Menulis Cerpen a la ‘Kucing Kehujanan’ Ernest Hemingway

Seperti tempayan berisi lautan.

Demikian pengibaratan yang kuberikan pada –satu lagi- cerpen karya peraih nobel prize bidang kesusateraan tahun 1954 asal USA, Ernest Hemingway.

” Cat In The Rain” , atau Kucing Kehujanan diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories (hal. 265-268).

Hemingway dengan gemilang merangkum satu tema luas cuma dalam cerita pendek sepanjang 3 halaman.

Hal itu memungkinkan karena Hemingway paham cara menulis cerpen yang baik. Hemingway sangat disiplin menjaga, agar imajinasi berlebihan yang kerap menyandera penulis tidak menjangkitinya.

Walhasil, kalimat-kalimat yang tampil pada setiap paragraf dalam cerpen ini hanya yang berkepentingan untuk memajukan alur cerita,

Melalui cerpen-cerpennya, Hemingway seolah ingin mengatakan bahwa, mengusung tema besar tidak tergantung pada panjang pendeknya sebuah tulisan.

Hal itu lebih berkaitan dengan keterampilan menulis.

Penulis yang royal dalam kalimat yang bertele-tele, gemar menginyervensi cerita melalui sudut pandangnya sendiri, potensial mengkhianati pembaca.

Penulis ibarat sutradara, hanya boleh menayangkan cerita. Lalu ‘cerita’ itu sendiri yang akan bercerita kepada pembaca.

Kasus mana yang lebih menarik bagi anda; Pertama, menonton sebuah panggung drama melalui adegan-adegan para aktornya atau;

Kedua, mendengar seorang narrator berdiri –atau duduk- ditengah panggung, bermonolog, menceritakan kisah dari awal sampai akhir ?

Dalam versi cerpen, Cat In The Rain adalah contoh dari kasus pertama.

Metafora kucing dalam cerpen

Semua tahu, kucing takut air.

Dari atas jendela kamar hotel, tampak  kucing kehujanan, sendirian, tanpa tempat berteduh, memicu rasa kasihan seorang istri yang tengah menginap bersama suaminya.

Sang suami tidak peduli akan keprihatinan istrinya pada kucing itu, terus membaca sambil tidur. Dia tidak menemani istrinya turun kebawah untuk menyelamatkan kucing tersebut.

Atas suruhan sang pemilik hotel, seorang pelayan menemani, memayungi sang istri menerbos hujan, namun kucing itu telah hilang.

Namun, sang istri sedikit terhibur, karena terkesan dengan perhatian dari pria si pemilik hotel.

Kembali kekamar, sang istri mencurahkan isi hatinya pada sang suami.

Sang istri mengatakan dirinya telah lama ingin memelihara kucing,

Suaminya mengomentari seadanya, dan terus membaca.

Sang istri juga mengungkapakan hasratanya –sambil bercermin- ingin memanjangkan rambut, makan malam dengan piring perak dan lilin, juga baju-baju baru.

Suaminya terus membaca, hanya menimpali sekedarnya dan mengangap itu hanya ocehan sambil lalu dari istrinya.

Ketika sang istri kembali mengungkapkan hasratnya ingin memiliki kucing, suaminya tetap acuh, malah menganjurkannya untuk ikut membaca buku.

Saat itulah, pelayan hotel tadi mengetuk pintu kamar, masuk, mengantarkan boneka kucing dari kulit kura-kura buat sang istri, hadiah dari pria pemilik hotel.

Cerita berakhir!

Hemingway menampakkan apa yang ‘didalam’ melalui tindakan/adegan. Teknik yang sudah langka ditemui pada kebanyakan karya fiksi penulis dewasa ini.

Tanpa deskripsi atau narasi yang menceritakan kondisi serta situasi psikologis sang istri, pembaca bisa memahami beban perkawinan yang dialami perempuan itu melalui adegan penyelamatan kucing dari hujan.

Wanita itu seolah merasakan penderitaan yang sama dengan kucing, seperti dalam satu ucapannya :

“Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang malang dan kehujanan di luar sana.”

Perempuan itu telah mengidentifikasi dirinya yang sekarang dengan si kucing.

Tak ada plot yang rumit. Hanya tindakan melihat kcuing dari jendela kamar hotel. Sang istri turun menerobos hujan untuk menyelamatkannya, gagal dan kembali kekamar. Sang istri kembali kekamar, mengobrol dengan suaminya yang sibuk membaca sambil tiduran, dan menimpali kata-kata istrinya dengan basa-basi.

Dalam kehidupan nyata, cerita pendek itu kira-kira hanya berdurasi 15 menit. Namun cukup untuk mengungkap betapa perkawinan suami istri Amerika itu tidak seperti apa yang terlihat dari luar.

Sang istri kecewa dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Secara tersirat dia ‘memakai kasus kucing untuk memperoleh perhatian suaminya.

Suami, seperti umumnya pria, cenderung tidak peka dengan pesan-pesan yang tersembunyi dibalik ucapan wanita, menganggap itu hal sepele.

Padahal, wanita itu haus kasih sayang. Lihatlah bagaimana gembiranya sang istri mendapat perhatian ‘kecil’, dalam adegan pemberian payung dan boneka kucing dari pria pemilik hotel.

Ernest Hemingway paham psikologi manusia.

Ditangan penulis berbeda, kasus rumah tangga diatas bisa jadi disajikan terburu-buru.

Karakter sang istri yang haus perhatian akan diceritakan lewat kalimat berisi segala pikiran dan isi hatinya. Alih-alih melalui adegan (tindakan dan dialog).

Menurut saya, kejeniusan seorang penulis cerpen akan terlihat jika mampu menampilkan isi hati dan pikiran karakter melalui adegan.

Dalam ‘kucing kehujanan’, Hemingway tidak sekalipun menuliskan secara tersurat betapa sang istri terbebani dengan kehidupan perkawinannya, juga tidak dikatakan sang istri sangat haus akan kasih sayang dari suaminya yang acuh.

Hemingway hanya menayangkan adegan, ucapan dan tindakan.

Pembaca dimanjakan dengan kemewahan, karena bisa memahami plot, karakter & moral cerita tanpa diintervensi oleh penulis. Rasanya seperti menonton sebuah sinema.

Membaca setiap cerpen Ernest Hemingway membuatku berkesimpulan bahwa;

Cita-cita tertinggi sastra adalah menjadi sinema !

tips menulis cerpen copyright @2010 by Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia