<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; tweetfiction</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/tweetfiction/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description>Indonovel.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 12:33:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dari Hemingway Ke Tweetfiction</title>
		<link>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 06:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tweetfiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “ Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis cerita fiksi saat mernyatakan itu. Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &#38; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &#38; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ <em>Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi</em> (Ernest Hemingway) “</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar <strong><a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis cerita fiksi</a></strong> saat mernyatakan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &amp; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &amp; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway mengajak para penulis kembali ke kittah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka (Wikipedia).</p>
<p style="text-align: left;">Suatu waktu mungkin kita tanpa sadar telah  keliru menafsirkan definisi ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kerap kita menulis cerita fiksi dengan alur kesana kemari, meluas, melebar, tak jelas juntrungannya.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan di genre fantasy, pembaca menginterpretasi ceritanya berdasarkan pengalaman dunia nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menuntut cerita yang logis, dapat dipercaya, serta mudah dibandingkan dengan kenyataan.</p>
<p style="text-align: left;">Ini penekanan rumus Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Lupakan aksesoris &amp; ornamen yang tidak berkontribusi memajukan cerita: <em>Ayahku matahari. Ibuku bumi. Semesta membesarkan aku dengan cinta seterang bulan purnama</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Guna membuktikan kebenaran teorinya, Hemingway merilis fiksi yang terdiri dari 6 kata saja di tahun 1920. Itulah <em>novel</em> terpendek sedunia:<strong><em></em></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em> For sale: baby shoes, never worn.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mendadak saya teringat sesuatu saat merenungkan kembali teori Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Berabad-abad sebelum dia merilis novel terpendeknya, sebenarnya telah lahir lebih dahulu sebuah fiksi pendek karya Gaius Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>I came, I saw, I Conquered</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Memang Julius Caesar tidak bermaksud <em>menulis</em> cerita fiksi. Enam kata itu lebih merupakan ungkapan atas refleksi perjalanan hidup sang penakluk dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Sejarahlah yang kemudian secara alamiah mempopulerkannya lewat tradisi lisan keseluruh dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Fakta hari ini membuktikan ungkapan itu telah menjelma sebagai salah satu karya literer terpopuler.</p>
<p style="text-align: left;">Hebatnya lagi, karya itu dalam versi aslinya hanya disusun oleh 3 kata; <strong>Veni, Vidi, Vici</strong>. (<em>yakin pernah mendengar pemeo ini ?</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Fiksi Panjang &amp; Pendek Intinya Sama Saja</h3>
<p style="text-align: left;">Pertanyaannya kemudian : “ apakah <em>6 kata itu layak disebut cerita fiksi ?</em> “</p>
<p style="text-align: left;">Disadari atau tidak, generasi kita besar dalam pemahaman keliru. Kita terlanjur memahami fiksi sebatas karya-karya tradisional berbentuk<strong> novel</strong> atau <strong>cerpen</strong>, minimal terdiri dari 1.000 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Logika kita serta merta menolak kemungkinan adanya ceritafiksi yang disusun oleh 6 kata saja. Boleh jadi Hemingway berniat mengolok-olok kita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi tidak kawan<em>…</em>Hemingway sungguh serius.</p>
<p style="text-align: left;">Saya belum menemukan literatur yang menyebutkan jumlah kata pada tulisan sebagai syarat penulisan cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Panjang pendeknya cerita sekedar kategorisasi produk di industri penerbitan. Misalnya, 1.000 – 7.500 (cerpen), 7.500 – 20.000 (novelette), 50.000 – 110.000 (novel).</p>
<p style="text-align: left;">Lila Guzman, pengarang <em>Ask the Author</em>, mengatakan; Cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Di sekolah kita juga diajari, bahwa sebuah cerita fiksi yang utuh, plotnya harus mengandung empat elemen cerita, yakni : <em>karakter</em>, <em>setting</em>, <em>konflik</em>, &amp; <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Selama sebuah cerita memenuhi seluruh persyaratan itu, ia layak disebut cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, bukan karena panjang atau pendeknya. Kalau Hemingway mengatakan cuma 6 kata saja, karena mungkin menurutnya itu ambang minimal cerita fiksi dalam bahasa ibunya bisa memuat seluruh persyaratan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Baiklah, untuk menyamakan persepsi, mari kita membedah karya Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Aku datang, Aku lihat, Aku menang.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Cerita ini secara gamblang memperlihatkan awal, tengah &amp; akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Karakternya Julius Caesar (<em>point of view</em> orang pertama tunggal), konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi, settingnya bertempat di medan peperangan &amp; berlatar zaman kejayaan kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar sebagai pemenang setiap peperangan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi…</p>
<p style="text-align: left;">Yah, anda mau protes kan, sebab konflik &amp; setting tidak eksplisit tertera dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi anda tentu masih ingat teori Hemingway “ … <em>selebihnya hanya imajinasi</em>”.</p>
<p style="text-align: left;">Seorang penulis bisa membubuhkan imajinasi sampai beribu-ribu halaman guna menulis epos hidup Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Berpangkal dari 6 kata itu, ribuan kalimat selanjutnya bisa berupa sekumpulan karakter pendamping, tempat-tempat peperangan, jalannya peperangan demi peperangan, tapi tidak dapat memungkiri kenyataan kalau epos itu sebenarnya tetap bisa diceritakan oleh 6 kata saja.</p>
<p style="text-align: left;">Malah karya Julius Caesar itu bisa diadaptasi kedalam beragam cerita fiksi lainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Enam kata; <em>I came, i saw, i conquered</em>, dalam imajinasi seorang sutradara menjelma jadi skenario film <em>Troy;</em> Tentara Yunani (Achiles cs) <span style="text-decoration: underline;">mendatangi</span> kota Troya, <span style="text-decoration: underline;">melihat</span> situasi sebelum merancang strategi kuda troya dan akhirnya <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> perang.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tolkien</em> sadar tidak sadar juga memakai teori 6 kata + imajinasi Hemingway ketika menulis <em>Lord of The Ring</em>;</p>
<p style="text-align: left;">Frodo cs <span style="text-decoration: underline;">datang</span> dari Shire ke Mordor, <span style="text-decoration: underline;">melihat-lihat</span> situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa <span style="text-decoration: underline;">mengalahkan</span> mata jahat Sauron.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Harry Potter</em> pun sebenarnya ditulis <em>JK. Rowling</em> menggunakan rumus ini;</p>
<p style="text-align: left;">Harry <span style="text-decoration: underline;">datang</span> ke dunia sihir, <span style="text-decoration: underline;">Melihat-lihat</span> situasi (Hogwarts), dan <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> pertempuran melawan Lord Voldemort ( Upps, maaf. Seharusnya <em>dia-tak-boleh-disebut-namanya</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Kelahiran Flash Fiction</h3>
<p style="text-align: left;">Sejarah penerbitan tak lagi berpihak pada fiksi pendek pasca Hemingway. Kita memaklumi mengapa media cetak tradisonal (koran) tak menyisakan minat (dan kolom tentu saja) pada genre ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kolom-kolom pada koran yang luas memang sengaja didesain untuk cerpen (termasuk cerbung) dengan kuota minimal 1.000-2.500 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu tiba-tiba, Bumm !</p>
<p style="text-align: left;">Manusia menemukan internet. Era kedigdayaan koran pun runtuh.   Internet dengan segala fiturnya memungkinkan setiap orang bisa mempublikasikan karya fiksinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Dan berita bagusnya adalah; Gratis !</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi pendek ala Hemingway seolah bangkit kembali dari tidur panjangnya, dan menemukan wadah yang sangat tepat di internet berkat kemunculan salah satu fitur microblog bernama Twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter adalah kegiatan nge-Blog dengan karakter terbatas (mikro), yakni 140 karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter memungkinkan penggunanya (Tweeple) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para followers-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Tweet dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi : <span style="text-decoration: underline;">Menciak</span> (dari kata dasar <strong>ciak</strong>).</p>
<p style="text-align: left;">Ciak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Muhammad Ali, Pustaka Amani/Jakarta) diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap); Tuwit..tuwit….</p>
<p style="text-align: left;">Media sosial ini dilirik oleh mereka yang hobby menulis fiksi guna menghidupkan kembali tradisi menulis fiksi pendek ala Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Tweeps berlomba-lomba mengicaukan karya-karya <em>fiksi </em>mereka di twitosphere.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan ada akun bernama <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a> yang khusus menayangkan fiksi pendek yang di-retweet (RT) dari para followersnya.</p>
<p style="text-align: left;">Disatu sisi twitter memungkinkan para penulis fiksi melatih teknik memadatkan cerita. Pembaca disisi lain, menemukan keasyikan tersendiri saat membaca fiksi-fiksi mungil semacam ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kesingkatan dan kesekejapannya terasa menggugah dan punya estetika tersendiri. Dibaca sekejap namun menimbulkan kesan mendalam dan lama, sama seperti kita membaca fiksi panjang (<em><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">cerpen</a></em> &amp;<em> novel</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter menjadi kategori tersendiri dikalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air, hingga mulai disosialisasikan dengan nama <strong>fiksi mini</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri kurang sepakat dengan pemberian nama <strong><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank">fiksi mini</a></strong>. Sebutan tu tidak punya differensiasi tegas.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini frasa cerita/fiksi mini terlanjur dipakai untuk menamai fiksi pendek 1.000 kata yang populer di koran-koran dengan nama cermin (cerita mini).</p>
<p style="text-align: left;">Saya lebih suka menamai cerita fiksi dalam 140 karakter dengan sebutan :  <strong>tweetfiction</strong>. Nama ini menarik garis demarkasi yang jelas antara fiksi maksimal 140 karakter dengan cerita/fiksi mini ala koran.</p>
<p style="text-align: left;">Nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi yang dipublikasikan (di-tweet) dari dan oleh pengguna twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Singkatnya, definisi<em> tweetfiction</em> adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan (di-tweet) penulisnya melalui twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh &amp; tips menulisnya diulas di artikel  <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction" target="_blank">tips menulis tweetfiction..</a></p>
<p style="text-align: left;">Sayangnya semangat untuk memasyaratkan tweetfiction tidak dibarengi disiplin yang ketat.</p>
<p style="text-align: left;">Karena kesekejapan &amp; kesingkatannya sehingga terkesan digampangkan. Syarat awal, tengah, akhir + 4 elemen cerita kerap diabaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ayal lagi, sering kita temui tweet berupa; puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, potongan dialog, yang diklaim penulisnya sebagai <strong>tweetfiction</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi apapun itu, trend menulis<em><a href="http://antojournal.com" target="_blank"> tweetfiction</a> </em>sungguh hal yang sangat positif.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita awali dengan kuantitas. Kualitas akan menyusul kemudian dengan sendirinya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Tweetfiction</title>
		<link>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 04:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tweetfiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel ..dari hemingway ke tweetfiction. Berikut contoh tweetfiction : @ Human Trafficking Dijual; Bayi. Belum pernah dijual @ Kamar Imajiner Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari &#38; dipan, juga dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Tweetfiction</strong> adalah cerita <em>fiksi</em> maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel<a href="http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction" target="_blank"> ..dari hemingway ke tweetfiction.</a></p>
<p style="text-align: left;">Berikut contoh <em>tweetfiction</em> :</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Human Trafficking</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dijual; Bayi. Belum pernah dijual</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Kamar Imajiner</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari &amp; dipan, juga dalam foto berbingkai.</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>No Action Talk Only</strong></p>
<p style="text-align: left;">“ Buruk ! “. Ia menghempaskan novel itu, dan menyesal telah membelinya. Namun tiba-tiba ia mengingat novelnya yang tak pernah selesai.</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Syukur</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Mabuk</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bir-nya serupa air kencing. Kuning &amp; berbusa. Ia terus meminumnya, lalu kencing, minum lagi, kencing lagi, terus menerus di gelas yang sama.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sumber</em>: 2010 <a href="http://twitter.com/daeng_anto" target="_blank"><a href="http://twitter.com/daeng_anto">@daeng_anto</a></a></p>
<p style="text-align: left;">Bila anda penggemar<em> fiksi</em> (penulis maupun pembaca) &amp; juga pengguna twitter (tweeps), mungkin familiar dengan kategori ini. Meski terbilang baru didunia fiksi tanah air, <em>tweetfiction</em> lansung menyedot perhatian twitosphere.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan ada akun <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a>, yang khusus me-<em>retweet</em> (RT) fiksi 140 karakter dari para followers-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Daripada cuma membaca tweetfiction orang, mengapa tak coba menuliskannya sendiri. Mudah saja. Berikut ini tips-tips-nya untuk anda :</p>
<h2><strong>Tentukan tema tweetfiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Seseorang <em>menulis</em> dengan tujuan menyampaikan sebuah tema. Tak terkecuali tweetfiction. Tema menjadi ruh yang menghidupkan tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Karena jumlah kata yang terbatas, rasanya tak berlebihan bila tweetfiction kadang dianggap sebagai serangkaian kalimat rangkuman atas gagasan (tema) tertentu dalam bentuk cerita.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> yang anda maksudkan sebagai <em>tweetfiction</em> kemungkinan besar cuma tweet biasa tanpa keberadaan tema. Semacam pernyataan atau informasi belaka atas status anda saat itu (<em>what are you doing ?</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Pada empat contoh tweetfiction diawal tulisan, temanya menjadi judul.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca mencari gagasan, gugahan &amp; pesan moral mendalam yang ingin anda sampaikan dalam tulisan. Itulah tema.</p>
<h2><strong>Menulis bebas</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tema sudah ada. Saatnya menerjemahkan tema kedalam tulisan. Terlihat susah karena tak ada teknik baku disini.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap penulis punya ciri khas &amp; gaya bahasa tersendiri dalam <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis fiksi</a>. Tergantung kejeniusan, kreatifitas dan jam terbang menulis masing-masing.</p>
<p style="text-align: left;">Kasusnya hampir sama dengan <em>menulis</em> kalimat/paragraf pertama pada fiksi panjang (<a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank"><em>cerpen</em> </a>atau <em>novel</em>), Susah-susah gampang. Hanya saja pada <em>tweetfiction</em>, paragraf pertama sekaligus merupakan paragraf tengah dan akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa orang menuliskannya dalam bentuk dialog, sebagian besar lainnya menulis dalam bentuk narasi tindakan, adegan, atau situasi.</p>
<p style="text-align: left;">Temukan <em>Muse</em> anda sendiri dan ingat selalu nasehat J.J.R Tolkien :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">“<em>Pekerjaan yang belum dimulai adalah yang butuh waktu paling lama untuk diselesaikan</em> “</p>
</blockquote>
<h2><strong>Pastikan </strong><strong><em>syarat cukup</em> tweetfiction terpenuhi</strong></h2>
<p style="text-align: left;"><em>Cerita fiksi</em> dianggap cukup memenuhi syarat bila ada awal, tengah, akhir dan mengandung elemen cerita utuh; <em>karakter</em>, <em>setting</em>,<em> konflik</em>, <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Awal, tengah, akhir, tidak berarti anda harus membagi cerita kedalam 3 babak secara eksplisit &amp; terpisah satu sama lain. Itu mustahil anda terapkan.</p>
<p style="text-align: left;">Begitu pula bila memaknai kehadiran elemen cerita secara harfiah, akan berakibat <em>tweetfiction</em> anda melampaui ambang maksimal 140 karakter. Kehadiran elemen cerita bisa berarti lansung ataupun tidak lansung.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa mendeskripsikan karakter (nama, sifat, etc), setting (tempat, waktu, etc), asalkan pembaca bisa <strong><em>merasakan</em></strong> kehadirannya dalam imajinasi mereka, dianggap sudah ada.</p>
<p style="text-align: left;">Supaya lebih mudah dipahami, mari kita bedah tweetfiction <strong>@ Syukur</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><em> Awal</em> ; tokoh (orang ketiga tunggal) kesal terhadap bunyi hujan yang turun tengah malam mendadak mengganggu tidurnya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tengah</em> : Ditengah kekesalan, tokoh mendongak ke atap rumahnya, dan tiba-tiba merasa dirinya berdosa telah menyesali Tuhan yang menurunkan hujan.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Akhir</em> : Tokoh merenungkan kembali sikapnya terhadap Tuhan. Ia sadar tak sepantasnya menyumpahi hujan Bukankah ia memiliki rumah untuk bernaung.</p>
<p style="text-align: left;">Ia membayangkan bagaimana nasib mereka yang tidak punya rumah disaat turun hujan lebat dimalam hari. Ia menyesali perbuatannya, lalu mengucap syukur pada Tuhan.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Karakter </em>: karakternya terlihat jelas dalam cerita (tokoh <em>Ia</em>). Dianjurkan memakai satu karakter  saja (sudut pandang orang pertama tunggal atau orang ketiga), atau maksimal 2 karakter bila terpaksa.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Settting </em>: Dimana tempat adegan cerita diatas terjadi ? Dikamar tidur dirumah tokoh bersangkutan. Kapan kejadian tersebut berlansung ? Di malam hari saat turun hujan lebat.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada deskripsi tentang tempat &amp; waktu. Namun saya yakin anda mengimajinasikan kehadirannya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Konflik </em>: konflik eksternal terjadi antara sang tokoh vs alam/cuaca, antara tokoh vs Tuhan, Konflik internal terjadi dalam diri sang tokoh (bersyukur vs tidak bersyukur).</p>
<p style="text-align: left;"><em>Resolusi </em>: Sang tokoh mengalami perubahan paradigma dalam memandang dirinya, alam serta Tuhan. Dari kesal menjadi bersyukur.</p>
<p style="text-align: left;">Resolusi adalah akhir cerita dimana terjadi perubahan pada karakternya. Cerita jangan dibiarkan mengambang. Boleh meninggalkan pertanyaan, selama disediakan penanda yang jelas kalau cerita tersebut telah selesai. Penanda kepada pembaca bisa berupa kesimpulan (pesan moral) yang ditarik dari cerita tersebut.</p>
<h2><em>Show, don’t tell</em></h2>
<p style="text-align: left;">Disarankan menggunakan kata kerja aktif pada cerita berbentuk adegan atau situasi. <em>Show, don’t tell</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Ketimbang memakai kalimat: <em>Kamarnya dipenuhi bingkai foto</em>..  Lebih bagus menggunakan : <em>Bingkai foto memenuhi kamarnya.</em> (cukup mengganti awalan <em>di-</em> menjadi <em>me-</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca seolah ditarik ketengah peristiwa yang sedang terjadi. Menunjukkan peristiwa yang tengah berlansung terkesan lebih hidup daripada memberitahu lansung pembaca.</p>
<h2><strong>Mengedit tweetfiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Anda bisa melihat sisa kuota atau kelebihan kata pada sudut kanan atas kotak tweet. Minus satu (-1) kata saja berakibat tulisan gagal di-tweet.</p>
<p style="text-align: left;">Hindari mendeskripsikan karakter dan atau setting. Hapus semua kata-kata lemah yang tidak berkontribusi menguatkan kalimat. Diksi (pilihan kata) sangat menentukan. Pemakaian kosa kata bermakna ganda (konotatif) sangat membantu.</p>
<p style="text-align: left;">Yang paling gampang tentu saja menghapus semua <em>adverbia </em>(kata keterangan). Contoh:</p>
<p style="text-align: left;">-          Kucing itu mencakar dengan kuku-kukunya yang tajam (<em>sebelum diedit</em>)</p>
<p style="text-align: left;">-          Kucing mencakar (<em>setelah diedit</em>),</p>
<p style="text-align: left;">Kelima tips diatas berakar dari teknik dasar penulisan <strong>fiksi </strong>di semua ktegori, dan sepertinya cocok juga diterapkan pada t<em>weetfiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sayang, tak ada jaminan 2 orang (<em>atau lebih</em>) memakai satu teknik <strong>menulis</strong> yang sama akan membuahkan hasil serupa. K</p>
<p style="text-align: left;">egagalan pada penggunaan tips diatas pada akhirnya menjadi tanggung jawab anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank"><strong>Menulis fiksi</strong> </a>bukan ilmu pasti. Setiap hari bermunculan teknik baru. Namun biasanya ilmu lebih cepat diserap lewat latihan instensif.</p>
<p style="text-align: left;">Kuncinya hanya <em>menulis</em>,<em> menulis</em>, dan<em> menulis</em>..</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

