Tenni Purwanti; Menulis Dengan ‘Gaya’ Saya Sendiri

penulis fiksi, buku kumpulan cerpen, online self publishingBanyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah ‘Luka’.

Paling tidak menurut Tenni Purwanti,  penulis indie kelahiran 2 Mei 1986.

Terbukti, sepuluh dari 11 cerita pendek dalam buku kumpulan cerpen perdananya sarat pesan beraroma ‘luka’.

Luka, adalah satu dari 99 buku yang di launching dalam event #99 writers yang diselenggarakan nulisbuku.com – mizan digital pada 8 Oktober 2010.

Kami tertarik untuk mewawancarai penulisnya, Tenni Purwanti, guna mengetahui mengapa alumni Universitas Komputer Indonesia (2008) ini lebih memilih menulis fiksi tragedi (bukan akhir bahagia) ketimbang fiksi komedi (akhir bahagia).

Seperti anda tahu, memilih genre bukan soal selera penulisnya belaka. Genre juga menyangkut keterampilan/teknik menulis yang dikuasai oleh penulis bersangkutan.

Lalu bagaimana cara menulis cerpen beraroma ‘luka’ ?

Ikuti obrolan tertulis kami berikut ini :

Menulis Fiksi Tragedi

‘Luka’, ini buku kumpulan cerpen sad ending, bukan ? Sebuah kesengajaan, atau sebagai penulis anda merasa lebih cocok menulis dalam kategori fiksi tragedi ?

‘Luka’  memang buku kumcer sad ending. Meskipun saat menuliskannya, saya memang sedang dalam masa-masa tersulit dalam hidup saya, tapi sama sekali bukan sebuah kesengajaan semua endingnya tragis.

Bahkan judul buku pun, saya ambil dari judul salah satu cerpen.

Cerpen ‘LUKA’ tadinya saya pilih sebagai judul buku hanya agar pembaca mudah mengingatnya, karena hanya terdiri dari satu kata. Tapi setelah saya baca ulang secara keseluruhan, semua cerpen ternyata memiliki satu benang merah yang sama, yaitu ‘luka’, kepedihan, tragis.

Mungkin sudah jodohnya, jalannya harus begitu, ya. Saya sendiri takjub 🙂

Kalau ditanya apakah merasa cocok dengan kategori fiksi tragedi? Jawabannya iya, saya merasa cocok.

Sejak SLTP saya sudah suka menulis, tapi karya-karya saya hanya dibaca teman-teman dan tidak terdokumentasi dengan baik.

Yang paling saya ingat dari komentar teman-teman adalah, mereka selalu protes dengan ending cerita yang saya buat. Saya malah tertawa setiap kali berhasil mengaduk-aduk perasaan mereka. Mungkin bisa diebut aneh, tapi saya tidak rela tokoh-tokoh imajiner saya hidup bahagia, kok enak banget hidup mereka, hahaha.

Begitulah kronologisnya. Akhirnya saya terbiasa menulis sad ending dan merasa disitulah ‘lahan’ saya menulis.

Saya tak peduli pembaca protes karena tokoh dalam cerita saya akhirnya mati bunuh diri, patah hati seumur hidup, atau menjadi gila.

‘Luka’ sebelumnya pernah ditolak oleh 2 penerbit mainstream. Apa anda melakukan revisi lagi sebelum menerbitkannya di jalur online self publishing ?

Iya, tentu saja saya melakukan revisi di sana-sini.

Mulanya kumcer ‘LUKA’ terdiri dari 10 cerpen. Lalu saya sortir lagi, hingga hanya 7 cerpen yang saya anggap layak untuk tetap diperjuangkan. Saya pun menambahkan 4 cerpen baru. Setelah terkumpul 11 cerpen, saya mulai mengedit semua cerpen, sampai beberapa kali, lalu memasukkan naskah mentah ke template yang diberikan oleh Nulisbuku.com.

Editing dan lay out saya kerjakan sendiri. Sedangkan untuk cover, saat mencoba menembus penerbit mainstream, saya pernah memesan cover kepada sahabat saya. Jadi cover itulah yang saya gunakan.

Untuk cover belakang, saya modifikasi sedikit dengan menambahkan komentar dari idola-idola saya seperti Denny Sumargo (pebasket Nasional) dan Dandhy Dwi Laksono (mantan jurnalis televisi yang sekarang menulis buku Jurnalistik Investigasi).

Cover tersebut saya tata ulang di template cover yang disiapkan Nulisbuku.com.

Cukup repot memang menerbitkan buku sendiri, tapi sungguh mengasikkan karena mencintai apa yang saya kerjakan sekarang.

Boleh dibagi, tips-tips khusus yang anda pakai dalam menulis fiksi sad ending.

Saya rasa belum pantas rasanya untuk memberi tips, karena saya merasa masih dalam tahap belajar menulis.

Tapi sekadar berbagi, kalau ingin membuat fiksi sad ending, jangan pernah terbebani bahwa tulisan itu harus membuat orang menangis!

Tulis saja dengan menggunakan perasaan. Ingat semua kejadian yang pernah membuat hati kita terluka, sampaikan dengan jujur lewat kata-kata. Lalu sesuaikan dengan tema cerita kita sendiri.

Tulisan yang ditulis dengan hati tentu akan sampai ke hati tanpa perlu embel-embel teori atau panduan menulis sad ending, hehe.

Pokoknya jangan terbebani, biarkan perasaan yang murni dari hati menuntun kata-kata mengalir menjadi sebuah cerita.

Saya pernah membaca cerpen di blog Tenni. Sepertinya anda lebih dominan memakai narasi ketimbang dialog, mengapa ?

Iya, saya memang lebih dominan menggunakan narasi ketimbang dialog, karena saya ingin menonjolkan sisi kebatinan para tokoh.

Narasi sanggup menceritakan hingga ke dalam kata hati tokoh dibandingkan dialog yang mungkin terlihat sekadar basa-basi. Misalnya ketika ingin menceritakan tentang orang yang ingin menangis.

Bandingkan misalnya seorang perempuan berdialog dengan sahabatnya bahwa dia ingin menangis. Menurut  saya akan lebih tragis jika saya menulisnya seperti ini :

cairan bening itu sedari tadi sudah memaksa ingin menyeruak membanjiri kulit pipiku. Tapi aku sedang berada di acara launching bukuku. Tidak mungkin aku menangis sedih diantara ratusan orang yang memberi selamat untuk bahagiaku. Hari ini hari paling bersejarah dalam hidupku. Buku pertamaku terbit, impian yang sejak lama bertahta dalam benak. Seakan masih bermimpi, ratusan orang hadir. Tapi hanya dia, hanya dia yang tak ada. Satu-satunya orang yang ku harapkan hadir, justru tak ku tahu dimana rimbanya.

Saya sangat suka menulis pergulatan batin manusia. Maka tak heran karya saya didominasi narasi ketimbang dialog.

Anda membuat struktur sebelum menulis, atau membiarkan imajinasi anda mengalir tanpa perencanaan ?

Kalau untuk novel, saya biasanya membuat struktur terlebih dahulu. Saya akan pikirkan baik-baik, mulai dari tema, genre, sampai jumlah halaman per bab. Orang banyak menyebutnya outline.

Dalam outline tersebut saya akan menentukan, per bab-nya akan membahas apa, alur ceritanya akan seperti apa, dan endingnya bagaimana.

Setiap bab juga memiliki tenggat waktunya masing-masing, dan saya harus disiplin menyelesaikannya.

Sedangkan untuk cerpen, biasanya setelah memilih tema, saya hanya menentukan awal dan akhir cerita. Selebihnya, jalan cerita saya biarkan mengalir begitu saja. Saya tulis dulu apa yang ada di kepala. Barulah ketika editing, saya mulai mengubah beberapa kata, bahkan pernah sampai mengubah sudut pandang tokoh.

Kalau untuk puisi,  saya biasanya menulis tanpa perencanaan. Kata-kata yang tiba-tiba muncul di kepala, saya tulis saja.

Awalnya pasti acak-acakan, tapi tak masalah, karena editing akhir akan membantu semuanya menjadi ‘lebih’ rapi.

Semua orang pasti pernah merasakan LUKA. Tapi rasa sakit itu akan hilang meski akan berbekas seumur hidup. Apakah LUKA akan memotivasimu menjadi seorang pemenang? Atau justru LUKA membuatmu menjadi pecundang yang mengutuki hidup?   Kumpulan Cerpen LUKA adalah semacam refleksi kisah hidup orang-orang yang pernah ter-LUKA, baik oleh kekasih, sahabat, keluarga, atau bahkan oleh politisi. Selamat menjelajahi “LUKA” dan semoga buku ini tak lagi membuatmu ter-LUKA – (LUKA; Kumpulan Cerpen; oleh Tenni Purwanti; Penerbit Rose Princess Book; 0 Colour Pages & 122 B/W Pages; Harga: Rp 35.000 + ongkos kirim : pemesanan online ke nulisbuku.com atau e-mail ke: rose.pr1ncess@yahoo.com)

Kalau boleh tahu, cerpen dalam ‘ Luka’ (& karya-karya lainnya), lebih merupakan hasil dari bakat alam atau aplikasi dari teknik-teknik menulis yang anda ketahui/pelajari ?

Menurut saya, bakat alam, karena saya tidak pernah mengikuti pendidikan formal tentang bahasa dan sastra.

Saya juga tak pernah mengikuti kursus menulis. Baru-baru ini saja saya mulai aktif di komunitas, sehingga tulisan saya lebih terarah. Ya jujur saja, tak pernah ada yang mengajari saya menulis. Learning by doing istilahnya.

Saya belajar sendiri dari membaca buku karya penulis-penulis idola saya. Lalu mencoba menulis dengan ‘gaya’ saya sendiri.

Selain bakat, seni menulis adalah bentuk keterampilan yang butuh teknik-teknik tertentu. Menurut anda, apa saja teknik-teknik menulis yang wajib dikuasai seorang penulis fiksi.

Saya tak pernah belajar teknik menulis, maka saya juga tidak bisa memberi ‘petuah’ bagi orang lain bagaimana teknik menulis seorang penulis fiksi.

Tapi menurut saya, sebelum bicara tentang teknik, alangkah baiknya penulis tahu dulu kemana arah penulisannya (genre tulisannya). Genre juga membantu menentukan sasaran pembaca.

Dengan begitu, Penulis bisa memilih tema yang sesuai dengan genre dan sasaran pembacanya tersebut.

Setelah tema terpilih, barulah unsur-unsur tulisan seperti tokoh-tokoh, setting, plot/alur, prolog, hingga epilog bisa di kombinasikan sesuai tema dan genre tulisan. Seorang penulis fiksi harus kreatif dalam memilih karakter tokoh, setting tempat, plot/alur cerita, bahkan hingga diksi dan kosakata, sehingga tulisan yang dihasilkan menonjol dan ‘tidak biasa’.

Intinya harus mau terus berlatih menulis, mau rajin membaca dan mempelajari karya orang lain yang telah ‘diakui’ berkualitas.

Dengan begitu teknik menulis kita akan pelan-pelan berkembang.

Konon, cerpen yang diadaptasi dari pengalaman pribadi kerap menjebak penulis untuk ‘menceritakan’, alih-alih ‘menunjukkan’. Apa trik-trik menulis anda agar hasil tulisan kelak sesuai dengan kaidah show don’t tell.

Karya saya banyak sekali yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi yang dimodifikasi.

Saya mencoba mengambil inti ceritanya saja, lalu nama tokoh, karakter, pekerjaan, setting tempat saya ubah semua, agar tidak terkesan ‘murni curhat’.

Banyak penambahan atau pengurangan di sana-sini. Bisa dibilang, pengalaman pribadi hanya ide kecil yang bisa dikembangkan menjadi banyak jenis cerita.

Jadi jangan terpaku untuk  curhat colongan kepada pembaca, melainkan fokus pada pesan apa yang ingin kita sampaikan dalam cerita tersebut.

Menurut anda, kriteria cerpen yang bagus itu seperti apa ?

Menurut saya, cerpen yang bagus adalah cerpen yang bisa memberi pencerahan kepada pembaca, dalam hal apapun.

Cerpen yang bisa membantu pembaca untuk bercermin dengan keadaan di sekelilingnya, tapi penulis dengan lihainya membuat tulisan tersebut tidak terkesan ‘menggurui’.

Biarkan pembaca menemukan sendiri pesan apa yang tersembunyi di balik sebuah cerita. Cerpen yang bagus adalah ketika penulisnya berhasil berkomunikasi dengan pembacanya lewat karya.

Dan satu lagi, cerpen yang bagus adalah cerita yang tidak bertele-tele, tepat sasaran, dan langsung pada inti masalah.

Namanya juga cerpen, ya tidak usah berpanjang-panjang selama sedikit kata saja sudah menjelaskan semuanya.

(Terakhir) Anda lumayan produktif menulis. Itu menandakan anda jarang dihinggapi writers block. Boleh dibagi resepnya ?

Justru kalau boleh jujur, saya adalah orang yang paling sering dihinggapi writers block.

Saya memang tipe orang yang moody. Jadi ketika dihinggapi writers block, saya akan nurut saja sama writers block itu sampai ‘buntu’nya hilang. Karena saya pernah memaksakan menulis ketika sedang tidak mood. Alhasil, meski sudah 3 jam di depan latop, saya tidak mengetik satu kata pun.

Maka solusinya, ketika terkena writers block, saya akan menjauhi laptop dan melakukan hal menyenangkan yang lainnya. Biasanya saya membaca buku. Dari aktifitas membaca itu biasanya saya suka dapat inspirasi.

Tapi kalau membaca buku juga tidak mood, saya memilih makan yang banyak lalu tidur. Atau bahkan saya akan menjauhi aktifitas baca-tulis selama beberapa hari. Nanti kalau kangen, saya pasti akan ‘gila’ menulis.

Maka ketika ide mulai seliweran, ketika tubuh mulai menagih untuk menulis, saya tak pernah melewatkan kesempatan tersebut. Saya akan menulis, menulis, dan terus menulis sampai bosan sendiri. Begitu seterusnya.

Intinya, manfaatkan momen. Ketika penat, writers block datang, ya sudah biarkan saja, berhentilah menulis. Tapi ketika ide bermunculan, segeralah tulis.

Jangan jadikan writers block sebagai kambing hitam abadi.

Menurut saya, writers block hanya sinyal dari tubuh agar saya istirahat sejenak. Itu saja. Keyakinan itu cukup membantu saya untuk tetap produktif.

Terima kasih.

copyright @2011 indonovel.com

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia