<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; menulis fiksi</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/menulis-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description>Indonovel.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 12:33:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dicari; Genre Fiksi Alat Kelamin (FAK)</title>
		<link>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/</link>
		<comments>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 10:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi porno]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Taufiq ismail memperkenalkan Istilah Fiksi Alat Kelamin saat memberi Pidato kebudayaan;  “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka,“ di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006.  Saat itu Taufiq Ismail mempersoalkan maraknya penerbitan cerita fiksi (cerpen &#38; novel) -yang menurutnya- berkategori porno. Mereka yang merasa ‘tertuduh’ oleh Taufiq kemudian membalas sengit serangan itu. Maka ramailah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Taufiq ismail memperkenalkan Istilah <strong><em>Fiksi Alat Kelamin</em></strong> saat memberi Pidato kebudayaan;  “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka,“ di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006.</p>
<p> Saat itu Taufiq Ismail mempersoalkan maraknya <em>penerbitan cerita fiksi</em> (<strong>cerpen</strong> &amp; <strong>novel</strong>) -yang menurutnya- berkategori porno.</p>
<p>Mereka yang merasa ‘tertuduh’ oleh Taufiq kemudian membalas sengit serangan itu.</p>
<p>Maka ramailah polemik di media cetak pada medio 2007.</p>
<p style="text-align: left;">Sepertinya istilah Fiksi Alat Kelamin terkesan dipaksakan untuk memenuhi akronim FAK.</p>
<p style="text-align: left;">Akronim FAK terdengar lebih seksi, mengingat bunyinya sepintas sama dengan seruan kata (maaf) ‘<em>fuck</em>” dalam Bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir, bukan tanpa sengaja Taufiq Ismail memilih akronim ini.</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi Alat Kelamin dalam pidato kebudayaan itu pun cuma menukik pada karya-karya ‘cabul’ menurut asumsi Taufik Ismail belaka (sayang, Taufiq Ismail tidak berani menunjuk satu pun karya/penulis sebagai contohnya).</p>
<p style="text-align: left;">Padahal bila dicermati, alat kelamin dalam istilah tersebut secara harfiah bermakna netral, umum.</p>
<p style="text-align: left;">Bisa saja berarti<em> fiksi</em> yang bertema alat kelamin, tidak melulu persetubuhan atau mengumbar detil-detil lekuk tubuh (<em>lazimnya</em> -wanita) dan prosedur persenggamaan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya pribadi mengapresiasi kekhawatiran Taufiq Ismail dalam pidato kebudayaannya. Pornografi, termasuk dalam varian fiksi, patut diwaspadai dampaknya terhadap manusia (segala umur).</p>
<p style="text-align: left;">Kekhawatiran yang sama atas fakta membanjirnya film semi porno di jagat perfilman tanah air dewasa ini.</p>
<p style="text-align: left;">Namun kita juga perlu waspada, jika kemudian ‘alat kelamin’, dan seksualitas umumnya (generalisasi), secara gegabah diopinikan sebagai genre tersendiri dalam dunia <em>penulisan fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa ?</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita ambil contoh, horror sebagai genre. Sebuah cerita dikategorikan bergenre horror bila seluruh elemen cerita menampilkan efek horror (ketakutan, keseraman, mencekam) kepada pembacanya.</p>
<p style="text-align: left;">Segala elemen cerita mulai dari ide, tema, moral, plot, setting, karakter, konflik dan resolusi, bahu membahu dalam menampilkan efek horror.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, agak terburu mengkategorikan satu cerita  kedalam Fiksi Alat Kelamin, hanya karena seksualitas (misalnya persenggamaan) menjadi salah satu adegan dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian halnya, soal fiksi tanah air yang marak disesaki adegan persenggamaan, belum cukup menjadi alasan untuk menasbihkan lahirnya genre Fiksi Alat Kelamin yang -<em>koq</em>- berkonotasi negatif  (apalagi mengingat korelasinya dengan kata ‘<em>fuck</em>’).</p>
<p style="text-align: left;">Premis-premis Taufik Ismail  tidak relevan untuk menarik kesimpulan. Ibarat hendak membunuh tikus dengan membakar lumbung.</p>
<p style="text-align: left;">Istilah Fiksi Alat kelamin sepertinya disosialisasikan dalam rangka itu. Pada akhirnya perihal seks sebagai sumber gagasan, haram akibat pengertian ini.</p>
<p style="text-align: left;">Agaknya pendekatan akan lebih proporsional bila kita mempertanyakan fungsi dan tujuan ‘alat kelamin’ hadir di dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan ini bagus buat penulis sebelum menuangkan cerita, agar tidak terjebak pada kepentingan pragmatis, komersial, tampil beda, berani, yang sejatinya berujung pada popularitas semata.</p>
<p style="text-align: left;">Dipihak lain, kritikus juga bisa terhindar dari penjara subjektifitas, ideologi, selera, dan nilai-nilai moralitas yang dianutnya.</p>
<p style="text-align: left;">Fungsi seks memang lebih sering ditemui hadir sekedar bumbu pelengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Serial Nick Carter boleh jadi contohnya. Kita mahfum, oleh sebab seks jamak diimbuhkan dalam kisah spionase, termasuk dalam format film. Seakan jadi konvensi bahwa seks dan perempuan tidak bisa terpisahkan dari dunia spionase (yang identik dengan lelaki).</p>
<p style="text-align: left;">Hanya saja unsur seksualitas dalam Nick Carter terlalu detil dan vulgar. Bahkan keberadaanya cenderung tidak signifikan dalam membantu memajukan cerita. Kehadirannya tidak menambah, tanpanya tidak mengurangi.</p>
<p style="text-align: left;">Beda soal ketika  seks diramu sebagai sumber konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Fungsi berbeda bisa kita temui saat seks (gender, jenis kelamin, perihal yang berhubungan dengan alat kelamin) hadir sebagai tema dalam cerita. Fungsi ini bisa dijumpai dalam Novel Middlesex (2002) karya Jeffrey Eugenides.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Novel Middlesex </em></strong>bercerita tentang perjalanan hidup seorang hermaprodit (manusia berkelamin ganda).</p>
<p style="text-align: left;">Kelamin ganda merupakan tema sentralnya. Sumber dari segala unsur-unsur pembangun cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Karakternya adalah Cal, terlahir sebagai perempuan namun kemudian mendapati dirinya juga adalah seorang lelaki.</p>
<p style="text-align: left;">Konfliknya timbul dari situasi Cal sebagai manusia berkelamin ganda. Baik dengan lingkungannya, teman, orang tua dan dunia, termasuk konflik internal dengan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Alur cerita mengalir lancar mulai dari asal muasal gen hermaprodit Cal yang diturunkan dari nenek moyangnya, masa kecil, masa remaja dan masa dewasa Cal, yang semuanya timbul dari situasinya sebagai manusia hermaprodit.</p>
<p style="text-align: left;">Yah, ini betul-betul <em>novel </em>tentang alat kelamin, meski bukan dalam ‘definsi’ Taufiq Ismail..</p>
<p style="text-align: left;">Sepertinya <strong><a href="http://antojournal.com/2011/05/04/flash-fiction-100-kata-oedipus-mother-complex/" target="_blank">Fiksi Alat kelamin</a></strong> ciptaan Taufiq Ismail hanya istilah tanpa rujukan nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Menilai fiksi tentu saja tidak boleh sepotong-sepotong. <strong><em><a href="http://indonovel.com/4-tips-menulis-cerpen" target="_blank">Cerita fiksi</a></em></strong><em> </em>adalah sebuah bangunan utuh. Masing-masing unsur pembangunnya tidak  -boleh- terpisahkan satu sama lain.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca (terlebih kritikus) tidak boleh memisahkan masing-masing unsur saat hendak menilai sebuah karya <em>fiksi.</em></p>
<p style="text-align: left;">Menurut saya, seks, alat kelamin, porno, cabul, <strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/29/tidak-mungkin-flash-fiction/" target="_blank">selangkangan</a></strong> dan segala istilah padanannya <em>belum</em> genre dalam <em>fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana menurut anda ?</p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Blog Layak Kunjung Penulis fiksi</title>
		<link>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 21:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi online]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Bagi penulis fiksi online, blogwalking boleh jadi rutinitas. Penulis biasanya memanfaatkan kunjungan ke blog sesama ( peer) untuk mempelajari cara menulis blogger tuan rumah, selain membaca. Sebab cara terbaik untuk belajar menulis adalah membaca tulisan penulis lain.  -setidaknya sampai saat ini-. Saya sendiri memulai blogging paruh pertama tahun 2008 (multiply). Niatnya semata untuk menyalurkan kegemaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bagi penulis <em>fiksi</em> online, blogwalking boleh jadi rutinitas.</p>
<p><em>Penulis</em> biasanya memanfaatkan kunjungan ke blog sesama ( peer) untuk mempelajari cara menulis blogger tuan rumah, selain membaca. Sebab cara terbaik untuk <em>belajar menulis</em> adalah membaca tulisan penulis lain.  -setidaknya sampai saat ini-.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri memulai blogging paruh pertama tahun 2008 (multiply).</p>
<p style="text-align: left;">Niatnya semata untuk menyalurkan kegemaran <em>menulis fiksi</em>. Porsi blogwalking juga tersita sebagian besar pada ceruk topik yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Hanya saja, menemukan blog yang kontennya konsisten pada ceruk penulisan fiksi termasuk langka untuk blog berbahasa indonesia.</p>
<p style="text-align: left;">Diantara yang langka itu pada akhirnya tereliminasi dari daftar prioritas kunjungan saya, oleh sebab kontennya yang tidak memenuhi standar selera saya.</p>
<p style="text-align: left;">Yah, bacaan semata soal selera, bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Belakangan ini tersisa 5 blog yang masuk kategori ‘terkerap’ dalam daftar kunjungan saya.</p>
<p style="text-align: left;">Kelimanya dominan menerbitkan konten terkait dunia seni bahasa &#8211; atau kerajinan kata-kata -.</p>
<p style="text-align: left;">Kecuali salah satu blog yang sepenuhnya berisi cerpen terjemahan &amp; artikel wawancara dengan <em>penulis cerpen</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak tahu apakah kita satu selera ?</p>
<p style="text-align: left;">Namun ragam artikel dalam kelima blog berikut ini punya keistimewaan tersendiri, hingga mendorong saya untuk berbagi dengan sidang pembaca yang budiman.</p>
<p style="text-align: left;">Maka dari itu, di akhir artikel ini terbuka kolom komentar bagi pembaca; apa anda setuju dengan saya ?</p>
<p style="text-align: left;">1. <strong><a href="http://nirwandewanto.blogspot.com/2008/12/surat-kertas-hijau-lumut.html" target="_blank">Kuala Kuali</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini milik Nirwan Dewanto. Penerima Khatulistiwa Literary Award (KLA)  tahun 2008 (kumpulan puisi ‘ Jantung Lebah Ratu).</p>
<p style="text-align: left;">Isinya tidak melulu membahas seni bahasa (khususnya telaah puisi). Mungkin, aktifitas pemiliknya –yang juga- sebagai kurator seni rupa di dunia nyata turut mempengaruhi cakupan sebagian besar topik laman per laman blog ini.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ Di majalah dinding ini saya tampilkan aneka tulisan saya: petikan catatan, ulasan pendek, aforisme, cerita, dan beberitaan; juga jawaban terhadap sejumlah soal yang, secara langsung atau tak, dialamatkan ke saya. Sebagian bersifat &#8220;kurang resmi,&#8221; sebagian lain mungkin &#8220;eksperimental.&#8221; Kadang-kadang saya sertakan pula di sini tulisan yang hanya termuat di media dengan sirkulasi terbatas (misalnya katalog pameran atau selebaran) –Nirwan Dewanto- “</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kekerapan saya mengunjungi blog ini dipengaruhi oleh penguasaan Nirwan Dewanto atas topik yang ditulisnya (seni bahasa). Kontennya selalu unik, orisinil dan ‘baru’.</p>
<p style="text-align: left;">Kualitas ini juga didukung oleh kepiawaian menulis yang bersangkutan. Ibarat emping melinjo; renyah, pula bergizi.</p>
<p style="text-align: left;">Sayang, tampilan blog ini kurang bersahabat dengan mata saya, berhubung pemakaian latar belakang hitam pada tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Pemilik blog ini juga tidak terlalu ‘disiplin’ perkara jadwal posting..</p>
<p style="text-align: left;">2.      <strong><a href=" http://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/arundhati-ayu/#more-530 " target="_blank">Lontar Nalar</a> </strong></p>
<p style="text-align: left;">Ini blog pribadi Nirwan Ahmad Arsuka, redaktur tamu Bentara Kompas.</p>
<p style="text-align: left;">Isi blognya terentang luas mulai dari budaya, seni rupa, sains, fotografi, dan banyak macam.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi artikel yang mengulas seni bahasa masih lumayan banyak.</p>
<p style="text-align: left;">Tulisan Nirwan Ahmad Arsuka – <em>idem</em> Nirwan Dewanto-  menarik karena ditopang oleh keterampilan menulis kreatif, disamping kaya raya kosa kata.</p>
<p style="text-align: left;">Pengetahuan luas penulisnya dibanyak bidang juga berkontribusi signifikan pada isi setiap tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Bacaan favorit saya di blog ini adalah artikel <em>resensi</em> karya <em>fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam urusan meresensi buku di negeri ini, Nirwan Ahmad Arsuka memang punya ‘gaya’ tersendiri. Selain tekun, dan cermat, logikanya pun terstruktur.</p>
<p style="text-align: left;">Cuma blog ini tidak terawat baik. Tulisan terakhir yang pajang di halaman beranda masih tertanggal 21 september 2009.</p>
<p style="text-align: left;">3.      <strong><a href="http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php" target="_blank">Eka Kurniawan</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini paling mendekati kategori ideal dalam kelompok blog bertopik penulisan fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Rekam jejak pemiliknya di ranah <em>menulis fiksi</em> tanah air menjamin isinya.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum blog ini menerbitkan artikel seputar dunia menulis fiksi. Mulai dari artikel, catatan kecil, resensi, quote, informasi, sampai beberapa karya <em>fiksi pendek</em> si pemilik blog.</p>
<p style="text-align: left;">Jadwal penerbitan artilkel relatif terjadwal, dalam rentang waktu singkat. Ditambah dengan tampilan blog yang professional.</p>
<p style="text-align: left;">Hal terakhir mestilah dipengaruhi oleh latar belakang pemiliknya yang pernah mengenyam pendidikan formal desain grafis.</p>
<p style="text-align: left;">Selain loading yang berat, kekurangan blog ini -tepatnya keinginan pembaca-, yaitu kurang banyaknya artikel tutorial tips menulis praktis. Tentu ini bukan soal keengganan Eka Kurniawan berbagi pengetahuan.</p>
<p style="text-align: left;">Pada postingan pertanggal 16-03-2011, Eka Kurniawan mengabarkan rencananya membuka kelas online <em>menulis cerpen</em> pada tanggal 14 April 2011 mendatang. Tertarik ?</p>
<p style="text-align: left;">4.     <strong><a href="http://fiksilotus.wordpress.com/2011/03/06/wawancara-eksklusif-antara-novel-fiksi-pendek/" target="_blank"> Fiksi Lotus </a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini dikelola oleh Maggie Tiojakin (profil lengkap bisa anda baca pada artikel <a href="http://indonovel.com/maggie-tiojakin-penulis-fiksi-pendek-indonesia" target="_blank">wawancara penulis</a>).</p>
<p style="text-align: left;">Blog ini konsisten menerbitkan terjemahan <em>cerita pendek</em>, karya penulis fiksi kelas dunia. Boleh dikata blog ini satu-satunya pada ceruk tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Kualitas terjemahannya lumayan terjaga, mengingat Maggie Tiojakin sendiri adalah penerjemah berpengalaman buku-buku fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Kehadiran Fiksi Lotus ibarat oase bagi penggemar karya penulis dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Penerbitan online karya-karya itu menjawab kebutuhan pembaca akan bacaan fiksi pendek dari penulis mancanegara yang jarang bisa ditemui di toko buku (dan berita bagus; semuanya gratis).</p>
<p style="text-align: left;">Maggie Tiojakin juga patut diapresiasi, sebab penerjemahan karya-karya tersebut atas seizin pemegang hak cipta.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa penulisnya malah sempat diwawancarai lansung oleh Maggie Tiojakin. Hasil wawancara ini pun bisa dibaca di blog Fiksi Lotus.</p>
<p style="text-align: left;">5.      <strong><a href="http://www.rayakultura.net/2010/12/sekilas-merancang-novel/" target="_blank">Raya Kultura </a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini memakai Arras WordPress theme. Maka tampilan berandanya terlihat ramai oleh beragam judul artikel.</p>
<p style="text-align: left;">Raya Kultura termasuk blog senior pada topik penulisan <em>fiksi</em>. Situs yang dimotori oleh<a href="http://indonovel.com/naning-pranoto-creative-writing-itu-teknik-menulis" target="_blank"> Naning Pranoto</a> ini secara berkala menggelar Lomba <em>Menulis Cerpen</em> Remaja (LMCR) yang pada tahun 2010 sudah memasuki tahun ke-5.</p>
<p style="text-align: left;">Isinya dominan memuat artikel opini, ulasan, essai, informasi, wawancara  &amp;  berita seputar dunia <em>penulisan kreatif</em>. Termasuk menayangkan <em><a href="http://antojournal.com" target="_blank">cerpen</a></em>-<em>cerpen</em> peserta lomba LMCR. Namun ada juga kategori khusus tentang pendidikan, filsafat dan politik</p>
<p style="text-align: left;">Sila kunjungi ke-5 blog diatas, lalu tinggalkan tanggapan anda pada kolom komentar dibawah ini; Apakah kita satu selera ?</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Saran Memperkaya Tulisan</title>
		<link>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/</link>
		<comments>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 10:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Kita, yang gemar membaca atau menulis fiksi, mungkin pernah merasa cemburu, kagum, atau heran, saat membaca sebuah tulisan bagus ? Saking bagusnya, kita sampai berkesimpulan bahwa, menulis fiksi pasti sejenis bakat bawaan lahir. Alih-alih berkesimpulan hasil dari proses belajar/latihan. Tapi saya memilih kesimpulan terakhir. Saya merasa tidak punya bakat menulis. Jadi saya lebih berusaha mempelajari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp"><span style="text-align: left;">Kita, yang gemar membaca atau </span><strong style="text-align: left;"><em>menulis fiksi</em></strong><span style="text-align: left;">, mungkin pernah merasa cemburu, kagum, atau heran, saat membaca sebuah tulisan bagus ?</span></div>
<p style="text-align: left;">Saking bagusnya, kita sampai berkesimpulan bahwa, <em>menulis fiksi</em> pasti sejenis bakat bawaan lahir.</p>
<p style="text-align: left;">Alih-alih berkesimpulan hasil dari proses belajar/latihan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi saya memilih kesimpulan terakhir.</p>
<p style="text-align: left;">Saya merasa tidak punya bakat menulis. Jadi saya lebih berusaha mempelajari bagaimana cara mereka bisa menulis sebagus itu.</p>
<p style="text-align: left;">Bila perhatikan, tulisan para penulis ‘berbakat’ itu cukup mudah dikenali. Beberapa pembaca menyebutnya sebagai ciri khas.</p>
<p style="text-align: left;">Sadar atau tidak, yang dimaksud ciri khas itu tersusun oleh pola-pola tertentu, berulang.</p>
<p style="text-align: left;">Kita hanya perlu ‘membaca dua kali’ untuk mengenalinya.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>1.</strong><strong>Miskin kosa kata = Miskin pembaca </strong></h3>
<p style="text-align: left;">Imajinasi butuh medium untuk terungkap. Itulah Kata.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Gorys Keraf, semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan/ide yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis ‘berbakat’ kaya akan <em>diksi</em> (pilihan kata).</p>
<p style="text-align: left;">Mereka mampu memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan gagasan karena beragamnya pilihan kata –yang mereka tahu-.</p>
<p style="text-align: left;">Sulit menyukai tulisan yang terbangun dari kata-kata ‘pasaran’ (denotatif) saja.</p>
<p style="text-align: left;">Kata ‘<em>berjalan’</em> misalnya, ditangan <em>penulis</em> ‘berbakat’ dapat diberi tekanan emosional tertentu (konotatif), dengan kekayaan padanan kata yang diketahuinya; Mengendap-endap, berjinjit, melenggang, gontai, tersaruk-saruk,</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>2. </strong><strong>Tajam mata itu tajam pena</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Dalam <em>Bilangan Fu</em>, Ayu Utami begitu royal memakai istilah-istilah teknis <em>rock climbing</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Taruhan, ‘Bilangan Fu’ tidak akan sebagus itu seandainya Ayu Utami tidak ‘mengalami’’ sendiri pemanjatan tebing.</p>
<p style="text-align: left;">‘Mengalami’ berbeda dengan ‘memikirkan’.</p>
<p style="text-align: left;"><em>The Inheritance of Loss</em> akan dipenuhi kalimat-kalimat tumpul, seandainya Kiran Desai tidak tajam ‘mengalami’ krisis identitas sebagai orang india..</p>
<p style="text-align: left;">Apa jadinya <em>Middle Sex</em> sekiranya Jeffery Eugenides tidak ‘mengalami’ dirinya sebagai orang Yunani di Detroit ?</p>
<p style="text-align: left;"><em>Booker prize</em> tidak akan diberikan pada <em>novel</em> <em>Too Kill The Mocking Bird</em> seandainya Harper Lee hanya ‘berandai-andai’ sebagai orang Alabama.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai pembaca, saya sering menemukan tulisan bagus, dan saya tahu penulisnya hanya ‘memikirkan’ namun tidak ‘mengalami’ sendiri tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi saya selalu menemukan nilai ‘lebih bagus’ pada tulisan berdasarkan pengalaman.</p>
<p style="text-align: left;">Pena yang tajam hampir pasti bersumber dari mata yang tajam.</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi bersumber dari imajinasi. Imajinasi bersumber dari pengalaman. Lihat bulan, lalu tulislah tentangnya. Kita akan kewalahan menerima serbuan imajinasi, tentang bulan, datang dari segala arah.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkan dengan usaha menulis tentang kuda, atau perahu pinisi, yang informasinya semata dari bacaan &amp; tuturan orang. Hasilnya datar, kering, karena imajinasi kita datang dari sumber sekunder, Dorongan liar berimajinasi tersandera beban ‘takut salah’.</p>
<p style="text-align: left;">Dewi Lestari rela ‘mengalami’ jadi anak kost selama 60 hari saat <em>menulis novel</em> <em><strong>Perahu Kertas</strong></em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kupikir, ini adalah saran yang bagus dari Dee.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>3. </strong><strong>Membaca dulu, baru menulis</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Saya curiga, penulis ‘berbakat’ itu lebih banyak membaca ketimbang <em>menulis</em>. Itu saran terbaik dari mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Kecuali ingin tulisan kita hanya di baca oleh diri kita sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti kata cendekia; sebuah tulisan/buku pada dasarnya –hanya- bercerita tentang buku sebelumnya.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja tidak ada yang menyarankan meniru, atau menghalangi inovasi untuk menciptakan ‘hal baru’ (memang ada hal baru dibawah kolong langit ini ?).</p>
<p style="text-align: left;">Otak ibarat bank data. Bacaan mengisi saldo kita. Menulis butuh modal, yang tentu didebet dari rekening otak.</p>
<p style="text-align: left;">Data-data yang terekam akan menstimulasi imajinasi. Bacaan memperkaya imajinasi, imajinasi memperkaya tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Bacaan memperkaya korelasi, saat otak mampu menjangkau kesalinghubungan antara berbagai hal yang sepertinya tidak.</p>
<p style="text-align: left;">Middle Sex kaya, hanya karena otak Jeffrey Eugenides kaya akan bacaan; Sejarah, medis, psikologi, ekonomi, budaya dan seni.</p>
<p style="text-align: left;">Ah, ketiga saran <strong><em>menulis fiksi</em></strong> diatas sebenarnya lebih ditujukan kepada diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Cerpen a la ‘Kucing Kehujanan’ Hemingway</title>
		<link>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 09:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tempayan berisi lautan. Demikian pengibaratan yang kuberikan pada –satu lagi- cerpen karya peraih nobel prize bidang kesusateraan tahun 1954 asal USA, Ernest Hemingway. &#8221; Cat In The Rain&#8221; , atau Kucing Kehujanan diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories (hal. 265-268). Hemingway dengan gemilang merangkum satu tema luas cuma dalam cerita pendek sepanjang 3 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Seperti tempayan berisi lautan.</p>
<p>Demikian pengibaratan yang kuberikan pada –satu lagi- cerpen karya peraih nobel prize bidang kesusateraan tahun 1954 asal USA, Ernest Hemingway.</p>
<p>&#8221; Cat In The Rain&#8221; , atau Kucing Kehujanan diambil dari buku <em>Ernest Hemingway Short Stories</em> (hal. 265-268).</p>
<p>Hemingway dengan gemilang merangkum satu tema luas cuma dalam cerita pendek sepanjang 3 halaman.</p>
<p>Hal itu memungkinkan karena Hemingway paham teknik menulis. Hemingway sangat disiplin menjaga, agar imajinasi berlebihan yang kerap menyandera penulis tidak menjangkitinya.</p>
<p>Walhasil, kalimat-kalimat yang tampil pada setiap paragraf dalam cerpen ini hanya yang berkepentingan untuk memajukan alur cerita,</p>
<p style="text-align: left;">Melalui cerpen-cerpennya, Hemingway seolah ingin mengatakan bahwa, mengusung tema besar tidak tergantung pada panjang pendeknya sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Hal itu lebih berkaitan dengan keterampilan menulis.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis yang royal dalam kalimat yang bertele-tele, gemar menginyervensi cerita melalui sudut pandangnya sendiri, potensial mengkhianati pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis ibarat sutradara, hanya boleh menayangkan cerita. Lalu ‘<em>cerita</em>’ itu sendiri yang akan bercerita kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Kasus mana yang lebih menarik bagi anda; <em>Pertama</em>, menonton sebuah panggung drama melalui adegan-adegan para aktornya atau;</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kedua</em>, mendengar seorang narrator berdiri –atau duduk- ditengah panggung, bermonolog, menceritakan kisah dari awal sampai akhir ?</p>
<p style="text-align: left;">Dalam versi <strong>cerpen</strong>, <em>Cat In The Rain</em> adalah contoh dari kasus pertama.</p>
<h2 style="text-align: left;"><strong>Metafora kucing dalam cerpen<br />
</strong></h2>
<div id="lw_context_ads" style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Semua tahu, kucing takut air.</p>
<p style="text-align: left;">Dari atas jendela kamar hotel, tampak  kucing kehujanan, sendirian, tanpa tempat berteduh, memicu rasa kasihan seorang istri yang tengah menginap bersama suaminya.</p>
<p style="text-align: left;">Sang suami tidak peduli akan keprihatinan istrinya pada kucing itu, terus membaca sambil tidur. Dia tidak menemani istrinya turun kebawah untuk menyelamatkan kucing tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Atas suruhan sang pemilik hotel, seorang pelayan menemani, memayungi sang istri menerbos hujan, namun kucing itu telah hilang.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, sang istri sedikit terhibur, karena terkesan dengan perhatian dari pria si pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;">Kembali kekamar, sang istri mencurahkan isi hatinya pada sang suami.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri mengatakan dirinya telah lama ingin memelihara kucing,</p>
<p style="text-align: left;">Suaminya mengomentari seadanya, dan terus membaca.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri juga mengungkapakan hasratanya –sambil bercermin- ingin memanjangkan rambut, makan malam dengan piring perak dan lilin, juga baju-baju baru.</p>
<p style="text-align: left;">Suaminya terus membaca, hanya menimpali sekedarnya dan mengangap itu hanya ocehan sambil lalu dari istrinya.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika sang istri kembali mengungkapkan hasratnya ingin memiliki kucing, suaminya tetap acuh, malah menganjurkannya untuk ikut membaca buku.</p>
<p style="text-align: left;">Saat itulah, pelayan hotel tadi mengetuk pintu kamar, masuk, mengantarkan boneka kucing dari kulit kura-kura buat sang istri, hadiah dari pria pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita berakhir!</p>
<p>Hemingway menampakkan apa yang ‘didalam’ melalui tindakan/adegan. Teknik yang sudah langka ditemui pada kebanyakan karya <em>fiksi</em> penulis dewasa ini.</p>
<p>Tanpa deskripsi atau narasi yang menceritakan kondisi serta situasi psikologis sang istri, pembaca bisa memahami beban perkawinan yang dialami perempuan itu melalui adegan penyelamatan kucing dari hujan.</p>
<p>Wanita itu seolah merasakan penderitaan yang sama dengan kucing, seperti dalam satu ucapannya :</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">“Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang malang dan kehujanan di luar sana.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Perempuan itu telah mengidentifikasi dirinya yang sekarang dengan si kucing.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada plot yang rumit. Hanya tindakan melihat kcuing dari jendela kamar hotel. Sang istri turun menerobos hujan untuk menyelamatkannya, gagal dan kembali kekamar. Sang istri kembali kekamar, mengobrol dengan suaminya yang sibuk membaca sambil tiduran, dan menimpali kata-kata istrinya dengan basa-basi.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kehidupan nyata, <em>cerita pendek</em> itu kira-kira hanya berdurasi 15 menit. Namun cukup untuk mengungkap betapa perkawinan suami istri Amerika itu tidak seperti apa yang terlihat dari luar.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri kecewa dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Secara tersirat dia ‘memakai kasus kucing untuk memperoleh perhatian suaminya.</p>
<p style="text-align: left;">Suami, seperti umumnya pria, cenderung tidak peka dengan pesan-pesan yang tersembunyi dibalik ucapan wanita, menganggap itu hal sepele.</p>
<p style="text-align: left;">Padahal, wanita itu haus kasih sayang. Lihatlah bagaimana gembiranya sang istri mendapat perhatian ‘kecil’, dalam adegan pemberian payung dan boneka kucing dari pria pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway sungguh paham psikologi manusia.</p>
<p style="text-align: left;">Ditangan penulis berbeda, kasus rumah tangga diatas bisa jadi disajikan terburu-buru.</p>
<p style="text-align: left;">Karakter sang istri yang haus perhatian akan diceritakan lewat kalimat berisi segala pikiran dan isi hatinya. Alih-alih melalui adegan (tindakan dan dialog).</p>
<p style="text-align: left;">Menurut saya, kejeniusan seorang penulis akan terlihat jika mampu menampilkan isi hati dan pikiran karakter melalui adegan.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam ‘kucing kehujanan’, Hemingway tidak sekalipun menuliskan secara tersurat betapa sang istri terbebani dengan kehidupan perkawinannya, juga tidak dikatakan sang istri sangat haus akan kasih sayang dari suaminya yang acuh.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway hanya menayangkan adegan, ucapan dan tindakan.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca dimanjakan dengan kemewahan, karena bisa memahami plot, karakter &amp; moral cerita tanpa diintervensi oleh penulis. Rasanya seperti menonton sebuah sinema.</p>
</div>
<p style="text-align: left;">Membaca setiap <strong><em>cerpen</em></strong> Hemingway membuatku berkesimpulan bahwa;</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Cita-cita tertinggi sastra adalah menjadi sinema !</p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;"><em><strong>tips menulis cerpen </strong></em>copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Show Don’t Tell</title>
		<link>http://indonovel.com/show-dont-tell-dalam-fiksi/</link>
		<comments>http://indonovel.com/show-dont-tell-dalam-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 23:11:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[show don't tell]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Tiga bulan lalu untuk pertama kalinya saya membaca flash fiction 100 kata. Judulnya Pengakuan karya Harvey Stanbrough, disusul Dragon Tales karya S. Joan Popek, (penulis yang menenerbitkan ezine flash fiction; The Popper Gazette). Ceritanya dimulai dipertengahan aksi, berjalan cepat, dan berakhir mengejutkan. Genre ini menawarkan pengalaman membaca cerita hanya sekedipan mata (yah, betul-betul sekejap). Siapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiga bulan lalu untuk pertama kalinya saya membaca <em>flash fiction</em> 100 kata.</p>
<p>Judulnya <strong>Pengakuan</strong> karya Harvey Stanbrough, disusul <strong>Dragon Tales</strong> karya S. Joan Popek, (penulis yang menenerbitkan ezine flash fiction; The Popper Gazette).</p>
<p>Ceritanya dimulai dipertengahan aksi, berjalan cepat, dan berakhir mengejutkan.</p>
<p>Genre ini menawarkan pengalaman membaca cerita hanya sekedipan mata (yah, betul-betul sekejap).</p>
<p style="text-align: left;">Siapa sangka kesan yang ditimbulkannya mengendap berhari-hari.</p>
<p style="text-align: left;">Kupikir saya telah jatuh cinta pada genre ini.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, sebagai orang yang gemar <strong>menulis fiksi</strong>, kuputuskan mencoba menulis <strong>flash fiction</strong>.  (hasilnya sebagaimana bisa kawan-kawan baca di <a href="http://antojournal.com">antojournal.com</a>)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Awal menulis flash fiction pertamaku yang berjudul <a href="http://antojournal.com/2010/03/29/rekruitmen-flash-fiction/" target="_blank">Rekruitmen</a> kukira bakal mudah saja.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Menulis</em> <em>cerita</em> dalam 100 kata sungguh perkara gampang. Terbukti draft awal bisa selesai tak kurang dari 20 menit. Hasilnya jangan ditanya.</p>
<p style="text-align: left;">Itulah <em>fiksi</em> terburuk yang pernah saya tulis seumur hidup. Cukup layak dijadikan contoh kasus pengkhianatan terhadap prinsip terpenting dalam penulisan fiksi; <em>show don’t tell</em> (tunjukkan, jangan katakan) :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ Pada suatu hari, seorang pemuda ikut pengajian sebuah kelompok keagamaan. Pemimpin kelompok menanamkan ideologi jihad secara ekstrim kepada seluruh jamaahnya. Otak jamaah berhasil dicuci, kecuali pemuda itu. Sang pemuda merasa dalam hati kecilnya bahwa itu pemahaman yang keliru. Menurutnya, tak ada golongan yang berhak memaksakan kebenaran dan menyalahkan golongan diluar mereka. Ia lalu memutuskan keluar dari kelompoknya saat itu juga.“</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Datar. Sukar menemukan orang yang sudi menghabiskan waktunya membaca <em>cerita</em> kronologis.</p>
<p style="text-align: left;">Lagipula cerita diatas terlihat seperti Berita Acara Penyidikan <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p style="text-align: left;">Terbiasa <em>menulis</em> <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><strong>cerpen</strong></a> paling kurang 1.500 kata, membuat saya berkesimpulan, kalau memberitahu (tell) pembaca adalah jalan terbaik mengakali pembatasan maksimal 100 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Mustahil rasanya menampilkan (show) gambaran mental kepada pembaca dengan mendramatisir suasana, melukiskan pemandangan, menghidupkan karakter, serta mengaktifkan adegan.</p>
<p style="text-align: left;">Atau jangan-jangan, inilah tantangannya ?</p>
<p style="text-align: left;">Mungkin disinilah letak seninya menulis <em>flash fiction</em> ?</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Membaca flash fiction <em>Pengakuan</em> Harvey Stanbrough &amp; <em>Dragon Tales</em> karya S. Joan Popek, serasa menyeret saya kedalam situasi yang sedang diceritakan.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita berjalan interaktif. Plot didramatisir. Emosi karakter tersurat lugas. Adegan begitu hidup. Semuanya itu mampu diditunjukkan penulisnya kedalam kurang dari 100 kata. Tanpa kalimat deskriptif spesifik, mereka berhasil dengan gemilang menerapkan prinsip <em>show don’t tell</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu mengapa saya  gagal ?</p>
<p style="text-align: left;">Sebabnya, sejak awal saya sudah  keliru memahami apa yang dimaksud <em>show, don’t tell</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Pemahaman mengenai <em>show don’t tell</em> memang kerap membingungkan. Rata-rata penulis <strong>fiksi</strong> tahu dan mendengung-dengungkan pentingnya pemakaian prinsip ini.</p>
<p style="text-align: left;">Masalahnya banyak penulis pemula semacam saya keliru memahaminya.</p>
<p style="text-align: left;">Sama seperti kebanyakan artikel <strong>tips menulis fiksi</strong> yang bertebaran di blogosphere, yang mengartikannya sebagai cara melukiskan karakter lewat daftar spesifik; bentuk muka, kebiasaan, gestur, mimik, tabiat, ciri khas, dsb, atau melukiskan detil-detil fisik tempat kejadian; gunung indah, pemandangan laut, perabotan kamar, dsb. Seolah menyajikan rincian fakta-fakta otomatis menampilkan (<em>show</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Sesungguhnya, menampilkan berarti membuat pembaca aktif &amp; ikut hadir kedalam suasana cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Menampilkan memungkinkan pembaca mengalami cerita melalui tindakan, kata, pikiran, indera, dan perasaan para karakter, ketimbang melalui ringkasan, deskripsi dan eksposisi sang narator</p>
<p style="text-align: left;">Menampilkan bersifat sinematik. Kata-kata tak ubahnya kamera yang menyorot lansung adegan yang terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Disini penulis berfungsi netral sebagai kameramen. Menampilkan fragmen demi fragmen tanpa melibatkan diri secara lansung. Kameramen menghindari mengintervensi pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis enggan membiarkan karakternya berkata ‘ Aku marah padamu ‘, tapi menunjukkan kemarahan karakter melalui perilaku/tindakan orang marah, seperti wajah memerah, alis bertaut, nafas cepat, memukul, atau melempar piring, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis bekerja objektif bak kameramen yang menunjukkan gambar demi gambar, dan membiarkan pembaca menginterpretasi sendiri rangkaian gambar-gambar sebagai satu kesatuan cerita tak terpisahkan.</p>
<p style="text-align: left;">Itulah sebabnya, mengapa terlihat aneh memelototi adegan konyol dihampir semua sinetron Indonesia, dimana sesosok karakter disorot tengah sendirian (dengan mulut tertutup), namun tiba-tiba terdengar suara (narrator) yang memberitahukan isi pikiran/perasaan sang karakter kepada pemirsa. Ironis sekali.</p>
<p style="text-align: left;">Memanfaatkan kelebihan sinematik yang mampu menvisualisasikan isi pikiran lewat gambar emosi, mimik, gestur, tindakan dan dialog masing-masing tokoh, pastinya prinsip <em>show don’t tell</em> inheren dengan sendirinya pada sebuah sinema.</p>
<p style="text-align: left;">Pemirsa gampang mencerna cerita melalui gambar. Toh tetap saja sutradara amatiran itu memilih metode pemberitahuan lansung mengenai isi pikiran tokoh memakai suara narrator.</p>
<p style="text-align: left;">Disini terlihat sutradaranya-lah yang gagal menvisualisasikan jalan cerita, lalu memilih jalan pintas; <em>Pemberitahuan, pemberitahuan. Buat para pemirsa, ini loh isi pikiran sang tokoh</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Guna meluruskan kekeliruan, saya memilih berguru pada salah seorang terbaik dibidang ini. Ernest Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu teknik penerapan <em>show, don’t tell</em> Hemingway kedalam cerita-<em>cerita pendek</em>nya, khususnya ketika menampilkan setting, yaitu meminjam mata/sudut pandang salah seorang tokoh, baik melalui adegan atau tindakannya.</p>
<p style="text-align: left;">Deskripsi sebuah lokasi tidak dituturkan lansung oleh subjektifitas penulis.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway memilih menghadirkan karakter terlebih dahulu ke lokasi tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Karakterlah yang terlibat – <em>atau</em> <em>melibatkan</em> <em>diri</em>- secara lansung dilokasi/setting.</p>
<p style="text-align: left;">Karakter berinteraksi secara fisik dengan situasi lewat tindakan atau gerakan. Semisal, pemandangan indah dipantai ditampilkan oleh sentuhan telapak kaki karakter diatas hamparan pasir nan lembut; riak rambut tertiup semilir angin; hidung menghirup asin bau laut, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Jarang kita temukan kalimat panjang bertele-tele mengenai pemandangan pada karya-karya hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Melukiskan setting tanpa kehadiran karakter pada tempat &amp; waktu kejadian itu memungkinkanpenulis kembali terjebak untuk memberitahu pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Saat pemandangan atau sebuah ruangan dilukiskan, pun dengan detil yang mendekati aslinya melalu teknik olah kata &amp; racik kalimat tingkat tinggi, penulis sesungguhnya masih saja berupaya memberitahu pembaca, bukan menampilkan.</p>
<p style="text-align: left;">Ketiadaan karakter dilokasi yang dilukiskan membuat pembaca berjarak dari cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca itu manusia. Dia butuh hadir pada cerita dalam wujud seorang manusia (karakter) juga yang tengah melihat pemandangan tersebut,</p>
<p style="text-align: left;">Penulis kreatif akan membiarkan pembaca menemukan sendiri apa yang sedang penulis coba tunjukkan, ketika menonton sebuah karakter bertindak atau berdialog.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca lebih suka menonton aktor-aktor memerankan suatu peristiwa di panggung sandiwara, daripada mendengarkan seorang dramawan monolog berdiri di panggung melukiskan karakter, setting, konflik, alur cerita dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Harvey Stanbrough &amp; Joan Popek memahami teknik ini. Harvey Stanbrough misalnya dalam <em>Pengakuan</em>, memilih menampilkan cerita memakai dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Gereja sebagai tempat kejadian berlansung dilukiskan lewat karakter seorang jamaah sedang mengaku dosa kepada pendeta dibilik pengakuan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada deskripsi detil tentang gereja, tentang bilik pengakuan, tentang pakaian pendeta, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Malah kata ‘gereja’ tidak tertera sama sekali. Hanya ada dialog antara dua orang dari awal sampai akhir. Namun orang yang membaca boleh merasa seakan-akan sedang berada disebuah gereja yang sakral, sepi, indah &amp; khusuk.</p>
<p style="text-align: left;">Ibarat seorang kekasih, pembaca tidak ingin mendengar <em>penulis</em> <em>fiksi</em> mengatakan ‘ aku mencintaimu’.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca ingin penulis mewujudkannya dalam bentuk tindakan &amp; perbuatan.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Show, don’t tell!</em></p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/show-dont-tell-dalam-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

