai bernyanyi dan memetik senar gitar. Binggo adalah kekasihku, bagaimana cara aku tersenyum merelakan kepergiannya?

  58. Tresha says:

    Makasih pak atas infonya. Jujur postingan ini sangat membantu saya dalam membuat paragraf awal sebuah cerpen. Saya memang senang menulis, tapi selalu berhenti di tengah jalan karena kehabisan ide untuk alurnya. Apalagi dalam menentukan judul yang sesuai. Karena postingan ini, saya menjadi lebih terbantu untuk membuat sebuah cerpen lagi.
    Ini pembukaan cerpen yang saya buat untuk tugas sekolah, mohon kritik dan sarannya. Terimakasih :)
    Hanya butuh enam puluh detik untuk mencapai garis finish. Sorakan dari bangku penonton kian mengeras. Hentakan-hentakan kaki di belakangnya tak terdengar lagi. Juan memandang lurus tali putih yang tak jauh di hadapannya itu dengan senyum kemenangan. Kakinya yang terasa panas dan kepalanya yang pusing bukan main tak ia pedulikan. Satu langkah lagi dan akhirnya ia mendapatkan kemenangan.
    “Juan! Juan!” seru pemuda tinggi bertopi hitam sambil berlari. Mendengar itu, Juan menoleh seraya melemparkan senyum lebar.
    “Berapa? Kau menghitung waktunya, kan?” Juan melepas pelukan erat pemuda itu, lalu segera menyambar stopwatch yang dipegangnya.
    “Itu tidak penting! Ayo! Kau harus mengambil trofi itu dan kita pulang. Ibu sudah tidak sabar bertemu denganmu.”

  59. ria nadila says:

    Terimakasih telah menginspirasi saya untuk mencoba membuat tulisan. Ini pertama kalinya saya berkeinginan membuat cerpen yang sesuai dan dapat diterima pembaca . Mohon kritik dan sarannya kak.

    Langit mulai senja, Sang jingga pun kian menyapa, saat itu aku duduk termenung di bawah pohon nan rindang. Aku mulai bertanya pada diriku, “Apa tujuan hidup ini?” ,yang terlintas hanyalah khayalan belaka. Di sekelilingku semua terlihat hidup, bahkan rumput yang bergoyang dapat menikmati angin yang menerpanya ,tapi tak selamanya akan seperti itu”. Hanya terbesit sebuah tanya namun ini adalah faktanya.
    Seketika aku beridiri dan melanjutkan langkah demi langkah untuk sampai ke rumah, seraya berpikir akan hal yang menyenangkan jika suatu saat nanti aku dapat meraih mimpiku yaitu menjadi seorang arsitek ternama di Indonesia. Lagi-lagi hanya berkhayal karena tidak mungkin rasanya bagiku dapat keluar dari kota kelahiranku yang terkenal dengan pusat konservasi terbesar gajah di Indonesia. Akan sulit rasanya berhijrah mengejar mimpi tanpa restu orang tua. Pemikiran itu membuatku tidak ingin berkhayal terlalu jauh.
    Setibanya aku di rumah, aku bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menunaikan sholat maghrib. Setelah sholat aku menadahkan kedua tanganku memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, tiba-tiba di sela-sela do’aku terlintas lagi keinginan itu, lalu ku tuangkan begitusaja sebagai curahan hati yang tidak perlu diketahui siapa pun sampai aku berhasil mencapainya.

  60. neisya says:

    kak mau nanya nih, apakah paragraf saya ini sudah menarik?
    “Kenapa harus pria itu ada disini…… Tidak!!
    Dilarut nya malam café tersebut terdapat seorang ggadis cantik berpostur tinggi. Ia memiliki rambut hitam bergelombang yang amat elok. Dengan senada baju bewarna pink yang sedang ia kenakan. Yaa gadis itu bernama Rain. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Pandangannya hanya tertuju kearah jendela yang berada disampingnya.
    “Excuse me miss” tanya salah satu pelayan café tersebut. Rain pun segera mengalihkan pandangannya kepada pelayan itu

    “Oh iya, ada apa?” jawabnya
    “Nona mau pesan sekarang atau nanti saja?” tanya pelayan itu dengan amat sangat ramah. Rain bingung akan memesan apa, karena pikirannya kali ini sangat blank.
    Ting tong… suara bel café tersebut tiba-tiba saja berbunyi. Masuklah langkahan kaki seorang pria memasuki café ini. Dia begitu tampan dan mempunyai postur tubuh yang amat gagah.
    “Permisi nona, apakah mau pesan sekarang atau tidak?” tanya pelayang café tersebut sekali lagi pada Rain
    ” hehe baru permulaan
    ngomong-ngomong saran kk membantu banget :)

  61. Celeste says:

    Kak, boleh minta komentar? Kalau awal paragraf aku buat seperti ini:

    Arina menutup buku sejarahnya dan lekas membereskan buku-bukunya dengan cepat. Mengapa? Tentu karena sepersekian detik sebelum itu ia telah menangkap sosok ‘Aidan Adhidevara’ melewati kelasnya. Ia segera memasukan seluruh bukunya ke dalam ransel birunya lalu berlari mengejar Aidan.

    Terima Kasih kak :)

  62. Assalamualaikum
    Mas Anto,kalau menurut anda CerPen itu minimal berapa halaman???
    Thanks…

  63. nurul mustofa says:

    Mas tolong di kritik paragraf pertama, soalnnya ini ini baru coba-coba

    Gerimis pun tak kunjung reda membasahi seluruh tubuh ini sampai menggigil, Aku melihat dengan pandangan yang samar-samar di depan ada sebuah gubuk reot yang sangat kecil yang menjual macam-macam minuman, ingin rasanya ku berhenti sejenak untuk menghangatkan tubuh ini….

    • Anto Dachlan says:

      Nurul, pandangan samar-samar koq bisa memastikan gubuk reot itu menjual minuman ? macam-macam minuman lagi ?

      Dan lagi, pembaca tahu mata manusia terletak didepan. Jika kamu melihat, tidak perlu lagi mengatakan “…samar-samar didepan“.

      jangan sampai kalimatmu tidak logis.

      Oh yah, hindari redundansi (pengulangan). ” Aku melihat dengan pandangan…. ” Cukup ” aku melihat samar-samar...”

      Nah, Nurul. Coba perbaiki lagi.

      • puput d cahya says:

        Kak mohon korelsinya ya, ini paragraf awal saya, menurut kakak gimana?
        Mohon komenannya ya .

        Telah hampir sebulan ku hanya duduk terdiam tanpa ada aktivitas yang pasti. Setelah ujian nasional terselenggara aku pun tak pernah lagi beranjak pergi ke sekolah, wajarlah SMAku ini berada di lingkungan pesantren yang mayoritas siswanya adalah warga luar kota bahkan luar pulau, sehingga setelah tak ada agenda wajib di sekolah mereka semua pada boyong pulang ke kampung halaman masing-masing.

        • Anto Dachlan says:

          Tidak menarik. Pengantar cerita bertele-tele…. Sampai paragraf berakhir, pembaca sama sekali tidak menemukan gambaran tentang apa sebenarnya yang hendak kamu ceritakan.

          Puput baca gak sih artikel diatas ? pilih salah satu dari 5 jenis pembuka diatas untuk kamu gunakan dalam ceritamu.

  64. Jesica Ariel says:

    TING TONG!!! TING TONG!!!
    bernafaslah..rasakanlah…
    kunci yang terletak yang di laut untuk hidup.. awalnya tidak percaya? cobalah? ini yang telah kurasakan saat itu..

    kak saya jesica, mau cerita soal fantasi , menurut kakak gimana?

  65. Sepuluh tahun lamanya arun pergi meninggalkan kampung halamannya, kota medan. Ia tidak ingin lagi kembali kesana. “Begitu banyak masa lalu yang ingin kulupakan”, ujarnya saat ditanya alasan dia pergi.
    Kini ia telah berhasil diperantauan, menjadi orang besar, pengusaha sukses. Apa yang dahulu dimilikinya sekarang telah ada, namun tetap saja ia masih merasa ada sesuatu yang hilang.
    Ketika itu, saat dia hendak bersiap untuk bekerja, seseorang mengetuk pintunya. Dibukanya pintu dan seketika berdebar jantungnya melihat siapa yang berada didepannya. Rahma. Wanita yang dahulu pernah dicintainya. Permatanya yang hilang. Sudah sekian lama ia merindukannya sekarang telah hadir didepannya.
    Wanita inilah alasan kenapa ia pergi.

    Mohon dikritik, tidak tahu saya akan kebenaran jika tidak ada kesalahan, terima kasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Oke… pembukanya semacam backstory.

      dan kalimat terakhirnya menarik ” wanita inilah alasan kenapa ia pergi

      Pembaca jadi ingin tahu apa yang terjadi antara Arun dengan Rahma. dimasa lalu.. dan apa yg akan terjadi dimasa sekarang.

      lumayan, Mard. Lanjutkan

  66. habibah.is says:

    terima kasih, artikel ini sangat membantu saya sebagai penulis pemula :)
    mohon kiritik dan saran untuk pembukaan cerpen ini:
    Di bangku taman itu. Aku pertama kali mengenalnya. Saat itu aku duduk santai menjuntaikan kakiku dengan wajah yang ditutupi oleh sebuah buku kecil yang lembarannya sudah mulai menguning. Secara tidak sengaja ada seorang pria bertopi merah yang terlihat lebih tua dariku, memakai kaos oblong, celana pendek, dan kedua tangannya sambil memegang sebuah handuk kecil dilehernya, tiba-tiba dia menyandung kakiku. Lantas pria bertopi merah itu terjungkal dan bagian lututnya mengenai badan jalan yang dilapisi aspal. Aku terperanjat saat mendengar suara gertakan saat ia terjatuh.

    • Anto Dachlan says:

      bagaimana kalau ‘ Aku mengenalnya pertama kali di bangku taman itu…dst ”

      Oh yah, pastikan detail-detail seperti topi merah, buku kecil, kaos oblong, handuk punya makna.. tidak asal hadir. Jika dalam kelanjutannya semua ornamen-ornamen itu tidak memberi arti, misalnya melukiskaan sosok si lelaki sebagai sopir bus.. atau pelukis.. atau kepribadian lainnya, maka itu hanya pemborosan.

      kep writing, habibah.

      • habibah.is says:

        ok, jadi detail-detail itu seharusnya dihilangkan atau gimana?

        • Anto Dachlan says:

          Tergantung lanjutan cerpenmu, Habibah.

          Jika pada paragraf selanjutnya, sampai akhir, semua detil-detil itu punya makna, sering kamu ulangi, maka tidak ada masalah.

          Katakanlah topi merah menjadi cara tokoh utama menamai si pria. Dia tidak tahu namanya, dia hanya tahu orang itu sebagai pria bartopi merah.

          Nah, lanjutkan.

          • habibah.is says:

            baik, nanti saya perbaiki.
            kalo paragraf yg satu ini gimana?
            Teng! Teng! Teng! Bel istirahat berbunyi. Semua murid kelas VI B SD Pelita Bangsa bergegas meninggalkan kelasnya kecuali Agra. Entah kenapa Agra memisahkan diri dari teman-temannya yang mungkin berada di kantin, menikmati jam istirahat.
            Agra duduk di bangku paling belakang, sambil berpangku tangan dengan pandangan kosong. Perlahan anak berambut ikal tersebut beranjak dari bangku yang ia duduki. Melangkah menuju pintu kelas, melongok keluar kemudian menengok ke kiri dan ke kanan. Segera Agra meraih tasnya, mengendap-endap keluar dari jendela, kemudian melompati pagar samping sekolah. Apa yang terjadi? Saat Agra berada di ujung pagar, tiba seorang pria bertubuh lebar dan berkumis tebal memergokinya.

            • Anto Dachlan says:

              Lumayan, habibah.

              Hapus saja kalimat ini : “ Entah kenapa Agra memisahkan diri dari teman-temannya yang mungkin berada di kantin, menikmati jam istirahat.

              lanjutkan.

  67. NOVIA RARASATIE says:

    kak aku ada tuga buat cerpen dan ini pertama kalinya nulis, bantu comment ya kaaakkk!!!

    Derasnya hujan mungkin lebih tepat menggambarkan perasaanku saat ini. Aku termangu dalam lamunan senjaku. Menyesal, iya menyesal. Sangat membekas dikepalaku. Rasanya kejadian itu selalu membayangi setiap langkahku. Andai segalanya dapat berubah. Andai dapat ku ciptakan mesin waktu walaupun mustahil, akan kukorbankan segalanya demi kamu. Sejuta penyesalan dan tetesan air mata takkan merubah segalanya.

    • Anto Dachlan says:

      Novia, tidak perlu menjelaskan apa isi kepala & perasaanmu.

      Tulis saja apa yang terjadi pada saat hujan. Apa yang kamu lakukan. apa yang kamu lihat, apa yang kamu lihat.
      karakter harus bergerak, bertindak, berdialog dengan karakter lain.

      Dari segala tindakan, mimik, dan dialog karakter, pembaca dapat mengetahui sendiri apa yang dirasakan karakter. Tanpa perlu kamu mengatakannya.

  68. qintazshk says:

    Halo kak!
    aku suka banget postingan kakak yang ini karena jujur aja selama ini nulis, aku ngerasa tulisan aku belum bisa menarik minat pembaca. Kelemahan aku emang di paragraf pertama dan ini ngebantu banget kaak, makasih yaa ^^

    mau minta saran buat cerita saya yang ini boleh ngga kak? kalau kakak ngga sibuk aja :)
    [mohon maaf kalau ceritanya… ya gitu kak -_-]
    sukses terus kaak ^^

    • Anto Dachlan says:

      Fan fiction yah ? K-Pop ? :)

      Saya belum punya waktu mencermati detil-detilnya, Qintazshk (Btw, nama macam ini ? ) :)

      Begini saja, coba buat satu paragraf pembuka, lalu posting di komentar ini.

  69. Audya Annisa says:

    Sungguh membantu artikelnya ^^

    Kak, ini ada pembukaan cerpen punyaku. Mohon minta pendapatnya yaa, hehe

    Hawa dingin semakin merasuk kedalam permukaan kulit ini. Aku mengeratkan pelukanku pada kedua kaki yang ku tekukkan. Gorden putih melambai-lambai meminta seseorang menutup jendela untuk menghangatkannya juga. Diam. Aku tidak peduli pada gorden itu dan juga pada tubuhku yang mulai bergetar. Buliran air hangat mengalir tiba-tiba dari kedua mata ini. Semakin deras saat melihat pada layar handphone yang menunjukkan sesuatu akan alasan aku menangis malam ini. Satu judul artikel yang membuat hati terasa sangat sakit. “Lee Min Ho Officially Dating with Suzy Miss A.”
    Aku melengkungkan bibir ini, bukan untuk tersenyum melainkan menggigit bibir sendiri. Berusaha menahan sesak di dada. Malam ini… Perih. Dingin. Sungguh kejam.

    • Anto Dachlan says:

      Annisa, 4 kalimat pertama gagal menarik minatku.

      Mari kita coba menghapusnya. Dan mulai paragraf dari kalimat ” Butiran hangat…etc..

      Hmm.. sepertinya lebih bagus, benar ?

      Ok, lanjutkan.

  70. Assalamu’alaikum bang, mohon maaf, komentar saya yang sebelumnya ko gak ada ya?

    • Anto Dachlan says:

      Komentar yg mana , Husen ?

      Puluhan komentar masuk setiap hari… belum termasuk yg Spam (hanya untuk mendapat backlink). Mungkin komentarmu masuk ke kotak Spam.

  71. Pa anto, saya terpingkal-pingkal membaca artikel ini. bukan hanya sekedar kelembutan hati seorang noveler seperti bapak yang menjawab setiap komentar. antusiasme bapak untuk menumbuhkan minat seseorang menulis, membuat hati saya terpikat untuk menjadi budak pena. menelusuri alam pikir dengan tulisan.

    ini minta komentarnya ya pak? semoga saya bisa bertatap muka di kesempatan waktu dengan bapak. amin

    “Disana di dekat dermaga tua, kau masuk gang sempit, hanya beberapa langkah saja kau akan menemukan perempuan tua. hidup bersama kedua anak kecil baru brumur belasan tahun. Kau tanya saja dia !. Dia orang yang paling tua di sini. mungkin dia tau apa yang sedang kau cari di dusun ini”.
    Lelaki setengah baya itu pun kemudian tersenyum dan sedikit menganggukan kepala dengan seraya berucap :
    “terimakasih pa”?.
    bapak tua itu pun membalas senyumnya sambari meneruskan perjalanannya dengan membawa cangkul di pundaknya. Bergegas.

    • Anto Dachlan says:

      Husen, hindari membuka paragraf dengan dialog.

      Paling tidak pembaca punya gambaran siapa dan mengapa dialog terjadi. Meski itu cuma satu kalimat.

      Ulangi.

  72. bagaimana dengan ini kak’ klo mau dijadikan paragraf pertama dalam cerpen.
    “Setiap matahari mulai memancarkan sinarnya dari peraduan, selalu kusambut dengan muka yang lesuh dan hati yang dipenuhi rasa kebimbangan, seraya kubertanya dalam hati, mungkinkah hari ini pengharapanku akan lebih dari yang kemarin, mungkinkah akan lebih banyak lagi uang yang akan ku tumpukkan diatas roda dua ku,

    • Anto Dachlan says:

      Yusuf, saya kehilangan minat untuk mengetahui kelanjutan ceritamu.

      paragraf pertama satu-satunya kesempatan kamu menarik minat pembaca. jangan sia-siakan dengan kalimat tidak penting.

      Dalam kasus diatas, kamu gagal. Sampai kalimat terakhir, saya belum punya gambaran apa gerangan isi cerpenmu.

  73. Bang mohon kritiknya…

    Gemericik hujan saling bergantian. Sofa tua dari bambu. Tidak reot hanya sedikit berumur. Kaki itu naik turun. Kadang di ayunkan perlahan. Matahari masih ada hanya terhalang awan tebal sebentar lagi mungkin akan gelap. Dan, benda itu. Iya, yang selalu dia tunggu setiap senja. Bukan sebuah planet biru, tetapi lebih besar dari itu. Hari ini benar-benar sangat mendung. Matanya terus menatap langit yang tak berhenti meneteskan air. Melirik ke tenggara, barat daya, selatan dan utara. Entah apa. Tangannya terpangku di lutut. Kali ini dia berdiri. Bahkan terus berjalan pelan. Tak peduli basah bajunya. Melawan air, mendengak ke atas mencoba melihat walau air hujan membuat pandanganya perih.
    “ASTAGAAA!! Sampai kapan kau akan seperti ini terus? Aku sudah sangat pusing kau tau hah!!” tak ada reaksi. Hanya pandangan tanpa asa.

    • Anto Dachlan says:

      Lulu… terlalu banyak pengantar. Satu paragaraf selesai tanpa ada bayangan dikepala pembaca, tentang apa cerpen kamu.

  74. Tawa Sita pecah saat mendengar kekonyolan Jun, bagaikan anak kecil yang didongengkan ibunya Sita mengikuti setiap alur cerita yang disampaikan Jun, hingga tenggorokannya sakit, karna menahan tawa, dalam hati dia bergumam ini benar-benar sial, cerita yang begitu menarik dan lucu pastinya, tapi dia harus menahan tawanya, itu benar benar menyebalkan, walau bagaimana pun itu tetap harus dilakukannya, jika tidak mau tetangga rumahnya yang seperti nenek sihir itu melempar rumahnya dengan sepatu, “nenek sihir” itu yang dipikirkan Sita setiap kali melihat tetangganya yang menyebalkan.

    Mohon kritiknya masih pemula terimakasih..

    • Anto Dachlan says:

      Vina, satu paragraf selesai dan saya belum tahu tentang apa cerpen kamu ini kelak.

      Tanpa daya tarik, mustahil saya (dan pembaca lain) membaca kelanjutannya.

  75. Artikelnya bagus sekali! Insyaallah saya akan terapkan. Saya suka menulis cerpen dri kecil sudah bnyak buku tulis yg berallih fungsi dari buku pelajaran menjadi media saya menulis. Tapi sayangnya tulisan saya hanya tertumpuk bgitu saja. akhir2 ini saya sedang menggiatkn diri menulis.saya mau bertanya? Apakah cerpen yang bnyak memakai kata saya, aku. Gua lo.itu tidak terkesan membosankan.?karena cerpen saya bnyak.kata saya. Dan bagaimana caramya ketika kita punya ide cerita yg sudah lazim tapi bsa dituliskan.berbeda dan unik sehingga bisa menarik pembaca. Saya kesulitan menemukan orang yang bersedia mengkoreksi cerpen2 saya. Teman2 penulis yg saya tahu tidak pernah membalas email. Sehingga kadang bingung mengkoreksinya. mohon bantuanya pa. Terima kasih.

    • Anto Dachlan says:

      Solusinya gampang Erlina.

      Daftar di kompasiana.com, atau Baltyra.com. Ada puluhan ribu penulis, mulai dari pemula sampai profesional berkumpul disana. Saling berbagi, mengomentari, mengoreksi dan yang terpenting bersahabat.

      Posting semua tulisan kamu disana. Lalu mulai menyambangi tulisan orang lain. Pada akhirnya tulisan kamu juga akan dikunjungi balik oleh mereka. interaksi ini bisa jadi masukan yang baik buat tulisan kamu.

      • oh begitu, makasih pa sarannya! ,;) senang sekali, Makin kagum dengan ANda, semoga saya bisa menjadi seperti itu nanti. hehehe

        oya, kalimat pembukanya seperti ini, baguskah? mohon keritiknya.
        Satu Langkah di genangan air trotoar mengundang langkah lain yang terus bersusulan di belakangku., derap sepatu fantovel basah dan entakan heels tinggi terdengar riuh, bersamaan dengan derasnya hujan sepanjang jalan Setia budhi Bandung. Semuanya menuju pada satu titik bangunan kecil di pinggir jalan. penuh orang berteduh,berdiri, berdesakan. Sesaat keadaan itu telah mengalihfungsikan bangunan kecil tersebut. Bus-bus damri hilir mudik berhenti tepat di depan mereka menaik turunkan penumpang. Aku berjalan melewati orang-orang tersebut dengan cepat,satu tangan diatas kepala, belok kanan, berhenti tepat di bibir jalan. Suara kelakson mobil terdengar bersahutan, deru motor yang kencang serta teriakan supir angkot yang mencari-cari penumpang menyurutkan langkahku mundur perlahan.

        • Anto Dachlan says:

          kalimat pendek-pendek. cepat, membawa pembaca seolah ikut berjalan bersama dibawah derasnya hujan.

          Kamu keren, Erlina.

          Keep writing.

          • Makasih bang anto, Anda orang pertama yang memuji tulisan saya, setelah sekian banyaknya yang cuek, tidak merespon. . .
            terharu!!!!. . . makasih bang, #bungkuk bungkuk. :)

            P.s Kalo saya kirim email lagi ke anda, tentang tulisan saya. maukah, anda memberi komentar lagi!,. 😉

  76. Kalo kayak gini kak?

    Sepuluh ribu, berkali-kali Arsyad menghitung jumlahnya tetap sepuluh ribu. Ia menghela nafas panjang, mengelap peluh yang bercucuran dari dahi dan pelipisnya. Sepuluh ribu itu adalah hasil memungut dua karung gelas dan botol plastik hari ini. “Kapan aku dapat belajar seperti anak lain?” gumamnya pelan. Tanpa ia sadari, dua pasang mata mengintainya dari belakang. Dingin. Kejam.

    • Anto Dachlan says:

      Kemajuan pesat, Nabila.

      Lihat 2 kata terakhir. ” Dingin. Kejam.” Itu keren banget :)

      • Ada yang perlu diubah lagi gak ya kak? mohon bantuannyaa… masih pemula

      • Oh iya, kak. Saya selalu senang menulis tapi sering kesulitan menentukan judulnya, kak. Ada saran? Saya punya blog tapi masih kurang percaya diri untuk publikasikan cerita, jadi blognya masih kosong 😀

        • Anto Dachlan says:

          Saran cepat : Pilih nama karakter utama sebagai judul.

          jangan ragu, Nabila. Publikasikan saja semua tulisanmu. Mulailah hari ini dengan upload satu cerita. Kemudian beritahu saya alamat blog kamu.

          Saya akan membacanya dan memastikan bahwa kurang percaya diri kamu itu sangaaaaaaaaaaaaaaat tidak beralasan.

    • Kak, minta kritik dan saranyya dong, ini contoh pembukannya

      Dari kejauhan, nampak gedung tua berlantai tiga. Aku yakin itu adalah gedung yang kucari, Dari dalam hutan, langkah kaki itu terus mendekat. Jantungku berdegup kencang. Ya, Aku yakin pasti Dia telah berhasil melacak jejakku, Aku bergegas menelusuri jalan setapak itu. Berharap Dia gagal menemukanku.

      • Anto Dachlan says:

        Potong “ Dari kejauhan, nampak…”.

        Lansung mulai dengan “Gedung tua berlantai tiga. Aku yakin….dst”

  77. kak..klo openingnya gini, gmn mnrut kk? mohon kritik dan sarannya kak. tq kak

    “Sudah kamu jangan sekolah lagi. Di rumah saja urus Ayah dan adikmu”, setengah teriak karena ayah masih frustasi setelah ibu pergi meninggalkan kami.
    “Aku tetap ingin sekolah. Masa SD saja aku tidak tamat,Yah”, jawabku sambil menangis.
    “Ah…untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nasi tetap dari periuknya, bukan dari ijazahmu itu.”
    “Aku pokoknya harus tetap sekolah, apapun yang terjadi”, jawabku mantap sambil berjalan masuk ke kamar.

    Setelah ibu pergi mendadak dari rumah, keadaan rumah seperti kuburan, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Adik aku hanya bisa menangis setiap hari sedangkan ayah tiap hari hanya merokok sambil merenung, tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang dipikirannya. Aku tidak habis pikir, apa yang membuat ibu berbuat nekad seperti ini. Sungguh kejadian ini sama sekali tidak pernah terbayangkan akan terjadi di hidupku. Aku benar-benar belum siap untuk menghadapi ini semua, menjadi anak broken home.

    • Anto Dachlan says:

      akhiri sampai “… merokok sambil merenung.

      Selebihnya coba hapus saja.

      Tidak perlu menggurui pembacamu, Icha. Hindari mengatakan lansung apa yang ada didalam kepala karakter. Pembaca akan tahu dengan sendirinya bahwa tema cerpen broken home, melalui dialog/ucapan dan adegan antar karakter.

  78. Wajah sendu itu tetap saja begitu. Diam di bawah pohon jambu. Sesekali menatap langit. Menarik napas dalam. Tangannya tak berhenti bergerak. Menautkan telunjuk satu sama lain. Langkah kaki tua menghampiri. Senyum mengembang di wajah kakek berambut putih itu. Dia masih saja terdiam kaku. Deru napasnya malah kian mendalam. Menatap tajam lelaki paruh baya berdasi hitam.
    ”Apakah kau sebahagia itu? ” ucapnya lirih.

    mohon kritik dan sarannya bang….

  79. nabila says:

    kak kalo pembuka’nya gini gimana?
    sengatan mentari pagi menyelusup ke sela-sela ventilasi kamarku,aku sontak terbangun dari mimpi aneh yang ku alami semalam.
    “sial.. kesiangan lagi!”omel ku
    Aku membereskan kamarku seperti orang kesetanan,sedangkan dari bawah suara yang paling sering kudengar sudah berkoar-koar memenuhi ruangan.
    “Diraaaa! kebiasaan kamu ya! pagi-pagi masih molor! gak niat sekolah apa”suara mama menggema sampai ke ruang kamarku.
    “iya..iya udah bangun kok!”aku bergegas turun untuk bersiap kesekolah.
    “haduhhh!!”gerutuku saat melihat semua perlengkapan sekolahku tampak tak karuan.
    +question:kak apakah judul juga bisa mempengaruhi ketertarikan pembaca?

    • Anto Dachlan says:

      Hapus saja … ” aku sontak….. bla..bla.” itu tidak penting dan tidak menambah kedalaman cerita.

      Adegan terlalu panjang. dialog pagi antara ibu -anak yang klise. Coba pikirkan, apakah ada hal menarik, unik dan mengundang rasa penasaran pembaca. Pagi hari yang terlalu biasa membuat karakter dan cerita tidak mengundang ketertarikan pembaca.

      Benar. judul sangat menentukan dalam sebuah tulisan. Apapun. Riset menunjukkan, hanya 8 dari 10 orang yang membaca Judul… dan hanya 2 yang akan meneruskan membaca sisanya.

  80. Ade Misbah says:

    kak, gimana nih pendapatnya

    Lari. Itu yang saat ini terlintas dibenakku. Kembali aku menoleh kebelakang, sudah jauh tidak terlihat lagi. Dalam hati aku berucap Alhamdulillah seraya mengambil napas dalam. Sungguh! Ini lebih kejam dari sekedar siksa ibu tiri. Lalu sejurus kemudian aku telah berada di jalanan berlorong-lorong sempit di kota tua ini, paris. Salju turun dengan begitu indahnya, dengan sejuta bintik-bintik kecil yang beramai-ramai menghujami bumi. Ini sangat menyiksaku, setelah tadi aku lari, kini dinginnya salju menusuk ke dalam tulang melalui telapak kakiku yang bertelanjang tanpa pelindungnya. Rasanya ingin sekali aku membuang kaki ini, agar tidak bertambah lagi penyiksaku saat ini. Saat ini aku entah sedang menuju kemana, tapi yang jelas aku sedang melarikan diri dari kenyataan ini. Kenyataan yang belum bisa aku terima. Tak terasa aku telah sampai di stasiun, mungkin karena aku lebih focus kepada kakiku yang nampak melepuh kedinginan.

    • Anto Dachlan says:

      Hapus saja kalimat pertama, Ade. Tidak perlu mengatakan apa yang ada dibenak karakter.

      Kalimat kedua lebih menarik jadi kalimat pertama. Sebuuh adegan. Ada misteri disana. mengundang ketertarikan pembaca.

  81. ” Braaaaaakkkk….”
    Suaranya terdengar lantang seketika memecah imajinasiku. Dag dig dug jantung semakin cepat mengejar rasa takut sebab hari ini hanya aku seorang yang tinggal. tidak hanya hari ini. bahkan ketakutan itu sudah menjadi makan malamku setiap hari. Ahhh tapi dengan begini aku merasa seperti Nyonya besar. Rasa itu semakin menjadi ketika bau kembang menelusup hidungku. Kreeek… pelan-pelan aku membuka pintu kamarku dan , Astagaaa !!!

    kak mohon kritik dan saran untuk pembukaan diatas. terimakasih

  82. Eka Indrayani says:

    kak, bagaimana dengan paragraf pertama ini? Mohon pendapatnya.

    Ia berjalan menuju sebuah pintu. Langkahnya semakin cepat. Kedua tangannya terkepal didalam saku, matanya semakin tajam menatap pintu yang hanya berjarak beberapa meter didepannya, nafasnya kian memburu seiring dengan kecepatan langkahnya. Tiba-tiba, nafasnya tercekat, tangannya semakin kuat mengepal, dan langkahnya terhenti.

    • Anto Dachlan says:

      Lumayan Eka… ada ketegangan yang memicu penasaran pembaca…

      Oke, lanjutkan sampai selesai yah.

  83. Hana Chiisai says:

    Kakak, saya ingin tanya.
    Menarikkah sebuah cerpen jika awalannya mendeskripsikan tentang tokoh utama ?
    Karene cerpen ini memiliki sudut pandang orang pertama pelaku utama.
    Dan ini bercerita tentang kehidupan tokoh.
    Sebenarnya saya juga sedikit bingung dengan pengunaan tanda baca dan huruf kapital pada cerpen.
    Bisa tolong di jelaskan ?
    Arigatoo Gozaimasu…..

    • Anto Dachlan says:

      Coba tunjukkan disini pembukaan cerpen yang kamu maksud. Sulit menilai tanpa membacanya lansung :)

      Hana, kamu bisa Googling dengan kata kunci ‘Cara penggunaan tanda baca‘ & ‘ Cara penggunaan huruf kapital‘… Kamu akan menemukan ribuan artikel membahas soal itu. Jangan malas googling. Hentikan dulu twitter-an & facebook-annya :)

  84. kalau opening kya ini menurut Anda bagaimana,
    mohon kritik dan sarannya, trima kasih

    Seorang wanita berjalan menyusuri jalan setapak itu sejak matahari masih bersinar. Dengan senter tergenggam di tangan kanan dan payung di tangan kiri. Hujan masih setia berbagi rintiknya. Sedangkan yang dia lakukan hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan. Berteman sepinya malam dan bayang pepohonan. Namun yang dia lakukan hanya berputar-putar. Menyusuri jalanan dan berbelok di setiap tikungan dan selalu kembali lagi di tempat yang sama.

    • Anto Dachlan says:

      Ratna, coba hapus saja bagian ini :

      Hujan masih setia berbagi rintiknya. Sedangkan yang dia lakukan hanya berjalan, berjalan dan terus berjalan. Berteman sepinya malam dan bayang pepohonan.

      Oke, lanjutkan.

  85. Rosemela Dhisa says:

    ano… ada yang ketinggalan :)
    saya juga mau minta saran buat pembukanya…

    Aku mendengar derap kaki lalu lalang melewatiku. Ruangan yang awalnya hening mendadak menjadi riuh setelah bel istirahat berbunyi. Seorang pustakawan berdeham pelan memperingatkan mereka agar tak ribut. Ah, aku tak perduli. Asalkan aku tak diganggu, tak masalah. Kepalaku yang terasa berat semakin kutundukkan dalam di atas meja. Aku ingin mengistirahatkan otakku setelah bekerja keras semalaman menyelesaikan tugas. Ototku kebas. Rasanya ingin aku berjalan – jalan sebentar di alam mimpi, mumpung istirahat.

    gimana kak ? ada yang salah atau harus dibuang dari situ?

    saya benar benar butuh kritik dan sarannya kak..
    terima kasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Siapa yang kau maksud dengan Ano, Rosemla ? :)

      Bel istirahat berbunyi. Aku mendengar derap kaki lalu lalang melewatiku. Seorang pustakawan berdeham pelan memperingatkan mereka agar tak ribut. Kepalak kutundukkan dalam di atas meja. Ototku kebas. Rasanya ingin aku berjalan – jalan sebentar di alam mimpi, mumpung istirahat.

      Lihat sendiri diatas bagian mana yang aku sarankan dibuang.

  86. Rosemela Dhisa says:

    Permisi :) maaf ganggu ya kak, saya Rose. Langsung ke inti aja yaw..
    Jadi gini, saya mau bikin sebuah cerpen. Nah, masalahnya gini : Saya gak tau cara yang benar untuk format dialog antar paragraf dan penggambaran reaksi tokoh dengan percakapan itu
    Boleh saya minta saran? maaf saya masih amatir :)
    untuk percakapan :
    Aku menoleh ke samping. Jujur, aku kaget. Wajahnya yang terbenam rambut itu bertanya kepadaku. Rupanya dia masih duduk tenang di situ. Tunggu..apa?
    “What are you doing here ?!”
    Ia menoleh padaku dengan tatapan tajam. “Kau memintaku untuk membangunkanmu 30 menit lagi, yasudah. Aku tetap disini sampai waktunya tiba”
    Aku melihat jam dinding. “Hei, ini sudah lewat 30 menit! Jam istirahat sudah habis. Kau tak masuk kelas?”
    Ia menggeleng pelan dan menutup bukunya, “Kau kelihatan lelah. Aku jadi tak enak membangunkanmu”
    hancur ya kak ? >oo< saya benar benar butuh kritik dan saranya.
    Terima kasih :)

  87. Eliya Murtafiah says:

    assalammualaikum, mohon saran dan komentarnya ya kak. Ini pembukaan cerpen saya
    Seiring jawaban berputar diantara roda kincir air dibawah senyap senja hari itu
    mengalir pasti menuju satu penantian nyata untuk kedatanganmu “cepat atau lambatmu”
    tiada yang tak bisa kau penuhi, sepucuk harapan selalu kau sematkan diatas mega merah yang bersinar setiap hari ..
    membuat sang putri kecil tertawa tertahan menahan gejolak rindu yang mengembang didasar hasratnya ..

    • Anto Dachlan says:

      Eliya, kamu sedang menulis puisi ?

      Lansung saja katakan ada siapa, apa yang dia lakukan, dimana tempatnya dan mengapa dia melakukannya…

      Hapus semua ornamen artistik tentang senja, penantian nyata, gejolak rindu..bla..bla..bla..

      Nah, saya tunggu kamu posting ulang pembukaan cerpenmu yang baru disini.

  88. vicky aditya says:

    MIDNIGHT PARTY PART1

    gerimis mulai membuat tubuh roni mengigil. Suara sepatu sudah tak
    beraturan lagi. Semakin dia masuk ke dalam, suara keramayan orang2 mulai tak terdengar lagi ditelinganya. Suasana malam itu berubah menjadi sunyi,sepi,senyap, dan sedikit berangin.

    Tringg.. Telpon gengam yang di pegang sedari tadi sebagai penerang jalan terasa bergetar. Ternyata ada sms dari sinta temanya.

    “Dimana loh skrng? Udah mau mulai nih pestanya”

    tanpa memperdulikan pesan tadi, Roni tetap berhati hati, sesekali dia melirik ke arah samping melihat lihat keadaan sekitar. Jaket bergambar cewe sexy berwarna merah hitam dan celana jeans yang di pakainya terlihat sudah mulai basah. langkah kakinya semakin dipercepat, acara ulang tahun sepupunya 5 menit
    lagi dimulai. Dengan kuda2 yang bersiap untuk maju, Roni melompatkan kakinya begitu panjang begitu seterusnya sampai dia berhasil melewati 2 gang berkelok kelok di depanya tadi. Dengan nafas yang masih tergesah gesah Roni menghentikan langkah kakinya tepat
    dirumah tantenya… (masih berlanjut)

    minta koment dan kritikannya ya ^^

    ini karya pertama gue bang.

  89. afivatun nadliyah says:

    pagi kak,, mau minta pendapat kakak dong,, aq kemarin buat cerpen dengan kalimat pembuka seperti ini :

    Sembilan ribu lima ratus rupiah. Ari kembali menghitung uangnya berkali-kali, namun jumlahnya masih tetap sama, sembilan ribu lima ratus rupiah. Ari lalu beranjak pergi menuju rumahnya cepat. Ia melihat matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Ari menggegaskan langkahnya, ia tampak seperti seseorang yang tengah dikejar binatang buas.
    “Ariii,,!!” teriak seseorang dengan suara agak serak
    Ari menoleh sebentar melambaikan tangan lalu melanjutkan langkahnya. Orang itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ari.
    Tak lama kemudian Ari sampai di tempat yang ia tuju, rumahnya.
    “kamu baru pulang nak?” sambut ayahnya. Ari mengangguk lalu meraih tangan kanan ayahnya dan mengecupnya.
    “pak, Ari ke belakang dulu untuk mandi, badan Ari rasanya sudah lengket dan bau keringat” ucapnya sambil mengarahkan hidungnya disekitar bajunya dengan senyumnya yang khas. Ayahnya mengangguk dan tersenyum.
    “Ari,”
    Ia pun menoleh
    “didapur ada sedikit rejeki dari budemu tadi, makanlah, bapak sudah makan sebagian tadi” lanjutnya. Ari tersenyum lebar.

    yang jumlah uang itu saya coba mengutip dari contoh yang kakak berikan,, menurut kakak gimana?

    • Anto Dachlan says:

      Sudah mendingan, Afiatun. Lansung mengatakan jumlah uang membuatnya lebih kongkret. Masih banyak dialog dan narasi bertele-tele yang perlu dibuang… Tapi lanjutkan saja dulu sampai selesai…

  90. Andy Ramkal says:

    Alhamdulillah akhirnya ketemu juga tips menulis cerpen. Kebetulan saya sedang memulai untuk menjadi penulis. Terima kasih atas tips nya. Sangat berguna bagi saya

  91. Kringgggggg!!!!!! Weker berbunyi nyaring sekali, “Widihh, udah jam segini”. Kukucek mataku dan bersiap-siap untuk tidur lagi. Hari ini adalah hari pertama gua masuk SMA . Dijadwalkan hari ini gua dan siswa lainnya akan mengikuti kegiatan Mos sebagai pekenalan kepada sekolah.”Peduli setan,mending gua lanjut tidur”. “Hoaaaammmm , jam berapa sih ?? , ANJRITTT gua telatttt”, secepat seekor kucing yang sedang diuber-uber gua nyuci muka gua dan langsung makek itu seragam baru.

    Pembukaan saya sudah mantaf bang?? kalau belum mohon sarannya thanks duluan..

    • Anto Dachlan says:

      mantap. lanjut.

    • Kak postingan postingannya keren banget..acungin jempol dua deh,,
      Kak minta pendapat dong untuk paragraf pembuka novelku.:

      Namaku Tania Larasati tapi teman-temanku biasa menyingkat namaku menjadi tan tan atau nia nama yang aneh kan.Chung Ang University yah itulah nama tempat kuliahku yang sekarang,pasti kalian heran kenapa aku bisa sampai masuk di universitas yang mahal itu,mengingat keadaan ekonomiku yang serba pas-pasan,yah tentu saja dengan mengandalkan beasiswa. karena aku termasuk gadis pintar dikampusku,bukannya menyombongkan diri tapi begitulah kenyataannya bahkan aku termasuk dua besar difalkutas kedokteran,,,

      “Pemberhentian berikutnya Chung Ang university”…
      Akupun tersadar dari lamunanku dan segera bersiap di depan pintu begitu mendengar pengumuman otomatis didalam bis.
      Aku berjalan dengan terburu-buru memasuki taman kampus yang begitu luas
      “Ah sialan,kalau saja tadi aku tidak melamun,aku tidak akan terlambat”aku berlari melewati lorong-lorong kampus,nafasku tersengal dan tak karuan.
      Setiba di depan kelas aku sedikit berjinjit dan mengintip ke dalam ruangan,yups benar saja seorang pemuda sedang menulis di depan papan tulis membelakangi para mahasiswa.
      Karena pintunya tak tertutup,aku berjalan pelan sambil mengendap-ngendap seperti pencuri.
      Saat aku sudah sampai di kursiku,Tiba-tiba,,,
      dosen ku berbalik dan menatapku tajam..

      – gimana menurut kakak bagus nggak ??

      • Anto Dachlan says:

        Nanti saja kamu ceritakan siapa Tania. Satu-satunya alasan mengapa pembaca harus tertarik pada Tania jika ada sesuatu yang unik, luar biasa atau apapun istilahnya…. Apa yang kamu tuliskan tentang Tania tidak menunjukkans sesuatu itu…

        Tugas utama dan satu-satunya paragraf pembuka adalah memicu pembaca untuk membaca paragraf kedua… dan ketiga dan seterusnya….(Jika gagal, pembaca akan menutup buku sembari menyesal telah membelinya).

        Mita, coba mulai dengan sesuatu yang menegangkan :

        Setiba di depan kelas aku sedikit berjinjit dan mengintip ke dalam ruangan,yups benar saja seorang pemuda sedang menulis di depan papan tulis membelakangi para mahasiswa.

        Karena pintunya tak tertutup, aku berjalan pelan sambil mengendap-ngendap seperti pencuri.
        Saat aku sudah sampai di kursiku, pemuda itu berbalik dan menatapku tajam..

        Setelah berhasil menarik perhatian pembaca, mereka akan mulai tertarik untuk mengetahui siapa Tania ? mengapa dia terlambat ? Dimana dia kuliah ? Mengapa dia bisa kuliah di tempat it ? …..dan kamu punya banyak tempat untuk menjelaskannya sepanjang novel-mu…

  92. yeni indayati says:

    keren banget ! jatuh cinta sama kaka . eh,sama artikel nya !

  93. Gabriel says:

    Kak, minta pendapat dong untuk opening novelku:

    “Kamu mau ga jadi pacarku?”
    Koridor sekolah yang tadinya ramai kini sunyi senyap. Berpasang-pasang mata menatap tujuan yang sama. Seorang laki-laki yang tengah berlutut di hadapan perempuan yang tersenyum malu-malu. Dsri tatapannya, lelaki itu kelihatan gugup. Tangannya yang memegang bunga mawar merah mulai dibasahi keringat.

    • Anto Dachlan says:

      Pindahkan kalimat dialog di awal pragraf ke akhir paragraf.

      …Dan lihat. Lebih bagus, bukan ?

      • kalo begini gimana kak

        Banyak orang bilang kalo hidup ini indah , namun ini tidak berlaku untuk dua pemuda yaitu andre dan juki mereka adalah pengangguran kelas kakap yang namanya tersohor di seluruh kampung , pada suatu ketika mereka berencana mencoba mencari perkerjaan di kota, di tempat biasa mangkal ,
        “ ndre kita besok ke kota yuk..guwe capek tiap hari hidup blangsak kaya gini”
        “ emang kite disana mau kerja ape juk ..kite aja sma kagak kelar”
        “udah lah jangan di piker entar juga dapet sendiri.. namanya kota pasti banyak pekerjaan”
        “ya udah deh gwe ngikut lo aja juk”
        Akhirnya malampun tiba setelah melakukan ritual keseharianya (sholat) si juki mendatangi emaknya yang sedang sibuk nonton Acara tv kesukaanya , yang itu tuh yang manusia siluman kok bias manusia bisa jadi hewan, anak anak SMA lagi ,lealistis dikit napa kayaa yang di luar luar negeri gitu, aiissshhhh lanjut kan . dengan merundukan kepalanya juki mendekati emaknya
        “nyak udah makan belum”
        “udah tumben lu perhatian ama nyak”
        “hehehe nyak juki mau ngomong sesuatu sama nyak”
        “apaan sih lu juk kaya mau nembak cewek aje, ini masih asik sinetronya”
        “nyak juki mau pergi ke kota minta restunya ye nyak”
        “ lu mau ngapain pake ke kota segala , mau rekreasi .? kaya orang beduit aje lu”
        “enggak nyak juki mau cari kerja di kota siapa tau bias dapet kerja”
        “emang lu mau kerja apa disana juk.. hidup di kota itu keras juk” Secara tiba tiba datanglah babe juki sambil membawa secangkir kopi dari belakang

        • Anto Dachlan says:

          Rizal… sebagian besar doalognya bertele-tele… banyak dialog yang tidak penting… Hapus.

          Masukkan dialog, hanya yang isinya penting dalam menambah kedalaman cerita. ucapan basa-basi dihilangkan saja.

  94. selamat siang, kak. mau tanya kalau opening seperti ini, pgimana?
    terima kasih sebelumnya

    Sorakan tawa yang menggelegar hingga ke langit-langit ruang keluarga, membuat aku tersenyum.
    Tapi sepintas bayang jahat melintas begitu saja.
    Bayangan – kalau detik-detik seperti ini tidak bisa terulang lagi dengan sempurna.
    Selalu saja seperti itu bayangan yang melintas.

    • Anto Dachlan says:

      Hindari menulis bayangan terlintas atau pikiran karakter. Tunjukkan saja gerakan, adegan, mimik,gestur dan dialog antar karakter.

      Biar pembaca yang memahami sendiri apa yang dirasakan oleh karakter. Show, Don’t Tell.

      • kak, maksudnya hindari pikiran karakter itu kayak gmna? lantas kalau sudut pandangnya orang pertama? makasih

        • Anto Dachlan says:

          Jangan tulis apa yang dipikir, dirasa atau di bayangkan karakter. Tunjukkan lewat adegan atau dialog.

          Misalnya, jangan katakan ‘Aku marah’… tapi tunjukkan lewat dialog dengan ucapan keras, mengumpat, dan kalimat-kalimat yang menunjukkan kemarahan…

          atau tunjukkan lewat mimik…. ” mata menyala…. wajah memerah…. tangan mengepal, nafas berkejaran karena menahan emosi..”

          atau lewat adegan… ” menunjuk muka lawan bicara…. memalingkan muka kearah lain… atau meninggalkan lawan bicara begitu saja..”

          semua itu sudah dipahami pembaca dengan sendirinya bahwa karakter sedang amrah, tanpa perlu kamu mengatakannya.

  95. Sondi Andika S. says:

    Kak Anto,

    Tadi saya coba nulis paragraf pembuka untuk novel fiksi saya, mungkin ada saran yang bisa kk berikan hehe

    “Sambil menikmati kopi hitam, aku tak bisa berhenti berfikir kenapa sosoknya selalu ada dalam ingatanku? iya… Sore itu, aku dibuat bertanya-tanya, ketika tak sengaja melihat seorang gadis turun dari mikrolet di depan rumahku..
    Rambutnya lurus sebahu, memakai syal biru dan sekilas saat dia akan menyeberang, dia melompati kubangan kecil dan hampir saja terjatuh, dia terburu-buru sekali, karena gerimisnya semakin deras saja, Aku heran.. hingga sampai dia menyeberang ke mini market depan rumahku, aku masih berupaya keras mengingat siapa sih dia..
    Wanita cantik itu..kenapa aku seperti pernah bertemu dengannya? Caranya menyisir rambut, gerakan dia berjalan, cukup membuat saya melamun.”

    • Anto Dachlan says:

      Hapus kalimat pertama ” Sambil meinkmati kopi….bla..bla..

      Lansung mulai dengan adegan ” Sore itu aku melihat seorang gadis… dan seterusnya.”.

  96. devi mariana sinaga says:

    Awalnya aku menemukanmu tanpa sebuah perencanaan sebelumnya. Tanpa kita sadari satu sama lain, tanpa kita mengerti, di luar pikiran kita sebelumnya. Aku yakin waktu yang mengijinkan kita untuk bertemu dan menatap satu sama lain. Diriku yang begitu lasak,usil,dan lincah bahkan yang kebanyak orang menyebutku gadis tomboy. Aku melihatmu lewat di depanku, angin yang berhembus ringan ke wajahku dan menggoyangkan poniku. Begitu ringan dan menyejukkan pikiran dan hatiku.Tatapan kedua bola mataku tertuju padamu melihat setiap gerakan yang kamu lakukan ketika sedang latihan menari.Temanku Intan menghalangi pandanganku lepas darimu dia mengajakku pulang kerumah. Sungguh aku tak ingin pergi aku ingin tetap disini melihatmu menari, sungguh aku ingin mengenal akan siapkah dirimu yang disana asik dengan kesibukannya, sungguh aku ingin bertanya siapakah namanya,tapi aku harus pergi tanpa sempat menayanyakan itu semua.
    kak bagus gk kalo itu paragraf peramanya? mohon bantuannya :)

  97. debby kartika sari says:

    bls ya kk please soalnya saya butuh kk untuk memberi saran cerpen saya kk:)

  98. Senja berpasrah pada malam, hujan yang seharian mengguyur kota Batam membuatku malas keluar dari kamar. Ditemani sepiring pisang keju dan segelas cokelat panas, aku masih asyik menikmati tumpukan revisi tugas akhirku. Kini aku berstatus sebagai mahasiswi keperawatan yang sedang berjuang dengan tugas akhir yang begitu menguras otakku. Tiba-tiba ponselku berdering pertanda ada chat masuk. Ku raih ponsel berwarna ungu muda itu, setelah kubuka, tertera nama seseorang yang entah kenapa selalu membuatku tersenyum, dan melupakan beban yang ada.

    Itu paragraf pembuka di cerpen saya, mohon koreksinya ya, mas. Terimakasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Hindari membuka cerita dengan cuaca. kecuali cuaca itu berperan penting dalam cerita. Misalnya hujan rintik untuk menggambarkan suasana romantis.. atau badai jika ingin membuat kesan horor.

      Hindari mengungkapkan isi pikiranmu. Biarkan pembaca yang menebak isi pikiran karakter melalui mimik, gestur, dialog atau adegan yang dilakukan karakter.

      Misalnya, jika karakter tersenyum girang saat melihat nama seseorang tertera dilayar ponsel, pembaca akan tahu bahwa karakter itu punya perasaan khusus padanya. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Pembaca itu pintar.

  99. Hy kak Anto, saya neny. Kebetulan saya juga sedang belajar menulis kak dan menemui kendala. Saya suka kehabisan ide di dalam menulis. Terkadang saya suka membunuh salah satu karakternya untuk memulai suatu masalah baru. Hal seperti itu tergolong baik tidak ya kak? mohon sarannya kak. Terimakasih

    • Anto Dachlan says:

      Bagus, Neny. membunuh salah satu karakter adalah trik yang lazim. Termasuk di film. Asalkan bukan karakter utama atau musuh besar karakter utama. Sebab itu artinya ceritamu berakhir…

      Kamu bisa membunuh orang terdekat karakter.. misalnya sahabat yang selalu mendukungnya. Dengan begitu, konflik meningkat.

      Keep writing.

  100. Pagi kak, saya bingug dengan satu hal. Kadang saya sudah menemukan alur menulis, cerita atau bisa dibilang sedang lancar menulis naskah. Tapi kadang juga belum mampu menentukan judulnya. Lebih bagus mencari judlnya atau alur cerita terlebih dahulu. Terima kasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Dua-duanya bagus. Bahkan kamu juga bisa menentukan judul diawal, namun mengoreksinya diakhir…

      Sedangkan alur cerita, itu paling penting, sebab akan menentukan gambaran ceritamu. Sebuah alur diawal, akan menuntun kamu ke tujuan, tidak melebar kesana-kemari.

  101. Wiwin Widodo says:

    Med malem kak saya wiwin ..
    Oya saya ingin buat novel tapi dengan cerita real saya tentang kisah cinta dan kehudupan saya di perantauan . namun novel saya hanya buat pribadi serta buat hadian mantan pacar saya.. Itu bagai mana ya kak ? Bisa bantu judulnya gk ? Makasih kak .

  102. assalamualaikum ka Anto, perkenalkan nama saya Sim. saya kebingungan untuk mengawali paragraf pertama atau opening dengan latar cinta, yang harus saya mulai latarnya, karakter tokohnya, atau adegan konfliknya ka ? terima kasih ka atas responnya. wassalam

  103. nenih hayati says:

    aku adalah seorang pemula dan aku ingin menjadi seoang penulis. makasih kak pembukaan ini akan menjadi inspirasi untuk saya..sekarang sya sedang menulis yang di mulai dari cerita saya sendiri…semua yang ada di pikiran saya, saya ceritakan. ntah itu hasilnya bagaimana saya tetep menulis..nanti kalo sudah menulis baru saya revisi..tapi saya belum menguasahi banyak tentang pribahasanya..apakah pribahasanya di sangkut pautkan dengan isi alam kak?yang penting nymbung terserah sayanya kak?? mohon di jwab terima kasih…:)

    • Anto Dachlan says:

      Bagus, Nenih. Teruslah menulis. Selama menulis draft pertama, jangan gunakan tombol DELETE atau BACKSPACE. Lakukan revisi setelah draft pertama selesai.

      Peribahasa ? tidak ada yang bicara soal peribahasa disini, dan kamu tidak perlu peribahasa :)

  104. Zuama Qudsi says:

    siang kakak maaf menggangu waktunya
    aku ingin sekali menjadi penulis. dan bahkan aku sudah membayangkan novel yang akan aku buat. tetapi aku sama sekali tidak tau dasarnya bagaimana. aku terinspirasi dengan manga romance yang sering aku baca. tapi setelah aku melakukannya rasanya tidak ada sesuatu yang membuatnya berjalan baik. dan aku sering menjadi ptus asa karenanya. tolong kaka beri saran untukku. aku harap kaka dapat membuat putus asa ku berkurang :) terimakasih

  105. Aku merasakan seseorang menatapku. Aku bisa memastikan bahwa ada seseorang yang mengawasiku sejak tadi. Namun keberanianku tidak cukup banyak untuk bisa membalikkan badan dan melihat siapa orang itu. Apa yang harus aku lakukan?

    Itu adalah paragraf pembuka (calon) novelku kak. Boleh dilihat dan dikomentari? Kalau ada kesalahan juga boleh dikasitau salahnya dmn? Makasih sebelumnya kak..

    • Anto Dachlan says:

      Jangan tulis apa isi perasaan karakter kamu. Tunjukkan saja apa yang dilakukannya, dilihat, dicium, disentuh, atau didengarnya. Pembaca akan mengetahui sendiri apa perasaan karakter dari apa yang ditunjukkan oleh karakter.

  106. Kak akukan punya sebuah judul si kumbang kumbang malang tapi saya binggung awal ceritanya bagaimana tolong saran anda

    • Anto Dachlan says:

      Loh, ada judul tapi kamu sama sekali tidak punya bayangan tentang ceritamu ?

      Lalu darimana datangnya judul tersebut, Sinta ?

  107. syahrizal says:

    kk klw pmbukaannya pkay nma karakter toko gmna, misalnya

    fida seorang ganis yang cantik dan…………………..

  108. terharu dapat artikel ini. Banyak terima kasih, kak. Sangat berguna untuk membuat beberapa cerpen bulan ini. Sukses buat kakak.

  109. Nita Alfianti says:

    Pak, saya sedang proses belajar membuat cerpen nih. Mohon bantuannya untuk mengoreksi paragraf pertama ini:
    Seorang wanita menjerit tak karuan, berlari kebingungan, dan membanting apapun yang berada di dekatnya. Lengkingan suaranya semakin menggema saat seekor monyet melompat ke arah kasur kesayangannya. Dicabik-cabiklah bantal dan guling merah jambu yang selalu menemani tidurnya. Dia berteriak sekeras-kerasnya: “Tolong!”

  110. Makasih info’y,. bang.. dapet pencerahan nih., :)

  111. Selamat malam Daeng, salam kenal :-)
    Artikelnya bagus. Kebetulan saya baru selesai menulis cerpen. Kalau paragraf pembukaannya seperti ini, bagus atau tidak?

    Jam dinding baru saja berdentang dua belas kali. Seluruh lampu sudah dimatikan sejak tadi. Hanya suara dengkuran dan jarum detik yang terdengar jelas. Sejak tadi, sesekali terdengar langkah orang berlalu di jalanan. Kini terdengar langkah lagi. Kali ini perlahan dan hati-hati. Lalu berhenti. Tepat di depan rumah.

    • Anto Dachlan says:

      Bagus, Nita. Terutama saya suka 3 kalimat terakhir. Pendek. Memancing rasa ingin tahu. kamu mulai paham isi artikel diatas.

      Lanjutkan, Nita.

  112. terima kasih atas ilmunya,
    salam kenal kak,
    maaf saya mau bertanya , apabila cerpen yang banyak menggunakan dialog itu bagus atau tidak menurut pandangan kakak ,mohon sarannya. terima kasih

    • Anto Dachlan says:

      cepern bagus selama itu menarik untuk dibaca, Novi. Bahkan jika seluruh isinya berupa dialog.

      • Detry Daffasadid says:

        mas, mau tanya nih.. kalo paragraf pertamanya gini gimana ?

        “nak, sekarang kamu dewasa, kamu sudah memiliki rumah sendiri, kamu sudah memiliki istri dan dua anak, kamu bekerja pagi dan pulang malam hari, bahkan aku dengar kamu memiliki seekor kucing, kucing itu selalu kamu bawa kemanapun, kucing itu selalu kamu rawat dengan baik, tapi kamu lupa untuk mengunjungi ibumu nak.
        jika kelak aku mati nanti, dan aku akan hidup kembali, aku akan memilih hidup sebagai seekor kucing.”

  113. Dea Kiefty says:

    malam kak.. kenalkan sy dea..

    sblmnya trima ksh utk utk artikelnya.. sgt berguna utk sy yg ingin blajar menulis crita.. g d sangka aj bahwa paragraf pertama yg kadang sy lp ternyata malah jd penentu bhwa isi crita slanjutnya lbh bgs atau tdk…

    klo blh, sy ingin minta saran/ bertanya ni kak.. sy lg sk nulis dan br2 ni sy gabung dg slh satu website utk menulis crita kak, fanfiction tepatnya. d website ini, mgkn kk sdh tw, lbh k anime atau ke jpg kak.. cakupan critanya jg lbh luas mulai dr fiksi dan nonfiksi smpe crita cinta dan peperangan kak.. pokoknya cocok sm tagline nya “unleash your imagination”.. hehe
    d bandingkan dg novel indo yg biasanya ttg cinta (sy g blg smua loh kak) dan sesuatu yg terlalu nyata tp g realistis (ketemu lah dmn trus lgsg sk dan jatih cinta, atau cwe yg d rebutin cwok smpe segitunya).. jujur sy krg sk yg kyak gt (yaa.. sy ngerti selera tiap org beda), tp jd kyak terbatas gt.. apa emang kriterianya seperti itu? atau pembaca indo byk yg minatnya tema seperti itu? menurut kk gmn??
    terakhir, klo sy mw buat crita tp dg tema bebas seperti d fanfiction, mgkn g ya d trima oleh publisher dan pembaca? atau memang bukan pasarnya?

    maaf klo sy ngocehnya kebanyakkan. klo kk sempat, biarpun singkat tlg d bls ya kak..

    • Anto Dachlan says:

      keprihatinan kita sama, Dea. Bukan hanya soal buku, tapi juga soal tontonan.

      Tapi selera baca & selera tontonan, secara umum, cermin kedalaman (dan kedangkalan) pengetahuan seseorang. Fenomena yang sama berlaku pada penulis buku & skenario :)

      Pasar fan fiction bagus. Banyak forum, situs bersama, dan blog pribadi pada topik fan fiction. Artinya ada pasar yang besar untuk fan fiction.

      Saran saya, jangan menerbitkan lewat penerbit major. Coba jalur self publishing model print on demand. Manfaatkan jaringan di komunitas penggemar fan fiction untuk pemasaran.

      NB : Belajarlah menulis dengan kata yang lengkap. komentar berikutnya akan diabaikan jika cara menulisnya masih sama.

  114. Livia Hilda says:

    Langit menemaniku bersedih malam ini. Awan hitam yang bergelayut di atas sana menumpahkan semua kesedihannya. Ia menangis, lalu meneriakan emosinya dengan suara dan tembakan petir. Ribuan rintik hujan menusuk tanah yang sedang kupijak. Punggungku juga ikut diterpa air mata awan hitam itu. Tapi untungnya Jengkok, anjing hitam kecilku tidak diserang hujan. Ia berlindung di bawah badanku. Ah, bukan, tepatnya aku yang melindungi dia.

    Jengkok baru saja mati. Beberapa menit yang lalu, saat hujan baru turun, aku ingin memanggil Jengkok, mengajaknya masuk ke gubuk kecilku supaya ia tidak kedinginan. Akan tetapi, saat aku membuka pintu gubuk yang terbuat dari gedek dan ingin meneriakkan namanya, Jengkok sudah terbaring lemah di tanah. Ia tewas secara mengenaskan.

    • Anto Dachlan says:

      Hapus paragraf pertama. Rentetan ‘puisi’ tidak membuat cerita jadi lebih bagus. Hilda.

      Naikkan paragraf kedua jadi Paragraf pembuka. Ini membawa pembaca lansung masuk kedalam adegan.

  115. Erli Ermawati says:

    Makasih banyak atas tipsnya kak. Tips dari kakak benar-benar menginspirasi dan membangkitkan semangat untuk memulai menulis lagi…

  116. Tio Adiustama says:

    Terima kasih untuk informasi yang semoga bermanfaat untuk saya dan penulis lain kedepannya, Kak Rus.
    Oh iya, saya mau bertanya dan semoga sih dijawab.

    Apakah sebelum menulis, atau saat dibarengi ketika menulis, penulis perlu melakukan riset terlebih dahulu supaya cerita yang dibuat tidak membawa kesan yang ‘mengada-ngada’ nantinya?

    Sekilas curhat juga, saya akui, terkadang ketika menulis, saya adalah tipikal yang bosanan. Bahkan, setelah berkali-kali menulis, berpuluh kali menulis, baru satu kali ini saya menuntaskan tulisan saya (belum tuntas sih, karena saya membuat sekuelnya hehe). Saya pikir, yang membuat saya bosan adalah tema atau jalan cerita yang menurut saya tidak asik lagi untuk saya tulis, juga kadang kurangnya pengetahuan saya saat ingin menulis sesuatu, jadinya diam ditempat dan jenuh. Kalau saya teruskan, takut kesannya memaksa dan sok tahu. Saya sering; dapat ide, menulis, bosan, mundur, dapat ide baru, menulis, bosan, mundur. Siklus seperti itu yang sering saya alami.

    Untuk jawabannya terima kasih, untuk commenters yang ingin menjawab juga saya izinkan hehe.

    Salam sukses untuk kalian.

    • Anto Dachlan says:

      Mulailah dengan cerita yang sederhana, Tio. Cerita yang tidak memerlukan riset, observasi dan semacamnya.

      Mulailah menulis dengan pengetahuan yang telah tersimpan dikepalamu. Jika kamu rajin membaca, maka semua ilmu, data, fakta, anekdot, contoh kasus, pengalaman, teori, dan semua jenis ilmu pengetahuan yang tersimpan di memory-mu akan keluar satu per-satu (demikianlah cara otak bawah sadar bekerja). Cukup gunakan itu saja dalam tulisanmu. kamu tidak perlu mencari bahan baru seperti riset dan sebagainya.

      Jangan terobsesi menulis mahakarya, naskah sempurna. Itulah masalah kamu sebenarnya (dan masalah semua penulis pemula).

      Progres tulisan kamu maju, mundur, maju, mundur a la Syahrini karena kamu terobsesi pada kesempurnaan.

      Ingat ini : Selesai lebih baik daripada sempurna.

      Seorang penulis adalah mereka yan berhasil menyelesaikan tulisannya. Lakukan secara pelan-pelan. Jika kamu menulis 500 kata sehari, maka kamu bisa menyelesaikan 2 novel 80.000 kata dalam setahun.

      Ibarat pelaut, sekali layar terkembang, pantang surut sebelum sampai ke tujuan.

      NB : Saat menulis, kamu hanya perlu menulis. Jangan interupsi dengan riset atau mengedit. Tujuan utama kamu adalah menyelesaikan draft pertama. Setelah selesai, kamu boleh menambah atau mengurangi.

      keep writing, Tio.

  117. yoyok dwi saputro says:

    Terima Kasih tips yang sangat berguna sekali untuk saya dan anak didik saya semoga bermanfaat, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

  118. Erlina Nermaya says:

    Kak klo paragraf utmanya begini menurut kakak gmna?

    Lita mengambil secangkir gelas, lalu terlintas dibenaknya untuk membuat susu coklat panas, hanya itu yang ada dipikirannya. Hatinya terlalu sakit untuk mengingat kejadian 1 jam yang lalu. Bagaimana mungkin Felix pergi tanpa memberitaunya, setetes air matanya jatuh. Mukanya murung, tangannya terus mengaduk-aduk secangkir coklat panas.

    • Anto Dachlan says:

      Coba hindari memberitahu pembaca, apa yang ada dalam benak atau yang sedang dipikirkan oleh karakter.

      Biarkan pembaca mengetahui sendiri konflik antara Lita vs. Felix melalui adegan dan dialog sepanjang cerita. Mungkin melalui pertemuan antara Lita & Felix yang berujung pertengkaran, atau dialog antara Lita dengan temannya.

      Mengungkap isi kepala karakter biasanya menandakan kemalasan penulis. Sama seperti menonton sinetron dimana aktornya sendirian dan tiba-tiba ada suara narrator yang berbicara mengungkapkan apa yang ada dalam isi kepala si aktor.

  119. kalau ini gimana ?
    Suara alaram terdengar begitu nyaring ditelingaku seakan mengisyaratkan aku untuk segera bangun, tanpa melirik jam tersebut aku pun segera bersiap siap berangkat kesekolah.Setelah semua selesai aku pun mengambil hp lalu tanpa sengaja aku melihat kearah tanggal yg berada di dinding kamar dan ternyata hari ini hari minggu
    “OH GOD, sepelupa inikah aku” lirihku dalam hati

  120. Juliaz Trioza says:

    terima kasih kak, kesulitan terbesar skrang adalah dmna caranya bikin konflik dan penyelesaiannya kak. makasi kak

  121. nee'am tata says:

    bang, coba coba yang satu ini, mohon komen:
    Hiruk pikuk kota Kediri memang kalah bila dibandingkan Malang, sebuah kota dengan berbagai universitas ternama dan bermaca-macam pelajar dari seluruh penjuru nusantara. Meskipun begitu, aku masih betah tinggal disini, di Kota Tahu, selama lebih dari 5 tahun. Udaranya yang panas, bukan panas, hangat, dengan musim dingin yang tidak terlalu menusuk. Apalagi banjir, suasana khas yang seakan sudah menjadi ikon Ibukota.

    • Anto Dachlan says:

      Tidak perlu gunakan opini ANda saat mendeskripsikan latar.

      Visualisasikan saja suasana kota kediri Biarkan pembaca yang membandingkannya dengan suasana dikota lain.

      • nee'am tata says:

        terima kasih bang. Oh ya bang, kalau kadang kita bisa mengimajinasikan tapi susah melukiskan dengan kata-kata, solusinya gimana bang?

        • Anto Dachlan says:

          Solusinya sederhana, Nee’am :

          Lansung ketik imajinasi kamu dilayar laptop/PC. Tidak ada yang susah jika kamu menuliskannya.

          Masalah kamu sebenarnya adalah ketakutan. Takut hasilnya buruk. Seperti semua penulis, kamu selalu ingin sempurna. Dan itu mustahil.

          Yang paling susah adalah menulis kata pertama, benar ?

          Jadi permudahlah dengan cara lansung menulis apa saja yang terlintas dikepalamu saat itu. Jangan HAPUS!!! Teruslah menulis, tidak peduli kata dan kalimatnya tidak nyambung atau terdengar janggal. Teruskan menulis seperti orang yang berjalan tanpa pernah menoleh kebelakang.

          Musuh utama penulis adalah Tombol Backspace dan DELETE. Haram hukumnya menggunakan 2 tombol itu sebelum kamu selesai menulis draft pertama.

          Tentu saja hasilnya pasti buruk. Sangat buruk. Tapi seperti itulah draft pertama.

          Setelah kata-kata tertera dilayar, seburuk apapun itu, kamu telah punya sesuatu untuk direvisi.

          Lakukan revisi. Ganti dengan kata atau kalimat yang lebih baik. Lihat kamus atau tesaurus untuk mendapatkan sinonim kata yang lebih tepat. Baca keras-keras, apakah terdengar menarik ? Jika tidak, lakukan revisi lagi. Ambil cerpen atau novel favorit kamu. Taruh disebelahmu. Buka dan tiru cara mereka menyusun kalimat, Tapi sesuaikan dengan cerita kamu sendiri.

          Tahu tidak Nee’am, pekerjaan menulis yang sebenarnya adalah menulis ulang (revisi).

          Jika kamu enggan melakukan semua hal diatas, lebih baik kamu berhenti bermimpi jadi penulis.

          Nah sekarang pilihannya terserah kamu.

  122. Juliaz Trioza says:

    terima kasih sarannya kak, gimana dengan ini :

    Lebih kurang satu meter lagi ia sampai. Aku yang lima belas menit yang lalu telah di atas, memutar badan, mengangkat tangan kemudian meluruskannya secara horizontal dan mengacungkan jempol kepadanya. Nafasnya tersengal, memburu, dan tidak teratur. Kaki-kakinya tampak sangat letih dan pandangan matanya mulai kabur. Jika aku jadi dia, sudah dari tadi mundur dan patah arang. Perlahan ia mendekat, dan tiba-tiba saja tubuhnya terkulai jatuh, refleks aku menangkapnya dan membantunya duduk.
    “Aku berhasil!” ucapnya.
    Ia merasa menang. Rambut-rambut lurusnya basah, bulir-bulir keringat sebesar biji beras bercucuran dari wajahnya.
    “Tidak mudah memang, tapi sesaat lagi aku akan menuntaskannya.” Serana berteriak kencang.
    Aku menepuk-nepuk bahunya. Jaket tebal ungu yang ia pakai, seperti tidak kuasa mencegahnya dari kedinginan malam yang menikam bak sebilah belati. Pohon-pohon bergoyang lembut seolah ingin melambaikan dedaunan, meniupkan angin-angin yang bersahabat dan seperti tersenyum penuh simpati. Lalu kami duduk di batuan cadas yang lembab itu.
    “Kamu luar biasa Na.” Bisikku pelan. Aku perhatikan raut wajahnya, tampak ia memang sangat letih. Sejenak, aku berdiri, dan melangkah bersiap mendirikan tenda dua meter dari tempat kami duduk semula. Sudah hampir 75 menit kami berjalan tiada henti, istirahat malam ini merupakan solusi terbaik yang dapat kami lakukan. Serena pun bangkit, berjalan ke arahku.
    Aku agak sedikit lega. Melihatnya menikmati perjalanan menakjubkan ini. Tidak ada yang perlu aku sangsikan padannya, toh, tekadnya sudah bulat sedari awal.
    “Bisa juga akhirnya kau menjejakkan kaki disini.” Nada bicaraku agak sedikit mengolok.
    “Perjalanan kita masih ada 2 km lagi lho. Apa masih kuat?” Aku menoleh untuk mengamati ekspresinya.
    Dia tersenyum. Lama tidak merespon ucapanku. Aku tahu dia pasti kesal dengan pertanyaan itu. Satu menit dua menit berlalu tanpa jawaban, dia kemudian duduk, menjulurkan kakinya, menatap kegelapan malam dengan bintang-bintangnya yang bekedip beriringan, dan bertumpu pada dua tangannya yang sejajar pinggangnya.
    “Kau tidak meremehkanku kan?” Na membuka mulut. Menatapku cukup tajam, gerahamnya menggeletuk dan kemudian ia tertawa girang.
    “Kita tidak akan berhenti sebelum sampai puncak kan?” Ia melanjutkan.
    “Tahukah kau Han, aku semenjak kecil telah memimpikan berada disini. Aku jauh hari membayangkan suasana seperti ini. Aku tahu sekali, bahkan mungkin lebih daripada kau.” Serana menatapku tegas, tidak dengan tersenyum.
    Aku tersentak dengan ucapan gadis ini. “Aku tahu Na.” Kataku cepat. Aku segera menjerang kompor, memasak minuman penghangat tubuh. Fisikku juga terasa tidak terlalu baik malam itu.
    Serena mengepal-ngepal tangannya lantas membuka sarung tangan, karena telah basah dan mengambil penggantinya di dalam carrier 60 Liter yang semenjak di badan gunung aku yang bawa. Minuman hangat telah jadi, dengan asapnya yang masih mengepul aku menyodorkan ke Serana.
    “Minum yang banyak petarung.” Aku tersenyum kepadanya. Berniat berdamai.
    “Aku tidak suka berkelahi Han.” Dia masih ketus.
    “Siapa pula yang bilang kau suka berkelahi?” kami telah duduk bersisian, memegang gelas plastik tanpa gagang dengan erat.
    “Itu barusan.” Ucapnya.
    Aku tertawa keras. Seperti tidak ada hambatan apapun bagiku untuk melepaskan dengan nyaring tawaku.
    “Kan pendaki itu sama dengan petarung.” Kataku.
    “Menurutmu tapi, menurutku tidak.” Serana mulai cair. Kaus kaki dan sarung tangannya telah ia ganti. Dia juga sudah makan roti besar sebesar roti arab, sambil meneguk minuman penghangat tadi. Perlahan kami beranjak ke tenda dan terlelap.

    • Anto Dachlan says:

      Good job.

      kamu cepat belajar, Juliaz. hasil revisi diatas maju pesat.

      Lakukan hal yang sama pada karya-karya kamu yang lain.

  123. Juliaz Trioza says:

    Detik jam yang berlalu, baru saja mengantarkannya pada keheningan suasana. Dia kenal pasti itulah waktu terakhirnya untuk menyadari keanehan-keanehan itu. Sejenak, ia duduk termenung menengadah, berpikir cepat mencoba meneguhkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia sadar, orang-orang benar, ia tidak menyadari telah mengidap penyakit itu.

    gimana menurut kakak lead di atas? makasi jawabannya 😀

    • Anto Dachlan says:

      Membosankan, Juliaz.

      Jangan memberitahu isi pikiran karakter. Tunjukkan saja melalui adegan, tindakan, perbuatan atau dialog.

  124. arika elsa lovina says:

    Bulan berganti bulan , tahun berganti tahun , ini sudah tepat 5 tahun aku di tempat ini , tempat yang tidak ingin ku tempati yaitu tempat rehabilitas narkoba. Terlihat sosok wanita tua melihatku dari jendela ruang kamarku . Ia adalah salah satu seorang suster di tempat ini.mungkin dia kira aku ingin kabur dari tempat ini Karena melihat ku sedang cemas dan gelisah seperti orang ingin kabur , jangan khawatir bu suster aku tidak akan kabur atau pergi dari sini , aku tidak mau merepotkan mu gumam ku dalam hati.
    Terdiam ku sejenak dalam gelisan ku . Aku berfikir , andai saja waktu itu tidak ku lakukan hal itu, pasti aku tidak ada di tempat ini, apa aku orang yang paling bodoh di dunia ini, bagaimana tidak keluarga ku sudah hancur, ibu ku yang ku sayang sudah meninggal, sedangkan ayahku , aku tidak tau dia pergi kemana karena sesudah membunuh ibuku dia melarikan diri keluar negeri . Sekarang aku sudah terkenahiv-aids karena sudah mengkonsumsi narkoba melakukan hubungan sexsual, lantas apakah aku masih layak hidup, untung saja aku mempunyai sahabat – sahabat yg begitu baik yg memberiku semangat untuk tetap bisa hidup dan sembuh dari penyakit mematikan ini . Kalau pembukaannya seperti ini bagus tidak? Tolong replay ya mas

  125. makien ahmad says:

    salam kenal, saya adalah penulis yang baru memulai dan mencoba. sangat senang ketika mengunjungi halaman ini. terkesima dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang belum saya mengerti sebelumya. sangat bermanfaat bagi para penulis pemula seperti saya. ???? ????

  126. Cindy Julianty says:

    Ah, saya mau minta saran. Ini pembukaan FF saya.
    “Hujan yang deras tertumpahkan di tengah hiruk-pikuk kota Tokyo dan Seoul secara bersamaan. Ada yang senang di sana. Tapi ada juga yang sedih disana. Yang senang? Orang yang ada di Tokyo.”

    Selanjutnya, saya langsung membuat karakter utama (yang merupakan karakter misteri dalam FF saya) berbicara.

    Mohon pendapatnya.

    • Anto Dachlan says:

      Bagus. Saya suka dengan kalimat terakhirnya.

      ” Yang senang ? orang yang ada di Tokyo’

      Saya sangat penasaran, mengapa orang di Tokyo senang ? apa yang akan terjadi ?

      kamu cerdas, Cindy.

      Beritahu saya kalau sudah kelar.

  127. Eko Rizal says:

    Mau nanya? Kalo mau buat judul dari cerpen itu baiknya gimana ya?

    • Anto Dachlan says:

      Coba cara termudah : Pakai nama karakter utama.

      Sebaiknya gunakan kata benda : nama karakter atau nama tempat yang menjadi latar cerita.

      Saya perhatikan cerpen-cerpen karya penulis dunia cenderung menghindari penggunaan kata sifat dalam judul.

  128. Ithuk Arthayani says:

    awalan langsung dialog gimana mas..
    terimakasih

  129. aslamiyah says:

    kak mau tanya nihh,,, gmna klo paragraf nya seperti ini sudah menarik blm?

    Seratus, dua ratus, tiga ratus,,, Rahma mulai menghitung satu demi satu uang yang ada digenggamannya, dengan wajah yang menunjukkan kegelisahan dia tak bisa menahan air matanya. Entah apa yang harus dilakukannya dengan uang yang hanya segitu. Padahal ia sudah tiga kali ditagih oleh pihak kampus untuk membayar SPP. Dan besok adalah hari terakhir Rahma untuk melunasi SPP tersebut. Jika tidak, ia akan di drop out.

    • Anto Dachlan says:

      Coba fokus pada adegan, show don’t tell.

      Seratus, dua ratus, tiga ratus,,, Rahma mulai menghitung satu demi satu uang yang ada digenggamannya,
      Besok adalah batas akhir dia harus melunasi SPP, atau drop out.

      • aslamiyah says:

        terimaksh kak sarannya,,,, kak mau tanya lgii,, knapa ya saya mash bingung klo mau buat lanjutan ceritanya,,,kira” yang menarik itu seperti apa ya kak

        • Anto Dachlan says:

          gimana gak bingung, Bagaimana cara kamu (atau pembaca) bsia menilai itu menarik atau tidak jika ceritanya saja belum kelar.

          Tulis draft pertama sampai selesai. Disini kamu fokus pada menyelesaikan cerita.

          Jangan berhenti untuk menilai atau megedi kalimat, paragraf atau kealahan ketik.

          Balap. Tuliskan semua apa yang ada dikepalamu saat itu.

          Speedwriting. Lupakan dulu soal menarik atau tidak.

          Setelah ada draft, kamu akan lebih mudah menilai bagian mana yang menarik dan yang kurang menarik. Saatnya merevisi.

          Ulangi sampai 5 – 7 kali revisi.

  130. halo, kak :) kenalin aku Widia. aku baru belajar buat nulis cerpen2 nih, kak. fanfiction sih lebih tepatnya hehehe. aku bercita-cita jadi novelis, kak. tapi sampe sekarang belum bisa bikin alur cerita yang mengalir pelan2, pasti selalu terlalu to the point kalau menurutku. kalau kakak berkenan, coba baca beberapa tulisan aku di blog ya, kak.. dan aku minta komentarnya juga hehe. makasih :)

    • Anto Dachlan says:

      Coba perbanyak adegan, imbuhkan deskripsi mengenai latar tempat terjadinya adegan dalam cerita. perbanyak detil-detil. Itu bisa memperlambat jalannya cerita.

  131. kok post aku di komen sebelumnya di hapus ya? :(

    • Anto Dachlan says:

      Coba cermati sekali lagi paragraf terakhir dalam posting ini. komentator2 sebelumnya salah kira (atau sengaja), sehingga mereka beramai-ramai posting contoh paragraf awal cerpen mereka sendiri. Akibatnya saya kewalahan mesti merespon semuanya :)

  132. Halo Kak, aku Gifta. Umurku 9 tahun sekarang. Aku mulai menulis sejak masih kecil. Terima kasih atas tipsnya, sangat membantu. Aku boleh minta saran cerita? di web-ku ada beberapa widget di sebelah kanan sidebar. widget terakhir adalah link ceritaku. terima kasih

    • Anto Dachlan says:

      Sejak masih kecil ? emang sekarang udah gede ? :)

      beneran kamu masih berumur 9 tahun ? koq di web & akun Google+ kamu gak ada foto profil-nya ?

  133. Kak. Aku mau nanya nih, aku kan kerja paruh waktu nulis artikel inggris dan review gitu. Nah untuk artikel katanya sih lumayan udah bagus, lalu saya juga mulai menulis cerpen ini sekarang.
    Nah cerpen saya itu dapet komentar yang lumayan bagus dan memicu keingintahuan katanya, sayang nggak ada satupun yang suka endingnya..
    Di kerangka nya saya bikin sih happy ending, cowok jadian lah sama ceweknya.
    Tapi pas udah nulis kok nggak bisa nulis ending yang romantis ya.. Dan saya bikin endingnya si cowok itu Gay.
    Lalu itu cerpen saya rubah endingnya. Nah komentar mereka lagi, endinya seperti novel kak Shanty Agatha.
    Duh, gimana dong kak untuk nyari kata-kata romantis penutup cerita tapi nggak bersumber dari novel orang lain? Makasih.???? maaf jadi curhat.. He he
    Makasih juga tips untuk menulis dari sudut pandang orang ketiga. Selama ini selalu dari sudut pandang orang pertama.
    Dan juga mau nanya, gimana kalo masalah gaya bahasa? Saya lebih suka pake gaya bahasa anak muda (yang udah gue impi-impiin dari jaman kapan tau.), bukan bahasa baku (yang sudah saya impikan dari dulu) misalnya gitu. Nah itu dia juga dapet beberapa komentar. Katanya mending bahasa baku aja. Nah menurut kakak gimana?????

    • Anto Dachlan says:

      Soal ending. Twist ending memang bagus. Pembaca suka kejutan. Tapi jangan dipaksakan.

      Romantisme gak mesti di akhir kan ? sebaiknya jejak-jejak romantisme sudah dirasakan pengunjung dari pembukaan.

      Gak melulu lewat kata-kata puitis. Cerpen gak memungkinkan penulis royal dalam berkata-kata.

      Tipsnya, tunjukkan romantisme lewat adegan. Gerakan dan gestur tiap karakter.

      Dan yang sering dilupakan banyak penulis, romantisme bisa dihadirkan lewat latar. bunyi musik, angin, udara dingin, pelangi, hujan, kafe, pasir.

      Gunakan semua indera (penciuman, penglihatan, pendengaran, sentuhan dan pengecap).

      Untuk gaya bahasa, penggunaan bahasa baku WAJIB hukumnya. Setidaknya bagi saya.

      Tau nggak, bahasa slang dan nge-gahul gitu cuman enak didengar namun membosankan dibaca.

  134. pak saya mau tanya, kalau cerpen yang temanya manusia dan tumbuhan itu bagusnya bagaimana ya?

  135. Devi nur says:

    Terimakasih Kak, atas tips2nya. bermanfaat. Kak, mau tanya nih, saya masih belajar nulis cerpen, apakah segala yg ada di cerpen harus jelas total? Sementara saya, kata teman, dalam penceritaan masih ngambang semua. padahal saya mengungkpkn scr lisan, “iniloh maksud saya!”, eh kenyataanya malah amburadul? bener ga’ kalau semua tulisan harus diredemsi?…. Atas jawabnnya saya ucapakn terimakasih! 😀 hehehe, sekalian curhat (maaf ya Kak!)

    • Anto Dachlan says:

      Iya, harus jelas. Jika pembaca mengatakan cerita kamu ngambang, maka cerita kamu benar ngambang, Devi. Pembacalah juri sebenarnya, bukan penulis.

      Jangan berasumsi, tanyakan pada teman kamu, bagian mana dari cerita kamu yang menurut mereka tidak jelas. Lalu perbaiki bagian tersebut.

      Oh yah, apa yang kamu maksud dengan redemsi ? Boleh tunjukkan contohnya ?

  136. masagussss says:

    Wah. Makasih, kak. Ini membantu. Maaf, mau tanya, kak, untuk mencari ide menulis itu gimana, ya, kak?
    Mampir juga kak, ke blog saya, mohon masukan atas cerpen-cerpen saya. Mkasih, kak. :)

    • Anto Dachlan says:

      Baca tulisan orang lain. blogwalking, lalu lihat komentar pembacanya. Jika ada pertanyaan dari pembaca, itu adalah ide tulisan. Buatlah tulisan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

      dan untuk cerpen, pikirkan satu karakter, beri nama, usia, kebiasaan, tempat sekolah, profesi, dan sebagainya.

      Setelah itu beri dia masalah, mungkin dia kehabisan duit, sementara besok adalah hari Sabtu dan malamnya dia telah berjanji mengajak pacarnya pergi nonton.

      Bagaimana cara karakter mendapat uang ? bagaimana jika orang tuanya menolak memberikan. Semua temannya menolak meminjamkan dengan alasan bokek.

      Apakah dia harus terang kepada pacarnya ?

      Atau bagaimana jika tiba-tiba dia menemukan dompet dijalan penuh uang. Apakah dia memilih mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya, atau dia gunakan untuk mentraktir pacarnya ? Dan setelah nonton, si pacar mengatakan bahwa siang tadi pamannya baru saja kehilangan dompet.

      Ide tulisan tidak terbatas. Agus. kadang penulis sendiri yang membatasi pikirannya.

      • makasih kak atas sarannya dan ilmunya, semakin bertambah ilmu saya :)
        cuma masih sedikit bingung untuk memulai menulis tentang suatu hal yang belum tau apa yang akan saya ceritakan karena kebetulan saya baru mau belajar kak dalam dunia tulis menulis jadi masih bingung cerita seperti apa yang saya suka -_-“

  137. nur hafizah aisyah says:

    kak, baru ni di dunia menulis. makasih sebelumnya dengan tips tips buat cerpen. mau nanya bisa buat kata jad kalimat indah tuh gimana yah kak..?

    • Anto Dachlan says:

      kamu tidak perlu kalimat indah, Nur.

      Seorang penulis hanya perlu kalimat yang tepat dalam ceritanya.

      Baca karya Hemingway, Chekov, tak satupun kalimat indah didalamnya.

      Menyambung cerita dari awal sampai akhir…..Itulah tugas kalimat.

  138. Kak, boleh minta saran kakak tentang potongan cerpen ini gak?

    Malam itu ketika semua yang bernyawa telah tidur, lelaki yang bernama Cha Sunwoo sedang mengendap-ngendap di antara rerumputan dan pepohonan. Meski wajahnya tertutup oleh suramnya malam, namun masih terlihat kesenangan disana. Senyumannya sesekali tak dapat ditahannya. Tidak, ia tidak gila. Ia hanya senang karena malam ini ia bisa kabur menemui wanita tercintanya.

    Terima kasih sebelumnya 😀

    • Anto Dachlan says:

      Han, coba ganti kalimat “Meski wajahnya tertutup oleh suramnya malam” menjadi “wajahnya tertutup suramnya malam“.

      kalimat pertama ‘Mengatakan‘, kalimat kedua ‘menunjukkan‘.

      Jangan mengatakan apa yg terjadi. Sebagai penulis, kamu hanya perlu menunjukkan apa yg terjadi. Show don’t tell.

      Coba edit dan terapkan teknik ini pada cerpen kamu.

  139. Surya Waskitowati says:

    Kakk, coba lihat cerpenku diblog. menurut kak2 gimana… aku emang suka nulis kak,, dan cerpenku juga ditampilkan dimading sekolah… dan syukurnya banyak yg menanggapi positif. makasih…..

    • Anto Dachlan says:

      Surya, blog Kamu bagus. Bukan hanya cerpen, tapi juga artikel non fiksi kamu ditulis dengan baik.

      Ah…seandainya semua anak Indonesia seperti kamu :)

      oh yah, sebaiknya kamu bergabung dengan komunitas penulis. Dengan begitu wawasan kamu bisa lebih kaya. Mulailah dengan bergabung di kompasiana.com.

      Btw, saya tunggu 22 Mei Part II, yah.

      Just do it, You can do it if you try (saya mengutip ini dari seseorang) :)

      • Surya Waskitowati says:

        Iya kak…. makasih ya kak. kak… bagaimana kita dapat menjadi penulis yang produktif dan bagaimana caranya kita mencari inspirasi dalam menulis?

        • Anto Dachlan says:

          produktif : Tetapkan 60 menit dalam satu hari kehidupanmu untuk menulis, Misalnya pukul 05.00 – 06.00 atau 21.00 – 22.00. Matikan HP, televisi, radio & koneksi internet saat memasuki waktu tersebut.

          Tapi seperti pembaca lain yg menanyakan hal sama, kamu bukan tidak produktif. kamu hanya malas. Sinetron dan notifikasi FB & twitter lebih menarik perhatian kamu :)

          Inspirasi : Jangan tunggu inspirasi datang. Lansung menulis saja, tentang apa saja, jika telah memasuki waktu menulis kamu. Saat menulis, inspirasi yg akan datang menghampirimu.

          • Surya Waskitowati says:

            Iya kak, itu memang kisah nyata 22 mei. memangnya kenapa kak? . kak aku mau tanya apakah menulis cerpen ada batasan usia untuk menulis ceritanya. Jikalau umur saya 15 tahun ingin membuat cerpen tentang cinta yang terinspirasi dari curhatan seorang temanku , apakah boleh kak?…. :) terimakasih

            • Surya Waskitowati says:

              Oiya kak, lihat cerpenku yang Ajari Aku berbeda…. :) kalu bisa koment ya

              • Surya Waskitowati says:

                sekarang sudah bisa komentar diblog aku . kak kalau bisa ajak orang2 kunjugi blog aku ya kak, aku juga butuh saran orang lain

                • Anto Dachlan says:

                  Buat semua pembaca Indonovel…..

                  Siapapun yang suka membaca cerpen dan artikel dalam gaya khas anak remaja, segera kunjungi blog Surya sekarang DISINi & DISINI.

                  PS : Gadis manis ini ramah dan baik hati :)

              • Anto Dachlan says:

                kiment…eh maksud saya koment-nya udah masuk :)

                Oh yah Surya, gunakan font (huruf) yang konsisten di blog kamu. Jangan suka berubah-ubah antara satu artikel dengan artikel lain.

                Untuk media online, pilih huruf Sans Serif seperti ARIAl atau VERDANA. itu lebih mudah dibaca pada layar daripada font type handwriting. dan pastikan ukurannya diatas 13 px. Standar umum 14Px

                Selain itu hindari blok kalimat dengan latarbelakang berwarna. Itu menyulitkan pembaca.

            • Anto Dachlan says:

              Hanya ingin tahu siapa gadis yang kehilangan ibu itu.

              Tidak ada. Hanya saja pastikan kamu tahu tentang apa yang kamu tulis.

              Hindari menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal (Aku). Sulit memasuki pikiran karakter yang umurnya belum kamu lewati. Untuk berpikir seperti orang berusia 30-an, kamu harus mengalaminya sendiri :)

              Jika usia karakter lebih tua dari umur penulis, sebaiknya gunakan sudut pandang orang ketiga (Dia). Walaupun tidak ada larangan. Sama halnya jika penulis perempuan menulis menggunakan sudut padang ‘Aku’ dalam karakter lelaki. Rasanya selalu ada yang kurang, baik dalam dialog maupun tindakan.

  140. anisa wage says:

    malem
    trimakasih tipsnya kak, saya pernah buat cerita, di awal dan di pertengahannya sih okeoke ajah, tapi pas mau buat ending jadi acak-acak dan akhirnya sampe sekarang udah gak buat cerita lagi. yang saya mau tanyain gimana caranya buat ending yang menarik??

    • Anto Dachlan says:

      Sebelum menulis, buat outline : AwalTengahAkhir.

      Jangan pernah menulis cerpen sebelum kamu tahu ending ceritamu. akibatnya… yah, seperti situasi kamu ini.

      Cobalah mulai dengan ending-ending klise a la FTV. Misalnya, karakter A mendekati si B, akhirnya malah jadian sama si C kakak si B.

      atau…. si A tidak pernah mengunkapkan perasaannnya pada si B, ternyata setelah 5 tahun ketemu, si B yang masih lajang mengatakan bahwa dia juga mencintai si A. Sayang si A sudah menikah duluan.

      Mulailah dari ending yang sederhana dulu.

      itu pekerjaan rumah kamu sekarang.

      • Surya Waskitowati says:

        iyaa, btw kak, 22 mei part 2 nya udah jadi…. jangan lupa koment ya kak… saran dan kritik juga … mkasih

        • Anto Dachlan says:

          Senang sekali melihat tulisan-tulisan Surya di kompasiana.com.

          Coba add a friend penulis di kanal Fiksi sebanyak-banyaknya. Beri komentar di tulisan orang lain, hingga mereka juga tertarik membaca tulisan-tulisan kamu. Dan jangan lupa, pasang foto termanis kamu :)

          Saya gak bisa komentar di blog Surya, sebab harus log in terlebih dahulu. Saran saya, setting ulang fitur komentarnya.

          Btw, 22 Mei itu kisah nyata ?

  141. Achmad Rifqi says:

    kak mau nanya nih, kalau mau buat cerpen misteri itu lebih menarik pake poin yang ke berapa?
    1. Memunculkan Masalah Yang Harus Diselesaikan Oleh Karakter
    2. Memulai Dengan Aksi
    3. Memberikan Garis Besar Cerita
    4. Mengisyaratkan Bahaya (Ketegangan)
    5. Menampilkan Lokasi Cerita

    • Anto Dachlan says:

      Semuanya bisa Rifqi.

      Misalnya :

      1. Mulai dengan benih misteri yang menantang karakter untuk memecahkannya.
      2. Sebuah aksi kriminal yang belakangan memunculkan misteri
      dst….

  142. Hai kak, saya mau tanya nih. Menurut kakak, kalau di sebuah cerpen banyak bahasa asing kesannya gimana ya kak? kurang lebih mirip harry potter begitulah kak, ada sisipan mantra sihir dalam bahasa asing, dan beberapa slang bahasa inggris serapan. terimakasih atas sarannya ya kak

    • Anto Dachlan says:

      tetapkan dulu untuk siapa cerpen kamu itu. Siapa target pembacamu ?

      Jika target pembacamu terbiasa dengan bahasa asing (serapan atau slang), silahkan.

  143. Makasiih infonya kak.. bermanfaat sekaliii..
    saya jadi makin pengen nulis, tapi kenapa ya kak setiap saya nulis suka jadi males kalo mau ke endingnya,bahkan dulu cerpen yg saya ingin buat sudah terfikir isi dan ending nya tapi awal nya suka susah, atas artikelnya kakak saya jadi tidak susah lagi untuk memulai membuat cerpen hhee. Makasiih banyak ya kak :)

  144. Ferdi Angga says:

    Kak, kasih tipsnya donk.. Gimana supaya tulisan kita yg kita krim ke redaksi itu di lirik n gak lngsung di lewati bgtu sja? mengenai harus ada surat pengantar itu gmna sih kak sbenernya?? Format surat pengantar yg baik kyak apa…. makasih kak… :)

    • Anto Dachlan says:

      Via email. Subjek email : Naskah Cerpen. isinya pendek saja – 5 -7 kalimat. Naskah cerpen terlampir…. Dan kirim email pada pukul 06.00 WIB.

  145. Aina Faradisha says:

    Hai kak,, aku suka banget nulis tpi cuma sebatas konsumsi pribadi dan gak pernah PD di suruh ikut lomba2 atau ngirim tulisan ke redaksi. Gmna ya cranya utk numbuhin confident self? dan juga aku gak begitu paham aturan EYD krena dri dlu emang gak suka plajaran bhasa Indonesia tpi seneng bnget nulis 😀
    mhon bimbingannya kak,..

    • Anto Dachlan says:

      Adik Aina Faradisha, cara menumbuhkan kepercayaan diri adalah dengan melakukannya.

      Apa ada cara lain ? Tidak ada. Hanya itu satu-satunya cara.

      Jika ingin percaya diri tampil di depan publik, kamu harus tampil didepan publk.

      kirim saja naskahmu itu ke panitia lomba atau redaksi media.

      Apa akibat terburuk dari mengirim naskah ?

      kamu tidak menang lomba atau redaksi menolak naskahmu. Hanya itu!

      Panitia dan redaksi tidak akan menertawakanmu, menyuruhmu push-up 100 X atau melaporkanmu ke polisi karena kamu telah berbuat ‘Jahat’ menulis naskah yang buruk :)

      Lalu apa yang kamu takutkan adik Aina Faradisha ?

      Oh yah, jika kamu suka menulis dan ingin menulis naskah yang bagus, kamu WAJIB mempelajari EYD. Suka tidak suka.

  146. kk aku suka membuat sesuatu cerita atau cerpen cuma aku selalu gagal pas buat awalan cerita, aku hanya bisa buat pertengahannya aja…. tolong sarannya

  147. Harlita says:

    Hai kak! kalau paragraf pertamanya seperti ini, sudah menarik belum?

    Aku memang bukan tipe remaja yang realistis. Benar kata Tulus, penyanyi pendatang baru yang menelurkan single Tuan Nona Kesepian. Yang menceritakan dimana si Nona selalu berkhayal dan menganggap mimpi adalah dunianya. Begitu pula dengan aku yang selalu bermimpi untuk ini untuk itu, dan yang lain-lain. Entah apa yang terjadi dengan diriku, mungkin ini adalah suatu akibat ke stress an ku. Aku menganggap mimpi adalah hal terindah dan terbahagia dari semua hal dalam hidupku. Aku selalu bermimpi untuk memiliki Afgan, menjadikannya suamiku, dan mengatakan itu semua kepada ibu, teman-teman, hingga guruku. Mungkin mereka akan mengaggapku gila, karena aku selalu berkhayal tentang Afgan. Yahh, terserahlah apa kata mereka. Aku memilih untuk membahagiakan diriku dengan cara berkhayal, karena hanya itu yang sekarang aku temukan. Toh itu hanyalah caraku untuk bersenang-senang.

  148. ..hy kak ,qw ksulitan nie kak qw d suruh buat paragraf cinta lingkungan hidup 12-15 paragraf ,tlong buatin donk kak….

  149. Bagaimana jika paragraf awal seperti ini Pak? menarik atau tidak?

    Gadis itu tertunduk takut dengan pria berperawakan jangkung nan tegap yang sedang berdiri dan menatap tajam ke arahnya. Ia tau pria ini sedang marah. Ia mengaku salah, makanya ia hanya duduk tertunduk di atas tepi tempat tidur sambil memainkan ujung roknya . Bahkan gadis itu tidak berani untuk menanyakan kenapa pria yang notabene adalah sang kekasih bisa berada di kamar asrama putri yang sama sekali tidak boleh dimasuki oleh pria. Lancang memang, pria ini terlalu lancang untuk bisa berada di asrama putri yang tentunya dijaga ketat oleh Ibu asrama. Tapi pria ini, ia nekat untuk bisa berada di tempat yang sangat dilarang keras untuk ia masuki. Alasannya, Ia tidak peduli jika ia tertangkap ataupun dihukum sekalipun karena kelancangannya, asalkan ia bisa memastikan bahwa setidaknya keadaan gadisnya itu baik baik saja, namun perasaan khawatir yang sejak empat hari yang lalu pria itu rasakan karena gadisnya tidak masuk sekolah tiba tiba menghilang seperti buih. Bukan karena gadisnya sekarang baik baik saja, tapi karena gadisnya memang sejak empat hari yang lalu sudah baik baik saja. Gadisnya itu sama sekali tidak sakit. Gadis itu mengurung diri dan tidak mau membagi masalahnya dengan kekasihnya sendiri

    • Anto Dachlan says:

      Coba buat versi lain dalam bentuk dialog. Lalu minta pendapat temanmu, mana yang lebih baik.

  150. aceng says:

    terima kasih bro. sangat bermanfaat ilmunya. apalagi buat saya yang pengen belajar menulis fiksi. 😀 syukron sekali lagi.

  151. Gusti Gina says:

    Thank u bgt lho. Berkat baca ini dlu, aku lngsung nulis cerpen ga nyampe stgh jam, lalu aku ikutin lomba, cerpen politik gitu. trnyata juara 1, aku pke tips no 1 mas. thank u bgt yah . hehe

  152. Halo Ka, saya mau tanya kalo cerpen yang bertema masalah sexualititas misalnya cinta sesama gender apa boleh dikirim ke majalah ??? terimakasih :)

  153. Salma Al says:

    Wahh makasih infonya bener bener ngebantu aku nih

  154. thanks postingannya gan sangat membantu bagaimana membuat cerpen yang bagus

  155. Putri Hadiyati says:

    infonya sangat bermanfaat mas buat saya sebagai penulis cerpen pemula. Mas saya kan baru mulai menulis cerpen, saya ingin mengirim cerpen saya ke penerbit tapi saya binggung cara mengirimnya dan format pengirimannya seperti apa. Tolong infonya mas makasih:)

    • Anto Dachlan says:

      Beli koran atau majalah penerbit tersebut. Pada halaman yang memuat cerpen, biasanya tercantum syarat-syarat pengiriman naskah (format dan alamat pengiriman). Ikuti semua persyaratan mereka.

  156. Ahmad Rizqi Anzala says:

    wonderfull, saya selalu punya kesulitan menulis paragraf pertama, thx so much 😀

  157. Alhamdulillah… :) Bermanfaat bgt artikelnya,, Sekarang saya jadi tambah optimis buat nulis cerita… Terimakasih pak 😀

  158. Reza Putri says:

    Trims atas infonya yg sangat berguna. Boleh saya minta pendapat ttg cerpen pembuka saya?

  159. fidhari says:

    kak, saya kan lagi buat novel .. emang sih saya pemula. waktu saya tanya ke teman saya dia bilang novelnya jelek. seetelah mendapat kritik itu saya kok jadi takut kalo mau nulis lagi.. itu gimana ya?

    • Anto Dachlan says:

      Mereka benar, Fidhari (pembaca tidak pernah salah).

      Tapi jangan takut. Belum pernah ada orang yang ditangkap polisi karena menulis novel jelek :)

      kamu sudah selangkah lebih maju. kamu sudah menulis novel, dimana banyak orang hanya berangan-angan.

      Soal memperbaikinya, itu langkah (pekerjaan rumah) kamu selanjutnya. Baca lebih banyak novel. Pelajari cara mereka menulis kalimat demi kalimat. Lalu kembali ke naskah kamu. Terapkan apa yang kamu dapat dari novel orang lain. Meniru adalah cara belajar terbaik.

  160. Bagus Dikky Pratama says:

    Terimakasih atas ilmunya, sangat bermanfaat bagi. ijin share lewat facebook. Dan tolong sebarkan lagi ilmu akan Karya Tulis Ilmiah, sy juga ingin belajar :)

    • Anto Dachlan says:

      Trimakasih, Bagus.

      Btw, Indonovel situs fiksi. kamu bisa menemukan topik karya tulis ilmiah di situs lain.

  161. kutipannya emang bener2 keren. baru baca di awal aja udah pengen tau gimana kelanjutan ceritanya.. btw thanks bro postingannya.

  162. Faisal Yudha Nugraha says:

    Terimakasih atas tipsnya kak, sangat membantu :)

  163. Nurul Hajjah says:

    terimakasih banyak mas Rusdianto atas sharingnya,sangat membantu sekali buat saya yang dari dulu benar2 kesulitan untuk memulai menulis cerpen,padahal banyak sekali ide2 yang ada di kepala saya untuk menulis cerpen.Sulitnya, ketika sudah didepan laptop ,ide atau inspirasi jadi blank,..ha ha ha…,menulis dikertas malah membuat saya lancar menuangkan ide cerita.
    Semoga, stelah membaca ilmunya mas Rusdianto, saya jadi semangat lagi,..thanks a lot of you…

  164. parida siregar says:

    thanks kak infonya,nambah wawasan bwat readers, trutama saya.sbelumnya saya gk tw klo paragraf awal itu berpengaruh bagi ktertarikan pembaca.padahal saya hobi banget baca tapi kok gk kpikiran ya?.Ternyata stelah di pikir 2 iya jga.

  165. harianto sutrisno says:

    Terimakasih Mas Anto atas petunjuknya. Bermanfaat sekali buat saya. Insya Allah akan saya kirim satu copy yang sudah di jilid rapi lengkap dengan covernya, tapi mohon saya diberikan alamat Mas Anto. Saya merasakan kebaikan Mas Anto dalam urusan pembuatan novel saya. Sekali lagi terimakasih dan semoga sukses.

  166. harianto sutrisno says:

    Terimakasih atas komentarnya Mas Anto, maaf kalau saya mengganggu lagi.
    Sebenarnya novel John Wood ini novel pertama saya, saat ini sudah selesai sebanyak 550 halaman dalam format 14 x 21 cm font TNR 12 pt spasi 1,5. Mohon petunjuk tentang : 1. Saya ingin mengirim ke Penerbit Andi untuk edisi Bahasa Indonesia. 2. Pada setiap awal bab saya tampilkan foto gunung atau pantai lokasi cerita yang saya ambil dari internet (apakah ini salah?). 3. Saya ingin mengirim edisi Bahasa Inggris ke penerbit di luar negeri (mohon referensi alamat penerbit LN, karena pada bab pertama setting lokasi di kota Frankfurt, baru ke Indonesia). 4. Saya ingin mengirim satu copy ke Mas Anto, syukur-syukur Mas Anto berkenan memberikan masukan (walaupun telah saya edit sendiri tentang dialog tag, huruf kapital, dan telah disesuaikan EYD dengan KBBI). Terimakasih Mas Anto, komentar dan petunjuknya saya nantikan.

    • Anto Dachlan says:

      Jangan berpatokan pada jumlah halaman, tapi pada jumlah kata.

      80.000 – 100.000 kata standar. Lebih dari itu sebaiknya Anda memikirkan untuk membuat serial.

      1. Coba print on demand nulisbuku.com

      Jika ini novel pertama. model PoD baik untuk tes pasar. Dari umpan balik pembaca, Anda bisa melakukan perbaikan/revisi. PoD tidak memerlukan biaya besar.Jadi Anda tidak perlu menanggung kerugian jika ternyata novel Anda tidak direspon pembaca.

      2. Lihat keterangan foto. cermati klausul copyrigth-nya. Menggunakan foto orang tanpa ijin dapat dituntut loh.

      3. Menggunakan penerbit mayor udah gak jaman lagi diluar negeri (Amerika utara dan Eropa). Gunakan platform self publishing Amazon (ebook) atau createspace (hardcover).

  167. Fern Reynada says:

    Ka doakan saya agar menang nanti di lomba cerpen akhir bulan . saya menjadi perwakilan dari sekolah saya:) terimakasih ka artikelnya sangat membantu.

  168. harianto sutrisno says:

    Salam kenal Mas Anto, saya mencoba membuat novel dengan judul John Wood Legenda Keris Terbang, dengan paragraf pembukaan sebagai berikut :
    (Catatan editor : konten diedit karena kepanjangan)
    Mohon komentarnya Mas, apakah tulisan saya ini termasuk nggak bermutu, Terimakasih Mas.

    • Anto Dachlan says:

      Saya sudah baca, Harianto. Lumayan menurut saya. Coba teruskan sampai selesai. Setelah terbit, beritahu saya link-nya untuk mendownload sample page novel tersebut.

  169. Berguna bgt artikelnya mas…
    Saya suka nulis puisi.. dan juga suka baca cerpen..
    udah beberapa kali saya ikut lomba nulis cerpen.. tapi cma lolos nominasi doank..
    Dan belum 1 pun dari cerpen saya yang menang.. ataupun msuk antologi..
    Saya mau tanya.. saya suka menggunakan tokoh pertama tunggal dalam menuliskan cerpen, alasannya.. menggunakan ‘aku’ dalam cerita membuat saya lebih menjiwai sosok aku. Jadi spt mnulis buku harian. Tapi.. banyak yg bilang cerpen saya terkesan menggurui.. atau saya terkendala pada pengungkapan hati yg terlalu panjang dan terlalu dekskriptif.. saya ingin minta pendapat gimana caranya agar membuat cerpen dgn menggunakan tokoh ‘aku’ agar menjadi menarik dan tidak membosankan.. apalagi menggurui..

    Terimakasih sebelumnya mas..

  170. Heni Mulyawati says:

    hatinya merintih kesakitan tp aku hiraukan karna rasa cinta lebih kuat……..

  171. samz tamzis says:

    Bravo! saya menyesal kenapa baru membaca artikel ini sekarang..

  172. Lien Uno says:

    Thanks to your post.

  173. Halo, Om. Sebelumnya, terimakasih sudah share artikel ini. Ngebantu banget, Om :).
    Nah saya masih (baru) menulis novel.. kenapa ya ide-ide, plotnya, paragraf yg berisi kejadian, bisa saya rencanakan dengan baik, tapi waktu mau nulis semua itu, malah nggak tau mau nulis apa alias bingung atau kacau balau.. mohon saran ya, Om…

    • Anto (Rusdianto) says:

      Loh, koq bisa ?

      kan tinggal ikuti apa yang sudah kamu rencanakan itu.

      kalau kamu gak tau mau nulis apa, tulis aja ‘Gak tau mau nulis apa‘. Kalimat seburuk apapun yg tertera di layar, jauh lebih bagus drpd kalimat hebat yang tidak pernah mampu kamu tuliskan.

      Jangan terobsesi jadi sempurna. Menulislah seburuk mungkin. Langkah pertama adalah memenuhi layar dengan huruf, kata, lalu kalimat, lalu jdi paragargf… dst. Setelah selesai, kamu bisa kembali mengeditnya.

      Hsilnya akan buruk sekali, seperti kata Pablo Picasso, tindakan pertama dalam seni adalah tindakan merusak. Tapi jika tak ada kalimat yang bisa kamu tulis, lalu kamu mau mengedit apa ? Biasanya tulisan akan tetap buruk sampai pengeditan ke-3 dan ke-4. Tapi masuk penegditan ke-5, kamu akan mulai melihat sisi bagus dari tulisanmu.

      Konon Hemingway mengedit sampai 30 X hanya untuk menemukan satu kalimat yang tepat.

  174. Saifu Ali says:

    Tips yang sangat menarik. Sebagai penulis pemula, beberapa tips di atas membuat saya lebih bersemangat menciptakan cerita-cerita, apalagi ketika membuat paragraf pertama agar lebih ‘menggigit’ pembaca. Thanks, Broh!

  175. Emmy Putri W says:

    Selamat siang kakak,
    terima kasih untuk artikelnya. sebagai penulis pemula ini sangat membantu buat saya :)
    sekali lagi terimakasih ..

  176. Bintang Timur says:

    Hai, kak.
    Salam kenal, saya Bintang. Belum jauh dalam menulis, masih pemula. Mohon tipsnya dong, mungkin dengan mengomentari cerpen pertama saya. Ini akan sangat membantu untuk ke depannya. Semoga ada waktu luang dan bisa segera mampir. Terimakasih, kak.

    • Anto (Rusdianto) says:

      Saya sarankan Bintang posting link-nya di akun facebook atau twitter. Dengan begitu jauh lebih banyak pembaca yang bisa memberi penilaian.

  177. Alhamdulilah sangat membantu.
    Setelah aku mulai jarang menulis cerpen karena sibuknya tugas di sekolah, jadi lupa untuk menulis. Tapi sesudah baca artikelnya, jadi terbuka lagi pikiranku :)
    Terima Kasih Pak.

  178. terima kasih infonya pak, aku jadi semangat nulis cerpen. tapi sebenernya bukan cerpen, melainkan FF (istilah cerpen dengan cast-nya KPop Idol). aku mau ngasih kutipan FF-ku yg mau dipost di suatu blog, bagaimana menurut bapak?

    Aku menerawang jauh ke depan, mempertimbangkan tawarannya. Hatiku gelisah, kenapa begitu tiba-tiba? Dia sudah lama tak menemuiku lalu sekarang sepulang kuliah dia langsung meng-SMS-ku untuk bertemu. Perlahan aku menuju kafe dengan nilai artistik yang kuat ini. Kubuka pintu besar layaknya gerbang istana Kerajaan Joseon itu, dan didetik yang sama seorang namja menoleh ke arahku. Hanya bereaksi seperti itu, tapi aku masih berharap dia bangkit, menarikku ke genggaman hangatnya, lalu menuntunku ke tempat duduk. Namun tidak, itu mimpimu belaka! Sadarlah!

    masih ada kekurangan atau saran dari bapak? tolong disampaikan selengkapnya ya pak, saya masih pemula dan ingin mencoba ^^ terima kasih

    • Anto (Rusdianto) says:

      Jika memungkinkan, hindari kata sifat. Misalnya kata ‘Gelisah’. Coba gambarkan mimik dan ekspresi wajah orang gelisah. Jadi pembaca seolah bisa melihat sendiri ekspresi kegelisahan karakternya (show, don’t tell).

      Coba perbanyak dan fokus pada adegan. Kurangi mengatakan terlalu banyak isi pikiran karakter ‘Aku’. Saat membaca cerpen, sebenarnya pembaca lebih ingin ‘Melihat’ cerita, ketimbang ‘Mendengarkan’ cerita’ dari penulisnya.

  179. keren..

  180. Sabrina Syakhsia Syahida says:

    Salam kenal,
    besok saya akan mengikuti lomba cerpen, apakah ada saran agar tidak gugup dan saya bisa mendapatkan atau konsentrasi tentang cerita yang menarik, sebab saya sering membuat cerpen tetapi sepertinya tidak menarik. mohon bantuan nya pak.
    terimakasih

    • Anto (Rusdianto) says:

      Sabrina, kamu presentasi cerpen ? Koq gugup ?

      Bukannya lomba cerpen itu tinggal menulis kemudian mengirimnya ke panitia lomba ?

      • Sabrina Syakhsia Syahida says:

        Iya tapi saat menulisnya itu saya bisa gugup juga, jadi bingung mau nulis apa

        • Anto (Rusdianto) says:

          Menulis saja, Sabrina. Toh tidak ada polisi tata bahasa yang akan menangkap karena tulisanmu buruk.
          Kalau kamu tidak mulai menulis, cerpenmu tak akan pernah jadi.

  181. aku masih pemula nih apa yang kurang dari pembukaan saya?

    “Apa kau percaya tentang cinta diam diam?”

    Matanya berkaca kaca, ada kesan menghitungi detik yang berirama seram dan pekat. Dia masih duduk di bangku panjang apa di taman itu. Dia benci realita yang selalu menampar hati. “Kau benar benar ingin pergi?”

    • Anto (Rusdianto) says:

      Kurang info mengenai karakter. Siapa mengobrol dgn siapa ?

      Hindari mengatakan isi perasaan karakter. Tunjukkan sja lewat mimik atau tindakan (misalnya ‘matanya berkaca-kaca’). Mengatakan isi pikiran karakter saat menggunakan PoV orang ketiga biasanya membosankan pembaca.

  182. ini jadi motivasi saya buat bikin cerpen !!! terimakasih mas 😀

  183. bacharuddin says:

    Mantap artikelnya jadi nambah ilmu.
    Thanks..

  184. catat suka-suka says:

    manfaat sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali…
    :)
    terima kasih ilmunya Mas…

  185. Saya mencoba belajar untuk menulis cerpen.
    Saya mau tanya Bang Rusdianto, apakah kalimat awal cerpen saya sbb:

    “Tik-tak, tik-tak, tik-tak, irama detik arloji di pergelangan tangan mengusik lamunanku. mataku lurus memandang sepetak tanah yang berhias rumah tua yang berdiri angkuh tetapi rapuh yang tepat dihadapanku…”

    dan kalimat selanjutnya langsung mengarah ke topik cerita bisa / digunakan untuk menjadi paragraf pertama? Terima kasih..

    • Anto (Rusdianto) says:

      Coba baca cerpen sebanyak mungkin dari penulis yg saya contohkan di artikel ini…

      cermati cara mereka membuat paragraf pertama…dan kuncinya latihan terus-menerus.

  186. Terima Kasih blognya sangat bermanfaat sekali untuk saya ^_^

    saya seorang penulis pemula dan ini adalah awal dari cerpen saya.

    Tidak seperti biasanya DEVITA seperti itu, biasanya dia anak yang selalu ceria, dan pandai bergaul. Tapi akhir – akhir ini dia terlihat murung dan menyendiri jika ditanya devita hanya menjawab tidak kenapa – kenapa.

    mohon kritiknya kusanto-san

  187. Oh iya, Saya mau minta saran anda nih.. Ini cerpen kedua saya, kalau jelek, harap dimaklumi.. saya masih pemula

    >Aku berjalan menyusuri perkampungan ini. Semua rumah terlihat kuno dengan arsitektur di abad pertengahan. Apa aku pergi kemasa lalu? Kapan aku naik mesin waktu? Sekarang dimana aku? Segala pertanyaan membuatku harus memutar otakku. Kulihat seorang anak seumuranku sedang duduk di bangku dekat pohon maple. Dia melayangkan pandangan pnglihatannya kepenjuru langit senja yang indah ini. Sesekali rambutnya terkibas sedikit karena sapuan angin. Dia seseorang yang telah lama ku kenal, dia sahabatku. Tapi itu dulu… <

    • Anto (Rusdianto) says:

      Jangan katakan ” semua rumah terlihat kuno….”

      Tunjukkan saja mengapa rumah itu terlihat kuno. Dari situ pembaca bisa melihat sendiri apakah rumah itu kuno atau tidak…

  188. Bagaimana menurut anda dengan cerpen saya ini? Tolong koreksi jika ada kesalahan. Terima kasih, maaf jika penggunaan kata-katanya kurang berkenan, maklum, saya murid kelas 1 smp. 😀

    • Anto (Rusdianto) says:

      Pertama, saya senang mengetahui Anda baru kelas 1 SMP, Tania… Saya mengapresiasi Anda yg sudah bisa menulis sebaik ini.

      Saya sudah membacanya, tp belum bisa menilai sekarang… Jadi mohon sabar :) Sengaja saya memotongnya krn terlalu panjang utk ukuran komentar. Jd saya simpan di hard disk dulu.

      Btw, tetap semangat menulis.

  189. Saya baru belajar membuat cerpen
    Dan ini baru pertama x saya menulis cerpen
    Saya mohon bapak bisa ngasih kritik dan saran untuk cerpen paragraf pertama saya
    “Ayah. . Ibu. . . Bangun”
    Semburat wajah sembab terlihat di pelupuk mata anak yang di tinggal mati ayah dan ibunya. .
    Seakan tak rela si bungsu mengoyang-goyangkan tubuh kedua orang tuanya yang terbujur kaku,
    “Ayah. . Ibu. . Bangun jangan tidur terus”
    Si sulung memeluk adiknya yang masih kecil
    “Sudah jangan nangis terus,
    Kalo adik nangis terus ayah dan ibu juga nangis di sana”

    • Anto (Rusdianto) says:

      Jangan katakan ” Semburat wajah sembab terlihat….”

      Gambarkan bagaimana yg dimaksud dgn wajah sembab itu.. Hilangkan kata ‘Terlihat’… toh kami bisa’melihatnya’ sendiri jika cara Anda menggambarkannya bagus…

      btw, keep writing.

  190. permisi, saya mau tanya,
    bagaimana cara untuk membuat paragraf pembuka yang menarik bagi yang baru pertama kali menulis cerpen?

  191. Devi amalia says:

    Salam kenal pak
    Saat ini saya menghabiskan waktu sengang ini dengan menulis. Karna saya ingin menuliskan semua cerita saya ini. Sebagian dari usaha sendiri, saya telah mencoba untuk menulis yang terkadang sedikit ngaco pak. Sepenggal hasil tulisan saya begini :

    Matahari mulai memancarkan sinarnya. Hingga menyelip sebagian ruang kamar serta menyentuh bagian tubuhku. Akupun mulai terasa terganggu dengan sinar itu. Mungkin maksudnya untuk membangunkanku dari tidurku yang lelap tersebut. Membutuhkan waktu banyak untukku kembali sadar dan merenggangkan tulang- tulang ini. Sempat kulirik jam dinding disamping kasur dan ternyata sudah pukul 11 siang. Aku tak sadar kenapa bisa aku kesenangan tidur sampai jam segini. Ini sesuatu yang tak pernah aku alami. Aku lirik ponselku tak ada pertanda dari seseorang yang diujung sana menggabariku sedikitpun. Entah kenapa tadi diwaktu tidur, aku merasakan sebuah pelukkan hangat yang membuat waktu tidurku menjadi lebih panjang. Aku tak paham dengan perasaan halusinasi ini. Apa ini hanya mimpi diwaktu tidur atau perasaanku saja.

    Berkali-kali aku mengecek handphone ini tak satupun ada pertanda darinya. Ini tidak seperti biasanya. Sudah terlalu lama aku menunggu kabar itu tak juga kian datang. Mencoba menghubunginya, namun nomor yang dituju tak bisa aku jangkau dengan mudah. Perasaan khawatir yang akan terjadi oleh dirinya mulai menyergapku menjadi panik. Akhirnya aku harus bangkit dari ranjang tidur sendiri keluar kamar dan menuju kamar mandi. Terlihat diruang tengah mama tampaknya telah menunggu kehadiranku keluar dari kamar dan menyapaku

    Bagaimana pendapat bapak tentang tulisan saya ini pak. Bantu saya untuk koreksi ulang ya pak. Mohon tanggepannya. Terimakasih

    • Anto (Rusdianto) says:

      Devi Amalia….

      Hindari membuka cerita dgn cuaca atau fenomena alam seperti “Sinar mentari….. harum tanah sehabis hujan, dll’. KECUALI, fenomena alam tsb berperan penting dlm cerita (mis. berkonflik dgn karakter atau menjadi tema cerita).

      Oh yah, sebaiknya tidak mengatakan apa yg ada dalam pikiran Anda. Hal ini kerap terjadi jika menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal (Aku). Jangan katakan, tp tunjukkan dalam adegan. Ceritakanlah apa yg dilakukan oleh karakter. Dari tindakan dan dialog karakter dgn tokoh lain, pembaca bisa menangkap apa yang ada dalam pikiran tokoh Aku.

      Keep writing, Devi.

  192. pak mohon saran cerpen pembukaan saya yang saya buat, saya baru memulainya. jika kalimatnya kurang pas mohon sarannya juga :)

    Iis Fathurrohma! Mohon maju kedepan aula”
    aku berdiri dengan jantung yang berdegup kencang. suara mereka berdengung dimana-mana. tanganku tiba-tiba terasa sangat dingin. aku melangkahkan kakiku menuju pak kepala sekolah yang senantiasa menunggu kedatanganku. suasana yang tadi riuh tiba-tiba hening seketika.
    “iis selamat. anda akan dikirim ke USA.”

    • Anto (Rusdianto) says:

      bagus, Talitha.

      Tapi saya ingin tahu, apa yg akan terjadi selanjutnya ?

      Dengan kehadiran kalimat ” Selamat, Anda dikirim ke USA.” Sepertinya cerita telah berakhir ? :)

      Oh yah, dalam menulis dialog, cocokkan dgn realitas.

      Apakah benar, Kepala Sekolah menggunakan kata ‘Mohon’ jika meminta muridnya melakukan sesuatu. Apa benar Kepala sekolah menggunakan kata ganti ‘Anda’, bukannya ‘Kamu’.

      Jika pembacamu berasal dr generasi SMA 90’an, maka dialog itu terdengar aneh. Kami tdk pernah mendapati guru atau kepala sekolah yg sesopan itu. Atau mungkin zaman telah berubah ? :)

      Semangat menulis yah, Talitha.

  193. luchy tasya says:

    masih binggung cara membuat paragraf pertama
    jika d awali dengan perkenalan itu bisa menjadi menarik atau justru membosankan?

    • Anto (Rusdianto) says:

      Tulis saja dulu apa yang ada dikepalamu sampai selesai. Setelah itu kamu bisa kembali mengeditnya.

      Untuk memudahkan, coba baca kembali cerpen-cerpen orang lain. Tidak apa-apa kamu meniru paragraf pertama mereka. Coba ganti setting dan karakternya. Meniru salah satu cara belajar menulis yang baik.

  194. saya punya cerpen yang saya ajukan ke majalah sekolah, tapi masih belum ada kepastian. paragram pertamanya seperti ini : Ada sebuah gitar dan kanvas didepan matanya, ini adalah saat terakhirnya untuk membuat keputusan, ia tak bisa membuang waktu lagi karena waktunya sudah habis dibuangnya selama ini…

    • Anto (Rusdianto) says:

      Baiknya Sofia menanyakan dulu kepada redaksi majalah bersangkutan.
      Oh yah, ada redundansi (pengulangan) dalam kalimat terakhir pembukaan kamu.

  195. Fendy Thahir says:

    Aku emang paling seneng dengan yang namanya cerita pembuka. dan aku selalu berhasil menyita perhatian teman temanku di awal cerita yang aku buat. tapi rata rata dari mereka selalu mengkritik inti ceritanya dan kebanyakan mengatakan tidak suka dengan endingnya. 😀
    Aku sih terus belajar.. Mas Anto mau nggak baca cerpenku.? :)

  196. siska wulandari says:

    saya kurang beritu bisa untuk menulis cerpen, tapi saya lebih suka menulis puisi? bagaimana caranya menumbuhkan minat saya di cerpen, karena biasanya kalau saya menulis itu selalu tidah sampai pada akhir cerita ( blank ) trims :)

    • Rusdianto™ says:

      Mulai dengan menumbuhkan minat membaca cerpen, Siska :)

      sama seperti menuju ke suatu tempat, Siska harus menentukan tujuan akhir sebelum mulai berangkat. Cerpen pun demikian. Mulailah dengan menentukan akhir ceritamu sebelum mulai menulis.

      Setelah mulai, jangan berhenti sebelum sampai ke tujuan.

  197. mau tanya, kalau misalkan mau kirim naskah novel atau cerpen ruler ms word nya boleh digeser sesuka hati kah? atau ada ukuran standarnya. Terimakasih

    • Rusdianto says:

      Lihat persyaratan yang ditetapkan oleh media atau penerbit tujuan, Alina. Aturan standar biasanya mencakup jarak spasi dan jumlah kata. Selama naskah Alina mengikuti kedua aturan tersebut, ukuran margin saya kira tidak ada masalah.

  198. Putra Zaman says:

    Salam kenal, Bang Rusdianto :)
    Terima kasih atas ilmunya yang sangat membantu penulis pemula seperti saya untuk terus belajar menulis yang baik 😀
    Saya boleh minta pendapat tentang paragraf pertama di cerpen saya, Mas?
    Ini penggalan paragraf pertamanya, Mas:

    “… hukuman mati!” suara hakim menggema, diikuti dua kali ketukan palu.
    Ruang sidang berubah riuh demi mendengar putusan hakim terhadap Parmin. Seperti ada kerumunan lebah yang sedang berdengung di atap ruangan, cibiran-cibiran merambat cepat di antara pengunjung sidang. Tapi yang paling terdengar adalah suara tangis yang meledak-ledak dari barisan keluarga Parmin, terutama ibunya.

    Terima kasih, Mas 😀

    • Rusdianto says:

      Bagus, Mas Putra.
      kami (pembaca) menangkap adanya benih konflik dalam cerita.
      Semoga konflik yang diharapkan pembaca itu terungkap dalam paragraf berikutnya.

      • Putra Zaman says:

        Tapi sepertinya paragraf pertama saya itu tidak termasuk dalam salah satu kriteria yang Mas jelaskan di atas. Semoga saya bisa terus belajar dan semakin baik dalam menulis. Terima kasih, Mas 😀

  199. nabilla says:

    wow, ternyata bikin cerita menarik itu ga gampang :)
    minta pendapat dong…

    ini paragraf pertama FF paling laku di blog saya:

    Long-long time ago… “Tuan Putri, segeralah kemari!” Gadis yang disebut Tuan Putri itu masih berdiri di depan cermin lebar dengan bingkai emas mengkilap. Tidak ada satu debupun yang menempel pada benda lebar itu. Cermin itu memantulkan bayangan Kim Soeun yang memakai hanbok berwarna ungu dongker dengan motif emas. Rambut hitamnya disanggul memakai jobawi. Kim Soeun terlihat lelah. Dalam sehari, ia dapat bergonta ganti hanbok. Kepalanya selalu tersiksa karena beban jobawi. Meski lelah, ia tetap memperlihatkan garis cantik yang dimilikinya. “Tuan Putri!”

    trus ini yang paling ga laku, hehe..

    Soo Hyun melangkah sambil menyeret kopernya yang besar. Kaki-kakinya yang kelelahan duduk di pesawat maju bergantian. Begitu mendekati gerbang ia berhenti dan mengambil sebuah kartu dari kantong jaketnya. Ia menarik napas dan berjalan menuju taksi yang sedang parkir menunggu penumpang. Ia menyerahkan kertas tipis itu pada sang supir. “Anda mau ke tempat ini?” tanya sang supir dengan bahasa Korea yang fasih. Soo Hyun mengangguk lalu masuk ke dalam taksi.

    gimana, pak? mohon sarannya 😀

    • Rusdianto says:

      Keduanya bagus, Nabila… (meski saya lebih suka dengan paragraf cerita ‘yang paling ga laku’)

      Yang menarik, kedua paragrafmu menyiratkan adanya konflik yang dialami karakter.

      Pada cerita pertama, pembaca menangkap adanya konflik internal pada diri Tuan putri. ” Apakah dia merasa bosan dengan kehidupannya sebagai Tuan Putri ?”

      Pada cerita kedua, memicu pertanyaan pada benak pembaca ” Siapa alamat yang dituju Soo Hyun ? Mengapa dia ingin menuju ke tempat itu ? Mengapa dia seolah merasa terbebani (Ia menarik napas) ”

      keep writing.

  200. novye says:

    bagaimana dengan paragraf ini?

    Desiran angin pantai melambai-lambaikan rambut ni chan yang sengaja dibiarkan terurai, deburan ombak seakan mengalunkan irama nan merdu. Kilauan pasir putih bak mutiara yang menyilaukan mata.
    Ni chan merentangkan kedua tangannya dan menatap penuh kagum pemandangan pantai yang sangat indah. Merasakan air laut yang membasahi kaki mulusnya. rasa nyaman menyelimuti perasaan dan hatinya, membawa kesejukkan dalam rongga-rongga hatinya.

    • Rusdianto says:

      Banyak penulis (untuk tidak mengatakan semua) yang gemar melukis pemandangan pada pembukaan.

      Tapi ingat ini, pemandangan hanya menarik jika itu mengandung konflik atau memberi pertanda mengenai jalan cerita yang akan terjadi. Sebaiknya pemandangan tidak sekedar hadir sebagai ornamen artistik.

      Coba cermati kembali ke-5 contoh pembukaan dibawah.

  201. Tobias says:

    Pak Rusdianto, saya sedang uji coba/setidaknya praktek lah dari artikel yang bapak tulis
    dan saya butuh pendapat bapak tentang paragraf pertama yang saya buat ini
    mohon bimbingannya

    “Kek!…”
    “Kakek, semuanya sudah kumpul nih!…”
    Aku memanggilnya berkali-kali dan tidak ada jawaban dari kamarnya. Padahal acara ulang tahun kakek akan segera dimulai. Walau kakek memang agak sulit untuk bergegas karena kakinya yang pincang, namun kali ini tidak terdengar lagu lawas kesukaan kakek yang seperti biasa beliau lakukan pada tengah hari.

    trims

    • Rusdianto says:

      Bagus, Bung Tobias.

      Ada konflik kuat.

      Ada sesuatu yg terjadi pada kakek ?’ pikir pembaca…

      Lanjutkan.

  202. Benard Hp says:

    Hi, terima kasih atas artikelnya yang sangat berguna.
    Saya sudah beberapa kali menulis cerita menggunakan beberapa metode di atas. Tapi baru sekarang saya paham kenapa metode – metode tersebut membuat orang ingin membaca lanjutannya. Saya jadi paham kapan saya harus menggunakan metode – metode tersebut.

    Saya berencana mulai menulis cerpen untuk dikirimkan ke media massa dan saya merasa banyak artikel – artikel anda yang dapat membantu saya dalam menyampaikan cerita saya.

    Terima kasih.

    • Rusdianto says:

      Hi, Benard.

      Senang mendengar artikel ini berguna bagi Anda.

      Keep writing dan semoga cerpennya sukses menembus media masa.

  203. je sitepoe says:

    saya mulai belajar menulis…..blognya sangat bermanfaat

  204. arif mardiyanto says:

    belajar menulis perlu lari gunung atau kepantai dulu kali ya hehehe.. biar tulisanya biar kayak penulis kondang

  205. zaid abdurrahman says:

    Bang, saya Zaid, anak SMP yang baru belajar nulis cerpen. Kalau dua pembukaan cerpen berikut gimana bang? masih ada yang kurangkah bang? Mohon sarannya :)
    Pembuka 1:
    “Anaknya kecentilan, istrinya kesok-sokan, dia sendiri keranjingan! Haduuh… semua anggota keluarganya berkelakar buruk!” ocehan Bu Esi memecah suasana gerobak sayur Pak Mamat. Tak henti-hentinya Bu Esi menggosipi orang sekitarnya. Tak heran jika mulutnya sangat monyong, cocok dengan sifatnya.
    Pembuka 2:
    Siapa bilang aturan itu selalu mensejahterakan masyarakat? Bukankah aturan itu dibuat justru untuk dilanggar? Aku tak heran mengapa negri ini hancur. Apalagi kalau negri ini dipimpin oleh Desilawenti.
    Desilawenti? Oh kalian baru kenal dia ya? atau tidak kenal sama sekali. Dia itu anak DPR yang tinggal di rumah mewah di samping mesjid kecil. Tingginya sedang, aku rendah seangin darinya. Dirinya banyak disukai banyak wanita–entah dari segi apa.
    —————————-
    Terima kasih atas perhatiannya! :)

    • Rusdianto says:

      Coba pergunakan salah satu dari 5 contoh pembukaan dalam posting ini.
      selamat menulis, Zaid.

  206. maya.olivier says:

    ini salah satu cerpen saya. saya mau tanya apakah paragraf pertamanya bagus atau tidak? mohon kritik dan sarannya
    Hujan deras yang yang sejak tadi pagi hingga sore ini mengguyur tubuhnya tak ia hiraukan.Janda beranak lima ini terus berteriak menjajakan barang dagangannya di pelabuhan feri ini. suaranya yang kecil tidak mampu menembusi derasnya hujan di tambah tubuhnya yang telah kedinginan. tapi ia terus berteriak dan berteriak karena sejak tadi pagi jualannya belum laku seberapa sedangkan di rumahnya ada lima orang anak yang menunggu kepulangannya dengan sekilo gram beras untuk di masak.

    • Rusdianto says:

      Bagus, Maya.
      Diluar cara menyusun kalimatnya, paragraf ini punya potensi menarik perhatian pembaca. Benih konflik tampak pada ‘jualan belum laku vs tanggung jawab memberi makan 5 orang anak’

  207. okapitaloka says:

    Terima Kasih blognya sangat bermanfaat sekali untuk saya
    Saya mau bertanya Bagaimanakah membuat suatu konflik batin yang dimna pembaca tersebut dapat merasakan apa yang di rasakan penulis dalam sebuah paragraf?
    Saya Tunggu balesanya 😀
    Terima Kasih sebelumnya

    • Rusdianto says:

      Sama-sama Okapitaloka.

      pendekatan tiap penlis berbeda.

      Saya sendiri tidak suka bermain dengan konflik internal. Kesannya penulis ‘mengatakan’ perasaannya ketimbang ‘menunjukkan’ melalui dialog atau adegan.

      Kebanyakan pembaca tidak suka digurui. Jika karakter Anda sedih, jangan katakan dia sedih (dengan segala pikiran cengengnya).. tunjukkan melalui raut muka, dialog dengan orang lain, tindakan yang dia lakukan (misalnya terpekur, menatap keluar jendela.etc..) Show don’t tell..

  208. Ishmaryam says:

    Bolehkah memulai sebuaah cerpen dengan percakapan?

    • Rusdianto says:

      saya pernah membaca cerpen bagus yang dimulai dengan dialog. Tapi jarang sekali.
      pembaca sulit terlibat dengan sebuah dialog sebelum mengenal karakternya.

  209. Info yg sangat bermanfaat, sayangnya saya baru bisa ketemu dengan blog buatan tuan ini. Akan sering berkunjung dan semoga pintu kunjungan selalu terbuka lebar untuk pengunjung seperti saya.

  210. menurut anda,bagaimana dengan paragraf pertama ini…

    Malam ketiga,aku memandang jauh keluar jendela.Tetes rintik hujan sisa beberapa jam lalu masih menggantung di pucuk daun,di pinggir-pinggir genting merah milik tetangga.Segalanya terlihat jelas dari jendela kamarku yang terletak di lantai dua. Jalanan kecil di depan rumah pun masih terpenuhi beberapa kubangan air seperti bedak perempuan di perempatan lampu merah kemarin.Hujan,selalu meninggalkan bekasperih yang tiada terperi,romantisnya membuat jiwaku berlari menyentuh kilau cahaya lampu yang berkaca pada kilauan kubangan air di jalan.Haruskah untuk kesekian kali aku menyusurinya dengan payung ini agar terlupa tentangmu, bergegas tanpa ragu, seperti hari kemarin seusai hujan,aku mengambil payung itu yang senantiasa kuletakkan di samping pintu depan kamarku.Bergegas sedikit berlari aku turuni anak tangga,kupakai cepat-cepat kelomku,kubuka pintu depan selebar mungkindan kukembangkan payung itu.Berjalan pelan menyusuri tepi jalan dengan segala rasa yang tak dapat kulukiskan,dalam hatiku ingin ku menemukanmu.

    • Rusdianto says:

      Bagus, Sekar.

      Anda memulai dengan cuaca.
      cuaca..seperti hujan…merupakan favorit banyak penulis.

      Cuma perlu hati-hati saat menggunakan cuaca.

      Cuaca hadir jika itu memberikan arti. Jangan hanya sebagai ornamen artistik belaka. Pembaca sudah kebanyakan membaca cerpen tentang cuaca :)

      …Dalam paragraf diatas, saya belum melihat peran penting cuaca dalam cerita.

      Pembukaan masih bertele-tele.. dan sampai paragraf pertama selesai, pembaca belum mendapat gambaran tentang apa sebenarnya cerita Anda.

      sebelum masuk kedalam kepala/pikiran karakter ‘Aku’, karakter Anda harus menarik perhatian pembaca terlebih dahulu.

      Mengapa pembaca harus peduli dengan tokoh aku ?

      Apa yang menarik dari tokoh aku ? apa konflik yang dia alami ?

      Saya melihat ada adegan pada kalimat terakhir. Mengapa tidak ditempatkan dimuka ? sebuah adegan/aksi menarik perhatian pembaca…dan menggugah pertanyaan :

      Mengapa tokoh aku berlari cepat menerobos hujan ? siapa yang dia kejar ? –> lihat, ada benih konflik didalamnya…
      Hanya jika karakter Anda menarik, baru pembaca akan tertarik dengan isi kepala karakter Anda.

      Keep writing.

  211. sarannya sangat barmanfaat bagi saya yg baru belajar ini, terimakasih ya mas semoga sukses selalu.

  212. saya mau tanya apa paragraf pertama di bawah ini menarik atau tidak ? kalau ada yang salah tolong masukannya.

    Di tengah rimbunnya pepohonan dalam sebuah hutan belantara diseberang pedesaan itu, seorang wanita tua sedang berusaha ke luar dari tempat tersebut. Sesaat setelah berhasil keluar, Mak su menyusuri jalan setapak hingga ia sampai ke tepian sungai kecil. Di tepi sungai itu sudah ada sebuah perahu yang sedang menunggu untuk mengantarkannya ke gubuk. Sebakul besar pakis yang diperoleh tadi diletaknya di atas perahu dan disampingnya ada tas kecil yang sudah lusuh tempatnya menyimpan bekal makanan. Esok Mak su berencana akan menjualkan pakis-pakis itu ke pasar, berharap hasilnya cukup untuk membeli beras dan ikan asin.

    • Rusdianto says:

      Pertama, Tulisan Anda tidak salah.
      Cara Kumala bertutur cukup lancar dan mengalir…

      Tapi sebagai pembaca, saya ingin melihat kehadiran Konflik pada paragraf pertama. Coba Kumala cermati kembali artikel diatas.

      Kehidupan orang miskin seperti Mak Su dalam cerita Anda biasa-biasa saja – Sering kita baca atau tonton dimana-mana. Nah, buatlah sesuatu yang membuat kasus Mak Su berbeda dengan kasus orang miskin lainnya (selain sbg pengumpul pakis hutan dan tinggal di gubuk).

      ..misalnya… hari ini selain dia butuh uang untuk beli beras dan ikan asin, juragan pemilik tanah tempat gubuknya berdiri akan datang untuk menagih pembayaran. Dan hari itu adalah tenggat terakhir bagi Mak Su… (Mak Su konflik dengan karakter lain)

      atau…

      Saat tiba dipinggir sungai, banjir datang..dan perahunya hilang terseret air … (Mak Su konflik dengan alam/lingkungan)

      keep writing.

  213. Ilmu yang sangat luar biasa.
    terimakasih sudah mau menuliskan dan berbagi dengan para penulis yang sedang menapaki menjadi seorang penulis dunia.

    salam.

  214. Cumi MzToro says:

    Akhir nya dapat refrensi cara menulis, selama ini suka males mengawali untuk menulis dan bercerita lewat kata2.

    thanks

  215. artikel yang bagus untuk mulai menulis paragraf pertama, nih. Terima kasih, Daeng. :)

  216. Terima kasih lagi, Daeng.

  217. kuswoyo gumilang says:

    wow…artikel yang keren, saya jadi tambah semangat nulis cerpen neh…makasih banyak gan.

  218. thanks bro, sangat membantu 😀

Speak Your Mind

*