Mungkinkah Menulis Cerita Fiksi Dalam 100 Kata (bagian 2)

Tips menulis fiksi mini 100 kata (Sambungan dari bagian 1)

Bila dilihat sepintas lalu, sepertinya kedua syarat pokok diatas malah menyulitkan. Alih-alih memudahkan.

Tapi tidak juga.

Penulis fiksi punya kecenderungan menganggap para pembacanya malas berpikir.

Kerap pembaca dijejali informasi sebanyak-banyaknya, sejelas-jelasnya, supaya mereka bisa  mengerti apa maksud sang penulis.

Sungguh asumsi yg tidak adil bagi para pembaca. Sebuah tulisan fiksi (flash fiction, cerpen, Novel) semata wadah dialogis antara penulis dengan pembacanya.

Tulisan bukan lagi milik penuh siapapun saat dipublikasikan.

Pembaca juga ingin terlibat & dilibatkan di setiap adegan. Pembaca ingin mengidentifikasi dirinya sebagai salah satu karakter didalam cerita melalui imajinasinya sendiri.

Imajinasi penulis tidak boleh mendominasi cerita hingga menutup ruang keikutsertaan mereka.

Mari kita liat contoh kasusnya pada flash fiction Mabuk :

“ Pelayan, ambilkan saya bir satu gelas lagi! “ teriak seorang pelanggan bar dimeja sudut pada waitress sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong.

Saya menulis adegan diatas pada draft awal. Saat pengeditan akhir, saya menghapus lalu menggantinya dengan adegan :

“ Lagi ! “

Bisa dilihat, dari 21 kata susut hingga tinggal 1 kata saja. Sangat signifikan. Setelah anda membaca flash fiction Mabuk secara keseluruhan, kuharap anda bisa memaklumi penciutan itu.

Bagaimana Cara Menulis Fiksi Mini 100 Kata ?

Berikut hal-hal yang saya lakukan pada contoh diatas  :

  • Kata teriak diganti/diwakili dengan tanda seru. Menghadirkan keduanya bersamaan itu redundansi. Pembaca punya referensi bahwa tanda seru merupakan petanda karakter pemakainya bersuara keras (berteriak).
  • Kalimat yang mengandung kata keterangan dihilangkan. ‘Teriak seorang pelanggan bar dimeja sudut pada waitress sambil mengangkat gelasnya yang telah kosong ‘. Pelanggan meminta tambahan bir tentu disebabkan isi gelasnya telah habis. Tapi tak mengapa jika anda bersikeras menjelaskannya pada pembaca, karena tulisan tersebut –kemungkinan besar– pada akhirnya hanya akan dibaca oleh anda sendiri (penulisnya) 🙂
  • Kalimat/adegan pertama ibarat kail. Ibarat teras rumah yang menarik tamu agar melongok kedalam. Adegan ‘Lagi !’ saya pilih karena lebih mengundang rasa penasaran. Itu berimplikasi konflik & ketegangan. Sangat potensial memicu rasa ingin tahu.
  • Adegan ‘Lagi !’ lebih melibatkan pembaca. Menyeretnya masuk kedalam situasi. Memberikan pengantar/latar belakang rasa-rasanya seperti mengkhianati pembaca. Sabar & tunggu sampai pembaca masuk ke kalimat selanjutnya; ‘ ….Waitress melangkah gontai kearahnya..’ Hap ! Pembaca lansung menangkap apa situasi yang sedang terjadi. Seseorang berteriak ‘ Lagi !’ dan seorang waitress merespon panggilan keras itu, dimana lagi isituasi semacam ini lazim terjadi kecuali di bar ? Pembaca gembira karena penulis bermurah hati menghadiahinya kemewahan, sebuah ruang berimajinasi; Aha ! Ini pasti terjadi disebuah bar ! Penulis pun terhindar dari godaan memboroskan kata-kata pada bagian pengantar cerita. Latar belakang cerita tidak serta merta hilang, itu tetap ada. Alih-alih menuliskannya, kita meminjam isi kepala pembaca untuk menyimpan latar belakangnya. Biarkan pembaca hadir/ada dengan membuat mereka berpikir. Seperti kata Rene Descartes, Cogito Ergo Sum.
  • Satu kata, yaitu Waitress, mewakili hadirnya karakter sekaligus setting. Teknik okulasi ini sangat bermanfaat buat para penulis flash fiction. Contoh lain yang bisa dipakai adalah : Room Boy (hotel), Guru (ruang kelas), Koki (dapur) dan sebagainya.
  • Dua kata pertama saja, ‘ Lagi ! ’ & Waitress, sudah bisa memenuhi syarat wajib hadirnya Konflik, Karakter & Setting. (Resolusi tentu saja kita simpan diakhir cerita :).  Pada contoh diatas, kata ‘ Lagi !’ juga menyuratkan keberadaan satu sosok karakter meski tidak tersebut gamblang.

Penulis fiksi yang baik senantiasa menempatkan pembaca lebih sebagai teman dialog ketimbang objek belaka.

Seni menulis flash fiction banyak mengajarkan kita tentang nilai kejujuran dan kesederhanaan, sebagaimana makna sejati cerita fiksi itu sendiri, “Cerita fiksi itu cuma 6 kata, selebihnya hanya imajinasi (Ernest Hemingway)’.

Hemingway –interpretasi saya – tidak memaksudkan imajinasi itu hak penulis seorang, itu milik bersama penulis dan pembacanya.

Inti cerita fiksi terletak pada 6 kata saja – kapan waktu saya akan posting artikel mengenai ini-.

Fiksi hanya sebuah aliran cerita sederhana, jelas, padat, to the point, tanpa kehadiran kata-kata imajinatif yang tidak berkontribusi mendorong majunya cerita.

Kalimat harus tidak mengandung kata-kata yang tidak perlu, paragraf tanpa kalimat yang tidak perlu, karena alasan yang sama bahwa sebuah gambar seharusnya tidak perlu garis dan mesin tidak ada bagian yang tidak perlu. (William Strunk, Jr, The Elements of Style) “

“ Tapi ini sastra bung ! Nilai seninya terlihat pada banyaknya untaian kata-kata indah; Ombak menari tingkahi kicau camar melayang disela desau angin menyanyi bersama arakan awan bermotif seulas wajah gadis yang kerap membuat setiap malam(ku)terjaga….bla..bla..bla..  “ protes rusdianto

Halah, rusdianto kelaut aja !

Menulis fiksi mini copyright @2010 indonovel.com

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia