<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; flash fiction</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/flash-fiction/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 02:48:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Cepat &amp; Praktis (5 Sumber Ide Menulis Flash Fiction)</title>
		<link>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Dari mana-mana. Demikian jawaban yang kerap kita terima dari penulis senior untuk pertanyaan “ darimana ide tulisan datang ?” Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh Pallu Basa terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’. Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual Pallu Basa terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1219" class="wp-caption alignright" style="width: 370px"><img class="size-full wp-image-1219" title="kafe penulis" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/07/kafe-penulis.jpg" alt="cari mencari ide tulisan" width="360" height="270" /><p class="wp-caption-text">kafe tempat mencari ide tulisan</p></div>
<p style="text-align: left;">Dari mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian jawaban yang kerap kita terima dari <em>penulis</em> senior untuk pertanyaan “ darimana <em>ide tulisan</em> datang ?”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh <em>Pallu Basa</em> terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’.</p>
<p style="text-align: left;">Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual <em>Pallu Basa</em> terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, 77 km<sup>2</sup>, bukan ? (sabar, saya akan memberikan alamat penjualnya diakhir postingan ini <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><em>Belum ketemu</em> <em>ide</em> lazim menjadi motif pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kerap menjumpai pernyataan seperti itu. Termasuk dari diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan itu bermakna ganda. Kita tidak tahu tempat untuk menemukan ide atau, tahu tapi belum kesana ?</p>
<p style="text-align: left;">Masalah menjadi lebih rumit lagi bagi yang meyakini ide itu diciptakan, alih-alih ditemukan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada waktu kita memerlukan sumber pasti untuk menemukan ide dengan cepat. Mereka yang getol ikut lomba menulis tentu paham urgensinya.</p>
<p style="text-align: left;">Atau dilain waktu, dorongan menulis demikian kuat namun kita bingung hendak menulis apa?</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun, ide adalah modal dasar dari menulis (dan segala sesuatu).</p>
<p style="text-align: left;">Kita butuh ‘tempat-tempat’ pasti untuk didatangi saat membutuhkan ide. Tempat yang hampir selalu menyediakan ide buat kita. Tempat yang tidak pernah berkata ‘tidak ada’ untuk ide yang kita cari.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi dimana ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya tempat-tempat khusus semacam itu.</p>
<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <em>flash fiction 100</em> kata sejak Maret 2010. Kadang-kadang ide tulisan hinggap begitu saja, seperti Newton kejatuhan buah apel. Kadang-kadang saya ‘menciptakannya’ lewat brainstorming.</p>
<p style="text-align: left;">Apel jatuh termasuk langka.</p>
<p style="text-align: left;">Brainstorming juga membutuhkan energi dan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, disaat saya paceklik ide, saya punya tujuan pasti untuk didatangi.</p>
<p style="text-align: left;">Anda berminat ? Ini alamatnya:</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Kitab-Kitab Agama</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama (samawi atau bukan) menyediakan ide tak terbatas.</p>
<p style="text-align: left;">Keuntungannya, anda tak perlu bersusah payah mencari moral cerita -unsur yang mutlak hadir dalam sebuah cerita-,</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir kitab-kitab agama memang ditulis dalam rangka itu.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa cepat ?</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama banyak mengisahkan cerita yang lengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Unsur-unsur pembangun cerita seperti <em>plot</em>, <em>karakter</em>, <em>konflik</em>, <em>setting</em> &amp; <em>resolusi</em> telah tersedia dalam kisah-kisah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak menganjurkan anda menyalin penuh. Tapi anda hanya perlu sedikit waktu dan kreatifitas untuk memodifikasinya.</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ganti latar masa lalu dengan masa kini.</li>
<li>Ubah alur maju menjadi <em>flashback (dan sebaliknya)</em>.</li>
<li>Ubah sumber konflik. Misal sumber konflik adalah patung berhala, menggantinya dengan mobil, rumah atau harta benda yang berpotensi sama -untuk menjadi berhala-.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Penting diingat bahwa ada pakem yang mesti diindahkan bila kitab-kitab agama menjadi rujukan.</p>
<p style="text-align: left;">Agama sangat sensitif bagi -hampir- kita semua.</p>
<p style="text-align: left;">Sebaiknya berhati-hati menyebut nama karakter dan istilah-istilah resmi dalam institusi agama bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, naskah akhir anda tidak dalam rangka menafsirkan ulang moral cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam agama tertentu, moral kisah bersifat permanen. Yang kita lakukan hanya menyampaikan kembali moral kedalam bahasa yang lebih kini.</p>
<p style="text-align: left;">Perilaku ini mirip dengan praktik Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa melalui media kesenian lokal.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh <em>flash fiction</em> saya yang idenya bersumber dari kitab agama adalah <strong><em><a href="http://antojournal.com/fiksi-mini-100-kata-iring-iringan-presiden/" target="_blank">Iring-iringan Presiden</a></em></strong>. Silahkan baca.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Folkfore dan Dongeng</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Metodenya sama persis dengan poin satu diatas. Anda hanya butuh usaha sedikit keras untuk menemukan sumber-sumber cerita yang orisinil.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak folkfore atau dongeng yang belum dipublikasikan secara tertulis.</p>
<p style="text-align: left;">Kakek nenek kita adalah rujukan terbaik. Anda cukup menangkap <strong>plot</strong> dan <strong>moral ceritanya</strong>, selebihnya akan diurus oleh kreatifitas alami anda sebagai penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-gali-lubang-tutup-lubang/" target="_blank">Gali Lubang Tutup Lubang</a></strong> contoh <em>flash fiction</em> yang saya adaptasi dari folkfore.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Lirik Lagu</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Banyak lirik lagu dilatarbelakangi kisah utuh. Liriknya mengandung unsur-unsur pembangun cerita seperti karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p style="text-align: left;">Penekanannya, sekali lagi adalah kehadiran moral cerita. Lirik lagu yang tidak mengandung pesan yang kuat tidak termasuk dalam kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh; <em>Living on the jet plane</em> punya Jhon Denver; <em>Last Kiss</em> dari Pearl Jam; dan tentu saja <em><strong><a href="http://antojournal.com/message-in-a-bottle-fiksi-mini-100-kata/" target="_blank">Message In The Bottle </a></strong></em>karya musisi favorit saya, Sting. Saya menulis satu <em>flash fiction</em> dengan judul yang sama dengan lagu itu. Silahkan cermati.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Fiksi Lama</strong></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Setiap tulisan hanya menceritakan tulisan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kutipan diatas ada benarnya. Tapi mereka yang gegabah mengartikannya secara harfiah punya istilah yang lebih tepat, yaitu plagiat (<em>DodolPreeetDodolPreeet !</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Mereproduksi karya lama punya kelebihan tersendiri. Apalagi karya legendaris.</p>
<p style="text-align: left;">Selain numpang ngetop, penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan latar belakang cerita. Pembaca telah punya bayangan atas cerita dimaksud  Hal ini tentu saja menguntungkan bagi penulis flash fiction yang dibatasi oleh kuota maksimal <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Disini anda hanya perlu memodifikasi. Bahkan penafsiran ulang atas cerita itu sah-sah saja.</p>
<p style="text-align: left;">‘Manipulasi’ pengetahuan pembaca atas cerita bersangkutan dengan cara; Memutarbalikkan plot, mereposisi karakter (antagonis menjadi protagonis) dan atau merevisi ending cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya contoh <em>flash fiction</em> untuk kasus ini. silahkan anda membaca <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-gadis-penjual-korek-api/" target="_blank">Gadis Penjual Korek Api</a></strong> dan <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">For Sale; Baby shoes. Never worn</a></strong>.</p>
<h2><strong>5. </strong><strong>Humor Warung Kopi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya punya kebiasaan berkumpul dengan teman-teman diwarung kopi saat senja.</p>
<p style="text-align: left;">Lelucon &amp; anekdot dari obrolan warung kopi banyak menyuplai gagasan untuk flash fiction saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kasus anda, warung kopi boleh berganti kafe, kampus, klub, pos ronda atau rumah tetangga.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap orang mestinya punya pengalaman lucu. Kita perlu <strong><em>prihatin</em></strong> dengan siapa saja yang menjalani hidupnya terlalu serius – <em>bandingkan Gus Dur dengan presiden yang sekarang</em>&#8211;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira jarang ada teman anda yang tidak punya simpanan cerita lucu dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu menggalinya dengan memancing pembicaraan. Mereka dengan senang hati akan membagikannya kepada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kapan waktu anda boleh heran mengetahui, betapa manusia sangat bahagia saat menertawakan dirinya sendiri ?</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menggemari<a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank"> <em>flash fiction</em> </a>bertema humor. Namun saya membatasi humor berdasarkan pengalaman pribadi si penutur saja. Humor-humor kutipan, populer dan klise, tidak termasuk dalam kasus ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/fiksi-mini-100-kata-bayar-dobel/" target="_blank">Bayar Dobel</a></strong> satu dari banyak <em>flash fiction</em> saya yang bersumber dari humor warung kopi. Silahkan disimak.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengatakan 5 sumber diatas <strong><em>cara cepat &amp; praktis menemukan ide menulis flash fiction</em></strong>, oleh sebab segala unsur pembangun cerita umumnya telah disediakan oleh sumber dimaksud, yaitu; <em>plot</em>, <em>karakter</em>,<em> setting</em>, <em>konflik</em> dan <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Boleh dikata kita hanya perlu menuliskannya kembali.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Apakah anda masih penasaran dengan <em>Pallu Basa</em> paling enak di Kota Makassar ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya merekomendasikan warung <em>Pallu Basa</em> yang berlokasi di sudut Jl. Onta – Jl. Veteran Utara.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tahu, lidah tak pernah bohong.</p>
<p style="text-align: left;"><em><span style="color: #888888;">photo credits : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/sunlitrain" target="_blank">Sunlitrain</a></span></em></p>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilat Flash Fiction (Dari A Sampai Z)</title>
		<link>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/</link>
		<comments>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 04:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Istilah fiksi mini 100 kata (flash fiction) merupakan kategori fiksi yang tergolong ‘baru’ di tanah air. Meski tidak benar-benar baru ditemukan. Internetlah yang berjasa menampakkannya ke permukaan. Media online yang kemudian memberikannya tempat. Kita tahu, media cetak sejenis koran dan majalah cenderung ‘diskriminatif’ terhadap kategori fiksi dibawah 100 kata. Sekarang ini flash fiction tengah mencuri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1229" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-1229" title="flash fiction" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/06/flash-fiction.jpg" alt="panduan lengkap menulis flash fiction" width="250" height="340" /><p class="wp-caption-text">Ringkas, gegas, tuntas.</p></div>
<p style="text-align: left;">Istilah <em>fiksi mini 100 kata</em> (<strong>flash fiction</strong>) merupakan kategori fiksi yang tergolong ‘baru’ di tanah air.</p>
<p style="text-align: left;">Meski tidak benar-benar baru ditemukan.</p>
<p>Internetlah yang berjasa menampakkannya ke permukaan. Media online yang kemudian memberikannya tempat.</p>
<p>Kita tahu, media cetak sejenis koran dan majalah cenderung ‘diskriminatif’ terhadap kategori fiksi dibawah 100 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Sekarang ini <em>flash fiction</em> tengah mencuri perhatian netizen. Baik pembaca maupun <em>penulis fiksi.</em></p>
<p style="text-align: left;">Tingginya minat pembaca juga dapat dilihat oleh semakin banyaknya lomba menulis flash fiction bersponsor (silahkan anda googling frase ‘lomba flash fiction’).</p>
<p style="text-align: left;">Pihak sponsor tentu melihat tingginya prospek jumlah pembaca flash fiction.</p>
<p style="text-align: left;">Dari segi isi, <em>fiksi</em> ini tak ada bedanya dengan fiksi pendek atau panjang pada umumnya. Kecuali ukurannya yang telah diminiaturisasi.</p>
<p style="text-align: left;">Ibarat pohon yang dibonsai, flash fiction tetap memiliki akar, batang, dahan dan daun.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> berciri gegas, ringkas namun tetap tuntas sebagai sebuah cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Karakteristik tulisan yang dianggap cocok bagi tipikal pembaca media online yang ingin serba cepat-instan.</p>
<p style="text-align: left;">Blog ini sudah menerbitkan belasan artikel mengenai <em>flash fiction</em>. Namun tak ada salahnya jika saya -sekali lagi- menyajikan intisarinya dalam satu artikel rangkuman.</p>
<p style="text-align: left;">Saya akan membawa anda kembali  menemukenali <em>flash fiction</em> secara sistematis, ringkas, namun tuntas dalam satu pembahasan. Ibarat kata, dari A sampai Z (harfiah, tentu saja).</p>
<p style="text-align: left;">Nah, mari kita mulai.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>A</strong></h3>
<p style="text-align: left;"><strong></strong>asal muasal <em>flash fiction</em> dapat ditemui akarnya pada fabel-fabel Aesop.</p>
<p style="text-align: left;">Sejarah sesudahnya juga merekam penulis dunia seperti Anton Chekov dan Ernest Hemingway pernah menulis fiksi mini.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tentu ingat dengan fiksi 6 kata Hemingaway; <em>For Sale; Babys shoes, Never worn</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kini tradisi fiksi mini telah berkembang ke seluruh dunia, meski istilahnya beragam, seperti; <em>sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction</em>, dan <em>short short story</em>.</p>
<h3><strong>B</strong></h3>
<p><strong></strong>babak. dalam flash fiction sama saja dengan cerita pada kategori fiksi panjang. Flash fiction wajib terdiri dari babak awal, tengah dan akhir.</p>
<p>Flash fiction bukan potongan cerita atau kepingan adegan dari sebuah cerita besar.</p>
<h3>C</h3>
<p><strong>C</strong>erita utuh. <em>Flash fiction </em>bukan puisi, potongan prosa atau ringkasan ide. Selain lengkap dalam pembabakan cerita, flash fiction juga wajib menghadirkan 4 unsur pembangun <em>fiksi</em>, yaitu; Karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p>Semua unsur wajib hadir dan tuntas dalam 100 kata. Cerita tidak diperkenankan mengambang/bersambung.</p>
<h3>D</h3>
<p><strong>D</strong>eskripsi sedapat mungkin dihindari saat menulis flash fiction.</p>
<p>Deskripsi yang umum dalam fiksi panjang seperti karakter atau latar (waktu dan tempat), tidak punya ruang dalam cerita 100 kata.</p>
<p>Pengalaman saya menunjukkan bahwa adegan/aksi dan dialog menjadi pilihan terbaik untuk menuntaskan cerita dalam 100 kata.</p>
<h3>E</h3>
<p><strong>E</strong>nding yang mengejutkan masih menjadi trend <em>flash fiction</em> saat ini. Meski tidak wajib seperti itu.</p>
<p>Paling tidak ending memiliki fungsi ‘pengingat’ yang akan membekas dalam benak pembaca.</p>
<p>Fungsi utama ending adalah menuntaskan cerita. Kadang berupa moral cerita, kesimpulan, atau resolusi atas tema konflik.</p>
<h3>F</h3>
<p><strong>F</strong>lash fiction adalah <strong>fiksi mini 100 kata</strong>. Substansi dari kategori ini sebenarnya lebih kepada tantangan menulis cerita utuh dengan jumlah kata terbatas.</p>
<p>Semakin sedikit jumlah kata, semakin mengasah kemampuan kita untuk menulis kalimat-kalimat efektif.</p>
<h3><strong>G</strong></h3>
<p><strong>G</strong>aris besar cerita dalam flash fiction terdiri dari 3 babak. Awal-tengah-akhir.</p>
<p>Buatlah pembukaan yang lansung menukik pada krisis/puncak aksi/konflik. Isi pertengahan dengan adegan dan dialog, lalu akhiri dengan <em>twist ending</em>.</p>
<h3><strong>H</strong></h3>
<p><strong>H</strong>ikmah yang ditarik dari cerita menjadi salah satu bukti kalau flash fiction merupakan cerita yang utuh.</p>
<p>Sebuah potongan cerita tentu tidak menghasilkan hikmah.</p>
<p>Sekarang ini banyak flash fiction yang kadang menyaru cerita humor seperti yang lazim ditemui pada koran atau majalah.</p>
<p>Flash fiction boleh bertema humor, namun tidak boleh kehilangan cita rasanya sebagai seni bahasa. Ramu tema humor itu hingga pembaca, tanpa sadar mendapat ‘moral’ ‘pencerahan’ setelah dia puas tertawa.</p>
<h3>I</h3>
<p><strong>I</strong>de flash fiction bisa datang dari mana saja.</p>
<p>Ide terbaik menurut pengalaman saya, umumnya diawali dari keinginan untuk menyampaikan pesan, moral cerita kepada pembaca. Keiniginan itu dipicu setelah menyaksikan fenomena keseharian, termasuk memirsa berita-berita media massa.</p>
<p>Bila ide ceritanya sarat pesan, maka kemungkinan ide itu layak untuk dikembangkan menjadi cerita.</p>
<h3>J</h3>
<p><strong>J</strong>udul termasuk bagian penting dalam flash fiction. Karena keterbatasan kata, maka penulis bisa memanfaatkan judul untuk memberi ‘<em>clue</em>’ kepada pembaca.</p>
<p>Judul tidak sekedar menarik pembaca. Dengan judul kita bisa menghindari narasi pembukaan. Pembaca memperoleh ‘<em>clue</em>’ mengenai latar belakang cerita melalu judul, tentang apa dan bagaimana isi cerita.</p>
<h3>K</h3>
<p><strong>K</strong>arakter  mutlak hadir dalam <em>flash fiction</em>. Tentu saja, mustahil mendeskripsikan fisik dan psikis karakter dalam 100 kata.</p>
<p>Demi mensiasatinya, kita bisa menumpangkan karakterisasi tokoh kedalam dialog, adegan, nama profesi, atau setting.</p>
<p>Sila baca artikel <a href="http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction" target="_blank"><strong>4 Tips menampilkan Karakter dalam Flash fiction</strong></a></p>
<h3>L</h3>
<p><strong>L</strong>atihan menulis flash fiction bisa dimulai dengan mengadaptasi cerpen 1.000 kata kedalam 100 kata saja.</p>
<p>Menulis flash fiction memang susah bagi yang terbiasa menulis panjang.</p>
<p>Berlatihlah membuang semua kata-kata yang tidak perlu.</p>
<h3>M</h3>
<p><strong>M</strong>aksimalisasi fungsi kata untuk menyiasati keterbatasan kata.</p>
<p>Utamakan diksi yang bermakna ganda dan konotatif (punya tekanan emosional tertentu).</p>
<h3> N</h3>
<p><strong>N</strong>arasi dalam <em>flash fiction</em> diperlakukan layaknya wesel ditangan anak kost,</p>
<p>Pemakaian narasi yang terbaik –menurut pengalaman saya- sebatas transisi antar adegan (satu kalimat kurang lebih 10 kata, baik sebelum atau sesudahnya).</p>
<h3>O</h3>
<p><strong>O</strong>pening kunci utama <em>flash fiction</em>. Tidak ada pembukaan yang bertele-tele, atau datar.</p>
<p>Pembukaan lansung dimulai oleh krisis (puncak aksi/konflik). Hindari godaan menulis latar belakang cerita.</p>
<h3> <strong>P</strong></h3>
<p><strong>P</strong>lot mengalir lancar, sederhana, dan mustahil sekompleks <em>novel</em>.</p>
<p>Flash fiction hanya berkisah tentang satu tema, tempat dalam satu waktu (menit, jam, hari).</p>
<h3>Q</h3>
<p><strong>Q</strong>uality flash fiction ada pada ide/gagasan cerita yang orisinil, baru dan sarat pesan/moral cerita.</p>
<p>Flash ficton yang hanya membuat pembacanya tertawa (humor), tanpa menarik hikmah dari cerita, sama sekali bukan tujuan kita.</p>
<h3>R</h3>
<p><strong>R</strong>esolusi. Sebagai cerita, flash fiction harus memberikan resolusi cerita yang jelas.</p>
<p>Cerita jangan berakhir mengambang.</p>
<p>Resolusi berarti karakter dalam cerita mendapat ‘perubahan’ setelah mengalami konflik.</p>
<h3>S</h3>
<p><strong>S</strong>etting wajib hadir dalam flash fiction. Namun tidak mungkin mendeskripsikan detil-detil latar (tempat, waktu atau sosial) dalam 100 kata.</p>
<p>Triknya yaitu menumpangkannya pada karakter.</p>
<p>Contohnya, bila kita menamai karakternya dengan ‘si koki’ atau ‘pak guru’, dalam adegan sedang bekerja, maka tidak perlu lagi menjelaskan latar  ‘dapur’ atau ‘ruang kelas’.</p>
<p>Pembahasan lengkapnya ada pada artikel <strong><a href="http://indonovel.com/setting-dalam-flash-fiction" target="_blank">Setting Dalam Flash Fiction</a></strong></p>
<h3>T</h3>
<p><strong>T</strong>empo cepat dianjurkan dalam menulis flash fiction. Tempo sedang, apalagi lambat sulit diterapkan sebab boros kata-kata.</p>
<p>Tempo cepat memudahkan kita memangkas kalimat-kalimat yang tidak penting.</p>
<h3>U</h3>
<p><strong>U</strong>nsur-unsur yang wajib hadir dalam <em>fiksi mini 100 kata</em> ada 4, yaitu; karakter, konflik, setting dan resolusi.</p>
<h3> V</h3>
<p><strong>V</strong>isualisasikan cerita memakai teknik <em>show don’t tell</em>.</p>
<p>Cara termudah menerapkan teknik ini dengan meniadakan deskripsi. Biasakan memakai kalimat aktif berpola S-P-O (kata kerja aktif ditandai oleh awalan <em>me)</em>.</p>
<p>Buatlah cerita yang padat adegan dan dialog.</p>
<h3> W</h3>
<p><strong>W</strong>iracerita sepanjang <em>Lord Of The Ring</em> karya Tolkien memiliki elemen pembangun yang sama dengan <em>flash fiction</em>, bahkan dengan <em>tweetfiction</em> (fiksi mini 140 karakter).</p>
<p>Elemen dimaksud adalah pembabakan; awal-tengah-akhir, serta hadirnya unsur; karakter, konflik, setting dan resolusi dalam cerita.</p>
<p>Itulah substansi cerita fiksi, baik kategori fiksi panjang maupun pendek.</p>
<h3> X</h3>
<p><strong>X</strong> adalah huruf yang menggambarkan struktur alur cerita flash fiction.</p>
<p>Padanan lain bentuk ini adalah jam pasir. A</p>
<p>Awal cerita berupa krisis merupakan hal terpenting, sama pentingnya dengan ending yang memuat resolusi serta menuntaskan cerita. Sedangkan bagian tengah dibuat seramping mungkin, hanya berisi adegan dan dialog.</p>
<p>Kikis habis lemak berbentuk deskripsi dan narasi pada bagian tengah.</p>
<h3> Y</h3>
<p><strong>Y</strong>akin pada<strong> </strong>torehan kalimat pertama anda. Jangan mengedit saat menulis draft pertama.</p>
<p>Torehan pertama adalah suara alami anda. Pada saat mengedit, anda bisa menghilangkan sebagian atau seluruh kata dalam kalimat-kalimat tertentu. Atau anda mungkin merubah susunan kata atau pola kalimat. Namun ruh cerita tetap hadir disana, yang berasal dari torehan pertama anda.</p>
<p>Jadi yakinlah pada kata-kata pertama anda sendiri.</p>
<h3>Z</h3>
<p><strong>Z</strong>enit, kulminasi, titik puncak aksi <strong><em>flash fiction</em></strong> sebaiknya ditempatkan pada bagian pembukaan. Mengenai ini, ada sebanyak 40 <strong>contoh flash fiction</strong> bisa anda baca di <strong><a href="http://antojournal.com" target="_blank">blog flash fiction</a></strong> saya. Silahkan.</p>
<p><span style="text-align: left;">Apa anda punya tanggapan atas artikel ini ? Saya berharap tidak sepanjang A &#8211; Z <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </span></p>
<p>Apapun itu, dengan senang hati saya akan mendiskusikannnya bersama anda pada kolom komentar dibawah ini.</p>
<p style="text-align: left;"><em><span style="color: #888888;">photo credits : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/traumteufel666" target="_blank">Traum Teufel 666</a></span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Menulis Flash Fiction Dalam Sekejap</title>
		<link>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/</link>
		<comments>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 09:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis fiksi mini 100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[Flash fiction. Percaya atau tidak, anda bisa membuatnya dalam sekejap tanpa mengorbankan mutu. Ada teknik menulis rahasia yang memungkinkan hal itu terjadi. Saya menulis artikel ini sesaat setelah menyelesaikan satu –lagi- flash fiction berjudul &#8216;Munafik&#8217;. Saya menghitung waktu penulisannya kurang dari 15 menit (relatif). Prosesnya terasa mudah karena teknik menulis fiksi yang hendak saya bagikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong style="text-align: -webkit-auto;"><em>Flash fiction</em></strong>. Percaya atau tidak, anda bisa membuatnya dalam sekejap tanpa mengorbankan mutu.</p>
<div id="attachment_1231" class="wp-caption alignright" style="width: 385px"><img class="size-full wp-image-1231" title="penulis flash fiction" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/06/penulis-flash-fiction.jpg" alt="cara menulis fiksi 100 kata, tips menulis flash fiction" width="375" height="250" /><p class="wp-caption-text">Sulitkah menulis cerita fiksi dalam 100 kata ?</p></div>
<p style="text-align: left;">Ada teknik menulis rahasia yang memungkinkan hal itu terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menulis artikel ini sesaat setelah menyelesaikan satu –lagi- <em>flash fiction</em> berjudul &#8216;Munafik&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menghitung waktu penulisannya kurang dari 15 menit (relatif).</p>
<p style="text-align: left;">Prosesnya terasa mudah karena teknik menulis fiksi yang hendak saya bagikan ini bekerja membantu saya.</p>
<p style="text-align: left;">Tekniknya sederhana saja, praktis, dan siapa saja bisa menerapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Teknik ini pada dasarnya berfungsi memetakan pikiran, sehingga mengirit waktu.</p>
<p style="text-align: left;">Pemetaan membantu kita terfokus. Tanpa fokus yang jelas (tujuan akhir yang ingin dicapai), seorang penulis rawan tersesat dalam labirin cerita tak berkesudahan.</p>
<p style="text-align: left;">Nah, ini dia rahasianya.</p>
<h2><strong>Tentukan Ide</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Pertama-tama, saya mengasumsikan anda telah memiliki satu ide cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk lebih memudahkan, saya akan mengambil satu contoh ide, yaitu  pro kontra video porno artis yang menghebohkan tahun lalu (anda yakin belum pernah menontonnya ?).</p>
<h2><strong>Buat Kalimat Inti</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Buatlah satu kalimat kurang lebih 10 kata dari ide tersebut yang menggambarkan alur cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>Fulan ingin membuktikan kemunafikan temannya yang mengaku kontra video porno.</em></p>
<h2><strong>Buat Kalimat Inti Setiap Babak</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Retas kalimat diatas menjadi 3 kalimat. Masing-masing kalimat menjadi ide pokok bagi setiap babak; awal, tengah, dan akhir cerita</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Awal</strong> : <em>Fulan bersama temannya (seorang pengacara kondang) menonton video porno artis, sehari sebelum temannya mengiikut acara debat di TV mengenai kasus video tersebut.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Tengah</strong> : <em>Temannya mengaku tidak teransang menonton video porno, namun tersinggung saat si fulan menuduhnya tidak normal</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Akhir</strong> :  <em>Temannya menunjukkan ereksi alat kelaminnya setelah memutar ulang video, sekaligus (tanpa sadar) membuktikan kemunafikannya sendiri.</em></p>
<h2><strong>Tulis Naskah Awal</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kembangkan ketiga kalimat diatas dalam bentuk adegan dan dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh hasilnya seperti ini :</p>
<p style="text-align: left;"><em>Temannya yang pengacara kondang mengajak si fulan menonton bokep. Video porno yang diperankan artis terkenal itu memang sedang hangat dibicarakan publik. Setelah video itu ditonton, temannya buru-buru menutup laptop. Padahal si fulan baru saja berniat memindahkannya ke flashdisk.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Videonya akan saya hapus setelah ini.” kata temannya. Sikapnya yang kontra terhadap video porno seolah ditegaskan oleh mimik wajahnya.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Koq, kamu tidak suka ?” fulan melirik ke arah temannya, Wajahnya seolah tidak percaya. “ Omong-omong, kemaluanmu berdiri tidak, saat tadi menonton bokep ?”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Tidak,” jawab temannya dengan tegas. “ Saya hanya ingin mempelajari bukti kasus ini. Biar argumen saya kuat dalam acara debat di TV besok malam”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Aku curiga kamu bukan lelaki normal,” tuduh fulan sambil tersenyum sinis.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Congormu.” Balas temannya dengan sengit, Dia terlihat sangat marah. Laptop dihadapan mereka dibuka kembali oleh temannya. Kemudian rekaman video itu diputar ulang sekali lagi.. Tampak jelas temannya ingin membuktikan kalau tuduhan si Fulan tidak benar adanya.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Lihat ini,” seru temannya sembari menunjuk ke arah tonjolan dari dalam resluiting celananya. “ alat vitalku berdiri, bukan?”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>si fulan tersenyum puas.“ Aku sengaja menuduhmu. Aku hanya ingin tahu niat kamu yang sebenarnya menonton bokep. Sekedar bahan ikut debat, atau memang karena doyan.”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Temannya sadar telah ditipu si fulan. Mukanya terlihat malu, seperti maling yang tertangkap basah.</em></p>
<h2><strong>Edit Dengan Kejam</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Adegan dan dialog pada draft diatas masih bertele-tele. Alur ceritanya kurang hidup. Ceritanya tersusun oleh 215 kata, pertanda kita masih harus membuang 115 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana caranya ? :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang deskripsi dan narasi</strong> yang tidak berkontribusi memajukan jalan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Membuangnya tidak akan mengurangi kejelasan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya adalah kalimat; <em>Video porno yang diperankan artis terkenal itu memang sedang hangat dibicarakan publik.</em> Dan; <em>Temannya sadar telah ditipu fulan, tampak jelas dia malu seperti maling yang tertangkap basah.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><strong>Ganti kalimat dan kata umum</strong> dengan sinonimnya atau kata yang bermakna sama tapi mengandung tekanan emosional tertentu.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>kemaluanmu berdiri</em> berubah menjadi <em>ereksi -</em> ..<em>bukan lelaki normal</em> berubah menjadi ..<em>bermasalah</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pakai kalimat aktif, bukan pasif.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Contoh kata kerja pasif; <em>Dibuka, Diputar</em>, kita ubah menjadi; <em>Membuka, Memutar</em>. Otomatis pola kalimatnya ikut berubah menjadi S-P-O; <em>Temannya membuka laptop, …memutar ulang video porno itu</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Selain menghemat kata,  adegannya juga ‘lebih hidup’</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang kalimat yang berfungsi menerangkan</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya;  <em>Dia</em> <em>terlihat sangat marah. .. sambil tersenyum sinis</em>. Umumnya kalimat semacam itu mengandung kata sifat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang kalimat mubazir</strong> yang mengikuti dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>“ jawab temannya dengan tegas..”</em>, <em>“ seru temannya sembari..’’</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Meski terdengar sederhana, lebih efektif bila kita memakai  “ <em>..kata fulan”</em> atau “<em>..kata temannya’</em>.</p>
<h2><strong>Edit Sekali Lagi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Hitung jumlah kata sekali lagi.</p>
<p style="text-align: left;">Masih lebih <em>100 kata</em> ?</p>
<p style="text-align: left;">Ulangi pengeditan seperti pada nomor 5 (kemungkinan besar anda belum maksimal melakukannya).</p>
<p style="text-align: left;">Jadilah algojo bagi tulisan anda sendiri.</p>
<h2><strong>Tentukan Judul</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Terakhir, berikan judul sebagai petunjuk. Judul yang memancing penasaran, namun tetap  menyamarkan akhir dari cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hindari menipu pembaca dengan judul-judul bombastis.</p>
<p style="text-align: left;">Saya harap  teknik diatas bisa mempermudah anda <em>menulis flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Segala tanggapan sila anda tambahkan pada kolom komentar dibawah.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai pelengkap, anda bisa membaca kembali sejumlah <strong><em>tips menulis flash fiction</em></strong> yang terangkum dalam : <strong><a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank">11 seri tips menulis flash fiction 100 kata</a> (Lengkap)</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Hasil akhir dari contoh <em>fiksi mini </em>100 kata diatas baru saja saya posting di <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-100-kata-munafik/" target="_blank">antojournal.com</a>.</strong></p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #888888;"><em>photo credit : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/yourdon" target="_blank">Your Don</a></em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Langkah Mudah Menulis Flash Fiction 100 Kata</title>
		<link>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 12:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Bagian terbaik sekaligus tersulit dilakukan dalam hidup ini adalah berbagi pengetahuan. Sulit karena ada kemungkinan pengetahuan itu hanya berguna bagi saya dan belum tentu cocok bagi orang lain. Selama ini ada teknik yang memudahkan saya setiap kali menulis flash fiction 100 kata. Saya ragu apa teknik tersebut bisa berguna bagi anda ? Maka, dengan sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Bagian terbaik sekaligus tersulit dilakukan dalam hidup ini adalah berbagi pengetahuan.</p>
<p style="text-align: left;">Sulit karena ada kemungkinan pengetahuan itu hanya berguna bagi saya dan belum tentu cocok bagi orang lain.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini ada teknik yang memudahkan saya setiap kali menulis <strong>flash fiction 100 kata</strong>. Saya ragu apa teknik tersebut bisa berguna bagi anda ?</p>
<p style="text-align: left;">Maka, dengan sedikit rasa pongah, mari kita buktikan keraguan saya itu.</p>
<p style="text-align: left;">Kita mulai dengan membahas contoh kasus <em>fiksi mini</em> :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Sebab Akibat</strong></p>
<p style="text-align: left;">Sontak seluruh penumpang menutup hidung.</p>
<p style="text-align: left;">“ Aaalamaaak.. “</p>
<p style="text-align: left;">“ Tolong, jendelanya dibuka.”</p>
<p style="text-align: left;">“ Tak tahu sopan santun “</p>
<p style="text-align: left;">“ Ayo, mengaku saja.“</p>
<p style="text-align: left;">“ Tanpa suara pula,” kata sopir. “ Itu pasti keluar dari lubang yang teramat longgar.“</p>
<p style="text-align: left;">Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang bersemu merah, mengingat semalam pasangannya kembali ‘<em>lewat belakang’</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sumber</em> ; <a href="http://www.antojournal.com/">www.antojournal.com</a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong><strong style="font-size: 20px; text-align: -webkit-auto;">Syarat Fiksi Terpenuhi</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana menulis <em>flash fiction</em> dengan jumlah maksimal <em>100 kata</em> ?</p>
<p style="text-align: left;">Pertama-tama, kita bahas dahulu apakah ‘<em>Sebab Akibat</em>’ diatas termasuk cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Syarat sebuah <em>cerita fiksi</em> layak dikategorikan <em>flash fiction</em>, sama saja dengan syarat pada karya fiksi yang lebih panjang (<em>cerpen</em>, novelette, <em>novel</em>, &amp; epik). Semua jenis fiksi wajib memiliki; awal, tengah, akhir, dan memuat elemen; karakter, settting, konflik, resolusi</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> diatas <strong><em>diawali</em></strong> sebuah insiden yang menyebabkan orang-orang ditempat kejadian menutup hidung (insiden apa, oleh siapa?).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Pertengahan</em></strong> cerita diisi oleh beragam reaksi orang-orang atas dampak insiden tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita <strong><em>diakhiri</em></strong> oleh sebuah resolusi yang menjawab pertanyaan pembaca diawal cerita; penyebab insiden, pelaku insiden &amp; moral cerita/tema yang ingin disampaikan penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Karakter</em></strong> utama yang disebutkan secara tersurat adalah seorang sopir &amp; seorang penumpang dibelakang sopir (pelaku). Sementara empat karakter figuran lainnya dianonimkan (hanya berupa dialog/umpatan yang menandakan kehadiran karakter bersangkutan).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Setting</em></strong> terjadi diatas bus yang sedang melaju.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Konflik</em></strong> berupa insiden buang angin tanpa suara dari salah seorang penumpang yang tidak teridentifikasi (saling menuduh penumpang vs penumpang).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Resolusinya</em></strong> berupa petunjuk yang memudahkan pembaca menebak siapa gerangan pelaku buang angin, mengapa bisa tanpa suara &amp; pesan cerita yang hendak disampaikan.</p>
<h2><strong>Langkah Penulisan Flash Fiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Berikut ini langkah-langkah penulisan <em>flash fiction</em> maksimal <em>100 kata</em> berdasarkan pengalaman pribadi saya. Adapun mutu contoh flash fiction diatas tidak ada kaitannya dengan kepongahan saya membagi langkah-langkah penulisan ini:</p>
<h3>1. Awali disaat krisis (puncak konflik)</h3>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas dimulai oleh sebuah insiden yang menghasut pembaca. Memantik pertanyaan tentang apa gerangan yang menyebabkan orang-orang menutup hidung.</p>
<p style="text-align: left;">Flash fiction 100 kata tidak menyisakan ruang untuk membuat latar belakang misalnya; <em>Udara gerah. Matahari seolah memanggang bumi.</em> S<em>ebuah bus sedang melaju kencang dijalanan ibukota siang itu. Tiba-tiba suasana dalam bis berubah riuh, ketika seorang penumpang diam-diam buang angin..bla..bla…</em>. Lupakan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Lansung sorot adegan terkuat yaitu, sebuah kejadian yang membuat situasi dalam bus tersebut pantas untuk diceritakan.</p>
<p style="text-align: left;">Awal cerita harus menanam benih-benih konflik. Menutup hidung menandakan adanya bau busuk, yang potensial menimbulkan konflik berbentuk kemarahan, kejengkelan, saling mencurigai sesama penumpang.</p>
<p style="text-align: left;">Awal sedapat mungkin juga lansung menghadirkan karakter &amp; konteks (situasi lingkungan yang sedang dimasuki).</p>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas menyebutkan kata <em>penumpang</em> yang berarti karakter (orang-orang/jamak). Penumpang juga menunjukkan konteks (penumpang lazimnya ada didalam sebuah kendaraan).</p>
<p style="text-align: left;">Cukup dengan 5 kata pada kalimat pertama, kita sudah menunjukkan banyak hal kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa deskripsi berlebihan -pembahasan lengkap hal ini bisa anda baca pada artikel <a href="http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction" target="_blank">Tiga Tahap Menulis Flash Fiction</a>-</p>
<h3>2. <em>Show don’t tell</em></h3>
<p style="text-align: left;">Tunjukkan, jangan katakan.</p>
<p style="text-align: left;">Versi <em>mengatakan</em> dari cerita diatas kurang lebih seperti ini; “ <em>Seluruh penumpang sontak menutup hidung. Tampaknya ada penumpang buang angin dan menyebarkan bau busuk seantero bus. Dua orang penumpang terlihat mual-mual. Seorang penumpang meminta tolong agar jendela dibuka. Mendadak seluruh penumpang merindukan kehadiran udara segar didalam bus. ….bla..bla..</em>.” Hambar.</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu trik <em>menunjukkan</em> adalah memakai dialog yang menayangkan interaksi sesama penumpang. Penulis hanya perlu menayangkan kejadian/adegan. Biarkan pembaca mengalami sendiri situasi yang tengah berlansung.</p>
<p style="text-align: left;">Sedangkan pada narasi diakhir cerita, penulis mengganti versi awal kata  ‘tersipu malu’, dengan melukiskan bentuk ‘malu’ dalam realitas, yaitu,‘<em>wajah bersemu merah’</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Mengatakan</em> berarti menggurui pembaca. Kadang penulis menganggap pembaca tidak mampu mengerti jalan cerita jika penulis tidak menjelaskan segala sesuatunya –Silahkan anda baca artikel <a href="http://indonovel.com/show-dont-tell" target="_blank">Show Don’t Tell dalam Flash Fiction</a>-</p>
<h3>3. Ending yang jelas namun sukar ditebak</h3>
<p style="text-align: left;">Flash fiction bukan puisi-prosa, bukan sketsa ide atau potongan cerita. Flash fiction mestilah sebuah cerita utuh, dalam satu jalinan benang merah, dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Akhir yang jelas &amp; tidak mengambang menjadi mutlak adanya.</p>
<p style="text-align: left;">Saya berasumsi pembaca bisa memahami cerita diatas meski tidak satupun kata ‘<em>kentut</em>’, <em>‘bau’</em>, &amp; <em>‘bus’</em>, disebutkan dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hanya jika kata-kata tersebut dicantumkan, maka besar peluangnya ditebak pembaca sejak awal. (<em>Bau – Kentut tanpa suara – Lubang teramat longgar – Kebiasaan ‘lewat belakang’ = Judul’</em>)</p>
<h3>4. Hindari kata keterangan</h3>
<p style="text-align: left;">Keterangan biasanya royal dipakai disetiap akhir dialog seperti; …<em>kata sopir sambil berpikir keras</em>, atau <em>..ujar seorang ibu sambil membuka jendela</em>, atau <em>…keluh seorang penumpang yang merasa mual, </em>atau<em> ..umpat seorang bapak bersungut-sungut.</em>. Anda butuh lebih dari 100 kata untuk menuliskan itu semua,</p>
<p style="text-align: left;">Biarkan pembaca berimajinasi sendiri (pinjam kepala pembaca untuk meletakkan kalimat-kalimat yang berfungsi menerangkan itu).</p>
<p style="text-align: left;">Contoh diatas memperlihatkan 4 kalimat dialog tanpa menjelaskan siapa karakter yang mengucapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Penyebutan nama karakter tidak penting dalam mendukung cerita diatas (apakah itu si Amir, seorang karyawati, ibu hamil, orang bertopihaji,<em> </em>pengamen, wiraswasta, kenek, penulis, asongan, blogger, dan lain sebagainya).</p>
<p style="text-align: left;">Yang ingin disampaikan hanya tentang suasana riuh dan kejengkelan orang-orang didalam bus. Pembaca tak perlu tahu siapa yang jengkel.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara dua karakter yaitu, <em>sopir</em> dan <em>seorang penumpang dibelakangnya,</em> penting ditonjolkan demi memberikan referensi kepada pembaca tentang latar tempat (Bus).</p>
<p style="text-align: left;">Saya menolak terjebak pada stereotip golongan tertentu yang diasosiasikan gemar ‘<em>lewat belakang’</em>. Perilaku berhubungan badan ‘<em>lewat belakang</em>’ jamak dilakukan siapa saja, &#8211; jadi berhentilah memakai istilah <em>jeruk makan jeruk-</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Makanya saya tidak mencantumkan gender dan atau orientasi seksual (hetero, bi, atau homo).</p>
<p style="text-align: left;">Caranya dengan menganonimkan karaker <em>pelaku</em> lewat kalimat; ‘<em>penumpang yang duduk dibelakang sopir’</em>, Dalam hal ini, interpretasi anda diluar tanggungjawab saya.</p>
<p style="text-align: left;">Terus terang, pada versi awal di blog pribadi, saya tergoda menulis kalimat terakhir seperti ini : <em>“ Duduk dibelakang sopir, wajah seorang penumpang jurusan <strong>Taman Lawang</strong> bersemu merah ketika semua mata tiba-tiba tertuju kepadanya</em>.”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi sekali lagi, ini soal pilihan.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Tetap Menulis, Tetap Rendah Hati</strong></p>
<p style="text-align: left;">Tidak ada jaminan dua –<em>atau lebih</em>- orang memakai teknik yang sama akan berujung pada hasil yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Temukan <em>Muse</em> anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Teknik diatas bekerja pada saya namun boleh jadi, tidak bagi anda.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca sekalian boleh mengikuti seluruh, sebagian atau tidak sama sekali.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti saya tegaskan diawal, teknik yang saya pakai ini juga tidak bertanggungjawab pada mutu <strong>flash fiction</strong> yang saya jadikan contoh kasus –termasuk segala <em>flash fiction</em> di blog saya; <a href="http://antojournal.com" target="_blank">antojournal.com</a>-.</p>
<p style="text-align: left;">Tips ini juga tidak punya tendensi menggurui apalagi mengkritisi secara tidak lansung <strong>cerita mini</strong> berlabel <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><strong><em>flash fiction</em></strong></a> yang bertebaran didunia maya.</p>
<p style="text-align: left;">Walaupun banyak fiksi<strong> </strong>didunia maya belum cukup memuaskan selera baca saya, tidak lantas memberi saya hak untuk meremehkan karya <em>fiksi</em> dimaksud.</p>
<p style="text-align: left;">Selalu ingat nasehat Nirwan Dewanto; <em>Setiap tulisan selalu membuktikan mutunya sendiri sebelum dia membuktikan kelemahan tulisan lain</em>.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;"><em>“ Anda harus siap untuk selalu bekerja tanpa tepuk tangan (Ernest Hemingway)”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Tips menulis fiksi</em></strong>, copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/4-langkah-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setting dalam Flash Fiction</title>
		<link>http://indonovel.com/setting-dalam-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/setting-dalam-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 05:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu syarat cerita fiksi adalah kehadiran elemen setting didalamnya. Ini berlaku bagi semua jenis karya fiksi panjang dan pendek, termasuk flash fiction 100 kata. Kita umumnya terbiasa memahami setting melalui deskripsi latar tempat &#38; waktu yang lazim ditemui pada novel atau cerpen. Saat membaca sebuah fiksi mini yang isinya melulu dialog, tanpa deskripsi tempat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Salah satu syarat cerita fiksi adalah kehadiran elemen setting didalamnya.</p>
<p style="text-align: left;">Ini berlaku bagi semua jenis karya fiksi panjang dan pendek, termasuk <strong>flash fiction <em>100 kata</em></strong>.</p>
<p>Kita umumnya terbiasa memahami setting melalui deskripsi latar tempat &amp; waktu yang lazim ditemui pada novel atau cerpen.</p>
<p>Saat membaca sebuah <strong>fiksi mini</strong> yang isinya melulu dialog, tanpa deskripsi tempat, boleh jadi kita meragukan hadirnya elemen setting didalam cerita,</p>
<p>Bagi yang baru pertama kali menulis <em>flash fiction</em> 100 kata, rasanya memang sukar memasukkan elemen setting kedalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi tidak juga.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita ambil contoh <em>flash fiction</em> berjudul ‘Mabuk’ di <em>antojournal.com.</em></p>
<p style="text-align: left;">Penulisnya tidak mencantumkan satupun kata <em>Bar</em>, atau deskripsi mengenai <em>Bar</em> semisal; meja, kursi, bartender, lemari minuman, dsb, sepanjang cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Begitu anda selesai membaca flash fiction tersebut, saya yakin anda sepakat dengan saya kalau latar tempat cerita itu, berlansung disebuah bar.</p>
<p style="text-align: left;">Seni menulis fiksi dalam 100 kata memang dirancang untuk menghadirkan elemen cerita seperti setting dengan kata-kata seminim mungkin.</p>
<p style="text-align: left;">Caranya, dengan meminjam kepala pembaca untuk mengimajinasikan sendiri setting cerita, alih-alih menuliskannya kedalam rentetan kalimat bertele-tele.</p>
<p style="text-align: left;">Berikut ini teknik yang saya sarikan dari pengalaman saya menulis untuk blog <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><em>flash fiction</em></a> antojournal.com.</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Teknik Okulasi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Mencangkokkan setting pada profesi salah satu atau lebih karakter dalam cerita. Ini berlaku jika dalam cerita tersebut anda tidak menyebutkan nama karakternya, melainkan profesinya.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya bisa dilihat pada <em>flash fiction </em>berjudul Bayar Dobel.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam cerita tersebut, salah satu karakter figurannya adalah seorang <em>Room boy</em>.Cerita ini tidak menyebutkan satupun kata <em>hotel/penginapan/wisma</em>. Tetapi hotel sebagai setting cerita akan lansung dirasakan kehadirannya oleh pembaca karena keberadaan <em>room boy</em> yang sedang bekerja.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh teknikokulasi lainnya adalah; <em>Koki</em> (Dapur restoran); <em>Guru</em> (ruang kelas); <em>Imam/jamaah</em> (Mesjid); <em>penata rambut</em> (salon).</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Melalui Tindakan Karakter </strong></h2>
<p style="text-align: left;">Setting juga bisa dihadirkan melalui tindakan yang diambil/dilakukan oleh karakter-karakter didalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;"><em>flash fiction</em> berjudul No Smoking menerapkan teknik ini.</p>
<p style="text-align: left;">Salah satu karakternya disebutkan sedang menyekop pasir keatas truk, sementara karakter lainnya sedang duduk mengaso karena kelelahan.</p>
<p style="text-align: left;">Tindakan-tindakan tersebut merupakan petunjuk kepada pembaca bahwa cerita berlatar disebuah tambang golongan C (penggalian pasir).</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Kehadiran Alat Peraga</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Sebuah tempat kejadian tidak harus digambarkan dengan jelas, atau dalam skala besar, semisal; gedung, rumah, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Anda bisa memanfaatkan alat peraga, atau bagian-bagian kecil (khusus) dari tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam hal ini, kehadiran salah satu bagian dianggap mewakili benda secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya pada <em>flash fiction</em> berjudul Malam Pertama.</p>
<p style="text-align: left;">Pada cerita tersebut tidak disebutkan tentang kamar atau rumah sebagai latar tempat berlansungnya cerita. Namun karakternya diceritakan sedang<em> …mengetuk pintu</em>; ..<em>melompati jendela</em>. Pintu dan jendela adalah bagian kecil yang mewakili keberadaan rumah secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align: left;">Cuma perlu diingat kalau penyebutan alat-alat peraga dalam cerita tidak boleh berdiri sendiri, tapi harus muncul dengan alasan ‘dipergunakan’ oleh karakter dalam melakukan sebuah tindakan.</p>
<p style="text-align: left;">Pembatasan jumlah 100 kata memaksa penulis flash fiction untuk hanya menuliskan alat peraga yang penting dan punya fungsi dalam memajukan plot.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Melebur kedalam alur cerita</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Penerapan teknik ini dicontohkan oleh <em>flash fiction</em> Asumsi.</p>
<p style="text-align: left;">Alur cerita dari awal sampai akhir menunjukkan karakternya; seorang wartawan meliput peristiwa tabrak lari; berusaha menembus kerumunan massa; mendekati korban dari dekat.</p>
<p style="text-align: left;">Keseluruhan plot membawa pembaca seolah sedang berada disebuah jalan raya, ditempat kejadian perkara, tanpa satupun kata atau kalimat mengenai latar tempat berupa jalan raya disebutkan dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Silahkan mencoba dan teruslah mengolah kreatifitas anda untuk menemukan <strong>teknik menulis fiksi</strong> yang cocok dengan gaya anda.</p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/setting-dalam-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

