flash fiction aspal

Anda pengguna internet ? Penggemar fiksi ?

Jika jawabannya iya, maka saya asumsikan anda cukup familiar dengan istilah flash fiction.

Flash fiction atau di Indonesia disebut cerita/fiksi mini mulai populer. Hal ini seiring membanjirnya penawaran ragam fitur publikasi dari para pengembang internet.

Di era teknologi informasi kini, seorang penulis tak perlu lagi harap-harap cemas menanti (koran edisi) hari minggu untuk mengetahui apakah karyanya dimuat atau tidak.

Penulis tak perlu lagi bersusah payah mengirim via pos ke berbagai majalah, hanya untuk menambah tumpukan naskah yang antri di meja redaktur.

Dan yang paling menyenangkan yaitu tak perlu bersaing dengan naskah penulis ternama :)

Era kedigdayaan media tradisional mulai redup. Sekarang, penulis pemula atau beken, punya kesempatan sama mempublikasikan karyanya.

Internet dalam hitungan detik (klik) telah menempatkan anda sebagai penulis sekaligus editor bagi karya anda sendiri.

Pilihan publikasi pun terentang luas, mulai dari; blog, note facebook, mySpace, dumalana, yahoo site, atau forum online.

Bahkan yang lagi booming saat ini, fiksi mini 140 karakter (tweetfiction) via twitter.

Kemudahan serta kebebasan publikasi hanya satu soal. Seleksi adalah soal lain. Ketika semua orang memiliki media publikasi sendiri, seleksi kualitas kerap diabaikan.

Tak ada larangan mempublikasikan karya terburuk sekalipun sepanjang itu tidak melanggar UU.

Media tradisional memiliki redaktur khusus yang menyeleksi ketat setiap kiriman naskah yang masuk. Pembaca dimanjakan hanya dengan pemuatan karya-karya berkualitas.

Pada media digital yang bersifat personal, tak ada kontrol atas kualitas karya fiksi. Parahnya lagi, sering kita jumpai karya fiksi asli tapi palsu (aspal).

Tak percaya ?

Coba tengok karya fiksi yang banyak beredar diluar sana, yang diklaim penulisnya sebagai flash fiction.

* * *

Singkat, mungkin menjadi daya tarik utama kategori fiksi mini. Karakteristik flash fiction cocok dengan tipikal pengguna internet yang butuh bacaan singkat, padat, sekejap.

Namun bagi penulisnya, keterbatasan kata ini bisa jadi dua sisi mata pedang. Kemudahan sekaligus jebakan.

Salah kaprah banyak kita temui di dunia maya pada karya fiksi yang dimaksudkanpenulisnya sebagai flash fiction.

Beberapa terkesan menggampangkan menulis flash fiction karena minimnya jumlah kata yang dipersyaratkan (maksimal 100 kata, bahkan ada yang hanya sampai 55 kata).

Kita mudah menemukan potongan kisah, sketsa ide, dalam bentuk prosa (bahkan puisi), dan penulis bersangkutan menyebutnya  sebagai flash fiction, hanya karena jumlah katanya dibawah 100.

Padahal jumlah kata hanya salah satu syarat perlu, belum memenuhi syarat cukup.

Flash fiction adalah sebuah cerita yang berdiri sendiri. Kesatuan cerita yang utuh dengan; awal, tengah dan akhir yang jelas.

Tuntas, lugas, vulgar, gamblang, eksplisit, sederhana, tersurat, mudah dimengerti, dan -tentu saja- menghibur.

Flash fiction bukan potongan cerita, bukan kepingan kisah yang merupakan bagian terpisah atau lanjutan dari kisah-kisah sebelum & sesudahnya.

Flash fiction bukan semata prosa, apalagi puisi yang sukar dipahami dan dijejali kalimat-kalimat artifisial yang hanya dipahami oleh penulisnya sendiri.

Kecuali jumlah kata, flash fiction tak ada bedanya dengan cerpen atau novel. Anda bisa melihat contohnya pada flash fictioncinta terlarang.

Sebuah fiksi 100 kata disebut flash fiction bila memuat secara jelas (dapat diidentifikasi) empat elemen yang wajib hadir dalam sebuah fiksi, yakni; karakter, setting, konflik & resolusi.

Absennya salah satu dari keempat elemen tersebut otomatis menggugurkan klaimnya sebagai flash fiction.

Pada flash fiction, pembaca dapat dengan mudah melihat siapa karakternya, dimana settingnya, bagaimana konfliknya, apa resolusinya. Penulis tidak dianjurkan bermain-main dengan kata-kata yang hanya bisa dipahami olehnya sendiri.

Pula tidak dianjurkan menyamarkan konflik atau resolusi lewat rentetan syair para pujangga (ah, tak kuasa aku :) , lalu berapologi; Ini sastra bung  !

* * *

Kualitas karya flash fiction akhir-akhir ini mulai nampak mengkhawatirkan. Banyak kata-kata bijak, adagium, aforisme, sketsa filosofis, pepatah, curahan hati, majas, cukilan ide, bahkan  puisi (?) yang dipublikasikan penulisnya atas nama flash fiction.

Bagi penulis yang berminat menguji kemampuan menulisnya, ada baiknya mencoba terlebih dahulu menulis flash fiction untuk pembaca anak-anak. Seandainya kemudian pembaca –dalam hal ini anak-anak- mampu mengerti jalan cerita yang dimaksud, maka selamat, anda punya kemampuan menulis flash fiction lebih lanjut.

Perbedaan antara flash fiction anak-anak dengan dewasa hanya terletak pada tema/pesan moral dan diksi yang dipakai. Selebihnya sama saja. Kuncinya ada pada jalan cerita yang mudah dimengerti.

Buat para pembaca, tips untuk membedakan flash fiction asli dengan palsu, kurang lebih sama.

Cermati keberadaan karakter, konflik, setting, serta resolusi yang menandakan tuntasnya cerita fiksi tersebut.

Cerita yang plotnya (alur cerita) sukar dipahami patut anda curigai sebagai flash fiction aspal.

Copyright @2010 by Rusdianto

About Rusdianto

Rusdianto adalah founder Otna & Link yang menaungi 2 media online: indonovel.com & writepreneurs.com.
Rusdianto mengadakan diskusi dan berbagi seputar topik menulis fiksi di Google+, facebook dan Twitter.

Katakan pendapat anda

*