Flash fiction merupakan kategori fiksi yang tidak stabil. Istilah flash fiction memiliki beragam padanan yang kesemuanya merujuk pada bentuk cerita fiksi yang bisa dibaca -dalam pengibaratan- sekilat. Seperti; sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction, dan short short story. Selain nama, ketidakstabilan paling menonjol dikategori ini adalah persyaratan maksimal jumlah kata yang dipergunakan. Konvensi para penulis [...]
Setting dalam Flash Fiction
Salah satu syarat cerita fiksi adalah kehadiran elemen setting didalamnya. Ini berlaku bagi semua jenis karya fiksi panjang dan pendek, termasuk flash fiction 100 kata. Kita umumnya terbiasa memahami setting melalui deskripsi latar tempat & waktu yang lazim ditemui pada novel atau cerpen. Saat membaca sebuah fiksi mini yang isinya melulu dialog, tanpa deskripsi tempat, [...]
Sekilat Flash Fiction
Flash fiction sesuai namanya adalah fiksi kilat yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik. Beberapa penulis menyebutnya dengan istilah sudden fiction, microfiction, micro story, postcard fiction, atau short short story. Di China orang menyebutnya cerita seukuran telapak tangan. Belakangan ini flash fiction meningkat popularitasnya seiring dengan berkembangnya sastra dunia maya. Karakteristik flash fiction yang [...]
Sekali Lagi; Show Don’t Tell !
Tiga bulan lalu untuk pertama kalinya saya membaca flash fiction 100 kata. Judulnya Pengakuan karya Harvey Stanbrough, disusul Dragon Tales karya S. Joan Popek, (penulis yang menenerbitkan ezine flash fiction; The Popper Gazette). Ceritanya dimulai dipertengahan aksi, berjalan cepat, dan berakhir mengejutkan. Kategori ini menawarkan pengalaman membaca cerita hanya sekedipan mata (yah, betul-betul sekejap). Siapa [...]
Dari Hemingway Ke Twitterland
“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “ Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Ernest Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis fiksi saat mernyatakan itu. Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti & tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial & literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita. [...]
