Merry Magdalena ; Writepreneur Butuh Kemampuan ‘Menjual Skill’

…Skill menulis selalu dibutuhkan dalam banyak bidang. Misalnya menjadi freelance editor, menyusun buku untuk instansi/perusahaan yang memang punya agenda menerbitkan buku, membuat company profile, web content, teks iklan (advertorial), menulis di media massa, menjadi ghost writer, scenario…,.

writer, wrtiepreneur, ghost writer, freelance editorWritepreneur, mestilah kosa kata ini irisan dari kata ‘ writer ’ & ‘ entrepreneur ’.

Namun apakah definisinya berarti wirausaha yang bergerak di bidang penulisan, atau penulis lepas yang menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan ?

Definisi terakhir kami temukan sosoknya pada Merry Magdalena.

Berhenti sebagai jurnalis & penulis yang digaji oleh perusahaan, pada April 2008 dia bermetamorfosa menjadi writepreneur. Dia memulai debutnya dengan mendirikan jasa writing consultant ; Merry & Associates.

Dan berkah bagi anda, pembaca setia indonovel.com (INC), penulis kelahiran 16 maret ini bersedia membagi pengalamannya sebagai writepreneur selama lebih dari 2 tahun.

Berikut petikan wawancara tertulis kami :

INC : Writepreneur ? Istilah itu belum cukup populer di khalayak awam. Apa profesi itu benar ada ? Bisa anda jelaskan konsepnya ?

Merry : Kalo pemahaman saya tentang writerpreneur itu; penulis yang tidak tercatat sebagai karyawan di perusahaan mana pun.

Jadi dia bisa freelancer atau konsultan bidang penulisan yang berdiri sendiri, atau bisa juga bekerjasama dengan penerbit atau pihak lain.

Intinya, setengah entrepreneur atau full. Saya tambahin embel2 “writer” sebab memang skill utamanya adalah sebagai penulis. Bisa menulis naskah buku untuk orang lain/perusahaan/instansi, teks iklan, company profile, skenario, konten web, dsb.

INC : Apakah seorang penulis yang juga mengaplikasikan prinsip-prinsip kewirausahaan dalam memasarkan produknya (contohnya self publishing, sudah layak disebut writepreneur ?

Merry : Penulis yang mana nih? Kalo dia sebagai writerpreneur ya, terutama kalo dia self publishing.

INC : Dibanding profesi lainnya, boleh dikata penulis ketinggalan jauh dalam mengadaptasi konsep bisnis kedalam profesinya ? Lalu kapan seorang penulis dianggap layak menyandang predikat writepreneurs ?

Merry : Ya, sebab profesi penulis di Indonesia ini masih dipandang sebagai side job semata atau hobby.

Jarang ada penulis yang 100% mencari nafkah dari menulis. Bahkan penulis buku-buku bestseller pun masih tetap memiliki pekerjaan tetap lain di samping menulis.

Mungkin Dewi Lestari (Dee) bisa dikatakan cukup sukses dapat menerbitkan karyanya sendiri. Namun itu pun tetap memerlukan modal besar yang sulit didapatkan oleh kebanyakan penulis lain seperti saya.

Merry Magdalena adalah penulis –antara lain- buku ‘Situs Gaul Gak Cuma Buat Ngibul’ (Gramedia Pustaka Utama), ‘UU ITE, Don’t Be The Next Victim’ (Gramedia Pustaka Utama), ‘Pilih Windows, Mac atau Linux?’ (Kanaya Press), dan banyak lagi. Ia juga editor, ghost writer & penulis pendamping sejumlah buku, Sempat menjadi jurnalis sains dan teknologi di harian Sinar Harapan (dan sinarharapan.co.id) dari tahun 2002- Januari 2008, menjadi senior content Editor di qbheadlines.com Februari 2008 – Januari 2010, dan sampai sekarang masih menjadi pemilik, editor id Chief & Science Writer dari web Netsains.Com.

INC : Apa seorang writepreneur harus berlatarbelakang penulis –minimal punya kemampuan menulis-, atau boleh seorang wirausaha lazim, yang kebetulan bisnisnya punya keterkaitan dengan dunia penulisan ?

Merry : Ya, sesuai namanya “writerpreneur” maka sebaiknya dia memang mampu menulis.

INC : Prasyarat apa saja yang dibutuhkan seorang penulis untuk bermetamorfosa menjadi writepreneurs ?

Merry : Selain menulis, tentu saja network yang luas dan kemampuan “menjual skill”.

INC : Writepreneurs itu boleh bergerak personal (freelance) atau harus melembaga ?

Merry : Saya sejauh ini freelance. Yang melembaga mungkin ada, tapi saya kurang tahu.

INC : Secara spesifik, anda bisa jelaskan bentuk layanan/jasa yang ditawarkan seorang writepreneur

Merry : Bisa menulis naskah buku untuk orang lain/perusahaan/instansi, teks iklan, company profile, skenario, konten web, mengelola social media, dsb.

INC : Seorang penulis yang bermetamorfosa menjadi writepreneurs potensial kehilangan fokus, waktu & kreatifitasnya. Bagaimana anda membagi waktu sebagai penulis dan sebagai wirausaha ?

Merry : nah itu dia tantangannya. Biasanya dalam setahun saya menargetkan, ada 1-2 buku yang tetap saya tulis berdasarkan ide sendiri, dan pekerjaan “tulisan pesanan” tetap jalan untuk membuat dapur ngepul. Jadi berusaha balance saja

INC : Apa saja peluang kini dan nanti, yang prospekti untuk digarap para –calon- writepreneur ?

Merry : Banyak sekali sebenarnya, mengingat skill menulis selalu dibutuhkan dalam banyak bidang.

Misalnya menjadi editor, menyusun buku untuk instansi/perusahaan yang memang punya agenda menerbitkan buku, membuat company profile, konten web, teks iklan (advertorial), menulis di media massa, menjadi ghost writer, skenario, dsb.

Lewat Merry & Associates yang didirikannya, Merry Magdalena sendiri menyiapkan jasa konsultasi penulisan dengan –antara lain- layanan; Mediasi ke penerbit (Improvement naskah buku menjadi buku hingga diterbitkan); Jasa Penulisan ( penulisan buku, company profile, pers rilis untuk instansi, perusahaan, ataupun personal); Mengelola konten Website/Blog ( penulis artikel ); Training Menulis (untuk umum, instansi, perusahaan, organisasi, lembaga pendidikan, dsb) yang menyiapkan trainner tamu jika dibutuhkan, seperti penulis novel, jurnalis senior media massa (koran, majalah, media online, TV dan radio), blogger terkenal, cerpenis, kolomnis, dsb.

INC : Penulisan belum mandiri sebagai industri, hanya salah satu sekrup yang tergantung sepenuhnya pada industri besar penerbitan. Tanggapan anda ?

Merry : Ya memang demikian, maka tetap diperlukan kerjasama dengan pihak-pihak lain. Atau bisa juga self publishing, cetak sendiri, jual sendiri.

Tapi itupun butuh modal, waktu dan energi besar, sebab agak sulit seorang penulis memasarkan sendiri karyanya, kecuali dia sudah terkenal atau punya network luar.

Tapi di era Internet seperti saat ini, bisa dicoba. Namun tetap belum bisa menjadi sumber nafkah utama kan?

INC : Untuk bertumbuh, writepreneur harus punya dukungan modal layaknya entrepreneur disektor lain. Kita ambil kasus penerbitan buku, khususnya di kategori fiksi yang pasarnya sukar diprediksi. Anda yakin ada pemodal yang mau melirik writepreneur ?

Merry : Jika memang karyanya bagus, network penulis sudah cukup luas (popular), kenapa tidak?

INC : Penulisan (penerbitan secara umum) salah satu yang paling dimanjakan oleh pesatnya kemajuan teknologi. Apa perspektif anda sejauh ini, mengenai pemanfaatan aplikasi IT oleh writepreneurs tanah air ?

Merry : Seperti saya kemukakan di atas, IT, termasuk Internet, amat sangat membantu, bahkan menjadi tumpuan utama bidang ini.

INC : Terakhir, (untuk memotivasi para calon writepreneur ) anda bisa sebutkan perbandingan hasil yang diperoleh seorang writepreneur dengan seorang penulis biasa.

Merry: Waduh saya kurang bisa memotivasi hehe. Tapi intinya, skill menulis itu diperlukan nyaris di semua bidang.

Dan kalau orang dengan skill menulis mau mengoptimalkan usahanya, maka dia bisa hidup tanpa harus menjadi karyawan di suatu perusahaan atau orang gajian.

Artinya, ia bisa bebas mengatur income dan waktu kerja sendiri, tanpa didikte bos

INC : Terima kasih

Bagaimana, anda berminat menjadi writepreneur ? atau tertarik mengetahui lebih dalam mengenai profesi writepreneur ?

Silahkan anda berinteraksi sendiri dengan freelance writer yang terkenal ramah & supel ini via email : merry_magdalena@yahoo.com, atau facebook.

Copyright @ 2011 Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia