Mungkinkah Menulis Cerita Fiksi Dalam 100 Kata (bagian 2)
(Sambungan dari bagian 1)
Bila dilihat sepintas lalu, sepertinya kedua syarat pokok diatas malah menyulitkan, alih-alih memudahkan kita menulis cerita fiksi kedalam 100 kata.
Tapi tidak juga..
Ada satu kebiasaan laten penulis fiksi; cenderung tidak sadar menganggap bodoh para pembacanya. Maka, pembaca pun dijejali informasi sebanyak-banyaknya, sejelas-jelasnya, supaya bisa mengerti apa maksud sang penulis.
Persepsi ini sungguh tidak adil buat pembaca. Sebuah tulisan fiksi (FF, cerpen, Novel) semata wadah dialogis antara penulis dengan pembacanya dalam semangat kesetaraan. Saat tulisan dipublikasikan, itu tidak lagi menjadi milik penuh siapapun. Pembaca juga ingin terlibat & dilibatkan disetiap adegan. Pembaca ingin mengidentifikasi dirinya sebagai salah satu karakter didalam cerita bermodal imajinasinya sendiri. Maka, imajinasi penulis tidak boleh mendominasi cerita hingga menutup ruang keikutsertaan mereka. Read more »


