<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; menulis fiksi</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/menulis-fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 02:48:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Dicari, Genre Fiksi Alat Kelamin (FAK)</title>
		<link>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/</link>
		<comments>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 10:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi porno]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=709</guid>
		<description><![CDATA[Taufiq ismail memperkenalkan Istilah Fiksi Alat Kelamin saat memberi Pidato kebudayaan;  “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka,“ di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006.  Saat itu Taufiq Ismail mempersoalkan maraknya contoh novel indonesia -yang menurutnya- berkategori novel dewasa. Mereka yang merasa ‘tertuduh’ oleh Taufiq kemudian membalas sengit serangan itu. Maka ramailah polemik di media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1227" class="wp-caption alignright" style="width: 385px"><img class="size-full wp-image-1227" title="sex art" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/06/sex-art.jpg" alt="fiksi dewasa, novel sex" width="375" height="250" /><p class="wp-caption-text">17 tahun ke atas</p></div>
<p style="text-align: left;">Taufiq ismail memperkenalkan Istilah Fiksi Alat Kelamin saat memberi Pidato kebudayaan;  “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka,“ di depan Akademi Jakarta pada 20 Desember 2006.</p>
<p> Saat itu Taufiq Ismail mempersoalkan maraknya <em>contoh novel indonesia</em> -yang menurutnya- berkategori <strong>novel dewasa</strong>.</p>
<p>Mereka yang merasa ‘tertuduh’ oleh Taufiq kemudian membalas sengit serangan itu.</p>
<p>Maka ramailah polemik di media cetak pada medio 2007.</p>
<p style="text-align: left;">Sepertinya istilah Fiksi Alat Kelamin terkesan dipaksakan untuk memenuhi akronim FAK.</p>
<p style="text-align: left;">Akronim FAK terdengar lebih seksi, mengingat bunyinya sepintas sama dengan seruan kata (maaf) ‘<em>fuck</em>” dalam Bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir, bukan tanpa sengaja Taufiq Ismail memilih akronim ini.</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi Alat Kelamin dalam pidato kebudayaan itu pun cuma menukik pada karya-karya ‘cabul’ menurut asumsi Taufik Ismail belaka (sayang, Taufiq Ismail tidak berani menunjuk satu pun novel/penulis novel Indonesia sebagai contohnya).</p>
<p style="text-align: left;">Padahal bila dicermati, alat kelamin dalam istilah tersebut secara harfiah bermakna netral, umum.</p>
<p style="text-align: left;">Bisa saja berarti<em> fiksi</em> yang bertema alat kelamin, tidak melulu persetubuhan atau mengumbar detil-detil lekuk tubuh (<em>lazimnya</em> -wanita) dan prosedur persenggamaan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya pribadi mengapresiasi kekhawatiran Taufiq Ismail dalam pidato kebudayaannya. Pornografi, termasuk dalam varian fiksi, patut diwaspadai dampaknya terhadap manusia (segala umur).</p>
<p style="text-align: left;">Kekhawatiran yang sama atas fakta membanjirnya film semi porno di jagat perfilman tanah air dewasa ini.</p>
<p style="text-align: left;">Namun kita juga perlu waspada, jika kemudian ‘alat kelamin’, dan seksualitas umumnya (generalisasi), secara gegabah diopinikan sebagai genre tersendiri dalam dunia <em>penulisan fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa ?</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita ambil contoh, horror sebagai genre. Sebuah cerita dikategorikan bergenre horror bila seluruh elemen cerita menampilkan efek horror (ketakutan, keseraman, mencekam) kepada pembacanya.</p>
<p style="text-align: left;">Segala elemen cerita mulai dari ide, tema, moral, plot, setting, karakter, konflik dan resolusi, bahu membahu dalam menampilkan efek horror.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, agak terburu mengkategorikan satu cerita  kedalam Fiksi Alat Kelamin, hanya karena seksualitas (misalnya persenggamaan) menjadi salah satu adegan dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian halnya, soal fiksi tanah air yang marak disesaki adegan persenggamaan, belum cukup menjadi alasan untuk menasbihkan lahirnya genre Fiksi Alat Kelamin yang -<em>koq</em>- berkonotasi negatif  (apalagi mengingat korelasinya dengan kata ‘<em>fuck</em>’).</p>
<p style="text-align: left;">Premis-premis Taufik Ismail  tidak relevan untuk menarik kesimpulan. Ibarat hendak membunuh tikus dengan membakar lumbung.</p>
<p style="text-align: left;">Istilah Fiksi Alat kelamin sepertinya disosialisasikan dalam rangka itu. Pada akhirnya perihal seks sebagai sumber gagasan, haram akibat pengertian ini.</p>
<p style="text-align: left;">Agaknya pendekatan akan lebih proporsional bila kita mempertanyakan fungsi dan tujuan ‘alat kelamin’ hadir di dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Pertanyaan ini bagus buat penulis sebelum menuangkan cerita, agar tidak terjebak pada kepentingan pragmatis, komersial, tampil beda, berani, yang sejatinya berujung pada popularitas semata.</p>
<p style="text-align: left;">Dipihak lain, kritikus juga bisa terhindar dari penjara subjektifitas, ideologi, selera, dan nilai-nilai moralitas yang dianutnya.</p>
<p style="text-align: left;">Fungsi seks memang lebih sering ditemui hadir sekedar bumbu pelengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Serial Nick Carter boleh jadi contohnya. Kita mahfum, oleh sebab seks jamak diimbuhkan dalam kisah spionase, termasuk dalam format film. Seakan jadi konvensi bahwa seks dan perempuan tidak bisa terpisahkan dari dunia spionase (yang identik dengan lelaki).</p>
<p style="text-align: left;">Hanya saja unsur seksualitas dalam Nick Carter terlalu detil dan vulgar. Bahkan keberadaanya cenderung tidak signifikan dalam membantu memajukan cerita. Kehadirannya tidak menambah, tanpanya tidak mengurangi.</p>
<p style="text-align: left;">Beda soal ketika  seks diramu sebagai sumber konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Fungsi berbeda bisa kita temui saat seks (gender, jenis kelamin, perihal yang berhubungan dengan alat kelamin) hadir sebagai tema dalam cerita. Fungsi ini bisa dijumpai dalam Novel Middlesex (2002) karya Jeffrey Eugenides.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Novel Middlesex </em></strong>bercerita tentang perjalanan hidup seorang hermaprodit (manusia berkelamin ganda).</p>
<p style="text-align: left;">Kelamin ganda merupakan tema sentralnya. Sumber dari segala unsur-unsur pembangun cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Karakternya adalah Cal, terlahir sebagai perempuan namun kemudian mendapati dirinya juga adalah seorang lelaki.</p>
<p style="text-align: left;">Konfliknya timbul dari situasi Cal sebagai manusia berkelamin ganda. Baik dengan lingkungannya, teman, orang tua dan dunia, termasuk konflik internal dengan dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Alur cerita mengalir lancar mulai dari asal muasal gen hermaprodit Cal yang diturunkan dari nenek moyangnya, masa kecil, masa remaja dan masa dewasa Cal, yang semuanya timbul dari situasinya sebagai manusia hermaprodit.</p>
<p style="text-align: left;">Yah, ini betul-betul <em>novel </em>tentang alat kelamin, meski bukan dalam ‘definsi’ Taufiq Ismail..</p>
<p style="text-align: left;">Sepertinya <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-100-kata-oedipus-mother-complex/" target="_blank">Fiksi Alat kelamin</a></strong> ciptaan Taufiq Ismail hanya istilah tanpa rujukan nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Menilai fiksi tentu saja tidak boleh sepotong-sepotong. <strong><em><a href="http://indonovel.com/4-tips-menulis-cerpen" target="_blank">Cerita fiksi</a></em></strong><em> </em>adalah sebuah bangunan utuh. Masing-masing unsur pembangunnya tidak  -boleh- terpisahkan satu sama lain.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca (terlebih kritikus) tidak boleh memisahkan masing-masing unsur saat hendak menilai sebuah <em>cerita</em> <em>fiksi.</em></p>
<p style="text-align: left;">Menurut saya, seks, alat kelamin, porno, cabul, <strong><a href="http://antojournal.com/tidak-mungkin-flash-fiction/" target="_blank">selangkangan</a></strong> dan segala istilah padanannya <em>belum</em> genre dalam <em>fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana menurut anda ?</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #888888;"><em>photo credits : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/chermucsnis ">Chermucsnis</a></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/dicari-genre-fiksi-alat-kelamin-fak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Blog Yang Perlu Penulis Fiksi Kunjungi</title>
		<link>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 21:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[penerbitan]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi online]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Bagi penulis fiksi online, blogwalking boleh jadi rutinitas. Penulis biasanya memanfaatkan kunjungan ke blog sesama ( peer) untuk mempelajari cara menulis blogger tuan rumah, selain membaca. Sebab cara terbaik untuk belajar menulis adalah membaca tulisan penulis lain.  -setidaknya sampai saat ini-. Saya sendiri memulai blogging paruh pertama tahun 2008 (multiply). Niatnya semata untuk menyalurkan kegemaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1198" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-1198" title="blogger" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2012/02/blogger-e1330139131108.jpg" alt="7 blog terbaik untuk belajar menulis fiksi" width="250" height="272" /><p class="wp-caption-text">pilih blog yang tepat</p></div>
<p style="text-align: left;">Bagi penulis <em>fiksi</em> online, blogwalking boleh jadi rutinitas.</p>
<p><em>Penulis</em> biasanya memanfaatkan kunjungan ke blog sesama ( peer) untuk mempelajari cara menulis blogger tuan rumah, selain membaca. Sebab cara terbaik untuk <em>belajar menulis</em> adalah membaca tulisan penulis lain.  -setidaknya sampai saat ini-.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri memulai blogging paruh pertama tahun 2008 (multiply).</p>
<p style="text-align: left;">Niatnya semata untuk menyalurkan kegemaran <em>menulis fiksi</em>. Porsi blogwalking juga tersita sebagian besar pada ceruk topik yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Hanya saja, menemukan blog yang kontennya konsisten pada ceruk penulisan fiksi termasuk langka untuk blog berbahasa indonesia.</p>
<p style="text-align: left;">Diantara <strong>blog penulis</strong> yang langka itu pada akhirnya tereliminasi dari daftar prioritas kunjungan saya, oleh sebab kontennya yang tidak memenuhi standar selera saya.</p>
<p style="text-align: left;">Yah, bacaan semata soal selera, bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Belakangan ini tersisa 5 blog yang masuk kategori ‘terkerap’ dalam daftar kunjungan saya.</p>
<p style="text-align: left;">Kelimanya dominan menerbitkan konten terkait dunia seni bahasa &#8211; atau kerajinan kata-kata -.</p>
<p style="text-align: left;">Kecuali salah satu <em>blog cerpen</em>, yang sepenuhnya berisi <strong>kumpulan cerpen</strong> terjemahan &amp; wawancara dengan <em>penulis cerpen</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak tahu apakah kita satu selera ?</p>
<p style="text-align: left;">Namun ragam artikel dalam kelima blog berikut ini punya keistimewaan tersendiri, hingga mendorong saya untuk berbagi dengan sidang pembaca yang budiman.</p>
<p style="text-align: left;">Maka dari itu, di akhir artikel ini terbuka kolom komentar bagi pembaca; apa anda setuju dengan saya ?</p>
<p style="text-align: left;">1. <strong><a href="http://nirwandewanto.blogspot.com/2008/12/surat-kertas-hijau-lumut.html" target="_blank">Kuala Kuali</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini milik Nirwan Dewanto. Penerima Khatulistiwa Literary Award (KLA)  tahun 2008 (kumpulan puisi ‘ Jantung Lebah Ratu).</p>
<p style="text-align: left;">Isinya tidak melulu membahas seni bahasa (khususnya telaah puisi). Mungkin, aktifitas pemiliknya –yang juga- sebagai kurator seni rupa di dunia nyata turut mempengaruhi cakupan sebagian besar topik laman per laman blog ini.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ Di majalah dinding ini saya tampilkan aneka tulisan saya: petikan catatan, ulasan pendek, aforisme, cerita, dan beberitaan; juga jawaban terhadap sejumlah soal yang, secara langsung atau tak, dialamatkan ke saya. Sebagian bersifat &#8220;kurang resmi,&#8221; sebagian lain mungkin &#8220;eksperimental.&#8221; Kadang-kadang saya sertakan pula di sini tulisan yang hanya termuat di media dengan sirkulasi terbatas (misalnya katalog pameran atau selebaran) –Nirwan Dewanto- “</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kekerapan saya mengunjungi blog ini dipengaruhi oleh penguasaan Nirwan Dewanto atas topik yang ditulisnya (seni bahasa). Kontennya selalu unik, orisinil dan ‘baru’.</p>
<p style="text-align: left;">Kualitas ini juga didukung oleh kepiawaian menulis yang bersangkutan. Ibarat emping melinjo; renyah, pula bergizi.</p>
<p style="text-align: left;">Sayang, tampilan blog ini kurang bersahabat dengan mata saya, berhubung pemakaian latar belakang hitam pada tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Pemilik blog ini juga tidak terlalu ‘disiplin’ perkara jadwal posting..</p>
<p style="text-align: left;">2.      <strong><a href=" http://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/arundhati-ayu/#more-530 " target="_blank">Lontar Nalar</a> </strong></p>
<p style="text-align: left;">Ini blog pribadi Nirwan Ahmad Arsuka, redaktur tamu Bentara Kompas.</p>
<p style="text-align: left;">Isi blognya terentang luas mulai dari budaya, seni rupa, sains, fotografi, dan banyak macam.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi artikel yang mengulas seni bahasa masih lumayan banyak.</p>
<p style="text-align: left;">Tulisan Nirwan Ahmad Arsuka – <em>idem</em> Nirwan Dewanto-  menarik karena ditopang oleh keterampilan menulis kreatif, disamping kaya raya kosa kata.</p>
<p style="text-align: left;">Pengetahuan luas penulisnya dibanyak bidang juga berkontribusi signifikan pada isi setiap tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Bacaan favorit saya di blog ini adalah artikel <em>resensi</em> karya <em>fiksi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam urusan meresensi buku di negeri ini, Nirwan Ahmad Arsuka memang punya ‘gaya’ tersendiri. Selain tekun, dan cermat, logikanya pun terstruktur.</p>
<p style="text-align: left;">Cuma blog ini tidak terawat baik. Tulisan terakhir yang pajang di halaman beranda masih tertanggal 21 september 2009.</p>
<p style="text-align: left;">3.      <strong><a href="http://ekakurniawan.com/blog/detail-dan-trik-meyakinkan-pembaca-1490.php" target="_blank">Eka Kurniawan</a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini paling mendekati kategori ideal dalam kelompok blog bertopik penulisan fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Rekam jejak pemiliknya di ranah <em>menulis fiksi</em> tanah air menjamin isinya.</p>
<p style="text-align: left;">Secara umum blog ini menerbitkan artikel seputar dunia menulis fiksi. Mulai dari artikel, catatan kecil, resensi, quote, informasi, sampai beberapa <em>cerpen</em> karya si pemilik blog.</p>
<p style="text-align: left;">Jadwal penerbitan artilkel relatif terjadwal, dalam rentang waktu singkat. Ditambah dengan tampilan blog yang professional.</p>
<p style="text-align: left;">Hal terakhir mestilah dipengaruhi oleh latar belakang pemiliknya yang pernah mengenyam pendidikan formal desain grafis.</p>
<p style="text-align: left;">Selain loading yang berat, kekurangan blog ini -tepatnya keinginan pembaca-, yaitu kurang banyaknya artikel tutorial tips menulis praktis. Tentu ini bukan soal keengganan Eka Kurniawan berbagi pengetahuan.</p>
<p style="text-align: left;">Pada postingan pertanggal 16-03-2011, Eka Kurniawan mengabarkan rencananya membuka kelas online <em>menulis cerpen</em> pada tanggal 14 April 2011 mendatang. Tertarik ?</p>
<p style="text-align: left;">4.     <strong><a href="http://fiksilotus.wordpress.com/2011/03/06/wawancara-eksklusif-antara-novel-fiksi-pendek/" target="_blank"> Fiksi Lotus </a></strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini dikelola oleh Maggie Tiojakin (profil lengkap bisa anda baca pada artikel <a href="http://indonovel.com/maggie-tiojakin-penulis-fiksi-pendek-indonesia" target="_blank">wawancara penulis</a>).</p>
<p style="text-align: left;">Blog ini konsisten menerbitkan terjemahan <em>cerita pendek</em> karya penulis fiksi kelas dunia. Boleh dikata blog ini satu-satunya pada ceruk tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Kualitas terjemahannya lumayan terjaga, mengingat Maggie Tiojakin sendiri adalah penerjemah berpengalaman buku-buku fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Kehadiran Fiksi Lotus ibarat oase bagi penggemar karya penulis dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Penerbitan online karya-karya itu menjawab kebutuhan pembaca akan bacaan fiksi pendek dari penulis mancanegara yang jarang bisa ditemui di toko buku (dan berita bagus; semuanya gratis).</p>
<p style="text-align: left;">Maggie Tiojakin juga patut diapresiasi, sebab penerjemahan karya-karya tersebut atas seizin pemegang hak cipta.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa penulisnya malah sempat diwawancarai lansung oleh Maggie Tiojakin. Hasil wawancara ini pun bisa dibaca di blog Fiksi Lotus.</p>
<p style="text-align: left;">5.      <strong>Raya Kultura </strong></p>
<p style="text-align: left;">Blog ini memakai Arras WordPress theme. Maka tampilan berandanya terlihat ramai oleh beragam judul artikel.</p>
<p style="text-align: left;">Raya Kultura termasuk blog senior pada topik penulisan <em>fiksi</em>. Situs yang dimotori oleh<a href="http://indonovel.com/naning-pranoto-creative-writing-itu-teknik-menulis" target="_blank"> Naning Pranoto</a> ini secara berkala menggelar Lomba <em>Menulis Cerpen</em> Remaja (LMCR) yang pada tahun 2010 sudah memasuki tahun ke-5.</p>
<p style="text-align: left;">Isinya dominan memuat artikel opini, ulasan, essai, informasi, wawancara  &amp;  berita seputar dunia <em>penulisan kreatif</em>. Termasuk menayangkan <em><a href="http://antojournal.com" target="_blank">cerpen</a></em>-<em>cerpen</em> peserta lomba LMCR. Namun ada juga kategori khusus tentang pendidikan, filsafat dan politik</p>
<p style="text-align: left;">Sila kunjungi ke-5 blog diatas, lalu tinggalkan tanggapan anda pada kolom komentar dibawah ini; Apakah kita satu selera ?</p>
<p style="text-align: left;"><em><span style="color: #888888;">photo credit : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/bjacques" target="_blank">Adam Crowe</a></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-blog-yang-layak-dikunjungi-penulis-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Pelajaran Penting dari Penulis Ternama Yang Bisa Memperkaya Tulisan Anda</title>
		<link>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/</link>
		<comments>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 10:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Anda yang gemar membaca atau menulis fiksi mungkin pernah merasa cemburu, kagum, atau heran, saat membaca sebuah tulisan bagus ? Saking bagusnya anda sampai berkesimpulan bahwa teknik menulis  pasti sejenis bakat bawaan lahir. Alih-alih berkesimpulan itu hasil dari proses belajar/latihan. Tapi saya memilih kesimpulan terakhir. Saya merasa tidak punya bakat menulis. Jadi saya lebih berusaha mempelajari bagaimana cara menulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1238" class="wp-caption alignright" style="width: 443px"><img class="size-full wp-image-1238 " title="Tulisan bagus" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/03/Tulisan-bagus.jpg" alt="cara menulis fiksi yang baik" width="433" height="250" /><p class="wp-caption-text">Tulisan sampah - sampah tulisan</p></div>
<p><span style="text-align: left;">Anda yang gemar membaca atau </span><strong style="text-align: left;"><em>menulis fiksi</em></strong><span style="text-align: left;"> mungkin pernah merasa cemburu, kagum, atau heran, saat membaca sebuah tulisan bagus ?</span></p>
<p style="text-align: left;">Saking bagusnya anda sampai berkesimpulan bahwa <strong>teknik menulis</strong>  pasti sejenis bakat bawaan lahir. Alih-alih berkesimpulan itu hasil dari proses belajar/latihan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi saya memilih kesimpulan terakhir.</p>
<p style="text-align: left;">Saya merasa tidak punya bakat menulis. Jadi saya lebih berusaha mempelajari bagaimana <strong>cara menulis yang baik</strong> seperti mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Bila perhatikan, tulisan para penulis ‘berbakat’ itu cukup mudah dikenali. Beberapa pembaca menyebutnya sebagai ciri khas.</p>
<p style="text-align: left;">Sadar atau tidak, yang dimaksud ciri khas itu tersusun oleh pola-pola tertentu, berulang.</p>
<p style="text-align: left;">Kita hanya perlu ‘membaca dua kali’ untuk mengenalinya.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>1.</strong><strong>Miskin kosa kata = Miskin pembaca </strong></h3>
<p style="text-align: left;">Imajinasi butuh medium untuk terungkap. Itulah Kata.</p>
<p style="text-align: left;">Menurut Gorys Keraf, semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan/ide yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis ‘berbakat’ kaya akan <em>diksi</em> (pilihan kata).</p>
<p style="text-align: left;">Mereka mampu memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan gagasan karena beragamnya pilihan kata –yang mereka tahu-.</p>
<p style="text-align: left;">Sulit menyukai tulisan yang terbangun dari kata-kata ‘pasaran’ (denotatif) saja.</p>
<p style="text-align: left;">Kata ‘<em>berjalan’</em> misalnya, ditangan <em>penulis</em> ‘berbakat’ dapat diberi tekanan emosional tertentu (konotatif), dengan kekayaan padanan kata yang diketahuinya; Mengendap-endap, berjinjit, melenggang, gontai, tersaruk-saruk,</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>2. </strong><strong>Tajam mata itu tajam pena</strong></h3>
<p style="text-align: left;">Dalam <em>Bilangan Fu</em>, Ayu Utami begitu royal memakai istilah-istilah teknis <em>rock climbing</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Taruhan, ‘Bilangan Fu’ tidak akan sebagus itu seandainya Ayu Utami tidak ‘mengalami’’ sendiri pemanjatan tebing.</p>
<p style="text-align: left;">‘Mengalami’ berbeda dengan ‘memikirkan’.</p>
<p style="text-align: left;"><em>The Inheritance of Loss</em> akan dipenuhi kalimat-kalimat tumpul, seandainya Kiran Desai tidak tajam ‘mengalami’ krisis identitas sebagai orang india..</p>
<p style="text-align: left;">Apa jadinya <em>Middle Sex</em> sekiranya Jeffery Eugenides tidak ‘mengalami’ dirinya sebagai orang Yunani di Detroit ?</p>
<p style="text-align: left;"><em>Booker prize</em> tidak akan diberikan pada <em>novel</em> <em>Too Kill The Mocking Bird</em> seandainya Harper Lee hanya ‘berandai-andai’ sebagai orang Alabama.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai pembaca, saya sering menemukan tulisan bagus, dan saya tahu penulisnya hanya ‘memikirkan’ namun tidak ‘mengalami’ sendiri tulisannya.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi saya selalu menemukan nilai ‘lebih bagus’ pada tulisan berdasarkan pengalaman.</p>
<p style="text-align: left;">Pena yang tajam hampir pasti bersumber dari mata yang tajam.</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi bersumber dari imajinasi. Imajinasi bersumber dari pengalaman. Lihat bulan, lalu tulislah tentangnya. Kita akan kewalahan menerima serbuan imajinasi, tentang bulan, datang dari segala arah.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkan dengan usaha menulis tentang kuda, atau perahu pinisi, yang informasinya semata dari bacaan &amp; tuturan orang. Hasilnya datar, kering, karena imajinasi kita datang dari sumber sekunder, Dorongan liar berimajinasi tersandera beban ‘takut salah’.</p>
<p style="text-align: left;">Ingat, Dewi Lestari rela ‘mengalami’ jadi anak kost selama 60 hari demi <em>menulis novel</em> <em><strong>Perahu Kertas</strong></em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3. </strong><strong>Membaca dulu, baru menulis</strong></p>
<p style="text-align: left;">Saya curiga, penulis ‘berbakat’ itu lebih banyak membaca ketimbang <em>menulis</em>. Itu perilaku terbaik mereka yang bisa kita contoh. (Kecuali ingin tulisan kita hanya di baca oleh diri kita sendiri).</p>
<p style="text-align: left;">Seperti kata cendekia; sebuah tulisan/buku pada dasarnya –hanya- bercerita tentang buku sebelumnya.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja tidak ada yang menyarankan meniru, atau menghalangi inovasi untuk menciptakan ‘hal baru’ (memang ada hal baru dibawah kolong langit ini ?).</p>
<p style="text-align: left;">Otak ibarat bank data. Bacaan mengisi saldo kita. Menulis butuh modal, yang tentu didebet dari rekening otak.</p>
<p style="text-align: left;">Data-data yang terekam akan menstimulasi imajinasi. Bacaan memperkaya imajinasi, imajinasi memperkaya tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Bacaan memperkaya korelasi, saat otak mampu menjangkau kesalinghubungan antara berbagai hal yang sepertinya tidak.</p>
<p style="text-align: left;">Middle Sex kaya, hanya karena otak Jeffrey Eugenides kaya akan bacaan; Sejarah, medis, psikologi, ekonomi, budaya dan seni.</p>
<p style="text-align: left;">Hmm&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Sepertinya ketiga saran <strong><em>menulis yang baik</em></strong> diatas lebih ditujukan kepada diri saya sendiri <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em><span style="color: #888888;">photo credit : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/davidpike" target="_blank">David Pike</a></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/3-saran-memperkaya-tulisan-fiksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Langkah Mudah Menulis Flash Fiction 100 Kata</title>
		<link>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 12:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Bagian terbaik sekaligus tersulit dilakukan dalam hidup ini adalah berbagi pengetahuan. Sulit karena ada kemungkinan pengetahuan itu hanya berguna bagi saya dan belum tentu cocok bagi orang lain. Selama ini ada teknik yang memudahkan saya setiap kali menulis flash fiction 100 kata. Saya ragu apa teknik tersebut bisa berguna bagi anda ? Maka, dengan sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bagian terbaik sekaligus tersulit dilakukan dalam hidup ini adalah berbagi pengetahuan.</p>
<p style="text-align: left;">Sulit karena ada kemungkinan pengetahuan itu hanya berguna bagi saya dan belum tentu cocok bagi orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini ada teknik yang memudahkan saya setiap kali menulis <strong>flash fiction 100 kata</strong>. Saya ragu apa teknik tersebut bisa berguna bagi anda ?</p>
<p style="text-align: left;">Maka, dengan sedikit rasa pongah, mari kita buktikan keraguan saya itu.</p>
<p style="text-align: left;">Kita mulai dengan membahas contoh kasus <em>fiksi mini</em> :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Sebab Akibat</strong></p>
<p style="text-align: left;">Sontak seluruh penumpang menutup hidung.</p>
<p style="text-align: left;">“ Aaalamaaak.. “</p>
<p style="text-align: left;">“ Tolong, jendelanya dibuka.”</p>
<p style="text-align: left;">“ Tak tahu sopan santun “</p>
<p style="text-align: left;">“ Ayo, mengaku saja.“</p>
<p style="text-align: left;">“ Tanpa suara pula,” kata sopir. “ Itu pasti keluar dari lubang yang teramat longgar.“</p>
<p style="text-align: left;">Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang bersemu merah, mengingat semalam pasangannya kembali ‘<em>lewat belakang’</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sumber</em> ; <a href="http://www.antojournal.com/">www.antojournal.com</a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong><strong style="font-size: 20px; text-align: -webkit-auto;">Syarat Fiksi Terpenuhi</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana menulis <em>flash fiction</em> dengan jumlah maksimal <em>100 kata</em> ?</p>
<p style="text-align: left;">Pertama-tama, kita bahas dahulu apakah ‘<em>Sebab Akibat</em>’ diatas termasuk cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Syarat sebuah <em>cerita fiksi</em> layak dikategorikan <em>flash fiction</em>, sama saja dengan syarat pada karya fiksi yang lebih panjang (<em>cerpen</em>, novelette, <em>novel</em>, &amp; epik). Semua jenis fiksi wajib memiliki; awal, tengah, akhir, dan memuat elemen; karakter, settting, konflik, resolusi</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> diatas <strong><em>diawali</em></strong> sebuah insiden yang menyebabkan orang-orang ditempat kejadian menutup hidung (insiden apa, oleh siapa?).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Pertengahan</em></strong> cerita diisi oleh beragam reaksi orang-orang atas dampak insiden tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita <strong><em>diakhiri</em></strong> oleh sebuah resolusi yang menjawab pertanyaan pembaca diawal cerita; penyebab insiden, pelaku insiden &amp; moral cerita/tema yang ingin disampaikan penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Karakter</em></strong> utama yang disebutkan secara tersurat adalah seorang sopir &amp; seorang penumpang dibelakang sopir (pelaku). Sementara empat karakter figuran lainnya dianonimkan (hanya berupa dialog/umpatan yang menandakan kehadiran karakter bersangkutan).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Setting</em></strong> terjadi diatas bus yang sedang melaju.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Konflik</em></strong> berupa insiden buang angin tanpa suara dari salah seorang penumpang yang tidak teridentifikasi (saling menuduh penumpang vs penumpang).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Resolusinya</em></strong> berupa petunjuk yang memudahkan pembaca menebak siapa gerangan pelaku buang angin, mengapa bisa tanpa suara &amp; pesan cerita yang hendak disampaikan.</p>
<h2><strong>Langkah Penulisan Flash Fiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Berikut ini langkah-langkah penulisan <em>flash fiction</em> maksimal <em>100 kata</em> berdasarkan pengalaman pribadi saya. Adapun mutu contoh flash fiction diatas tidak ada kaitannya dengan kepongahan saya membagi langkah-langkah penulisan ini:</p>
<h3>1. Awali disaat krisis (puncak konflik)</h3>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas dimulai oleh sebuah insiden yang menghasut pembaca. Memantik pertanyaan tentang apa gerangan yang menyebabkan orang-orang menutup hidung.</p>
<p style="text-align: left;">Flash fiction 100 kata tidak menyisakan ruang untuk membuat latar belakang misalnya; <em>Udara gerah. Matahari seolah memanggang bumi.</em> S<em>ebuah bus sedang melaju kencang dijalanan ibukota siang itu. Tiba-tiba suasana dalam bis berubah riuh, ketika seorang penumpang diam-diam buang angin..bla..bla…</em>. Lupakan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Lansung sorot adegan terkuat yaitu, sebuah kejadian yang membuat situasi dalam bus tersebut pantas untuk diceritakan.</p>
<p style="text-align: left;">Awal cerita harus menanam benih-benih konflik. Menutup hidung menandakan adanya bau busuk, yang potensial menimbulkan konflik berbentuk kemarahan, kejengkelan, saling mencurigai sesama penumpang.</p>
<p style="text-align: left;">Awal sedapat mungkin juga lansung menghadirkan karakter &amp; konteks (situasi lingkungan yang sedang dimasuki).</p>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas menyebutkan kata <em>penumpang</em> yang berarti karakter (orang-orang/jamak). Penumpang juga menunjukkan konteks (penumpang lazimnya ada didalam sebuah kendaraan).</p>
<p style="text-align: left;">Cukup dengan 5 kata pada kalimat pertama, kita sudah menunjukkan banyak hal kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa deskripsi berlebihan -pembahasan lengkap hal ini bisa anda baca pada artikel <a href="http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction" target="_blank">Tiga Tahap Menulis Flash Fiction</a>-</p>
<h3>2. <em>Show don’t tell</em></h3>
<p style="text-align: left;">Tunjukkan, jangan katakan.</p>
<p style="text-align: left;">Versi <em>mengatakan</em> dari cerita diatas kurang lebih seperti ini; “ <em>Seluruh penumpang sontak menutup hidung. Tampaknya ada penumpang buang angin dan menyebarkan bau busuk seantero bus. Dua orang penumpang terlihat mual-mual. Seorang penumpang meminta tolong agar jendela dibuka. Mendadak seluruh penumpang merindukan kehadiran udara segar didalam bus. ….bla..bla..</em>.” Hambar.</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu trik <em>menunjukkan</em> adalah memakai dialog yang menayangkan interaksi sesama penumpang. Penulis hanya perlu menayangkan kejadian/adegan. Biarkan pembaca mengalami sendiri situasi yang tengah berlansung.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan pada narasi diakhir cerita, penulis mengganti versi awal kata  ‘tersipu malu’, dengan melukiskan bentuk ‘malu’ dalam realitas, yaitu,‘<em>wajah bersemu merah’</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Mengatakan</em> berarti menggurui pembaca. Kadang penulis menganggap pembaca tidak mampu mengerti jalan cerita jika penulis tidak menjelaskan segala sesuatunya –Silahkan anda baca artikel <a href="http://indonovel.com/show-dont-tell" target="_blank">Show Don’t Tell dalam Flash Fiction</a>-</p>
<h3>3. Ending yang jelas namun sukar ditebak</h3>
<p style="text-align: left;">Flash fiction bukan puisi-prosa, bukan sketsa ide atau potongan cerita. Flash fiction mestilah sebuah cerita utuh, dalam satu jalinan benang merah, dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Akhir yang jelas &amp; tidak mengambang menjadi mutlak adanya.</p>
<p style="text-align: left;">Saya berasumsi pembaca bisa memahami cerita diatas meski tidak satupun kata ‘<em>kentut</em>’, <em>‘bau’</em>, &amp; <em>‘bus’</em>, disebutkan dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hanya jika kata-kata tersebut dicantumkan, maka besar peluangnya ditebak pembaca sejak awal. (<em>Bau – Kentut tanpa suara – Lubang teramat longgar – Kebiasaan ‘lewat belakang’ = Judul’</em>)</p>
<h3>4. Hindari kata keterangan</h3>
<p style="text-align: left;">Keterangan biasanya royal dipakai disetiap akhir dialog seperti; …<em>kata sopir sambil berpikir keras</em>, atau <em>..ujar seorang ibu sambil membuka jendela</em>, atau <em>…keluh seorang penumpang yang merasa mual, </em>atau<em> ..umpat seorang bapak bersungut-sungut.</em>. Anda butuh lebih dari 100 kata untuk menuliskan itu semua,</p>
<p style="text-align: left;">Biarkan pembaca berimajinasi sendiri (pinjam kepala pembaca untuk meletakkan kalimat-kalimat yang berfungsi menerangkan itu).</p>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas memperlihatkan 4 kalimat dialog tanpa menjelaskan siapa karakter yang mengucapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Penyebutan nama karakter tidak penting dalam mendukung cerita diatas (apakah itu si Amir, seorang karyawati, ibu hamil, orang bertopihaji,<em> </em>pengamen, wiraswasta, kenek, penulis, asongan, blogger, dan lain sebagainya).</p>
<p style="text-align: left;">Yang ingin disampaikan hanya tentang suasana riuh dan kejengkelan orang-orang didalam bus. Pembaca tak perlu tahu siapa yang jengkel.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara dua karakter yaitu, <em>sopir</em> dan <em>seorang penumpang dibelakangnya,</em> penting ditonjolkan demi memberikan referensi kepada pembaca tentang latar tempat (Bus).</p>
<p style="text-align: left;">Saya menolak terjebak pada stereotip golongan tertentu yang diasosiasikan gemar ‘<em>lewat belakang’</em>. Perilaku berhubungan badan ‘<em>lewat belakang</em>’ jamak dilakukan siapa saja, &#8211; jadi berhentilah memakai istilah <em>jeruk makan jeruk-</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Makanya saya tidak mencantumkan gender dan atau orientasi seksual (hetero, bi, atau homo).</p>
<p style="text-align: left;">Caranya dengan menganonimkan karaker <em>pelaku</em> lewat kalimat; ‘<em>penumpang yang duduk dibelakang sopir’</em>, Dalam hal ini, interpretasi anda diluar tanggungjawab saya.</p>
<p style="text-align: left;">Terus terang, pada versi awal di blog pribadi, saya tergoda menulis kalimat terakhir seperti ini : <em>“ Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang jurusan <strong>Taman Lawang</strong> bersemu merah ketika semua mata tiba-tiba tertuju kepadanya</em>.”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi sekali lagi, ini soal pilihan.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Tetap Menulis, Tetap Rendah Hati</strong></p>
<p style="text-align: left;">Tidak ada jaminan dua –<em>atau lebih</em>- orang memakai teknik yang sama akan berujung pada hasil yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Temukan <em>Muse</em> anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Teknik diatas bekerja pada saya namun boleh jadi, tidak bagi anda.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca sekalian boleh mengikuti seluruh, sebagian atau tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti saya tegaskan diawal, teknik yang saya pakai ini juga tidak bertanggungjawab pada mutu <strong>flash fiction</strong> yang saya jadikan contoh kasus –termasuk segala <em>flash fiction</em> di blog saya; <a href="http://antojournal.com" target="_blank">antojournal.com</a>-.</p>
<p style="text-align: left;">Tips ini juga tidak punya tendensi menggurui apalagi mengkritisi secara tidak lansung <strong>cerita mini</strong> berlabel <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><strong><em>flash fiction</em></strong></a> yang bertebaran didunia maya.</p>
<p style="text-align: left;">Walaupun banyak fiksi<strong> </strong>didunia maya belum cukup memuaskan selera baca saya, tidak lantas memberi saya hak untuk meremehkan karya <em>fiksi</em> dimaksud.</p>
<p style="text-align: left;">Selalu ingat nasehat Nirwan Dewanto; <em>Setiap tulisan selalu membuktikan mutunya sendiri sebelum dia membuktikan kelemahan tulisan lain</em>.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;"><em>“ Anda harus siap untuk selalu bekerja tanpa tepuk tangan (Ernest Hemingway)”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Tips menulis fiksi</em></strong>, copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Flash Fiction Dalam 3 Langkah Mudah</title>
		<link>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 12:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mini]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Saya telah menulis fiksi mini 100 kata dalam kurun waktu 6 bulan ini, demi mengisi blog personal saya; www.antojournal.com. Tanpa sadar, ternyata selama itu saya mengikuti pola-pola menulis fiksi, cenderung mekanis, serta berjalan alamiah dalam setiap flash fiction yang saya hasilkan. Pola itu bekerja pada saya. Karenanya, besar keinginan saya untuk membaginya kepada pembaca. Saya harap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <strong><em>fiksi mini</em></strong> <em>100 kata</em> dalam kurun waktu 6 bulan ini, demi mengisi blog personal saya; <a href="http://www.antojournal.com/">www.antojournal.com</a>.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa sadar, ternyata selama itu saya mengikuti pola-pola <em>menulis fiksi</em>, cenderung mekanis, serta berjalan alamiah dalam setiap <em>flash fiction</em> yang saya hasilkan.</p>
<p style="text-align: left;">Pola itu bekerja pada saya. Karenanya, besar keinginan saya untuk membaginya kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Saya harap semoga juga bisa bekerja membantu menulis <em>cerita mini</em> anda.</p>
<p style="text-align: left;">Berikut tahapan-tahapannya :</p>
<h2><strong><em>Tahap Perencanaan Flash Fiction</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tahap ini dimulai dikepala, saat sebuah ide terlintas. Ide itu kadang berbentuk humor, satir, sarkasme, pesan moral, fabel, kisah nyata, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Kadang saya dapatkan dari obrolan di kafe, membaca majalah, menonton TV, saat pergi-pulang kerumah, atau bila sedang duduk sendiiri.</p>
<p style="text-align: left;">Kadang-kadang ide itu berupa cerita utuh dari awal sampai akhir. Ide jenis ini seperti harta karun, makanya jarang muncul.</p>
<p style="text-align: left;">Lebih sering ide hanya berupa sketsa gagasan; sebuah pesan moral yang hendak saya sampaikan; atau kritik sosial yang ingin saya suarakan ke publik. Ide seperti ini butuh pengolahan lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> berjudul Iring-Iringan Penguasa adalah contoh yang saya bangun dari sketsa gagasan (<em>silahkan baca flash fiction tersebut sebelum lanjut</em>) :</p>
<p style="text-align: left;">Waktu itu stasiun TV ramai memberitakan arogansi patwal presiden dijalan raya ibukota. Saat bersamaan sebuah kisah tentang Raja Sulaiman muncul dikepala saya (<em>ini adalah buah dari kegemaran membaca sejak kecil</em>);</p>
<p style="text-align: left;">Alkisah Raja Sulaiman sedang berkonvoi bersama balatentaranya, melintasi sebuah jalan dimana sekawanan semut hendak menyeberangi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Raja yang bijak itu memerintahkan pasukannya berhenti sampai kawanan semut itu tiba dengan selamat diseberang jalan.</p>
<p style="text-align: left;">Situasi paradoks dengan tabiat penguasa dizaman sekarang. Korelasi kisah beda zaman inilah yang saya jadikan titik tolak untuk merangkai sebuah <em>flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Yang pertama saya lakukan adalah mereka-reka sebuah kerangka cerita dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Tahap ini mungkin membutuhkan sebuah kertas guna mencatat setiap kemungkinan skenario cerita (<em>sekarang saya cukup melakukannya didalam kepala saja</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Saya ingin membawa kisah kawanan semut itu kezaman modern, dimana mereka hendak menyeberangi jalan ketika rombongan Patwal Presiden sedang melintasi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Apakah semut itu selamat sampai keseberang ?</p>
<p style="text-align: left;">Apakah rombongan presiden itu punya kualitas kebijakan yang sama dengan raja Sulaiman ?</p>
<p style="text-align: left;">itulah akhir sekaligus moral cerita yang hendak saya sampaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya berasumsi kisah ini cukup populer, khususnya dikomunitas Muslim.  Jadi memudahkan pembaca dalam memahami ceritanya.</p>
<p style="text-align: left;">Sampai disini kerangka plot telah jadi, lengkap dengan elemen konflik (<em>semut vs patwal presiden, mahluk kecil vs penguasa</em>), karakter (<em>semut</em>), setting (<em>jalan raya</em>) &amp; resolusi (<em>pesan buat penguasa agar belajar pada kebajikan raja Sulaiman</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Saya juga beranggapan kalau cerita ini akan lebih baik jika diceritakan melalui sudut pandang semut (personifikasi).</p>
<p style="text-align: left;">Namun itu baru bahan mentah untuk melangkah ketahap selanjutnya.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“ Kembangkan ide/tema cerita anda dalam satu kerangka cerita yang utuh dari awal sampai akhir. Cukup satu konflik saja dalam satu cerita. Tetapkan jumlah karakter yang layak hadir  berdasarkan konflik tersebut. Tentukan latar tempat dan waktu terjadinya cerita (setting). “</em></p>
</blockquote>
<h2><em><strong>Tahap Penulisan Flash Fiction</strong></em></h2>
<p style="text-align: left;">Rahasia menulis flash fiction 100 kata ada pada pembukaan. Banyak <em>flash fiction</em> gagal karena penulisnya tergoda memulai kalimat pertama dengan deskripsi, serta narasi berlebihan mengenai latar belakang cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Jangan lakukan itu kecuali anda ingin menulis <a href="http://antojournal.com" target="_blank">cerpen</a> atau novel.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita sebaiknya lansung dimulai dengan konflik yang telah kita tentukan ditahap perencanaan. Supaya lebih ringkas lagi, cerita lansung dimulai disaat krisis (puncak konflik), tepat ditempat (setting) konflik terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Cara ini saya terapkan pada <a href="http://antojournal.com" target="_blank">flash fiction</a> berjudul <em>Iring-iringan Penguasa</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Tema cerita yang membandingkan tabiat penguasa dahulu dengan sekarang menciptakan konflik, berupa perbedaan pendapat diantara semut.</p>
<p style="text-align: left;">Krisis (puncak konflik) terjadi saat kawanan semut hendak menyeberangi jalan sementara suara sirene patwal presiden terdengar semakin dekat (<em>tercipta suspense</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Semut tua memilih untuk menyeberang, karena yakin penguasa sekarang (presiden) sama baiknya dengan Raja Sulaiman. Bahwa rombongan presiden akan berhenti, menunggu sampai kawanan semut tiba diseberang jalan. Semut muda berkeyakinan sebaliknya.</p>
<p style="text-align: left;">Saya lalu menulis pembukaan dalam bentuk dialog semut tua yang beroposisi biner dengan dialog semut muda.</p>
<p style="text-align: left;">Kemudian saya selingi dengan satu baris narasi pendek yang melukiskan situasi mereka hendak menyeberangi jalan disaat bersamaan rombongan presiden juga ingin melintasi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Flash fiction 100 kata</strong> tidak memungkinkan saya untuk menulis pengantar cerita mengenai kenapa semut itu sampai dijalan, apa maksud mereka menyeberangi jalan, berapa jumlah mereka, bagaimana situasi jalan saat itu, cuaca cerah, mendung atau hujan.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak mungkin pula menulis tentang berapa jumlah rombongan presiden, apa kendaraan mereka, dari mana asal mereka dan kemana tujuannya, Selalu berpatokan bahwa ketidakhadiran deskripsi semacam itu tidak akan menggagalkan tujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Pembukaan telah selesai. Pertengahan cerita saya isi dengan satu dialog dari semut tua yang mengambil keputuan untuk tetap menyeberangi jalan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya cuma perlu satu lagi narasi pendek untuk mengakhiri cerita yaitu; rombongan presiden ternyata tidak berhenti dan melindas mati semua kawanan semut.</p>
<p style="text-align: left;">Ending berupa resolusi ini menyampaikan moral cerita kepada pembaca bahwa tabiat penguasa sekarang tidak meneladani Raja Sulaiman yang begitu menyayangi mahluk kecil (rakyat jelata).</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“ Pembukaan cerita harus dimulai disaat krisis (puncak konflik). Konflik bisa dilukiskan dalam bentuk satu baris narasi pendek, atau masing-masing satu dialog/ucapan antara dua pihak. Konflik antar karakter yang berbentuk bentuk dialog, dilukiskan cukup dalam satu atau maksimal dua dialog dari masing-masing karakter dengan tanda petik ( “ ….“ ). Narasi pendek sebaiknya maksimal satu baris diawal, tengah dan akhir, yang menyelingi dialog-dialog antar karakter. Kalimat terakhir, baik berbentuk dialog maupun narasi hendaknya menjadi pengikat cerita secara keseluruhan (resolusi)”</em></p>
</blockquote>
<h2><strong><em>Tahap Pengeditan Flash Fiction</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Menulis di microsoft word memudahkan kita mengetahui jumlah kata yang telah terpakai (<em>coba tengok disudut kiri bawah</em>). Hasil tulisan anda yang lebih dari 100 kata merupakan pertanda supaya mulai mengedit.</p>
<p style="text-align: left;">Rata-rata hasil tulisan saya berlebih sekitar 10-20 kata selama menerapkan teknik diatas. Cara untuk mengetahui kata yang harus dibuang cukup mudah.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti saya kemukakan sebelumnya bahwa, konflik cukup dilukiskan dalam satu atau maksimal dua kali dialog/ucapan antar karakter yang berbeda pendapat.</p>
<p style="text-align: left;">Isi dialog lansung kepokok masalah yang mereka pertentangkan.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog yang sekedar basa basi harus dibuang, contohnya; <em>selamat pagi; apa kabar;  tolong jelaskan maksud anda; baiklah akan saya jelaskan mengapa saya berbeda pendapat denganmu, dsb</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Intinya dialog hanya berisi ucapan-ucapan yang mengarah lansung ketujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Kata lain yang harus dibuang adalah kata keterangan yang biasanya mengikuti akhir dialog; ..<em>kata semut muda dengan nada jengkel; .. teriak semut tua dengan keras; ..kata di fulan sambil bersungut-sungut</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kata <em>jengkel, teriak, dengan keras, bersungut-sungut</em> adalah jenis kata yang hadir tidak menambah, hilang tidak mengurangi.</p>
<p style="text-align: left;">Jika isi dialog anda kuat, maka pembaca bisa merasakan kejengkelan, kemarahan dan alasan si penutur dialog bersungut-sungut, tanpa perlu dituliskan.</p>
<p style="text-align: left;">Jenis kata yang sama kerap pula dijumpai pada narasi, semisal; <em>..mata mereka melihat; dia mendengar dengan telinganya sendiri; patwal presiden itu melaju diatas jalan raya yang mulus</em>. (Anda tentu tahu kata mana yang harus ditendang keluar dari cerita).</p>
<p style="text-align: left;">Kadang-kadang juga kita hanya perlu mengganti kalimat yang panjang dengan satu kata bermakna rangkap, contohnya; … <em>pencuri itu melangkah diam-diam dan hati-hati agar tidak ketahuan sipemilik rumah</em>, diganti dengan <em>.pencuri itu mengendap-endap</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Coba terapkan tips ini dan temukan betapa jumlah kata berkurang signfikan tanpa merubah jalan cerita.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“isi dialog sebaiknya lansung kepokok permasalahan, tanpa basa-basi. Hati-hati dengan kata keterangan yang mengikuti setiap akhir dialog. Buang setiap kalimat pada narasi yang sifatnya menjelaskan apa yang sebenarnya sudah jelas.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Satu teknik menulis umumnya hanya cocok bagi satu sudut pandang penceritaan.</p>
<p style="text-align: left;">Silahkan cari teknik yang sesuai bila anda mencoba menceritakan kisah dari sudut pandang berbeda.</p>
<p style="text-align: left;">Namun substansi tips diatas rata-rata membantu saya untuk menulis <em>flash fiction</em> dari sudut pandang apa saja.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja dengan sedikit penyesuaian praktis yang bersifat kasuistis.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menganjurkan agar anda senantiasa luwes dan berani mengeksplorasi seluas-luasnya teknik bercerita anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Bagus tidaknya cerita tergantung pada gaya bahasa dan kekuatan tema, bukan pada sedikit banyaknya jumlah kata yang dipakai.</p>
<p style="text-align: left;">Mari menulis <strong><a href="http://antojournal.com" target="_blank">fiksi mini</a> 100 kata</strong> (<em>flash fiction</em><em>)</em>, sekarang juga.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by <a href="http://twitter.com/daeng_anto" target="_blank"><strong>Rusdianto</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

