<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; flash fiction</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/flash-fiction/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description>Indonovel.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 12:33:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Cepat &amp; Praktis (5 Sumber Ide Menulis Flash Fiction)</title>
		<link>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Dari mana-mana. Demikian jawaban yang kerap kita terima dari penulis senior untuk pertanyaan “ darimana ide tulisan datang ?” Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh Pallu Basa terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’. Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual Pallu Basa terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Dari mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian jawaban yang kerap kita terima dari <em>penulis</em> senior untuk pertanyaan “ darimana <em>ide tulisan</em> datang ?”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh <em>Pallu Basa</em> terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’.</p>
<p style="text-align: left;">Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual <em>Pallu Basa</em> terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, 77 km<sup>2</sup>, bukan ? (sabar, saya akan memberikan alamat penjualnya diakhir postingan ini <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><em>Belum ketemu</em> <em>ide</em> lazim menjadi motif pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kerap menjumpai pernyataan seperti itu. Termasuk dari diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan itu bermakna ganda. Kita tidak tahu tempat untuk menemukan ide atau, tahu tapi belum kesana ?</p>
<p style="text-align: left;">Masalah menjadi lebih rumit lagi bagi yang meyakini ide itu diciptakan, alih-alih ditemukan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada waktu kita memerlukan sumber pasti untuk menemukan ide dengan cepat. Mereka yang getol ikut lomba menulis tentu paham urgensinya.</p>
<p style="text-align: left;">Atau dilain waktu, dorongan menulis demikian kuat namun kita bingung hendak menulis apa?</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun, ide adalah modal dasar dari menulis (dan segala sesuatu).</p>
<p style="text-align: left;">Kita butuh ‘tempat-tempat’ pasti untuk didatangi saat membutuhkan ide. Tempat yang hampir selalu menyediakan ide buat kita. Tempat yang tidak pernah berkata ‘tidak ada’ untuk ide yang kita cari.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi dimana ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya tempat-tempat khusus semacam itu.</p>
<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <em>flash fiction 100</em> kata sejak Maret 2010. Kadang-kadang ide tulisan hinggap begitu saja, seperti Newton kejatuhan buah apel. Kadang-kadang saya ‘menciptakannya’ lewat brainstorming.</p>
<p style="text-align: left;">Apel jatuh termasuk langka.</p>
<p style="text-align: left;">Brainstorming juga membutuhkan energi dan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, disaat saya paceklik ide, saya punya tujuan pasti untuk didatangi.</p>
<p style="text-align: left;">Anda berminat ? Ini alamatnya:</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Kitab-Kitab Agama</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama (samawi atau bukan) menyediakan ide tak terbatas.</p>
<p style="text-align: left;">Keuntungannya, anda tak perlu bersusah payah mencari moral cerita -unsur yang mutlak hadir dalam sebuah cerita-,</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir kitab-kitab agama memang ditulis dalam rangka itu.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa cepat ?</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama banyak mengisahkan cerita yang lengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Unsur-unsur pembangun cerita seperti <em>plot</em>, <em>karakter</em>, <em>konflik</em>, <em>setting</em> &amp; <em>resolusi</em> telah tersedia dalam kisah-kisah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak menganjurkan anda menyalin penuh. Tapi anda hanya perlu sedikit waktu dan kreatifitas untuk memodifikasinya.</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ganti latar masa lalu dengan masa kini.</li>
<li>Ubah alur maju menjadi <em>flashback (dan sebaliknya)</em>.</li>
<li>Ubah sumber konflik. Misal sumber konflik adalah patung berhala, menggantinya dengan mobil, rumah atau harta benda yang berpotensi sama -untuk menjadi berhala-.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Penting diingat bahwa ada pakem yang mesti diindahkan bila kitab-kitab agama menjadi rujukan.</p>
<p style="text-align: left;">Agama sangat sensitif bagi -hampir- kita semua.</p>
<p style="text-align: left;">Sebaiknya berhati-hati menyebut nama karakter dan istilah-istilah resmi dalam institusi agama bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, naskah akhir anda tidak dalam rangka menafsirkan ulang moral cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam agama tertentu, moral kisah bersifat permanen. Yang kita lakukan hanya menyampaikan kembali moral kedalam bahasa yang lebih kini.</p>
<p style="text-align: left;">Perilaku ini mirip dengan praktik Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa melalui media kesenian lokal.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh <em>flash fiction</em> saya yang idenya bersumber dari kitab agama adalah <strong><em><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/fiksi-mini-100-kata-iring-iringan-presiden/" target="_blank">Iring-iringan Presiden</a></em></strong>. Silahkan baca.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Folkfore dan Dongeng</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Metodenya sama persis dengan poin satu diatas. Anda hanya butuh usaha sedikit keras untuk menemukan sumber-sumber cerita yang orisinil.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak folkfore atau dongeng yang belum dipublikasikan secara tertulis.</p>
<p style="text-align: left;">Kakek nenek kita adalah rujukan terbaik. Anda cukup menangkap <strong>plot</strong> dan <strong>moral ceritanya</strong>, selebihnya akan diurus oleh kreatifitas alami anda sebagai penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/25/flash-fiction-gali-lubang-tutup-lubang/" target="_blank">Gali Lubang Tutup Lubang</a></strong> contoh <em>flash fiction</em> yang saya adaptasi dari folkfore.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Lirik Lagu</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Banyak lirik lagu dilatarbelakangi kisah utuh. Liriknya mengandung unsur-unsur pembangun cerita seperti karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p style="text-align: left;">Penekanannya, sekali lagi adalah kehadiran moral cerita. Lirik lagu yang tidak mengandung pesan yang kuat tidak termasuk dalam kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh; <em>Living on the jet plane</em> punya Jhon Denver; <em>Last Kiss</em> dari Pearl Jam; dan tentu saja <em><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/message-in-a-bottle-fiksi-mini-100-kata/" target="_blank">Message In The Bottle </a></strong></em>karya musisi favorit saya, Sting. Saya menulis satu <em>flash fiction</em> dengan judul yang sama dengan lagu itu. Silahkan cermati.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Fiksi Lama</strong></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Setiap tulisan hanya menceritakan tulisan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kutipan diatas ada benarnya. Tapi mereka yang gegabah mengartikannya secara harfiah punya istilah yang lebih tepat, yaitu plagiat (<em>DodolPreeetDodolPreeet !</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Mereproduksi karya lama punya kelebihan tersendiri. Apalagi karya legendaris.</p>
<p style="text-align: left;">Selain numpang ngetop, penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan latar belakang cerita. Pembaca telah punya bayangan atas cerita dimaksud  Hal ini tentu saja menguntungkan bagi penulis flash fiction yang dibatasi oleh kuota maksimal <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Disini anda hanya perlu memodifikasi. Bahkan penafsiran ulang atas cerita itu sah-sah saja.</p>
<p style="text-align: left;">‘Manipulasi’ pengetahuan pembaca atas cerita bersangkutan dengan cara; Memutarbalikkan plot, mereposisi karakter (antagonis menjadi protagonis) dan atau merevisi ending cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya contoh <em>flash fiction</em> untuk kasus ini. silahkan anda membaca <strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/30/flash-fiction-gadis-penjual-korek-api/" target="_blank">Gadis Penjual Korek Api</a></strong> dan <strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/29/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">For Sale; Baby shoes. Never worn</a></strong>.</p>
<h2><strong>5. </strong><strong>Humor Warung Kopi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya punya kebiasaan berkumpul dengan teman-teman diwarung kopi saat senja.</p>
<p style="text-align: left;">Lelucon &amp; anekdot dari obrolan warung kopi banyak menyuplai gagasan untuk flash fiction saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kasus anda, warung kopi boleh berganti kafe, kampus, klub, pos ronda atau rumah tetangga.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap orang mestinya punya pengalaman lucu. Kita perlu <strong><em>prihatin</em></strong> dengan siapa saja yang menjalani hidupnya terlalu serius – <em>bandingkan Gus Dur dengan presiden yang sekarang</em>&#8211;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira jarang ada teman anda yang tidak punya simpanan cerita lucu dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu menggalinya dengan memancing pembicaraan. Mereka dengan senang hati akan membagikannya kepada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kapan waktu anda boleh heran mengetahui, betapa manusia sangat bahagia saat menertawakan dirinya sendiri ?</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menggemari<a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank"> <em>flash fiction</em> </a>bertema humor. Namun saya membatasi humor berdasarkan pengalaman pribadi si penutur saja. Humor-humor kutipan, populer dan klise, tidak termasuk dalam kasus ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/19/fiksi-mini-100-kata-bayar-dobel/" target="_blank">Bayar Dobel</a></strong> satu dari banyak <em>flash fiction</em> saya yang bersumber dari humor warung kopi. Silahkan disimak.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengatakan 5 sumber diatas <strong><em>cara cepat &amp; praktis menemukan ide menulis flash fiction</em></strong>, oleh sebab segala unsur pembangun cerita umumnya telah disediakan oleh sumber dimaksud, yaitu; <em>plot</em>, <em>karakter</em>,<em> setting</em>, <em>konflik</em> dan <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Boleh dikata kita hanya perlu menuliskannya kembali.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Apakah anda masih penasaran dengan <em>Pallu Basa</em> paling enak di Kota Makassar ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya merekomendasikan warung <em>Pallu Basa</em> yang berlokasi di sudut Jl. Onta – Jl. Veteran Utara.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tahu, lidah tak pernah bohong.</p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilat Flash Fiction (Dari A Sampai Z)</title>
		<link>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/</link>
		<comments>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 04:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=717</guid>
		<description><![CDATA[Istilah fiksi mini 100 kata (flash fiction) merupakan kategori fiksi yang tergolong ‘baru’ di tanah air. Meski tidak benar-benar baru ditemukan. Internetlah yang berjasa menampakkannya ke permukaan. Media online yang kemudian memberikannya tempat. Kita tahu, media cetak sejenis koran dan majalah cenderung ‘diskriminatif’ terhadap kategori fiksi dibawah 100 kata. Sekarang ini flash fiction tengah mencuri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Istilah <em>fiksi mini 100 kata</em> (<strong>flash fiction</strong>) merupakan kategori fiksi yang tergolong ‘baru’ di tanah air.</p>
<p style="text-align: left;">Meski tidak benar-benar baru ditemukan.</p>
<p>Internetlah yang berjasa menampakkannya ke permukaan. Media online yang kemudian memberikannya tempat.</p>
<p>Kita tahu, media cetak sejenis koran dan majalah cenderung ‘diskriminatif’ terhadap kategori fiksi dibawah 100 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Sekarang ini <em>flash fiction</em> tengah mencuri perhatian netizen. Baik pembaca maupun <em>penulis fiksi.</em></p>
<p style="text-align: left;">Tingginya minat pembaca juga dapat dilihat oleh semakin banyaknya lomba menulis flash fiction bersponsor (silahkan anda googling frase ‘lomba flash fiction’).</p>
<p style="text-align: left;">Pihak sponsor tentu melihat tingginya prospek jumlah pembaca flash fiction.</p>
<p style="text-align: left;">Dari segi isi, <em>fiksi</em> ini tak ada bedanya dengan fiksi pendek atau panjang pada umumnya. Kecuali ukurannya yang telah diminiaturisasi.</p>
<p style="text-align: left;">Ibarat pohon yang dibonsai, flash fiction tetap memiliki akar, batang, dahan dan daun.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> berciri gegas, ringkas namun tetap tuntas sebagai sebuah cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Karakteristik tulisan yang dianggap cocok bagi tipikal pembaca media online yang ingin serba cepat-instan.</p>
<p style="text-align: left;">Blog ini sudah menerbitkan belasan artikel mengenai <em>flash fiction</em>. Namun tak ada salahnya jika saya -sekali lagi- menyajikan intisarinya dalam satu artikel rangkuman.</p>
<p style="text-align: left;">Saya akan membawa anda kembali  menemukenali <em>flash fiction</em> secara sistematis, ringkas, namun tuntas dalam satu pembahasan. Ibarat kata, dari A sampai Z (harfiah, tentu saja).</p>
<p style="text-align: left;">Nah, mari kita mulai.</p>
<h3 style="text-align: left;"><strong>A</strong></h3>
<p style="text-align: left;"><strong></strong>asal muasal <em>flash fiction</em> dapat ditemui akarnya pada fabel-fabel Aesop.</p>
<p style="text-align: left;">Sejarah sesudahnya juga merekam penulis dunia seperti Anton Chekov dan Ernest Hemingway pernah menulis fiksi mini.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tentu ingat dengan fiksi 6 kata Hemingaway; <em>For Sale; Babys shoes, Never worn</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kini tradisi fiksi mini telah berkembang ke seluruh dunia, meski istilahnya beragam, seperti; <em>sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction</em>, dan <em>short short story</em>.</p>
<h3><strong>B</strong></h3>
<p><strong></strong>babak. dalam flash fiction sama saja dengan cerita pada kategori fiksi panjang. Flash fiction wajib terdiri dari babak awal, tengah dan akhir.</p>
<p>Flash fiction bukan potongan cerita atau kepingan adegan dari sebuah cerita besar.</p>
<h3>C</h3>
<p><strong>C</strong>erita utuh. <em>Flash fiction </em>bukan puisi, potongan prosa atau ringkasan ide. Selain lengkap dalam pembabakan cerita, flash fiction juga wajib menghadirkan 4 unsur pembangun <em>fiksi</em>, yaitu; Karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p>Semua unsur wajib hadir dan tuntas dalam 100 kata. Cerita tidak diperkenankan mengambang/bersambung.</p>
<h3>D</h3>
<p><strong>D</strong>eskripsi sedapat mungkin dihindari saat menulis flash fiction.</p>
<p>Deskripsi yang umum dalam fiksi panjang seperti karakter atau latar (waktu dan tempat), tidak punya ruang dalam cerita 100 kata.</p>
<p>Pengalaman saya menunjukkan bahwa adegan/aksi dan dialog menjadi pilihan terbaik untuk menuntaskan cerita dalam 100 kata.</p>
<h3>E</h3>
<p><strong>E</strong>nding yang mengejutkan masih menjadi trend <em>flash fiction</em> saat ini. Meski tidak wajib seperti itu.</p>
<p>Paling tidak ending memiliki fungsi ‘pengingat’ yang akan membekas dalam benak pembaca.</p>
<p>Fungsi utama ending adalah menuntaskan cerita. Kadang berupa moral cerita, kesimpulan, atau resolusi atas tema konflik.</p>
<h3>F</h3>
<p><strong>F</strong>lash fiction adalah <strong>fiksi mini 100 kata</strong>. Substansi dari kategori ini sebenarnya lebih kepada tantangan menulis cerita utuh dengan jumlah kata terbatas.</p>
<p>Semakin sedikit jumlah kata, semakin mengasah kemampuan kita untuk menulis kalimat-kalimat efektif.</p>
<h3><strong>G</strong></h3>
<p><strong>G</strong>aris besar cerita dalam flash fiction terdiri dari 3 babak. Awal-tengah-akhir.</p>
<p>Buatlah pembukaan yang lansung menukik pada krisis/puncak aksi/konflik. Isi pertengahan dengan adegan dan dialog, lalu akhiri dengan <em>twist ending</em>.</p>
<h3><strong>H</strong></h3>
<p><strong>H</strong>ikmah yang ditarik dari cerita menjadi salah satu bukti kalau flash fiction merupakan cerita yang utuh.</p>
<p>Sebuah potongan cerita tentu tidak menghasilkan hikmah.</p>
<p>Sekarang ini banyak flash fiction yang kadang menyaru cerita humor seperti yang lazim ditemui pada koran atau majalah.</p>
<p>Flash fiction boleh bertema humor, namun tidak boleh kehilangan cita rasanya sebagai seni bahasa. Ramu tema humor itu hingga pembaca, tanpa sadar mendapat ‘moral’ ‘pencerahan’ setelah dia puas tertawa.</p>
<h3>I</h3>
<p><strong>I</strong>de flash fiction bisa datang dari mana saja.</p>
<p>Ide terbaik menurut pengalaman saya, umumnya diawali dari keinginan untuk menyampaikan pesan, moral cerita kepada pembaca. Keiniginan itu dipicu setelah menyaksikan fenomena keseharian, termasuk memirsa berita-berita media massa.</p>
<p>Bila ide ceritanya sarat pesan, maka kemungkinan ide itu layak untuk dikembangkan menjadi cerita.</p>
<h3>J</h3>
<p><strong>J</strong>udul termasuk bagian penting dalam flash fiction. Karena keterbatasan kata, maka penulis bisa memanfaatkan judul untuk memberi ‘<em>clue</em>’ kepada pembaca.</p>
<p>Judul tidak sekedar menarik pembaca. Dengan judul kita bisa menghindari narasi pembukaan. Pembaca memperoleh ‘<em>clue</em>’ mengenai latar belakang cerita melalu judul, tentang apa dan bagaimana isi cerita.</p>
<h3>K</h3>
<p><strong>K</strong>arakter  mutlak hadir dalam <em>flash fiction</em>. Tentu saja, mustahil mendeskripsikan fisik dan psikis karakter dalam 100 kata.</p>
<p>Demi mensiasatinya, kita bisa menumpangkan karakterisasi tokoh kedalam dialog, adegan, nama profesi, atau setting.</p>
<p>Sila baca artikel <a href="http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction" target="_blank"><strong>4 Tips menampilkan Karakter dalam Flash fiction</strong></a></p>
<h3>L</h3>
<p><strong>L</strong>atihan menulis flash fiction bisa dimulai dengan mengadaptasi cerpen 1.000 kata kedalam 100 kata saja.</p>
<p>Menulis flash fiction memang susah bagi yang terbiasa menulis panjang.</p>
<p>Berlatihlah membuang semua kata-kata yang tidak perlu.</p>
<h3>M</h3>
<p><strong>M</strong>aksimalisasi fungsi kata untuk menyiasati keterbatasan kata.</p>
<p>Utamakan diksi yang bermakna ganda dan konotatif (punya tekanan emosional tertentu).</p>
<h3> N</h3>
<p><strong>N</strong>arasi dalam <em>flash fiction</em> diperlakukan layaknya wesel ditangan anak kost,</p>
<p>Pemakaian narasi yang terbaik –menurut pengalaman saya- sebatas transisi antar adegan (satu kalimat kurang lebih 10 kata, baik sebelum atau sesudahnya).</p>
<h3>O</h3>
<p><strong>O</strong>pening kunci utama <em>flash fiction</em>. Tidak ada pembukaan yang bertele-tele, atau datar.</p>
<p>Pembukaan lansung dimulai oleh krisis (puncak aksi/konflik). Hindari godaan menulis latar belakang cerita.</p>
<h3> <strong>P</strong></h3>
<p><strong>P</strong>lot mengalir lancar, sederhana, dan mustahil sekompleks <em>novel</em>.</p>
<p>Flash fiction hanya berkisah tentang satu tema, tempat dalam satu waktu (menit, jam, hari).</p>
<h3>Q</h3>
<p><strong>Q</strong>uality flash fiction ada pada ide/gagasan cerita yang orisinil, baru dan sarat pesan/moral cerita.</p>
<p>Flash ficton yang hanya membuat pembacanya tertawa (humor), tanpa menarik hikmah dari cerita, sama sekali bukan tujuan kita.</p>
<h3>R</h3>
<p><strong>R</strong>esolusi. Sebagai cerita, flash fiction harus memberikan resolusi cerita yang jelas.</p>
<p>Cerita jangan berakhir mengambang.</p>
<p>Resolusi berarti karakter dalam cerita mendapat ‘perubahan’ setelah mengalami konflik.</p>
<h3>S</h3>
<p><strong>S</strong>etting wajib hadir dalam flash fiction. Namun tidak mungkin mendeskripsikan detil-detil latar (tempat, waktu atau sosial) dalam 100 kata.</p>
<p>Triknya yaitu menumpangkannya pada karakter.</p>
<p>Contohnya, bila kita menamai karakternya dengan ‘si koki’ atau ‘pak guru’, dalam adegan sedang bekerja, maka tidak perlu lagi menjelaskan latar  ‘dapur’ atau ‘ruang kelas’.</p>
<p>Pembahasan lengkapnya ada pada artikel <strong><a href="http://indonovel.com/setting-dalam-flash-fiction" target="_blank">Setting Dalam Flash Fiction</a></strong></p>
<h3>T</h3>
<p><strong>T</strong>empo cepat dianjurkan dalam menulis flash fiction. Tempo sedang, apalagi lambat sulit diterapkan sebab boros kata-kata.</p>
<p>Tempo cepat memudahkan kita memangkas kalimat-kalimat yang tidak penting.</p>
<h3>U</h3>
<p><strong>U</strong>nsur-unsur yang wajib hadir dalam <em>fiksi mini 100 kata</em> ada 4, yaitu; karakter, konflik, setting dan resolusi.</p>
<h3> V</h3>
<p><strong>V</strong>isualisasikan cerita memakai teknik <em>show don’t tell</em>.</p>
<p>Cara termudah menerapkan teknik ini dengan meniadakan deskripsi. Biasakan memakai kalimat aktif berpola S-P-O (kata kerja aktif ditandai oleh awalan <em>me)</em>.</p>
<p>Buatlah cerita yang padat adegan dan dialog.</p>
<h3> W</h3>
<p><strong>W</strong>iracerita sepanjang <em>Lord Of The Ring</em> karya Tolkien memiliki elemen pembangun yang sama dengan <em>flash fiction</em>, bahkan dengan <em>tweetfiction</em> (fiksi mini 140 karakter).</p>
<p>Elemen dimaksud adalah pembabakan; awal-tengah-akhir, serta hadirnya unsur; karakter, konflik, setting dan resolusi dalam cerita.</p>
<p>Itulah substansi cerita fiksi, baik kategori fiksi panjang maupun pendek.</p>
<h3> X</h3>
<p><strong>X</strong> adalah huruf yang menggambarkan struktur alur cerita flash fiction.</p>
<p>Padanan lain bentuk ini adalah jam pasir. A</p>
<p>Awal cerita berupa krisis merupakan hal terpenting, sama pentingnya dengan ending yang memuat resolusi serta menuntaskan cerita. Sedangkan bagian tengah dibuat seramping mungkin, hanya berisi adegan dan dialog.</p>
<p>Kikis habis lemak berbentuk deskripsi dan narasi pada bagian tengah.</p>
<h3> Y</h3>
<p><strong>Y</strong>akin pada<strong> </strong>torehan kalimat pertama anda. Jangan mengedit saat menulis draft pertama.</p>
<p>Torehan pertama adalah suara alami anda. Pada saat mengedit, anda bisa menghilangkan sebagian atau seluruh kata dalam kalimat-kalimat tertentu. Atau anda mungkin merubah susunan kata atau pola kalimat. Namun ruh cerita tetap hadir disana, yang berasal dari torehan pertama anda.</p>
<p>Jadi yakinlah pada kata-kata pertama anda sendiri.</p>
<h3>Z</h3>
<p><strong>Z</strong>enit, kulminasi, titik puncak aksi <strong><em>flash fiction</em></strong> sebaiknya ditempatkan pada bagian pembukaan. Mengenai ini, ada sebanyak 40 flash fiction sebagai contoh kasusnya bisa anda baca di <strong><a href="http://antojournal.com" target="_blank">blog flash fiction</a></strong> saya. Silahkan.</p>
<p><span style="text-align: left;">Apa anda punya tanggapan atas artikel ini ? Saya berharap tidak sepanjang A &#8211; Z <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </span></p>
<p>Apapun itu, dengan senang hati saya akan mendiskusikannnya bersama anda pada kolom komentar dibawah ini.</p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/sekilat-flash-fiction-dari-a-sampai-z/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Menulis Flash Fiction Dalam Sekejap</title>
		<link>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/</link>
		<comments>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 09:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis fiksi mini 100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[cara menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=702</guid>
		<description><![CDATA[Flash fiction. Percaya atau tidak, anda bisa membuatnya dalam sekejap tanpa mengorbankan mutu. Ada teknik rahasia yang memungkinkan hal itu terjadi. Saya menulis artikel ini sesaat setelah menyelesaikan satu –lagi- flash fiction berjudul &#8216;Munafik&#8217;. Saya menghitung waktu penulisannya kurang dari 15 menit (relatif). Prosesnya terasa mudah karena teknik menulis yang hendak saya bagikan ini bekerja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong style="text-align: -webkit-auto;"><em>Flash fiction</em></strong>. Percaya atau tidak, anda bisa membuatnya dalam sekejap tanpa mengorbankan mutu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada teknik rahasia yang memungkinkan hal itu terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menulis artikel ini sesaat setelah menyelesaikan satu –lagi- <em>flash fiction</em> berjudul &#8216;Munafik&#8217;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menghitung waktu penulisannya kurang dari 15 menit (relatif).</p>
<p style="text-align: left;">Prosesnya terasa mudah karena teknik menulis yang hendak saya bagikan ini bekerja membantu saya.</p>
<p style="text-align: left;">Tekniknya sederhana saja, praktis, dan siapa saja bisa menerapkannya.</p>
<p style="text-align: left;">Teknik ini pada dasarnya berfungsi memetakan pikiran, sehingga mengirit waktu.</p>
<p style="text-align: left;">Pemetaan membantu kita terfokus. Tanpa fokus yang jelas (tujuan akhir yang ingin dicapai), seorang penulis rawan tersesat dalam labirin cerita tak berkesudahan.</p>
<p style="text-align: left;">Nah, ini dia rahasianya.</p>
<h2><strong>Tentukan Ide</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Pertama-tama, saya mengasumsikan anda telah memiliki satu ide cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Untuk lebih memudahkan, saya akan mengambil satu contoh ide, yaitu  pro kontra video porno artis yang menghebohkan tahun lalu (anda yakin belum pernah menontonnya ?).</p>
<h2><strong>Buat Kalimat Inti Cerita</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Buatlah satu kalimat kurang lebih 10 kata dari ide tersebut yang menggambarkan alur cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>Fulan ingin membuktikan kemunafikan temannya yang mengaku kontra video porno.</em></p>
<h2><strong>Buat Kalimat Inti Untuk Setiap Babak</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Retas kalimat diatas menjadi 3 kalimat. Masing-masing kalimat menjadi ide pokok bagi setiap babak; awal, tengah, dan akhir cerita</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Awal</strong> : <em>Fulan bersama temannya (seorang pengacara kondang) menonton video porno artis, sehari sebelum temannya mengiikut acara debat di TV mengenai kasus video tersebut.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Tengah</strong> : <em>Temannya mengaku tidak teransang menonton video porno, namun tersinggung saat si fulan menuduhnya tidak normal</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Akhir</strong> :  <em>Temannya menunjukkan ereksi alat kelaminnya setelah memutar ulang video, sekaligus (tanpa sadar) membuktikan kemunafikannya sendiri.</em></p>
<h2><strong>Tulis Naskah Awal</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kembangkan ketiga kalimat diatas dalam bentuk adegan dan dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh hasilnya seperti ini :</p>
<p style="text-align: left;"><em>Temannya yang pengacara kondang mengajak si fulan menonton bokep. Video porno yang diperankan artis terkenal itu memang sedang hangat dibicarakan publik. Setelah video itu ditonton, temannya buru-buru menutup laptop. Padahal si fulan baru saja berniat memindahkannya ke flashdisk.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Videonya akan saya hapus setelah ini.” kata temannya. Sikapnya yang kontra terhadap video porno seolah ditegaskan oleh mimik wajahnya.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Koq, kamu tidak suka ?” fulan melirik ke arah temannya, Wajahnya seolah tidak percaya. “ Omong-omong, kemaluanmu berdiri tidak, saat tadi menonton bokep ?”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Tidak,” jawab temannya dengan tegas. “ Saya hanya ingin mempelajari bukti kasus ini. Biar argumen saya kuat dalam acara debat di TV besok malam”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Aku curiga kamu bukan lelaki normal,” tuduh fulan sambil tersenyum sinis.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Congormu.” Balas temannya dengan sengit, Dia terlihat sangat marah. Laptop dihadapan mereka dibuka kembali oleh temannya. Kemudian rekaman video itu diputar ulang sekali lagi.. Tampak jelas temannya ingin membuktikan kalau tuduhan si Fulan tidak benar adanya.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>“ Lihat ini,” seru temannya sembari menunjuk ke arah tonjolan dari dalam resluiting celananya. “ alat vitalku berdiri, bukan?”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>si fulan tersenyum puas.“ Aku sengaja menuduhmu. Aku hanya ingin tahu niat kamu yang sebenarnya menonton bokep. Sekedar bahan ikut debat, atau memang karena doyan.”</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Temannya sadar telah ditipu si fulan. Mukanya terlihat malu, seperti maling yang tertangkap basah.</em></p>
<h2><strong>Mengedit Dengan Kejam</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Adegan dan dialog pada draft diatas masih bertele-tele. Alur ceritanya kurang hidup. Ceritanya tersusun oleh 215 kata, pertanda kita masih harus membuang 115 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana caranya ? :</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang deskripsi dan narasi</strong> yang tidak berkontribusi memajukan jalan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Membuangnya tidak akan mengurangi kejelasan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya adalah kalimat; <em>Video porno yang diperankan artis terkenal itu memang sedang hangat dibicarakan publik.</em> Dan; <em>Temannya sadar telah ditipu fulan, tampak jelas dia malu seperti maling yang tertangkap basah.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em></em><strong>Ganti kalimat dan kata umum</strong> dengan sinonimnya atau kata yang bermakna sama tapi mengandung tekanan emosional tertentu.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>kemaluanmu berdiri</em> berubah menjadi <em>ereksi -</em> ..<em>bukan lelaki normal</em> berubah menjadi ..<em>bermasalah</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pakai kalimat aktif, bukan pasif.</strong></p>
<p style="text-align: left;">Contoh kata kerja pasif; <em>Dibuka, Diputar</em>, kita ubah menjadi; <em>Membuka, Memutar</em>. Otomatis pola kalimatnya ikut berubah menjadi S-P-O; <em>Temannya membuka laptop, …memutar ulang video porno itu</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Selain menghemat kata,  adegannya juga ‘lebih hidup’</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang kalimat yang berfungsi menerangkan</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya;  <em>Dia</em> <em>terlihat sangat marah. .. sambil tersenyum sinis</em>. Umumnya kalimat semacam itu mengandung kata sifat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Buang kalimat mubazir</strong> yang mengikuti dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya; <em>“ jawab temannya dengan tegas..”</em>, <em>“ seru temannya sembari..’’</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Meski terdengar sederhana, lebih efektif bila kita memakai  “ <em>..kata fulan”</em> atau “<em>..kata temannya’</em>.</p>
<h2><strong>Edit Sekali Lagi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Hitung jumlah kata sekali lagi.</p>
<p style="text-align: left;">Masih lebih <em>100 kata</em> ?</p>
<p style="text-align: left;">Ulangi pengeditan seperti pada nomor 5 (kemungkinan besar anda belum maksimal melakukannya).</p>
<p style="text-align: left;">Jadilah algojo bagi tulisan anda sendiri.</p>
<h2><strong>Tentukan Judul</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Terakhir, berikan judul sebagai petunjuk. Judul yang memancing penasaran, namun tetap  menyamarkan akhir dari cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hindari menipu pembaca dengan judul-judul bombastis.</p>
<p style="text-align: left;">Saya harap  teknik diatas bisa mempermudah anda <em>menulis flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Segala tanggapan sila anda tambahkan pada kolom komentar dibawah.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai pelengkap, anda bisa membaca kembali sejumlah <strong><em>tips menulis flash fiction</em></strong> yang terangkum dalam : <strong><a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank">11 seri tips menulis flash fiction 100 kata</a> (Lengkap)</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Hasil akhir dari contoh <em>flash fiction</em> diatas baru saja saya posting di <strong><a href="http://antojournal.com/2011/06/10/flash-fiction-100-kata-munafik/" target="_blank">antojournal.com</a>.</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Fiksi Pendek a la Dee Dee Sabrina</title>
		<link>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/</link>
		<comments>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 05:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara penulis]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja saya selesai membaca sebuah buku indie Seperti halnya pada industri musik, jalur indie di indsutri literature tanah air kerap menjadi saluran bagi para penulis yang menolak didikte oleh ‘pasar’. Bagi saya, buku indie selalu menawarkan orisinalitas, karena penulis bisa membebaskan kreatifitasnya dari tuntutan trend, dan intervensi penerbit. Itulah salah satu alasan mengapa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-169  alignright" title="dee dee sabrina; penulis fiksi pendek (dok.pribadi)" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/deedee-sabrina-e1292736947171.jpg" alt="penulis cerpen &amp; flash fiction" width="327" height="216" /></p>
<p>Baru saja saya selesai membaca sebuah buku indie</p>
<p>Seperti halnya pada industri musik, jalur indie di indsutri <em>literature </em>tanah air kerap menjadi saluran bagi para <em>penulis </em>yang menolak didikte oleh ‘pasar’.</p>
<p>Bagi saya, buku indie selalu menawarkan orisinalitas, karena penulis bisa membebaskan kreatifitasnya dari tuntutan trend, dan intervensi penerbit.</p>
<p>Itulah salah satu alasan mengapa saya menggemari buku indie,  antara lain <strong>ISI; Antologi Fiksi</strong> karya Dee Dee Sabrina.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengenal Dee Dee Sabrina saat bergabung di blog social media; Kompasiana. Dia termasuk salah satu kompasianer (sebutan untuk anggota) teraktif, dengan mutu tulisan yang relatif terjaga.</p>
<p style="text-align: left;">Dee Dee Sabrina paham teknik <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway" target="_blank">menulis fiksi</a>, itu tercermin pada setiap karya-karyanya. Tentu saja, kualitas &amp; orisinalitas gagasan juga menjadi ciri khas setiap tulisan terbarunya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerpen</strong> <em>Kalau Aku Lelaki</em> adalah karya perempuan kelahiran Medan, 4 Februari 1989 ini yang pertama kali diterbitkan dalam antologi <em>cerpen</em> Q!stories.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan bantuan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas penulis muda; SPASI, Dee Dee Sabrina berhasil menerbitkan antologi fiksi pendeknya sendiri, Hal yang menggembirakan bagi penggemar tulisan-tulisannya selama ini didunia maya.</p>
<h2 style="text-align: left;">Tips menulis fiksi pendek</h2>
<p style="text-align: left;">Sebagai pembaca yang juga hobby menulis, saya merasa beruntung saat Dee Dee Sabrina bersedia membagi ilmunya.</p>
<p style="text-align: left;">Dia melayani permintaan wawancara saya (secara online) dengan keramatamahan khas orang melayu.</p>
<p style="text-align: left;">Dia menitip harapan agar kawan-kawan penulis muda bisa termotivasi untuk menerbitkan bukunya sendiri. Berikut petikannya buat pembaca :</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jumlah kata dalam flash fiction masih diperdebatkan, apa pendapat anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Menurutku seperti istilahnya <em>flash fiction</em> bisa diartikan sebagai <em>fiksi sekilas lalu</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Bagian terpenting dari <em>flash fiction</em> bukan berada di jumlah kata, tapi cara penuturan bercerita dan kejadian dalam kisah itu sendiri, yang harus betul-betul mewakili kejadian sekilas pada satu waktu. Informasi yang disampaikan tentunya juga tidak sebanyak sebuah cerita pendek dalam format asli.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Boleh anda jelaskan, tahap-tahap penulisan yang anda lalui dalam <a href="http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap" target="_blank">menulis flash fiction</a> ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Biasanya yang tergambar di ingatan saya adalah adegan terakhir dari sebuah <em>flash fiction</em>. Lalu saya mulai membuka laptop, menghadapi layar kosong, menggambarkan karakter sang tokokh dalam kepala, dan semua mengalir begitu saja.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana dengan cerpen ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ini sedikit lebih kompleks. Biasanya saya akan lebih dulu menentukan konflik seperti apa yang akan ditampilkan. Lalu mencari karakter seperti apa yang kira-kira mungkin menghadapi permasalahan seperti itu. Lalu saya mulai merangkai setting tempat dan waktu, lagi-lagi hanya di dalam kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Persiapan seperti itu biasanya memakan waktu 15-30 menit. Kemudian saya mulai menulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Anda termasuk penulis yang membuat perencanaan awal (outline) sebelum menulis atau menulis mengalir begitu saja ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Tentu membuat perencanaan. Karena bercerita tak boleh sembarangan, bukan? Tapi saya tidak pernah benar-benar menerapkan konsep outline.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menyimpan semuanya secara garis besar di dalam kepala saja dan menyesuaikannya dengan tangan saya.</p>
<p style="text-align: left;">Yang paling penting adalah mempertahankan mood saya saat sedang menulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Sebelum menulis, anda sudah menetapkan terlebih dahulu bagian opening &amp; ending tulisan anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ending. Biasanya saya sudah menggambar ending di dalam kepala saya. Tapi untuk beberapa cerita seperti Tetralogi Roman, saya belum benar-benar memutuskan ending sampai di cerita keempat.</p>
<p style="text-align: left;">Ada kalanya saya ingin mengikuti saja sampai di mana batas jelajah imajinasi saya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jumlah kata yang dipakai dalam fiksi pendek (khususnya flash fiction) tentu terbatas. Bagaimana anda menyiasatinya ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Dengan memainkan tempo cepat dalam bercerita, tidak bertele-tele dalam menyampaikan ide yang dimaksud. <em>Flash fiction</em> ditujukan untuk pembaca dewasa, jadi perlakukan pembaca selayaknya mereka orang dewasa yang cerdas.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda menciptakan karakter yang kuat dalam fiksi pendek dengan jumlah kata terbatas ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Dengan menggambar segala detail di kepala saya. Saat kita sudah bisa membayangkan secara sempurna bagaimana tokoh di dalam cerita itu, maka kita bisa dengan mudah mengira-ngira, dialog seperti apa yang akan dia sampaikan, bagaimana cara berbicaranya, dan pola berpikirnya.</p>
<p style="text-align: left;">Informasi fisik dapat diselipkan dalam dialog atau narasi secara sekilas.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa anda menuliskan cerita berbasis plot atau karakter ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Karakter. Karena setelah menentukan karakter, baru saya bisa menentukan plot, termasuk konflik seperti apa yang mungkin terjadi di sekitar karakter.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jenis konflik mana yang lebih menarik ditonjolkan; internal atau eksternal ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Internal selalu lebih menarik. Karena manusia pada dasarnya selalu lebih menyukai cerita tentang dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Seberapa penting deskripsi menurut anda dalam penulisan fiksi pendek ? </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Deskripsi selalu perlu. Tapi jika terlalu banyak dipadatkan dalam satu fiksi pendek, tentu pembaca akan menjadi jengah karena terlalu banyak informasi yang coba diserapnya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam fiksi pendek, detail deskripsi seharusnya memakai ‘metode selipan’ agar pembaca tak merasa dicekoki.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Kebanyakan narasi cenderung melambatkan cerita, menurut anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Betul narasi cenderung melambatkan cerita, tapi tak pula selamanya. Repetisi dalam narasi bisa dipergunakan untuk mempercepat tempo, karena pada dasarnya narasi digunakan untuk menjabarkan informasi.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan adanya pengulangan-pengulangan informasi tertentu, dari awal pembaca akan tahu mencermati informasi tersebut dan menanti-nanti apa yang sebenarnya coba disampaikan sehingga tempo tidak lagi terasa terlalu lambat, seperti yang saya praktekkan di <em>Rokok Pembunuh</em> (ISI;Antologi Fiksi).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa tips anda untuk membuat paragraph pembukaan yang lansung menarik perhatian pembaca ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Permulaan cerita selalu menarik jika dibuka dengan detail setting, baik itu tempat ataupun waktu, disambung dengan pengenalan tokoh secara singkat, baik melalui dialog ataupun paragraf narasi.</p>
<p style="text-align: left;">Hal ini menurut saya bisa memancing daya imajinasi pembaca untuk menggambar kisah sejak awal di dalam kepalanya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda mengatur tempo cerita,; kapan harus lambat dan dibagian mana harus cepat ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Begini, saat anda selesai menulis, coba baca kembali cerita anda dengan suara (bukan dalam hati).</p>
<p style="text-align: left;">Berdongenglah pada diri sendiri. Anda akan tahu kapan harus bercerita dengan santai, dan kapan waktunya menggebu-gebu, bukan? Menurut saya begitulah menulis. Bercerita, berdongeng.</p>
<p style="text-align: left;">Jadikan aksara sebagai suara.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Mana yang lebih baik menurut anda; memunculkan karakter melalui tindakan/aksi/adegan atau melalui isi pikiran/kepala ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Keduanya perlu. Tapi akan lebih mudah jika kita klasifikasikan saja. Cara berpikir ditunjukkan melalui pengadeganan, dan perasaan si karakter melalui penjabaran isi kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Saya suka ironi begini, karena seharusnya apa yang dirasakan bisa ditunjukkan secara impulsif melalui tindakan, sementara pemikiran cenderung disimpan dalam kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi kita sedang <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway" target="_blank">menulis fiksi</a>, kan? Tugas kita membalikkan realita.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda memilih/menentukan setting (tempat &amp; waktu) yang sesuai/tepat untuk plot cerita ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Gampang. Tentukan setting terlebih dahulu, maka plot cerita akan mengalir mengikutinya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa saran anda mengenai cara <a href="http://indonovel.com/4-tips-menulis-cerpen" target="_blank">menulis dialog cerpen</a> yang tepat, orisinil dan tidak klise ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Saat menulis, coba bayangkan ada seseorang dengan karakter si tokoh sedang berbicara seperti itu pada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau anda tidak sampai ingin muntah dan menendang kepalanya, berarti dialog anda cukup aman dan tidak klise.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Di tahap pengeditan naskah buku, apa saja yang anda kerjakan ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Membaca ulang buku pelajaran Bahasa Indonesia saya kelas 1 &#8211; 3 SMA. Merayu beberapa kawan untuk memberikan bala bantuan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak teliti, dan kesalahan pengetikkan selalu menjadi masalah utama. Saya butuh orang lain ! (tertawa)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Mengenai self publishing (indie) : <em>Prediksi anda tentang prospeknya dimasa depan </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Saya rasa pergerakannya akan sama seperti masa awal band-band indie. Tak lama lagi akan merebak di mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Selamat datang penulis muda !</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa kelebihan dan kekurangannya dibanding penerbitan konvensional</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Kelebihannya; Tak perlu bingung dengan permintaan bertele-tele soal penyesuaian cerita agar bisa dinikmati pembaca, sesuai selera pasar. Bebas menyampaikan hal-hal bahkan secara vulgar.</p>
<p style="text-align: left;">Kekurangannya; Nama dan penghasilan anda tidak akan sebesar mereka yang dinaungi penerbit besar. Itu saja.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bisakah profesi penulis penuh waktu dijadikan sumber pendapatan utama ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja. Kenapa tidak ? Asal pintar berhitung dan yakin benar bahwa tulisan anda layak baca.</p>
<p style="text-align: left;">Caranya, Belajar sombong saja !</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Bagi pembaca yang tertarik dengan buku ISI; Antologi <em>Fiksi,</em> silahkan membaca sinopsis <a href="http://bukudeedee.blogspot.com/" target="_blank">ISI</a>, dan selanjutnya bisa memesan buku tersebut lansung kepada penulisnya <a href="mailto:dee.dee.sabrina<a href="http://twitter.com/live">@live</a>.com">dee.dee.sabrina@live.com</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fungsi Dialog Dalam Flash Fiction</title>
		<link>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 12:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pemakaian narasi berpotensi menjebak seorang penulis flash fiction untuk bermonolog. Gaya menulis fiksi ini menjauhkan pembaca dari jalan cerita. Pembaca merasa tidak dilibatkan, diposisikan sebagai pendengar disaat mereka ingin menjadi penonton. Cerita yang bagus layaknya sebuah sinema yang ditayangkan, bukan ? Saya gemar membaca fiksi mini 100 kata (flash fiction) karya penulis dalam dan luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Pemakaian narasi berpotensi menjebak seorang penulis <strong><em>flash fiction</em></strong> untuk bermonolog.</p>
<p style="text-align: left;">Gaya <em>menulis fiksi</em> ini menjauhkan pembaca dari jalan cerita. Pembaca merasa tidak dilibatkan, diposisikan sebagai pendengar disaat mereka ingin menjadi penonton.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita yang bagus layaknya sebuah sinema yang ditayangkan, bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya gemar membaca <strong><em>fiksi mini</em></strong> <strong><em>100 kata</em></strong> (<em>flash fiction</em>) karya penulis dalam dan luar negeri.</p>
<p style="text-align: left;">Hampir semua <em>flash fiction</em> yang bagus dimata saya didominasi oleh dialog ketimbang narasi.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> dominan dialog umumnya terasa lebih hidup. Tak salah kalau banyak mentor menganjurkan agar penulis lebih banyak memakai dialog dalam bercerita.</p>
<p style="text-align: left;">Anjuran itu benar adanya.</p>
<p style="text-align: left;">Sepanjang tahun 2010 ini saya menulis flash fiction untuk mengisi blog pribadi saya</p>
<p style="text-align: left;">Dari pengalaman itu saya mengidentifikasi sedikitnya ada 3 hal, yang menyebabkan dialog punya kemampuan menghidupkan cerita, yaitu;</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Dialog sebagai karakter</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Dialog menandakan kehadiran karakter dalam cerita. Ada ucapan, ada orang. Berarti dialog sebenarnya adalah cerminan dari karakter itu sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Melalui dialognya, pembaca bisa mendalami isi pikiran tokoh, sifat-sifatnya, serta posisinya dalam cerita (protagonist, antagonis, dsb), Pembaca juga bisa mengetahui motif dan tujuan karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Ini sama seperti menilai seseorang didunia nyata melalui ucapan-ucapannya. Cerita menjadi lebih hidup, karena dialog merepresentasikan banyak hal tentang karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Menjelaskan karakter melalui deskripsi dan narasi, tidak mungkin dilakukan dalam <em>flash fiction</em> 100 kata. Untuk melukiskan satu karakter saja dalam bentuk narasi, penulis butuh lebih dari <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara, hanya butuh 1-2 dialog pendek, berupa satu kalimat lengkap, untuk menggambarkan kepribadian seorang karakter. -artikel khusus mengenai karakter, bisa anda baca<a href="http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction" target="_blank"> diSINI</a>-.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Dialog adalah konflik</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tak ada konflik, tak ada cerita. Bayangkan bila Harry Potter tidak berkonflik melawan Lord<em>..,kau-tahu-siapa?</em>-.</p>
<p style="text-align: left;">Konflik dalam fiksi tidak cuma pertarungan pedang antara pahlawan versus penjahat.</p>
<p style="text-align: left;">Lebih banyak konflik tergambar dalam bentuk perbedaan pendapat, sehingga umumnya hampir semua dialog menyimpan potensi konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog merupakan cara termudah menggambarkan konflik dalam cerita. Cukup dua atau lebih karakter saling menegasi ketika masing-masing mengucapkan kalimat yang bertentangan maka, terciptalah konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog menghidupkan cerita, karena konflik yang dikandungnya memperhadap-hadapkan karakter secara lansung.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkan dengan konflik yang digambarkan melalui narasi. Pembaca tidak <em>melihat</em> konflik, namun <em>mendengar</em> konflik diceritakan melalui narrator.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Dialog berfungsi <em>show don’t tell</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Bayangkan menonton sandiwara diatas panggung. Karakternya berdialog lansung satu sama lain.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu bandingkan dengan pentas monolog, ketika seorang narrator duduk ditengah panggung, menceritakan kisah kepada penonton, tanpa adegan dan tanpa kehadiran sosok karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Mana yang lebih disukai penonton ?</p>
<p style="text-align: left;">Penonton sebuah sandiwara sama saja dengan pembaca sebuah buku. Jadi <em>tunjukkan, jangan katakan</em> ! &#8211; artikel khusus mengenai <em>Show. Don’t Tell</em>, bisa anda baca<a href="http://indonovel.com/show-dont-tell" target="_blank"> diSINI</a>-.</p>
<p style="text-align: left;">Mengutamakan dialog saat <strong>menulis</strong> <strong>flash fiction </strong><em>100 kata</em> bukan berarti menafikan narasi.<a href="http://antojournal.com" target="_blank"> <em>Flash fiction 100 kata</em></a>, yang hidup, dan didominasi oleh narasi mestilah produk jenius.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri belum sejenius itu. Sementara ini, pemakaian dialog sudah cukup memudahkan saya menghasilkan cerita yang hidup. Itu komentar pembaca di blog khusus <em>flash fiction</em> saya; <a href="http://antojournal.com" target="_blank">antojournal.com</a>. Cobalah tengok.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Tips menulis fiksi</em></strong>, copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

