4 Tips Yang Akan Memudahkan Anda Menulis Flash Fiction

panduan lengkap menulis flash fiction

Ingin tahu cara mudah menulis flash fiction?

Mengatakan selalu lebih mudah dibanding mengerjakannya.

Tapi jika Anda tahu cara mengerjakannya, boleh jadi itu semudah mengatakannya.

Dalam kasus membuat flash fiction, Anda bisa mempercayai pernyataan diatas.

Saya tahu karena saya sendiri telah membuktikan kebenarannya…

Menulis flash fiction itu gampang

Berikut ini, salah satu contoh flash fiction yang pernah saya publikasikan di blog antojournal.com

(Update : Blog antojournal.com telah non aktif sejak tanggal 5 Februari 2013)

Sebab Akibat

Sontak seluruh penumpang menutup hidung.

“ Aaalamaaak.. “

“ Tolong, jendelanya dibuka.”

“ Tidak tahu sopan santun. “

“ Ayo, mengaku saja.“

“ Tanpa suara pula,” kata sopir. “ Itu pasti keluar dari lubang yang sangat longgar.“

Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang bersemu merah, mengingat semalam pasangannya kembali ‘lewat belakang’.

Kelihatannya mudah ?

Memang… Bahkan Anda pun bisa membuatnya.

..dan untuk memudahkan Anda, saya akan menunjukkan bagaimana cara membuatnya.

Teruskan membaca.

Sebuah flash fiction adalah cerita fiksi yang utuh

Saya khawatir Anda akan menyamakan sebuah flash fiction dengan sebuah sketsa atau penggalan cerita. Padahal mereka bentuk yang berbeda.

Jadi pertama-tama, mari kita bahas dahulu apakah ‘Sebab Akibat’ diatas termasuk cerita fiksi, dan bukan sekedar potongan cerita.

Syarat sebuah cerita fiksi layak dikategorikan flash fiction, sama saja dengan syarat pada karya fiksi yang lebih panjang (cerpen, novelette, novel, dan epik).

Semua jenis fiksi wajib memiliki awal – tengah – akhir, dan memuat 4 elemen wajib yaitu karakter, settting, konflik, dan resolusi.

Sekarang mari kita uji contoh flash fiction diatas :

  • Flash fiction diatas diawali sebuah insiden yang menyebabkan orang-orang ditempat kejadian menutup hidung (Insiden apa ? Oleh siapa ?).
  • Pertengahan cerita diisi oleh beragam reaksi orang-orang karena insiden tersebut.
  • Cerita diakhiri oleh sebuah resolusi yang menjawab pertanyaan pembaca diawal cerita, yaitu penyebab insiden, pelaku insiden & moral cerita yang ingin disampaikan penulis.
  • Karakter utama yang disebutkan secara tersurat adalah seorang sopir & seorang penumpang dibelakang sopir (pelaku). Sementara empat karakter figuran lainnya dianonimkan (hanya berupa dialog/umpatan yang menandakan kehadiran karakter bersangkutan).
  • Latar persitiwa terjadi diatas bus yang sedang melaju.
  • Konflik berupa insiden buang angin tanpa suara dari salah seorang penumpang yang tidak teridentifikasi (saling menuduh penumpang vs. penumpang).
  • Resolusinya berupa petunjuk yang memudahkan pembaca menebak siapa gerangan pelaku buang angin, mengapa bisa tanpa suara, serta moral cerita yang ingin disampaikan.

Hasil uji menunjukkan kalau cerita diatas telah memenuhi persyaratan fiksi.

Pertanyaannya sekarang, Bagaimana cara membuat cerita dalam 100 kata, tapi dapat memuat semua elemen fiksi yang dipersyaratkan ?

Saya akan memberikan 4 tips praktis buat Anda…..

4 Tips praktis menulis flash fiction

Cermati baik-baik..

1. Awali di puncak konflik (saat krisis terjadi)

Cerita diatas lansung dimulai dengan sebuah insiden yang menghasut pembaca.

Insiden yang memantik pertanyaan tentang apa gerangan yang menyebabkan orang-orang menutup hidung.

Flash fiction 100 kata tidak menyisakan ruang bagi latar belakang. Bayangkan jika saya mencoba memaksakan latar belakang dalam cerita diatas :

Udara gerah. Matahari seolah memanggang bumi. Sebuah bus sedang melaju kencang dijalanan ibukota siang itu. Tiba-tiba suasana dalam bis berubah riuh, ketika seorang penumpang diam-diam buang angin..bla..bla….

Ingat, Anda hanya punya stok 100 kata.

Jadi mulailah cerita dengan lansung menyorot adegan puncak. Dalam kasus kita, itu adalah adegan keriuhan yang terjadi tiba-tiba didalam bus karena seseorang membuang gas.

Sontak seluruh penumpang menutup hidung.

Perhatikan bagaimana kalimat pertama diatas lansung menanam benih konflik.

Menutup hidung menandakan adanya bau busuk, yang potensial menimbulkan konflik berupa saling mencurigai sesama penumpang.

Kalimat pertama diatas juga lansung menghadirkan karakter & konteks (situasi lingkungan yang sedang dimasuki).

Kata penumpang menandakan (orang-orang/jamak)….dan kata penumpang juga menunjukkan konteks (penumpang lazimnya ada didalam sebuah kendaraan).

Jadi Usahakan kalimat pertama Anda adalah sebuah adegan yang menandakan terjadinya konflik antar karakter.

* Baca juga posting berjudul Tiga Tahap Menulis Flash Fiction

2. Show don’t tell

Tunjukkan, jangan katakan.

Versi mengatakan dari cerita diatas kurang lebih seperti ini :

Seluruh penumpang sontak menutup hidung. Tampaknya ada penumpang buang angin dan menyebarkan bau busuk seantero bus. Dua orang penumpang terlihat mual-mual. Seorang penumpang meminta tolong agar jendela dibuka. Mendadak seluruh penumpang merindukan kehadiran udara segar didalam bus. ….bla..bla…

Oh…. jangan ikuti kesalahan diatas.

Salah satu trik menunjukkan yaitu dengan memakai dialog yang menayangkan interaksi sesama penumpang.

Sebagai penulis, Anda  hanya perlu menayangkan kejadian/adegan… dan biarkan pembaca Anda mengalami sendiri situasi yang tengah berlansung.

Mengatakan berarti Anda menggurui pembaca. Jangan remehkan kecerdasan pembaca Anda dengan mengatakan segala sesuatunya.

* Baca juga artikel berjudul Show Don’t Tell dalam Flash Fiction

3. Ending yang jelas namun sukar ditebak

Karena flash fiction bukan puisi-prosa, bukan pula potongan cerita… maka akhir yang jelas & tidak mengambang mutlak adanya.

Bau –> Kentut tanpa suara –> Lubang teramat longgar –> Kebiasaan ‘lewat belakang’ = Judul

Saya berasumsi pembaca bisa memahami cerita diatas meski tidak satupun kata ‘kentut’, ‘bau’, & ‘bus’, disebutkan dalam cerita.

Tapi jika kata-kata tersebut dicantumkan sejak awal, maka pembaca kemungkinan besar mudah menebak akhir cerita.

4. Hindari kata keterangan

Penulis kerap royal memakai kata keterangan disetiap akhir dialog. Contohnya seperti :

kata sopir sambil berpikir keras, atau ..ujar seorang ibu sambil membuka jendela, atau …keluh seorang penumpang yang merasa mual, atau ..umpat seorang bapak bersungut-sungut..

Anda butuh lebih dari 100 kata untuk menuliskan semua itu,

Biarkan pembaca Anda berimajinasi. Pinjam kepala pembaca untuk meletakkan kata-kata yang berfungsi menerangkan.

Pada kasus diatas, saya menuliskan 4 kalimat dialog tanpa menjelaskan siapa karakter yang mengucapkannya.

Mengapa ?

Sebab penyebutan nama karakter tidak penting dalam mendukung cerita. Yang ingin disampaikan hanya suasana riuh dan kejengkelan orang-orang didalam bus.

Tapi berbeda dengan dua karakter lainnya, yaitu….. sopir dan seorang penumpang dibelakangnya,

Kedua karakter tersebut penting ditonjolkan, demi memberikan referensi kepada pembaca mengenai latar tempat kejadian (Bus).

Disclaimer…

Tidak ada jaminan dua –atau lebih– orang memakai teknik yang sama akan berujung pada hasil yang sama.

Maka boleh jadi, teknik diatas bekerja pada saya namun tidak bagi anda. Jadi Anda boleh mengikuti seluruh, sebagian atau tidak sama sekali.

Bagaimana menurut Anda ?

Apakah Anda punya tips sendiri dalam membuat flash fiction ? Saya harap Anda dapat mengungkapkannya pada kolom komentar dibawah..

Juga jangan lupa berbagi artikel bermanfaat ini pada teman Anda di facebook atau twitter…

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia