<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; fiksi mini</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/fiksi-mini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description>Indonovel.com</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 12:33:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Cepat &amp; Praktis (5 Sumber Ide Menulis Flash Fiction)</title>
		<link>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Dari mana-mana. Demikian jawaban yang kerap kita terima dari penulis senior untuk pertanyaan “ darimana ide tulisan datang ?” Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh Pallu Basa terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’. Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual Pallu Basa terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Dari mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian jawaban yang kerap kita terima dari <em>penulis</em> senior untuk pertanyaan “ darimana <em>ide tulisan</em> datang ?”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh <em>Pallu Basa</em> terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’.</p>
<p style="text-align: left;">Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual <em>Pallu Basa</em> terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, 77 km<sup>2</sup>, bukan ? (sabar, saya akan memberikan alamat penjualnya diakhir postingan ini <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><em>Belum ketemu</em> <em>ide</em> lazim menjadi motif pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kerap menjumpai pernyataan seperti itu. Termasuk dari diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan itu bermakna ganda. Kita tidak tahu tempat untuk menemukan ide atau, tahu tapi belum kesana ?</p>
<p style="text-align: left;">Masalah menjadi lebih rumit lagi bagi yang meyakini ide itu diciptakan, alih-alih ditemukan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada waktu kita memerlukan sumber pasti untuk menemukan ide dengan cepat. Mereka yang getol ikut lomba menulis tentu paham urgensinya.</p>
<p style="text-align: left;">Atau dilain waktu, dorongan menulis demikian kuat namun kita bingung hendak menulis apa?</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun, ide adalah modal dasar dari menulis (dan segala sesuatu).</p>
<p style="text-align: left;">Kita butuh ‘tempat-tempat’ pasti untuk didatangi saat membutuhkan ide. Tempat yang hampir selalu menyediakan ide buat kita. Tempat yang tidak pernah berkata ‘tidak ada’ untuk ide yang kita cari.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi dimana ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya tempat-tempat khusus semacam itu.</p>
<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <em>flash fiction 100</em> kata sejak Maret 2010. Kadang-kadang ide tulisan hinggap begitu saja, seperti Newton kejatuhan buah apel. Kadang-kadang saya ‘menciptakannya’ lewat brainstorming.</p>
<p style="text-align: left;">Apel jatuh termasuk langka.</p>
<p style="text-align: left;">Brainstorming juga membutuhkan energi dan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, disaat saya paceklik ide, saya punya tujuan pasti untuk didatangi.</p>
<p style="text-align: left;">Anda berminat ? Ini alamatnya:</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Kitab-Kitab Agama</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama (samawi atau bukan) menyediakan ide tak terbatas.</p>
<p style="text-align: left;">Keuntungannya, anda tak perlu bersusah payah mencari moral cerita -unsur yang mutlak hadir dalam sebuah cerita-,</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir kitab-kitab agama memang ditulis dalam rangka itu.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa cepat ?</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama banyak mengisahkan cerita yang lengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Unsur-unsur pembangun cerita seperti <em>plot</em>, <em>karakter</em>, <em>konflik</em>, <em>setting</em> &amp; <em>resolusi</em> telah tersedia dalam kisah-kisah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak menganjurkan anda menyalin penuh. Tapi anda hanya perlu sedikit waktu dan kreatifitas untuk memodifikasinya.</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ganti latar masa lalu dengan masa kini.</li>
<li>Ubah alur maju menjadi <em>flashback (dan sebaliknya)</em>.</li>
<li>Ubah sumber konflik. Misal sumber konflik adalah patung berhala, menggantinya dengan mobil, rumah atau harta benda yang berpotensi sama -untuk menjadi berhala-.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Penting diingat bahwa ada pakem yang mesti diindahkan bila kitab-kitab agama menjadi rujukan.</p>
<p style="text-align: left;">Agama sangat sensitif bagi -hampir- kita semua.</p>
<p style="text-align: left;">Sebaiknya berhati-hati menyebut nama karakter dan istilah-istilah resmi dalam institusi agama bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, naskah akhir anda tidak dalam rangka menafsirkan ulang moral cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam agama tertentu, moral kisah bersifat permanen. Yang kita lakukan hanya menyampaikan kembali moral kedalam bahasa yang lebih kini.</p>
<p style="text-align: left;">Perilaku ini mirip dengan praktik Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa melalui media kesenian lokal.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh <em>flash fiction</em> saya yang idenya bersumber dari kitab agama adalah <strong><em><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/fiksi-mini-100-kata-iring-iringan-presiden/" target="_blank">Iring-iringan Presiden</a></em></strong>. Silahkan baca.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Folkfore dan Dongeng</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Metodenya sama persis dengan poin satu diatas. Anda hanya butuh usaha sedikit keras untuk menemukan sumber-sumber cerita yang orisinil.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak folkfore atau dongeng yang belum dipublikasikan secara tertulis.</p>
<p style="text-align: left;">Kakek nenek kita adalah rujukan terbaik. Anda cukup menangkap <strong>plot</strong> dan <strong>moral ceritanya</strong>, selebihnya akan diurus oleh kreatifitas alami anda sebagai penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/25/flash-fiction-gali-lubang-tutup-lubang/" target="_blank">Gali Lubang Tutup Lubang</a></strong> contoh <em>flash fiction</em> yang saya adaptasi dari folkfore.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Lirik Lagu</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Banyak lirik lagu dilatarbelakangi kisah utuh. Liriknya mengandung unsur-unsur pembangun cerita seperti karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p style="text-align: left;">Penekanannya, sekali lagi adalah kehadiran moral cerita. Lirik lagu yang tidak mengandung pesan yang kuat tidak termasuk dalam kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh; <em>Living on the jet plane</em> punya Jhon Denver; <em>Last Kiss</em> dari Pearl Jam; dan tentu saja <em><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/20/message-in-a-bottle-fiksi-mini-100-kata/" target="_blank">Message In The Bottle </a></strong></em>karya musisi favorit saya, Sting. Saya menulis satu <em>flash fiction</em> dengan judul yang sama dengan lagu itu. Silahkan cermati.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Fiksi Lama</strong></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Setiap tulisan hanya menceritakan tulisan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kutipan diatas ada benarnya. Tapi mereka yang gegabah mengartikannya secara harfiah punya istilah yang lebih tepat, yaitu plagiat (<em>DodolPreeetDodolPreeet !</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Mereproduksi karya lama punya kelebihan tersendiri. Apalagi karya legendaris.</p>
<p style="text-align: left;">Selain numpang ngetop, penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan latar belakang cerita. Pembaca telah punya bayangan atas cerita dimaksud  Hal ini tentu saja menguntungkan bagi penulis flash fiction yang dibatasi oleh kuota maksimal <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Disini anda hanya perlu memodifikasi. Bahkan penafsiran ulang atas cerita itu sah-sah saja.</p>
<p style="text-align: left;">‘Manipulasi’ pengetahuan pembaca atas cerita bersangkutan dengan cara; Memutarbalikkan plot, mereposisi karakter (antagonis menjadi protagonis) dan atau merevisi ending cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya contoh <em>flash fiction</em> untuk kasus ini. silahkan anda membaca <strong><a href="http://antojournal.com/2011/03/30/flash-fiction-gadis-penjual-korek-api/" target="_blank">Gadis Penjual Korek Api</a></strong> dan <strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/29/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">For Sale; Baby shoes. Never worn</a></strong>.</p>
<h2><strong>5. </strong><strong>Humor Warung Kopi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya punya kebiasaan berkumpul dengan teman-teman diwarung kopi saat senja.</p>
<p style="text-align: left;">Lelucon &amp; anekdot dari obrolan warung kopi banyak menyuplai gagasan untuk flash fiction saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kasus anda, warung kopi boleh berganti kafe, kampus, klub, pos ronda atau rumah tetangga.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap orang mestinya punya pengalaman lucu. Kita perlu <strong><em>prihatin</em></strong> dengan siapa saja yang menjalani hidupnya terlalu serius – <em>bandingkan Gus Dur dengan presiden yang sekarang</em>&#8211;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira jarang ada teman anda yang tidak punya simpanan cerita lucu dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu menggalinya dengan memancing pembicaraan. Mereka dengan senang hati akan membagikannya kepada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kapan waktu anda boleh heran mengetahui, betapa manusia sangat bahagia saat menertawakan dirinya sendiri ?</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menggemari<a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank"> <em>flash fiction</em> </a>bertema humor. Namun saya membatasi humor berdasarkan pengalaman pribadi si penutur saja. Humor-humor kutipan, populer dan klise, tidak termasuk dalam kasus ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/2010/12/19/fiksi-mini-100-kata-bayar-dobel/" target="_blank">Bayar Dobel</a></strong> satu dari banyak <em>flash fiction</em> saya yang bersumber dari humor warung kopi. Silahkan disimak.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengatakan 5 sumber diatas <strong><em>cara cepat &amp; praktis menemukan ide menulis flash fiction</em></strong>, oleh sebab segala unsur pembangun cerita umumnya telah disediakan oleh sumber dimaksud, yaitu; <em>plot</em>, <em>karakter</em>,<em> setting</em>, <em>konflik</em> dan <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Boleh dikata kita hanya perlu menuliskannya kembali.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Apakah anda masih penasaran dengan <em>Pallu Basa</em> paling enak di Kota Makassar ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya merekomendasikan warung <em>Pallu Basa</em> yang berlokasi di sudut Jl. Onta – Jl. Veteran Utara.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tahu, lidah tak pernah bohong.</p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2011">@2011</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Hemingway Ke Tweetfiction</title>
		<link>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 06:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tweetfiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “ Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis cerita fiksi saat mernyatakan itu. Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &#38; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &#38; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ <em>Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi</em> (Ernest Hemingway) “</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar <strong><a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis cerita fiksi</a></strong> saat mernyatakan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &amp; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &amp; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway mengajak para penulis kembali ke kittah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka (Wikipedia).</p>
<p style="text-align: left;">Suatu waktu mungkin kita tanpa sadar telah  keliru menafsirkan definisi ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kerap kita menulis cerita fiksi dengan alur kesana kemari, meluas, melebar, tak jelas juntrungannya.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan di genre fantasy, pembaca menginterpretasi ceritanya berdasarkan pengalaman dunia nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menuntut cerita yang logis, dapat dipercaya, serta mudah dibandingkan dengan kenyataan.</p>
<p style="text-align: left;">Ini penekanan rumus Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Lupakan aksesoris &amp; ornamen yang tidak berkontribusi memajukan cerita: <em>Ayahku matahari. Ibuku bumi. Semesta membesarkan aku dengan cinta seterang bulan purnama</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Guna membuktikan kebenaran teorinya, Hemingway merilis fiksi yang terdiri dari 6 kata saja di tahun 1920. Itulah <em>novel</em> terpendek sedunia:<strong><em></em></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em> For sale: baby shoes, never worn.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mendadak saya teringat sesuatu saat merenungkan kembali teori Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Berabad-abad sebelum dia merilis novel terpendeknya, sebenarnya telah lahir lebih dahulu sebuah fiksi pendek karya Gaius Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>I came, I saw, I Conquered</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Memang Julius Caesar tidak bermaksud <em>menulis</em> cerita fiksi. Enam kata itu lebih merupakan ungkapan atas refleksi perjalanan hidup sang penakluk dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Sejarahlah yang kemudian secara alamiah mempopulerkannya lewat tradisi lisan keseluruh dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Fakta hari ini membuktikan ungkapan itu telah menjelma sebagai salah satu karya literer terpopuler.</p>
<p style="text-align: left;">Hebatnya lagi, karya itu dalam versi aslinya hanya disusun oleh 3 kata; <strong>Veni, Vidi, Vici</strong>. (<em>yakin pernah mendengar pemeo ini ?</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Fiksi Panjang &amp; Pendek Intinya Sama Saja</h3>
<p style="text-align: left;">Pertanyaannya kemudian : “ apakah <em>6 kata itu layak disebut cerita fiksi ?</em> “</p>
<p style="text-align: left;">Disadari atau tidak, generasi kita besar dalam pemahaman keliru. Kita terlanjur memahami fiksi sebatas karya-karya tradisional berbentuk<strong> novel</strong> atau <strong>cerpen</strong>, minimal terdiri dari 1.000 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Logika kita serta merta menolak kemungkinan adanya ceritafiksi yang disusun oleh 6 kata saja. Boleh jadi Hemingway berniat mengolok-olok kita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi tidak kawan<em>…</em>Hemingway sungguh serius.</p>
<p style="text-align: left;">Saya belum menemukan literatur yang menyebutkan jumlah kata pada tulisan sebagai syarat penulisan cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Panjang pendeknya cerita sekedar kategorisasi produk di industri penerbitan. Misalnya, 1.000 – 7.500 (cerpen), 7.500 – 20.000 (novelette), 50.000 – 110.000 (novel).</p>
<p style="text-align: left;">Lila Guzman, pengarang <em>Ask the Author</em>, mengatakan; Cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Di sekolah kita juga diajari, bahwa sebuah cerita fiksi yang utuh, plotnya harus mengandung empat elemen cerita, yakni : <em>karakter</em>, <em>setting</em>, <em>konflik</em>, &amp; <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Selama sebuah cerita memenuhi seluruh persyaratan itu, ia layak disebut cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, bukan karena panjang atau pendeknya. Kalau Hemingway mengatakan cuma 6 kata saja, karena mungkin menurutnya itu ambang minimal cerita fiksi dalam bahasa ibunya bisa memuat seluruh persyaratan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Baiklah, untuk menyamakan persepsi, mari kita membedah karya Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Aku datang, Aku lihat, Aku menang.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Cerita ini secara gamblang memperlihatkan awal, tengah &amp; akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Karakternya Julius Caesar (<em>point of view</em> orang pertama tunggal), konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi, settingnya bertempat di medan peperangan &amp; berlatar zaman kejayaan kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar sebagai pemenang setiap peperangan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi…</p>
<p style="text-align: left;">Yah, anda mau protes kan, sebab konflik &amp; setting tidak eksplisit tertera dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi anda tentu masih ingat teori Hemingway “ … <em>selebihnya hanya imajinasi</em>”.</p>
<p style="text-align: left;">Seorang penulis bisa membubuhkan imajinasi sampai beribu-ribu halaman guna menulis epos hidup Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Berpangkal dari 6 kata itu, ribuan kalimat selanjutnya bisa berupa sekumpulan karakter pendamping, tempat-tempat peperangan, jalannya peperangan demi peperangan, tapi tidak dapat memungkiri kenyataan kalau epos itu sebenarnya tetap bisa diceritakan oleh 6 kata saja.</p>
<p style="text-align: left;">Malah karya Julius Caesar itu bisa diadaptasi kedalam beragam cerita fiksi lainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Enam kata; <em>I came, i saw, i conquered</em>, dalam imajinasi seorang sutradara menjelma jadi skenario film <em>Troy;</em> Tentara Yunani (Achiles cs) <span style="text-decoration: underline;">mendatangi</span> kota Troya, <span style="text-decoration: underline;">melihat</span> situasi sebelum merancang strategi kuda troya dan akhirnya <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> perang.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tolkien</em> sadar tidak sadar juga memakai teori 6 kata + imajinasi Hemingway ketika menulis <em>Lord of The Ring</em>;</p>
<p style="text-align: left;">Frodo cs <span style="text-decoration: underline;">datang</span> dari Shire ke Mordor, <span style="text-decoration: underline;">melihat-lihat</span> situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa <span style="text-decoration: underline;">mengalahkan</span> mata jahat Sauron.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Harry Potter</em> pun sebenarnya ditulis <em>JK. Rowling</em> menggunakan rumus ini;</p>
<p style="text-align: left;">Harry <span style="text-decoration: underline;">datang</span> ke dunia sihir, <span style="text-decoration: underline;">Melihat-lihat</span> situasi (Hogwarts), dan <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> pertempuran melawan Lord Voldemort ( Upps, maaf. Seharusnya <em>dia-tak-boleh-disebut-namanya</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Kelahiran Flash Fiction</h3>
<p style="text-align: left;">Sejarah penerbitan tak lagi berpihak pada fiksi pendek pasca Hemingway. Kita memaklumi mengapa media cetak tradisonal (koran) tak menyisakan minat (dan kolom tentu saja) pada genre ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kolom-kolom pada koran yang luas memang sengaja didesain untuk cerpen (termasuk cerbung) dengan kuota minimal 1.000-2.500 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu tiba-tiba, Bumm !</p>
<p style="text-align: left;">Manusia menemukan internet. Era kedigdayaan koran pun runtuh.   Internet dengan segala fiturnya memungkinkan setiap orang bisa mempublikasikan karya fiksinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Dan berita bagusnya adalah; Gratis !</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi pendek ala Hemingway seolah bangkit kembali dari tidur panjangnya, dan menemukan wadah yang sangat tepat di internet berkat kemunculan salah satu fitur microblog bernama Twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter adalah kegiatan nge-Blog dengan karakter terbatas (mikro), yakni 140 karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter memungkinkan penggunanya (Tweeple) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para followers-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Tweet dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi : <span style="text-decoration: underline;">Menciak</span> (dari kata dasar <strong>ciak</strong>).</p>
<p style="text-align: left;">Ciak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Muhammad Ali, Pustaka Amani/Jakarta) diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap); Tuwit..tuwit….</p>
<p style="text-align: left;">Media sosial ini dilirik oleh mereka yang hobby menulis fiksi guna menghidupkan kembali tradisi menulis fiksi pendek ala Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Tweeps berlomba-lomba mengicaukan karya-karya <em>fiksi </em>mereka di twitosphere.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan ada akun bernama <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a> yang khusus menayangkan fiksi pendek yang di-retweet (RT) dari para followersnya.</p>
<p style="text-align: left;">Disatu sisi twitter memungkinkan para penulis fiksi melatih teknik memadatkan cerita. Pembaca disisi lain, menemukan keasyikan tersendiri saat membaca fiksi-fiksi mungil semacam ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kesingkatan dan kesekejapannya terasa menggugah dan punya estetika tersendiri. Dibaca sekejap namun menimbulkan kesan mendalam dan lama, sama seperti kita membaca fiksi panjang (<em><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">cerpen</a></em> &amp;<em> novel</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter menjadi kategori tersendiri dikalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air, hingga mulai disosialisasikan dengan nama <strong>fiksi mini</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri kurang sepakat dengan pemberian nama <strong><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank">fiksi mini</a></strong>. Sebutan tu tidak punya differensiasi tegas.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini frasa cerita/fiksi mini terlanjur dipakai untuk menamai fiksi pendek 1.000 kata yang populer di koran-koran dengan nama cermin (cerita mini).</p>
<p style="text-align: left;">Saya lebih suka menamai cerita fiksi dalam 140 karakter dengan sebutan :  <strong>tweetfiction</strong>. Nama ini menarik garis demarkasi yang jelas antara fiksi maksimal 140 karakter dengan cerita/fiksi mini ala koran.</p>
<p style="text-align: left;">Nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi yang dipublikasikan (di-tweet) dari dan oleh pengguna twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Singkatnya, definisi<em> tweetfiction</em> adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan (di-tweet) penulisnya melalui twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh &amp; tips menulisnya diulas di artikel  <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction" target="_blank">tips menulis tweetfiction..</a></p>
<p style="text-align: left;">Sayangnya semangat untuk memasyaratkan tweetfiction tidak dibarengi disiplin yang ketat.</p>
<p style="text-align: left;">Karena kesekejapan &amp; kesingkatannya sehingga terkesan digampangkan. Syarat awal, tengah, akhir + 4 elemen cerita kerap diabaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ayal lagi, sering kita temui tweet berupa; puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, potongan dialog, yang diklaim penulisnya sebagai <strong>tweetfiction</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi apapun itu, trend menulis<em><a href="http://antojournal.com" target="_blank"> tweetfiction</a> </em>sungguh hal yang sangat positif.</p>
<p style="text-align: left;">Mari kita awali dengan kuantitas. Kualitas akan menyusul kemudian dengan sendirinya.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menulis Tweetfiction</title>
		<link>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 04:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[tweetfiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel ..dari hemingway ke tweetfiction. Berikut contoh tweetfiction : @ Human Trafficking Dijual; Bayi. Belum pernah dijual @ Kamar Imajiner Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari &#38; dipan, juga dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><strong>Tweetfiction</strong> adalah cerita <em>fiksi</em> maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel<a href="http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction" target="_blank"> ..dari hemingway ke tweetfiction.</a></p>
<p style="text-align: left;">Berikut contoh <em>tweetfiction</em> :</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Human Trafficking</strong></p>
<p style="text-align: left;">Dijual; Bayi. Belum pernah dijual</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Kamar Imajiner</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari &amp; dipan, juga dalam foto berbingkai.</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>No Action Talk Only</strong></p>
<p style="text-align: left;">“ Buruk ! “. Ia menghempaskan novel itu, dan menyesal telah membelinya. Namun tiba-tiba ia mengingat novelnya yang tak pernah selesai.</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Syukur</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”</p>
<p style="text-align: left;">@ <strong>Mabuk</strong></p>
<p style="text-align: left;">Bir-nya serupa air kencing. Kuning &amp; berbusa. Ia terus meminumnya, lalu kencing, minum lagi, kencing lagi, terus menerus di gelas yang sama.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sumber</em>: 2010 <a href="http://twitter.com/daeng_anto" target="_blank"><a href="http://twitter.com/daeng_anto">@daeng_anto</a></a></p>
<p style="text-align: left;">Bila anda penggemar<em> fiksi</em> (penulis maupun pembaca) &amp; juga pengguna twitter (tweeps), mungkin familiar dengan kategori ini. Meski terbilang baru didunia fiksi tanah air, <em>tweetfiction</em> lansung menyedot perhatian twitosphere.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan ada akun <a href="http://twitter.com/fiksimini">@fiksimini</a>, yang khusus me-<em>retweet</em> (RT) fiksi 140 karakter dari para followers-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Daripada cuma membaca tweetfiction orang, mengapa tak coba menuliskannya sendiri. Mudah saja. Berikut ini tips-tips-nya untuk anda :</p>
<h2><strong>Tentukan tema tweetfiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Seseorang <em>menulis</em> dengan tujuan menyampaikan sebuah tema. Tak terkecuali tweetfiction. Tema menjadi ruh yang menghidupkan tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Karena jumlah kata yang terbatas, rasanya tak berlebihan bila tweetfiction kadang dianggap sebagai serangkaian kalimat rangkuman atas gagasan (tema) tertentu dalam bentuk cerita.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> yang anda maksudkan sebagai <em>tweetfiction</em> kemungkinan besar cuma tweet biasa tanpa keberadaan tema. Semacam pernyataan atau informasi belaka atas status anda saat itu (<em>what are you doing ?</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Pada empat contoh tweetfiction diawal tulisan, temanya menjadi judul.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca mencari gagasan, gugahan &amp; pesan moral mendalam yang ingin anda sampaikan dalam tulisan. Itulah tema.</p>
<h2><strong>Menulis bebas</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tema sudah ada. Saatnya menerjemahkan tema kedalam tulisan. Terlihat susah karena tak ada teknik baku disini.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap penulis punya ciri khas &amp; gaya bahasa tersendiri dalam <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis fiksi</a>. Tergantung kejeniusan, kreatifitas dan jam terbang menulis masing-masing.</p>
<p style="text-align: left;">Kasusnya hampir sama dengan <em>menulis</em> kalimat/paragraf pertama pada fiksi panjang (<a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank"><em>cerpen</em> </a>atau <em>novel</em>), Susah-susah gampang. Hanya saja pada <em>tweetfiction</em>, paragraf pertama sekaligus merupakan paragraf tengah dan akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa orang menuliskannya dalam bentuk dialog, sebagian besar lainnya menulis dalam bentuk narasi tindakan, adegan, atau situasi.</p>
<p style="text-align: left;">Temukan <em>Muse</em> anda sendiri dan ingat selalu nasehat J.J.R Tolkien :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">“<em>Pekerjaan yang belum dimulai adalah yang butuh waktu paling lama untuk diselesaikan</em> “</p>
</blockquote>
<h2><strong>Pastikan </strong><strong><em>syarat cukup</em> tweetfiction terpenuhi</strong></h2>
<p style="text-align: left;"><em>Cerita fiksi</em> dianggap cukup memenuhi syarat bila ada awal, tengah, akhir dan mengandung elemen cerita utuh; <em>karakter</em>, <em>setting</em>,<em> konflik</em>, <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Awal, tengah, akhir, tidak berarti anda harus membagi cerita kedalam 3 babak secara eksplisit &amp; terpisah satu sama lain. Itu mustahil anda terapkan.</p>
<p style="text-align: left;">Begitu pula bila memaknai kehadiran elemen cerita secara harfiah, akan berakibat <em>tweetfiction</em> anda melampaui ambang maksimal 140 karakter. Kehadiran elemen cerita bisa berarti lansung ataupun tidak lansung.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa mendeskripsikan karakter (nama, sifat, etc), setting (tempat, waktu, etc), asalkan pembaca bisa <strong><em>merasakan</em></strong> kehadirannya dalam imajinasi mereka, dianggap sudah ada.</p>
<p style="text-align: left;">Supaya lebih mudah dipahami, mari kita bedah tweetfiction <strong>@ Syukur</strong> :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;"><em> Awal</em> ; tokoh (orang ketiga tunggal) kesal terhadap bunyi hujan yang turun tengah malam mendadak mengganggu tidurnya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tengah</em> : Ditengah kekesalan, tokoh mendongak ke atap rumahnya, dan tiba-tiba merasa dirinya berdosa telah menyesali Tuhan yang menurunkan hujan.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Akhir</em> : Tokoh merenungkan kembali sikapnya terhadap Tuhan. Ia sadar tak sepantasnya menyumpahi hujan Bukankah ia memiliki rumah untuk bernaung.</p>
<p style="text-align: left;">Ia membayangkan bagaimana nasib mereka yang tidak punya rumah disaat turun hujan lebat dimalam hari. Ia menyesali perbuatannya, lalu mengucap syukur pada Tuhan.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Karakter </em>: karakternya terlihat jelas dalam cerita (tokoh <em>Ia</em>). Dianjurkan memakai satu karakter  saja (sudut pandang orang pertama tunggal atau orang ketiga), atau maksimal 2 karakter bila terpaksa.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Settting </em>: Dimana tempat adegan cerita diatas terjadi ? Dikamar tidur dirumah tokoh bersangkutan. Kapan kejadian tersebut berlansung ? Di malam hari saat turun hujan lebat.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada deskripsi tentang tempat &amp; waktu. Namun saya yakin anda mengimajinasikan kehadirannya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Konflik </em>: konflik eksternal terjadi antara sang tokoh vs alam/cuaca, antara tokoh vs Tuhan, Konflik internal terjadi dalam diri sang tokoh (bersyukur vs tidak bersyukur).</p>
<p style="text-align: left;"><em>Resolusi </em>: Sang tokoh mengalami perubahan paradigma dalam memandang dirinya, alam serta Tuhan. Dari kesal menjadi bersyukur.</p>
<p style="text-align: left;">Resolusi adalah akhir cerita dimana terjadi perubahan pada karakternya. Cerita jangan dibiarkan mengambang. Boleh meninggalkan pertanyaan, selama disediakan penanda yang jelas kalau cerita tersebut telah selesai. Penanda kepada pembaca bisa berupa kesimpulan (pesan moral) yang ditarik dari cerita tersebut.</p>
<h2><em>Show, don’t tell</em></h2>
<p style="text-align: left;">Disarankan menggunakan kata kerja aktif pada cerita berbentuk adegan atau situasi. <em>Show, don’t tell</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Ketimbang memakai kalimat: <em>Kamarnya dipenuhi bingkai foto</em>..  Lebih bagus menggunakan : <em>Bingkai foto memenuhi kamarnya.</em> (cukup mengganti awalan <em>di-</em> menjadi <em>me-</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca seolah ditarik ketengah peristiwa yang sedang terjadi. Menunjukkan peristiwa yang tengah berlansung terkesan lebih hidup daripada memberitahu lansung pembaca.</p>
<h2><strong>Mengedit tweetfiction</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Anda bisa melihat sisa kuota atau kelebihan kata pada sudut kanan atas kotak tweet. Minus satu (-1) kata saja berakibat tulisan gagal di-tweet.</p>
<p style="text-align: left;">Hindari mendeskripsikan karakter dan atau setting. Hapus semua kata-kata lemah yang tidak berkontribusi menguatkan kalimat. Diksi (pilihan kata) sangat menentukan. Pemakaian kosa kata bermakna ganda (konotatif) sangat membantu.</p>
<p style="text-align: left;">Yang paling gampang tentu saja menghapus semua <em>adverbia </em>(kata keterangan). Contoh:</p>
<p style="text-align: left;">-          Kucing itu mencakar dengan kuku-kukunya yang tajam (<em>sebelum diedit</em>)</p>
<p style="text-align: left;">-          Kucing mencakar (<em>setelah diedit</em>),</p>
<p style="text-align: left;">Kelima tips diatas berakar dari teknik dasar penulisan <strong>fiksi </strong>di semua ktegori, dan sepertinya cocok juga diterapkan pada t<em>weetfiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sayang, tak ada jaminan 2 orang (<em>atau lebih</em>) memakai satu teknik <strong>menulis</strong> yang sama akan membuahkan hasil serupa. K</p>
<p style="text-align: left;">egagalan pada penggunaan tips diatas pada akhirnya menjadi tanggung jawab anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank"><strong>Menulis fiksi</strong> </a>bukan ilmu pasti. Setiap hari bermunculan teknik baru. Namun biasanya ilmu lebih cepat diserap lewat latihan instensif.</p>
<p style="text-align: left;">Kuncinya hanya <em>menulis</em>,<em> menulis</em>, dan<em> menulis</em>..</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Kelemahan Flash Fiction Indonesia</title>
		<link>http://indonovel.com/kelemahan-flash-fiction-indonesia/</link>
		<comments>http://indonovel.com/kelemahan-flash-fiction-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 04:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Sepantasnya awal abad 21 dicatat sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan sastra tanah air. Abad 21 berjasa melahirkan Istilah sastra dunia maya. Berkat internet, ribuan orang dari seluruh penjuru tanah air kini bisa merilis karya sastranya ke publik hanya dengan menekan telunjuknya. Raib sudah kasta penulis pemula, penulis ternama. Semua penulis setara. Media-media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Sepantasnya awal abad 21 dicatat sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan <em>sastra</em> tanah air.</p>
<p style="text-align: left;">Abad 21 berjasa melahirkan Istilah sastra dunia maya. Berkat internet, ribuan orang dari seluruh penjuru tanah air kini bisa merilis karya sastranya ke publik hanya dengan menekan telunjuknya.</p>
<p style="text-align: left;">Raib sudah kasta penulis pemula, penulis ternama. Semua penulis setara. Media-media tradisional tak lagi digdaya menentukan naskah penulis siapa yang hendak dimuat.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap hari masyarakat dibanjiri ratusan karya fiksi yang terentang mulai dari puisi, <a href="http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction" target="_blank">tweetfiction</a>, <a href="http://antojournal.com/2010/03/29/no-smoking-flash-fiction/" target="_blank">flash fiction</a>, <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">cerpen</a>, novelette sampai <em>novel</em>. Dan berita bagusnya adalah, pembaca bisa lansung berinteraksi dengan penulis bersangkutan disaat bersamaan tanpa batas ruang &amp; waktu.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca juga sudah bisa mengakses jenis<em> <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">fiksi</a></em><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank"> pendek</a> (<em>tweetfiction</em> &amp; <em>flash fiction</em>) yang selama ini tak pernah mendapat ruang dimedia-media tradisonal. <em>Flash fiction</em> tiba-tiba saja menjadi anak emas di jagat sastra dunia maya. Bentuknya yang pendek, padat, dan bisa dibaca sekejap dianggap paling sesuai dengan tipikal pengguna internet yang tidak betah berlama-lama membaca tulisan panjang dilayar komputer.</p>
<p style="text-align: left;">Kemudahan mempublikasikan karya fiksi bagi setiap orang secara gratis adalah satu soal. Kualiitas yang berbanding terbalik dengan kuantitas adalah soal lain.</p>
<p style="text-align: left;">Kita bersyukur karena internet membawa dampak positif yang sangat besar bagi perkembangan dunia fiksi tanah air, tapi bukan berarti kita membiarkan kualitas karya-karya fiksi ikut melorot.</p>
<p style="text-align: left;">Sama halnya di dunia nyata, di dunia maya pembaca juga adalah raja. Beragamnya pilihan membuat pembaca berkuasa hanya memilih karya fiksi yang berkualitas saja untuk ditukar dengan waktunya.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis <em>flash fiction</em> yang tidak mau karyanya berakhir sebagai zombie yang mengotori dunia maya, usahakan karyanya tidak mengandung salah satu atau ketiga kelemahan berikut ini :</p>
<h2><strong>Cerita tidak utuh</strong></h2>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> adalah rangkaian cerita utuh mulai dari awal, tengah sampai akhir yang tak terpisahkan, dan diikat oleh satu benang merah yang jelas. Ada beberapa <em>flash fiction</em> (klaim penulisnya) yang ditemui di blogosphere ternyata hanya merupakan sebuah potongan paragraf dari sebuah cerita besar. Kita tidak pernah tahu darimana awal ceritanya, mengapa cerita tersebut terjadi dan bagaimana akhir ceritanya.</p>
<p style="text-align: left;">Ketidakutuhan lainnya nampak pada kalimat-kalimat yang cenderung berdiri sendiri, berbentuk bait/larik yang terpisah satu sama lain. Mirip puisi (<em>disebut puisi tdk juga</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Tidak ada narasi transisi yang mengikat kalimat sebelum dengan sesudahnya.</p>
<h2><strong>Memberitahu, tidak menunjukkan</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Ini penyakit turun temurun yang juga banyak menjangkiti <strong><em>cerpen</em></strong> dan <strong><em>novel</em></strong> Indonesia. Terlebih karena keterbatasan kata biasanya penulis <em>flash fiction</em> mengambil jalan pintas untuk lebih banyak memberitahu pembaca ketimbang menunjukkan. Alasannya tak ada ruang buat mendeskripsikan setting, karakter atau adegan-adegan tertentu.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Show don’t tell</em> tidak semata mendeskripsikan secara spesifik seluruh karakter, setting atau kejadian tertentu. Menunjukkan berarti menghadirkan pembaca kedalam adegan seolah-olah dia memerankan salah satu karakter cerita. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini bisa dibaca pada seri artikel <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-fiksi-100-kata-flash-fiction" target="_blank">mungkinkah menulis fiksi dalam 100 kata……</a></p>
<h2><strong>Resolusi Cerita Tidak Jelas</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya mencurigai kelemahan ini dipengaruhi oleh kebiasaan menulis puisi.  Tak heran bila penuliscerita yang berlatar belakang pujangga lazim ditemui menulis ending yang membingungkan. Pembaca tidak (diberi) tahu apa resolusinya, apa perubahan yang terjadi pada karakternya ? Cerita menggantung begitu saja. Bersambung tidak, selesai pun tidak, sebab cerita sekonyong-konyong berakhir.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak penulis ternama menganjurkan untuk selalu mengakhiri cerita dengan teka-teki atau pertanyaan-pertanyaan buat pembacanya. Dalam posisi saya sebagai pembaca, sangat terasa pengkhianatan oleh penulis pada saya yang telah merelakan waktu &amp; uang untuk membaca tulisan <em>penulis</em> bersangkutan. Pembaca ingin akhir <strong>flash fiction</strong> berupa resolusi yang jelas. Aturan ini tidak bisa ditawar-tawar lagi.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/kelemahan-flash-fiction-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>flash fiction aspal</title>
		<link>http://indonovel.com/tips-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tips-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 03:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Anda pengguna internet ? Penggemar fiksi ? Jika jawabannya iya, maka saya asumsikan anda cukup familiar dengan istilah flash fiction. Flash fiction atau di Indonesia disebut cerita/fiksi mini mulai populer. Hal ini seiring membanjirnya penawaran ragam fitur publikasi dari para pengembang internet. Di era teknologi informasi kini, seorang penulis tak perlu lagi harap-harap cemas menanti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Anda pengguna internet ? Penggemar fiksi ?</p>
<p style="text-align: left;">Jika jawabannya iya, maka saya asumsikan anda cukup familiar dengan istilah <a href="http://antojournal.com/what-is-flash-fiction/" target="_blank"><strong>flash fiction</strong></a>. <em></em></p>
<p style="text-align: left;"><em><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank">Flash fiction</a></em> atau di Indonesia disebut cerita/<a href="http://antojournal.com/2010/04/17/bukan-malam-pertama-flash-fiction/" target="_blank">fiksi mini </a>mulai populer. Hal ini seiring membanjirnya penawaran ragam fitur publikasi dari para pengembang internet.</p>
<p style="text-align: left;">Di era teknologi informasi kini, seorang penulis tak perlu lagi harap-harap cemas menanti (koran edisi) hari minggu untuk mengetahui apakah karyanya dimuat atau tidak.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis tak perlu lagi bersusah payah mengirim via pos ke berbagai majalah, hanya untuk menambah tumpukan naskah yang antri di meja redaktur.</p>
<p style="text-align: left;">Dan yang paling menyenangkan yaitu tak perlu bersaing dengan naskah <strong>penulis</strong> ternama <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;">Era kedigdayaan media tradisional mulai redup. Sekarang, penulis pemula atau beken, punya kesempatan sama mempublikasikan karyanya.</p>
<p style="text-align: left;">Internet dalam hitungan detik (klik) telah menempatkan anda sebagai penulis sekaligus editor bagi karya anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pilihan publikasi pun terentang luas, mulai dari; blog, note facebook, mySpace, dumalana, yahoo site, atau forum online.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan yang lagi booming saat ini, <em>fiksi</em> <em>mini</em> 140 karakter (<a href="http://indonovel.com/definisi-dan-sejarahtweetfiction" target="_blank"><strong>tweetfiction</strong></a>) via twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Kemudahan serta kebebasan publikasi hanya satu soal. Seleksi adalah soal lain. Ketika semua orang memiliki media publikasi sendiri, seleksi kualitas kerap diabaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada larangan mempublikasikan karya terburuk sekalipun sepanjang itu tidak melanggar UU.</p>
<p style="text-align: left;">Media tradisional memiliki redaktur khusus yang menyeleksi ketat setiap kiriman naskah yang masuk. Pembaca dimanjakan hanya dengan pemuatan karya-karya berkualitas.</p>
<p style="text-align: left;">Pada media digital yang bersifat personal, tak ada kontrol atas kualitas karya fiksi. Parahnya lagi, sering kita jumpai karya fiksi asli tapi palsu (aspal).</p>
<p style="text-align: left;">Tak percaya ?</p>
<p style="text-align: left;">Coba tengok karya fiksi yang banyak beredar diluar sana, yang diklaim penulisnya sebagai <em>flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Singkat, mungkin menjadi daya tarik utama kategori fiksi mini. Karakteristik <em>flash fiction</em> cocok dengan tipikal pengguna internet yang butuh bacaan singkat, padat, sekejap.</p>
<p style="text-align: left;">Namun bagi penulisnya, keterbatasan kata ini bisa jadi dua sisi mata pedang. Kemudahan sekaligus jebakan.</p>
<p style="text-align: left;">Salah kaprah banyak kita temui di dunia maya pada karya <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">fiksi </a>yang dimaksudkanpenulisnya sebagai flash fiction.</p>
<p style="text-align: left;">Beberapa terkesan menggampangkan menulis flash fiction karena minimnya jumlah kata yang dipersyaratkan (maksimal 100 kata, bahkan ada yang hanya sampai 55 kata).</p>
<p style="text-align: left;">Kita mudah menemukan potongan kisah, sketsa ide, dalam bentuk prosa (<em>bahkan puisi</em>), dan penulis bersangkutan menyebutnya  sebagai <em>flash fiction</em>, hanya karena jumlah katanya dibawah 100.</p>
<p style="text-align: left;">Padahal jumlah kata hanya salah satu syarat perlu, belum memenuhi syarat cukup.</p>
<p style="text-align: left;">Flash fiction adalah sebuah cerita yang berdiri sendiri. Kesatuan cerita yang utuh dengan; awal, tengah dan akhir yang jelas.</p>
<p style="text-align: left;">Tuntas, lugas, vulgar, gamblang, eksplisit, sederhana, tersurat, mudah dimengerti, dan -<em>tentu saja</em>- menghibur.</p>
<p style="text-align: left;">Flash fiction bukan potongan cerita, bukan kepingan kisah yang merupakan bagian terpisah atau lanjutan dari kisah-kisah sebelum &amp; sesudahnya.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction b</em>ukan semata prosa, apalagi puisi yang sukar dipahami dan dijejali kalimat-kalimat artifisial yang hanya dipahami oleh penulisnya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Kecuali jumlah kata, flash fiction tak ada bedanya dengan <strong>cerpen</strong> atau <strong>novel</strong>. Anda bisa melihat contohnya pada <em>flash fiction</em><a href="http://antojournal.com/2010/03/29/cinta-terlarang-flash-fiction/" target="_blank">cinta terlarang</a>.</p>
<p style="text-align: left;">Sebuah <em>fiksi</em> 100 kata disebut <em>flash fiction</em> bila memuat secara jelas (dapat diidentifikasi) empat elemen yang wajib hadir dalam sebuah fiksi, yakni; <em>karakter, setting, konflik</em> &amp; <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Absennya salah satu dari keempat elemen tersebut otomatis menggugurkan klaimnya sebagai flash fiction.</p>
<p style="text-align: left;">Pada flash fiction, pembaca dapat dengan mudah melihat siapa karakternya, dimana settingnya, bagaimana konfliknya, apa resolusinya. Penulis tidak dianjurkan bermain-main dengan kata-kata yang hanya bisa dipahami olehnya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pula tidak dianjurkan menyamarkan konflik atau resolusi lewat rentetan syair para pujangga (<em>ah, tak kuasa aku</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  , lalu berapologi; <em>Ini <a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2010/05/14/resensi-sepotong-bibir-paling-indah-di-dunia/" target="_blank">sastra </a>bung  !</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Kualitas karya <em>flash fiction</em> akhir-akhir ini mulai nampak mengkhawatirkan. Banyak kata-kata bijak, adagium, aforisme, sketsa filosofis, pepatah, curahan hati, majas, cukilan ide, bahkan  puisi (?) yang dipublikasikan penulisnya atas nama flash fiction.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi penulis yang berminat menguji kemampuan menulisnya, ada baiknya mencoba terlebih dahulu menulis <em>flash fiction</em> untuk pembaca anak-anak. Seandainya kemudian pembaca –<em>dalam hal ini anak-anak</em>- mampu mengerti jalan cerita yang dimaksud, maka selamat, anda punya kemampuan<a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank"> menulis <em>flash fiction</em></a> lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: left;">Perbedaan antara flash fiction anak-anak dengan dewasa hanya terletak pada tema/pesan moral dan <em>diksi</em> yang dipakai. Selebihnya sama saja. Kuncinya ada pada jalan cerita yang mudah dimengerti.</p>
<p style="text-align: left;">Buat para pembaca, tips untuk membedakan <em>flash fiction</em> asli dengan palsu, kurang lebih sama.</p>
<p style="text-align: left;">Cermati keberadaan karakter, konflik, setting, serta resolusi yang menandakan tuntasnya cerita fiksi tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita yang plotnya (alur cerita) sukar dipahami patut anda curigai sebagai <strong>flash fiction</strong> aspal.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tips-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

