<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; fiksi mini</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/fiksi-mini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 02:48:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Cepat &amp; Praktis (5 Sumber Ide Menulis Flash Fiction)</title>
		<link>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[tips menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Dari mana-mana. Demikian jawaban yang kerap kita terima dari penulis senior untuk pertanyaan “ darimana ide tulisan datang ?” Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh Pallu Basa terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’. Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual Pallu Basa terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1219" class="wp-caption alignright" style="width: 370px"><img class="size-full wp-image-1219" title="kafe penulis" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/2011/07/kafe-penulis.jpg" alt="cari mencari ide tulisan" width="360" height="270" /><p class="wp-caption-text">kafe tempat mencari ide tulisan</p></div>
<p style="text-align: left;">Dari mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Demikian jawaban yang kerap kita terima dari <em>penulis</em> senior untuk pertanyaan “ darimana <em>ide tulisan</em> datang ?”</p>
<p style="text-align: left;">Tapi koq rasanya sama seperti menanyakan dimana bisa memperoleh <em>Pallu Basa</em> terbaik (makanan khas Makassar), lalu seseorang menjawab ‘di Kota Makassar ’.</p>
<p style="text-align: left;">Anda butuh alamat/lokasi jelas penjual <em>Pallu Basa</em> terbaik ketimbang harus mengelilingi wilayah seluas 175, 77 km<sup>2</sup>, bukan ? (sabar, saya akan memberikan alamat penjualnya diakhir postingan ini <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><em>Belum ketemu</em> <em>ide</em> lazim menjadi motif pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kerap menjumpai pernyataan seperti itu. Termasuk dari diri saya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Pernyataan itu bermakna ganda. Kita tidak tahu tempat untuk menemukan ide atau, tahu tapi belum kesana ?</p>
<p style="text-align: left;">Masalah menjadi lebih rumit lagi bagi yang meyakini ide itu diciptakan, alih-alih ditemukan.</p>
<p style="text-align: left;">Ada waktu kita memerlukan sumber pasti untuk menemukan ide dengan cepat. Mereka yang getol ikut lomba menulis tentu paham urgensinya.</p>
<p style="text-align: left;">Atau dilain waktu, dorongan menulis demikian kuat namun kita bingung hendak menulis apa?</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimanapun, ide adalah modal dasar dari menulis (dan segala sesuatu).</p>
<p style="text-align: left;">Kita butuh ‘tempat-tempat’ pasti untuk didatangi saat membutuhkan ide. Tempat yang hampir selalu menyediakan ide buat kita. Tempat yang tidak pernah berkata ‘tidak ada’ untuk ide yang kita cari.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi dimana ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya tempat-tempat khusus semacam itu.</p>
<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <em>flash fiction 100</em> kata sejak Maret 2010. Kadang-kadang ide tulisan hinggap begitu saja, seperti Newton kejatuhan buah apel. Kadang-kadang saya ‘menciptakannya’ lewat brainstorming.</p>
<p style="text-align: left;">Apel jatuh termasuk langka.</p>
<p style="text-align: left;">Brainstorming juga membutuhkan energi dan waktu lebih lama.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, disaat saya paceklik ide, saya punya tujuan pasti untuk didatangi.</p>
<p style="text-align: left;">Anda berminat ? Ini alamatnya:</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Kitab-Kitab Agama</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama (samawi atau bukan) menyediakan ide tak terbatas.</p>
<p style="text-align: left;">Keuntungannya, anda tak perlu bersusah payah mencari moral cerita -unsur yang mutlak hadir dalam sebuah cerita-,</p>
<p style="text-align: left;">Saya pikir kitab-kitab agama memang ditulis dalam rangka itu.</p>
<p style="text-align: left;">Mengapa cepat ?</p>
<p style="text-align: left;">Kitab-kitab agama banyak mengisahkan cerita yang lengkap.</p>
<p style="text-align: left;">Unsur-unsur pembangun cerita seperti <em>plot</em>, <em>karakter</em>, <em>konflik</em>, <em>setting</em> &amp; <em>resolusi</em> telah tersedia dalam kisah-kisah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak menganjurkan anda menyalin penuh. Tapi anda hanya perlu sedikit waktu dan kreatifitas untuk memodifikasinya.</p>
<ul style="text-align: left;">
<li>Ganti latar masa lalu dengan masa kini.</li>
<li>Ubah alur maju menjadi <em>flashback (dan sebaliknya)</em>.</li>
<li>Ubah sumber konflik. Misal sumber konflik adalah patung berhala, menggantinya dengan mobil, rumah atau harta benda yang berpotensi sama -untuk menjadi berhala-.</li>
</ul>
<p style="text-align: left;">Penting diingat bahwa ada pakem yang mesti diindahkan bila kitab-kitab agama menjadi rujukan.</p>
<p style="text-align: left;">Agama sangat sensitif bagi -hampir- kita semua.</p>
<p style="text-align: left;">Sebaiknya berhati-hati menyebut nama karakter dan istilah-istilah resmi dalam institusi agama bersangkutan.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, naskah akhir anda tidak dalam rangka menafsirkan ulang moral cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam agama tertentu, moral kisah bersifat permanen. Yang kita lakukan hanya menyampaikan kembali moral kedalam bahasa yang lebih kini.</p>
<p style="text-align: left;">Perilaku ini mirip dengan praktik Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di tanah Jawa melalui media kesenian lokal.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh <em>flash fiction</em> saya yang idenya bersumber dari kitab agama adalah <strong><em><a href="http://antojournal.com/fiksi-mini-100-kata-iring-iringan-presiden/" target="_blank">Iring-iringan Presiden</a></em></strong>. Silahkan baca.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Folkfore dan Dongeng</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Metodenya sama persis dengan poin satu diatas. Anda hanya butuh usaha sedikit keras untuk menemukan sumber-sumber cerita yang orisinil.</p>
<p style="text-align: left;">Banyak folkfore atau dongeng yang belum dipublikasikan secara tertulis.</p>
<p style="text-align: left;">Kakek nenek kita adalah rujukan terbaik. Anda cukup menangkap <strong>plot</strong> dan <strong>moral ceritanya</strong>, selebihnya akan diurus oleh kreatifitas alami anda sebagai penulis.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-gali-lubang-tutup-lubang/" target="_blank">Gali Lubang Tutup Lubang</a></strong> contoh <em>flash fiction</em> yang saya adaptasi dari folkfore.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Lirik Lagu</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Banyak lirik lagu dilatarbelakangi kisah utuh. Liriknya mengandung unsur-unsur pembangun cerita seperti karakter, setting, konflik dan resolusi.</p>
<p style="text-align: left;">Penekanannya, sekali lagi adalah kehadiran moral cerita. Lirik lagu yang tidak mengandung pesan yang kuat tidak termasuk dalam kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Sebagai contoh; <em>Living on the jet plane</em> punya Jhon Denver; <em>Last Kiss</em> dari Pearl Jam; dan tentu saja <em><strong><a href="http://antojournal.com/message-in-a-bottle-fiksi-mini-100-kata/" target="_blank">Message In The Bottle </a></strong></em>karya musisi favorit saya, Sting. Saya menulis satu <em>flash fiction</em> dengan judul yang sama dengan lagu itu. Silahkan cermati.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Fiksi Lama</strong></h2>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Setiap tulisan hanya menceritakan tulisan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Kutipan diatas ada benarnya. Tapi mereka yang gegabah mengartikannya secara harfiah punya istilah yang lebih tepat, yaitu plagiat (<em>DodolPreeetDodolPreeet !</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Mereproduksi karya lama punya kelebihan tersendiri. Apalagi karya legendaris.</p>
<p style="text-align: left;">Selain numpang ngetop, penulis tidak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan latar belakang cerita. Pembaca telah punya bayangan atas cerita dimaksud  Hal ini tentu saja menguntungkan bagi penulis flash fiction yang dibatasi oleh kuota maksimal <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Disini anda hanya perlu memodifikasi. Bahkan penafsiran ulang atas cerita itu sah-sah saja.</p>
<p style="text-align: left;">‘Manipulasi’ pengetahuan pembaca atas cerita bersangkutan dengan cara; Memutarbalikkan plot, mereposisi karakter (antagonis menjadi protagonis) dan atau merevisi ending cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Saya punya contoh <em>flash fiction</em> untuk kasus ini. silahkan anda membaca <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-gadis-penjual-korek-api/" target="_blank">Gadis Penjual Korek Api</a></strong> dan <strong><a href="http://antojournal.com/flash-fiction-dijual-sepatu-bayi-belum-pernah-dipakai/" target="_blank">For Sale; Baby shoes. Never worn</a></strong>.</p>
<h2><strong>5. </strong><strong>Humor Warung Kopi</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Saya punya kebiasaan berkumpul dengan teman-teman diwarung kopi saat senja.</p>
<p style="text-align: left;">Lelucon &amp; anekdot dari obrolan warung kopi banyak menyuplai gagasan untuk flash fiction saya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kasus anda, warung kopi boleh berganti kafe, kampus, klub, pos ronda atau rumah tetangga.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap orang mestinya punya pengalaman lucu. Kita perlu <strong><em>prihatin</em></strong> dengan siapa saja yang menjalani hidupnya terlalu serius – <em>bandingkan Gus Dur dengan presiden yang sekarang</em>&#8211;.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kira jarang ada teman anda yang tidak punya simpanan cerita lucu dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align: left;">Anda hanya perlu menggalinya dengan memancing pembicaraan. Mereka dengan senang hati akan membagikannya kepada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kapan waktu anda boleh heran mengetahui, betapa manusia sangat bahagia saat menertawakan dirinya sendiri ?</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menggemari<a href="http://indonovel.com/11-seri-tips-menulis-flash-fiction-100-kata-lengkap" target="_blank"> <em>flash fiction</em> </a>bertema humor. Namun saya membatasi humor berdasarkan pengalaman pribadi si penutur saja. Humor-humor kutipan, populer dan klise, tidak termasuk dalam kasus ini.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><a href="http://antojournal.com/fiksi-mini-100-kata-bayar-dobel/" target="_blank">Bayar Dobel</a></strong> satu dari banyak <em>flash fiction</em> saya yang bersumber dari humor warung kopi. Silahkan disimak.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengatakan 5 sumber diatas <strong><em>cara cepat &amp; praktis menemukan ide menulis flash fiction</em></strong>, oleh sebab segala unsur pembangun cerita umumnya telah disediakan oleh sumber dimaksud, yaitu; <em>plot</em>, <em>karakter</em>,<em> setting</em>, <em>konflik</em> dan <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Boleh dikata kita hanya perlu menuliskannya kembali.</p>
<p style="text-align: left;">Oh, yah. Apakah anda masih penasaran dengan <em>Pallu Basa</em> paling enak di Kota Makassar ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya merekomendasikan warung <em>Pallu Basa</em> yang berlokasi di sudut Jl. Onta – Jl. Veteran Utara.</p>
<p style="text-align: left;">Anda tahu, lidah tak pernah bohong.</p>
<p style="text-align: left;"><em><span style="color: #888888;">photo credits : creative commons by <a href="http://www.flickr.com/photos/sunlitrain" target="_blank">Sunlitrain</a></span></em></p>
<p style="text-align: right;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Fiksi Mini a la Penulis Manis Dee Dee Sabrina</title>
		<link>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/</link>
		<comments>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Dec 2010 05:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara penulis]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Baru saja saya selesai membaca sebuah buku indie Seperti halnya pada industri musik, jalur indie di indsutri literature tanah air kerap menjadi saluran bagi para penulis cerpen yang menolak didikte oleh ‘pasar’. Bagi saya, buku indie selalu menawarkan orisinalitas, karena penulis bisa membebaskan kreatifitasnya dari tuntutan trend, dan intervensi penerbit. Itulah salah satu alasan mengapa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-169  alignright" title="dee dee sabrina; penulis fiksi pendek (dok.pribadi)" src="http://indonovel.com/wp-content/uploads/deedee-sabrina-e1292736947171.jpg" alt="penulis cerpen &amp; flash fiction" width="327" height="216" /></p>
<p>Baru saja saya selesai membaca sebuah buku indie</p>
<p>Seperti halnya pada industri musik, jalur indie di indsutri <em>literature </em>tanah air kerap menjadi saluran bagi para <em>penulis cerpen </em>yang menolak didikte oleh ‘pasar’.</p>
<p>Bagi saya, buku indie selalu menawarkan orisinalitas, karena penulis bisa membebaskan kreatifitasnya dari tuntutan trend, dan intervensi penerbit.</p>
<p>Itulah salah satu alasan mengapa saya menggemari buku indie,  antara lain <em>kumpulan cerpen</em> <strong>ISI; Antologi Fiksi</strong> karya Dee Dee Sabrina.</p>
<p style="text-align: left;">Saya mengenal Dee Dee Sabrina saat bergabung di blog social media; Kompasiana. Dia termasuk salah satu kompasianer (sebutan untuk anggota) teraktif, dengan mutu tulisan yang relatif terjaga.</p>
<p style="text-align: left;">Dee Dee Sabrina paham <strong>teknik <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway" target="_blank">menulis cerpen </a></strong>, itu tercermin pada setiap karya-karyanya. Tentu saja, kualitas &amp; orisinalitas gagasan juga menjadi ciri khas setiap tulisan terbarunya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Cerpen</strong> <em>Kalau Aku Lelaki</em> adalah karya perempuan kelahiran Medan, 4 Februari 1989 ini yang pertama kali diterbitkan dalam antologi <em>cerpen</em> Q!stories.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan bantuan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas penulis muda; SPASI, Dee Dee Sabrina berhasil menerbitkan antologi fiksi pendeknya sendiri, Hal yang menggembirakan bagi penggemar tulisan-tulisannya selama ini didunia maya.</p>
<h2 style="text-align: left;">Tips menulis fiksi mini</h2>
<p style="text-align: left;">Sebagai pembaca yang juga hobby menulis, saya merasa beruntung saat Dee Dee Sabrina bersedia membagi ilmunya.</p>
<p style="text-align: left;">Dia melayani permintaan wawancara saya (secara online) dengan keramatamahan khas orang melayu.</p>
<p style="text-align: left;">Dia menitip harapan agar kawan-kawan penulis muda bisa termotivasi untuk menerbitkan bukunya sendiri. Berikut petikannya buat pembaca :</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jumlah kata dalam flash fiction masih diperdebatkan, apa pendapat anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Menurutku seperti istilahnya <em>flash fiction</em> bisa diartikan sebagai <em>fiksi sekilas lalu</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Bagian terpenting dari <em>flash fiction</em> bukan berada di jumlah kata, tapi cara penuturan bercerita dan kejadian dalam kisah itu sendiri, yang harus betul-betul mewakili kejadian sekilas pada satu waktu. Informasi yang disampaikan tentunya juga tidak sebanyak sebuah cerita pendek dalam format asli.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Boleh anda jelaskan, tahap-tahap penulisan yang anda lalui dalam <a href="http://indonovel.com/rahasia-menulis-flash-fiction-dalam-sekejap" target="_blank">menulis flash fiction</a> ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Biasanya yang tergambar di ingatan saya adalah adegan terakhir dari sebuah <em>flash fiction</em>. Lalu saya mulai membuka laptop, menghadapi layar kosong, menggambarkan karakter sang tokokh dalam kepala, dan semua mengalir begitu saja.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana dengan menulis cerpen ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ini sedikit lebih kompleks. Biasanya saya akan lebih dulu menentukan konflik seperti apa yang akan ditampilkan. Lalu mencari karakter seperti apa yang kira-kira mungkin menghadapi permasalahan seperti itu. Lalu saya mulai merangkai setting tempat dan waktu, lagi-lagi hanya di dalam kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Persiapan seperti itu biasanya memakan waktu 15-30 menit. Kemudian saya mulai <em>menulis cerpen</em>.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Anda termasuk penulis yang membuat perencanaan awal (outline) sebelum menulis cerpen atau mengalir begitu saja ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Tentu membuat perencanaan. Karena bercerita tak boleh sembarangan, bukan? Tapi saya tidak pernah benar-benar menerapkan konsep outline.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menyimpan semuanya secara garis besar di dalam kepala saja dan menyesuaikannya dengan tangan saya.</p>
<p style="text-align: left;">Yang paling penting adalah mempertahankan mood saya saat sedang menulis cerpen.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Sebelum menulis, anda sudah menetapkan terlebih dahulu bagian opening &amp; ending tulisan anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Ending. Biasanya saya sudah menggambar ending di dalam kepala saya. Tapi untuk beberapa cerita seperti Tetralogi Roman, saya belum benar-benar memutuskan ending sampai di cerita keempat.</p>
<p style="text-align: left;">Ada kalanya saya ingin mengikuti saja sampai di mana batas jelajah imajinasi saya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jumlah kata yang dipakai dalam fiksi mini (khususnya flash fiction) tentu terbatas. Bagaimana anda menyiasatinya ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Dengan memainkan tempo cepat dalam bercerita, tidak bertele-tele dalam menyampaikan ide yang dimaksud. <em>Flash fiction</em> ditujukan untuk pembaca dewasa, jadi perlakukan pembaca selayaknya mereka orang dewasa yang cerdas.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda menciptakan karakter yang kuat dalam fiksi mini dengan jumlah kata terbatas ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Dengan menggambar segala detail di kepala saya. Saat kita sudah bisa membayangkan secara sempurna bagaimana tokoh di dalam cerita itu, maka kita bisa dengan mudah mengira-ngira, dialog seperti apa yang akan dia sampaikan, bagaimana cara berbicaranya, dan pola berpikirnya.</p>
<p style="text-align: left;">Informasi fisik dapat diselipkan dalam dialog atau narasi secara sekilas.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa anda menuliskan cerita berbasis plot atau karakter ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Karakter. Karena setelah menentukan karakter, baru saya bisa menentukan plot, termasuk konflik seperti apa yang mungkin terjadi di sekitar karakter.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Jenis konflik mana yang lebih menarik ditonjolkan; internal atau eksternal ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Internal selalu lebih menarik. Karena manusia pada dasarnya selalu lebih menyukai cerita tentang dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Seberapa penting deskripsi menurut anda dalam penulisan fiksi mini ? </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Deskripsi selalu perlu. Tapi jika terlalu banyak dipadatkan dalam satu fiksi pendek, tentu pembaca akan menjadi jengah karena terlalu banyak informasi yang coba diserapnya.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam fiksi pendek, detail deskripsi seharusnya memakai ‘metode selipan’ agar pembaca tak merasa dicekoki.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Kebanyakan narasi cenderung melambatkan cerpen, menurut anda ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Betul narasi cenderung melambatkan cerita, tapi tak pula selamanya. Repetisi dalam narasi bisa dipergunakan untuk mempercepat tempo, karena pada dasarnya narasi digunakan untuk menjabarkan informasi.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan adanya pengulangan-pengulangan informasi tertentu, dari awal pembaca akan tahu mencermati informasi tersebut dan menanti-nanti apa yang sebenarnya coba disampaikan sehingga tempo tidak lagi terasa terlalu lambat, seperti yang saya praktekkan di <em>Rokok Pembunuh</em> (ISI;Antologi Fiksi).</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa tips anda untuk membuat paragraph pembukaan yang lansung menarik perhatian pembaca ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Permulaan cerita selalu menarik jika dibuka dengan detail setting, baik itu tempat ataupun waktu, disambung dengan pengenalan tokoh secara singkat, baik melalui dialog ataupun paragraf narasi.</p>
<p style="text-align: left;">Hal ini menurut saya bisa memancing daya imajinasi pembaca untuk menggambar kisah sejak awal di dalam kepalanya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda mengatur tempo cerita,; kapan harus lambat dan dibagian mana harus cepat ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Begini, saat anda selesai menulis cerpen, coba baca kembali cerita anda dengan suara (bukan dalam hati).</p>
<p style="text-align: left;">Berdongenglah pada diri sendiri. Anda akan tahu kapan harus bercerita dengan santai, dan kapan waktunya menggebu-gebu, bukan? Menurut saya begitulah menulis. Bercerita, berdongeng.</p>
<p style="text-align: left;">Jadikan aksara sebagai suara.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Mana yang lebih baik menurut anda; memunculkan karakter melalui tindakan/aksi/adegan atau melalui isi pikiran/kepala ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Keduanya perlu. Tapi akan lebih mudah jika kita klasifikasikan saja. Cara berpikir ditunjukkan melalui pengadeganan, dan perasaan si karakter melalui penjabaran isi kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Saya suka ironi begini, karena seharusnya apa yang dirasakan bisa ditunjukkan secara impulsif melalui tindakan, sementara pemikiran cenderung disimpan dalam kepala.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi kita sedang <a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway" target="_blank">menulis fiksi</a>, kan? Tugas kita membalikkan realita.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bagaimana cara anda memilih/menentukan setting (tempat &amp; waktu) yang sesuai/tepat untuk plot ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Gampang. Tentukan setting terlebih dahulu, maka plot cerita akan mengalir mengikutinya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa saran anda mengenai cara <a href="http://indonovel.com/4-tips-menulis-cerpen" target="_blank">menulis dialog cerpen</a> yang tepat, orisinil dan tidak klise ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Saat menulis, coba bayangkan ada seseorang dengan karakter si tokoh sedang berbicara seperti itu pada anda.</p>
<p style="text-align: left;">Kalau anda tidak sampai ingin muntah dan menendang kepalanya, berarti dialog anda cukup aman dan tidak klise.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Di tahap pengeditan naskah buku, apa saja yang anda kerjakan ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Membaca ulang buku pelajaran Bahasa Indonesia saya kelas 1 &#8211; 3 SMA. Merayu beberapa kawan untuk memberikan bala bantuan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya tidak teliti, dan kesalahan pengetikkan selalu menjadi masalah utama. Saya butuh orang lain ! (tertawa)</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Mengenai self publishing (indie) : <em>Prediksi anda tentang prospeknya dimasa depan </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Saya rasa pergerakannya akan sama seperti masa awal band-band indie. Tak lama lagi akan merebak di mana-mana.</p>
<p style="text-align: left;">Selamat datang penulis muda !</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Apa kelebihan dan kekurangannya dibanding penerbitan konvensional</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Kelebihannya; Tak perlu bingung dengan permintaan bertele-tele soal penyesuaian cerita agar bisa dinikmati pembaca, sesuai selera pasar. Bebas menyampaikan hal-hal bahkan secara vulgar.</p>
<p style="text-align: left;">Kekurangannya; Nama dan penghasilan anda tidak akan sebesar mereka yang dinaungi penerbit besar. Itu saja.</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Bisakah profesi penulis penuh waktu dijadikan sumber pendapatan utama ?</em></strong></p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja. Kenapa tidak ? Asal pintar berhitung dan yakin benar bahwa tulisan anda layak baca.</p>
<p style="text-align: left;">Caranya, Belajar sombong saja !</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">Bagi pembaca yang tertarik dengan buku ISI; Antologi <em>Fiksi,</em> silahkan membaca sinopsis <a href="http://bukudeedee.blogspot.com/" target="_blank">ISI</a>, dan selanjutnya bisa memesan buku <strong>kumpulan cerpen</strong> tersebut lansung kepada penulisnya <a href="mailto:dee.dee.sabrina@live.com">dee.dee.sabrina@live.com</a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> indonovel.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/menulis-fiksi-pendek-a-la-dee-dee-sabrina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Fungsi Dialog Yang Menentukan Baik Buruknya Fiksi Mini Anda</title>
		<link>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 12:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pemakaian narasi berpotensi menjebak seorang penulis flash fiction untuk bermonolog. Gaya menulis fiksi ini menjauhkan pembaca dari jalan cerita. Pembaca merasa tidak dilibatkan, diposisikan sebagai pendengar disaat mereka ingin menjadi penonton. Cerita yang bagus layaknya sebuah sinema yang ditayangkan, bukan ? Saya gemar membaca fiksi mini 100 kata (flash fiction) karya penulis dalam dan luar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Pemakaian narasi berpotensi menjebak seorang penulis <strong><em>flash fiction</em></strong> untuk bermonolog.</p>
<p style="text-align: left;">Gaya <em>menulis fiksi</em> ini menjauhkan pembaca dari jalan cerita. Pembaca merasa tidak dilibatkan, diposisikan sebagai pendengar disaat mereka ingin menjadi penonton.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita yang bagus layaknya sebuah sinema yang ditayangkan, bukan ?</p>
<p style="text-align: left;">Saya gemar membaca <strong><em>fiksi mini</em></strong> <strong><em>100 kata</em></strong> (<em>flash fiction</em>) karya penulis dalam dan luar negeri.</p>
<p style="text-align: left;">Hampir semua <em>flash fiction</em> yang bagus dimata saya didominasi oleh dialog ketimbang narasi.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> dominan dialog umumnya terasa lebih hidup. Tak salah kalau banyak mentor menganjurkan agar penulis lebih banyak memakai dialog dalam bercerita.</p>
<p style="text-align: left;">Anjuran itu benar adanya.</p>
<p style="text-align: left;">Sepanjang tahun 2010 ini saya menulis flash fiction untuk mengisi blog pribadi saya</p>
<p style="text-align: left;">Dari pengalaman itu saya mengidentifikasi sedikitnya ada 3 hal, yang menyebabkan dialog punya kemampuan menghidupkan cerita, yaitu;</p>
<h2><strong>1. </strong><strong>Dialog sebagai karakter</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Dialog menandakan kehadiran karakter dalam cerita. Ada ucapan, ada orang. Berarti dialog sebenarnya adalah cerminan dari karakter itu sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Melalui dialognya, pembaca bisa mendalami isi pikiran tokoh, sifat-sifatnya, serta posisinya dalam cerita (protagonist, antagonis, dsb), Pembaca juga bisa mengetahui motif dan tujuan karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Ini sama seperti menilai seseorang didunia nyata melalui ucapan-ucapannya. Cerita menjadi lebih hidup, karena dialog merepresentasikan banyak hal tentang karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Menjelaskan karakter melalui deskripsi dan narasi, tidak mungkin dilakukan dalam <em>flash fiction</em> 100 kata. Untuk melukiskan satu karakter saja dalam bentuk narasi, penulis butuh lebih dari <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara, hanya butuh 1-2 dialog pendek, berupa satu kalimat lengkap, untuk menggambarkan kepribadian seorang karakter. -artikel khusus mengenai karakter, bisa anda baca<a href="http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction" target="_blank"> diSINI</a>-.</p>
<h2><strong>2. </strong><strong>Dialog adalah konflik</strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tak ada konflik, tak ada cerita. Bayangkan bila Harry Potter tidak berkonflik melawan Lord<em>..,kau-tahu-siapa?</em>-.</p>
<p style="text-align: left;">Konflik dalam fiksi tidak cuma pertarungan pedang antara pahlawan versus penjahat.</p>
<p style="text-align: left;">Lebih banyak konflik tergambar dalam bentuk perbedaan pendapat, sehingga umumnya hampir semua dialog menyimpan potensi konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog merupakan cara termudah menggambarkan konflik dalam cerita. Cukup dua atau lebih karakter saling menegasi ketika masing-masing mengucapkan kalimat yang bertentangan maka, terciptalah konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog menghidupkan cerita, karena konflik yang dikandungnya memperhadap-hadapkan karakter secara lansung.</p>
<p style="text-align: left;">Bandingkan dengan konflik yang digambarkan melalui narasi. Pembaca tidak <em>melihat</em> konflik, namun <em>mendengar</em> konflik diceritakan melalui narrator.</p>
<h2><strong>3. </strong><strong>Dialog berfungsi <em>show don’t tell</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Bayangkan menonton sandiwara diatas panggung. Karakternya berdialog lansung satu sama lain.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu bandingkan dengan pentas monolog, ketika seorang narrator duduk ditengah panggung, menceritakan kisah kepada penonton, tanpa adegan dan tanpa kehadiran sosok karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Mana yang lebih disukai penonton ?</p>
<p style="text-align: left;">Penonton sebuah sandiwara sama saja dengan pembaca sebuah buku. Jadi <em>tunjukkan, jangan katakan</em> ! &#8211; artikel khusus mengenai <em>Show. Don’t Tell</em>, bisa anda baca<a href="http://indonovel.com/show-dont-tell" target="_blank"> diSINI</a>-.</p>
<p style="text-align: left;">Mengutamakan dialog saat <strong>menulis</strong> <strong>flash fiction </strong><em>100 kata</em> bukan berarti menafikan narasi.<a href="http://antojournal.com" target="_blank"> <em>Flash fiction 100 kata</em></a>, yang hidup, dan didominasi oleh narasi mestilah produk jenius.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri belum sejenius itu. Sementara ini, pemakaian dialog sudah cukup memudahkan saya menghasilkan cerita yang hidup. Itu komentar pembaca di blog khusus <em>flash fiction</em> saya; <a href="http://antojournal.com" target="_blank">antojournal.com</a>. Cobalah tengok.</p>
<p style="text-align: right;"><strong><em>Tips menulis fiksi</em></strong>, copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/fungsi-dialog-dalam-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Flash Fiction Dalam 3 Langkah Mudah</title>
		<link>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 12:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mini]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Saya telah menulis fiksi mini 100 kata dalam kurun waktu 6 bulan ini, demi mengisi blog personal saya; www.antojournal.com. Tanpa sadar, ternyata selama itu saya mengikuti pola-pola menulis fiksi, cenderung mekanis, serta berjalan alamiah dalam setiap flash fiction yang saya hasilkan. Pola itu bekerja pada saya. Karenanya, besar keinginan saya untuk membaginya kepada pembaca. Saya harap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Saya telah menulis <strong><em>fiksi mini</em></strong> <em>100 kata</em> dalam kurun waktu 6 bulan ini, demi mengisi blog personal saya; <a href="http://www.antojournal.com/">www.antojournal.com</a>.</p>
<p style="text-align: left;">Tanpa sadar, ternyata selama itu saya mengikuti pola-pola <em>menulis fiksi</em>, cenderung mekanis, serta berjalan alamiah dalam setiap <em>flash fiction</em> yang saya hasilkan.</p>
<p style="text-align: left;">Pola itu bekerja pada saya. Karenanya, besar keinginan saya untuk membaginya kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Saya harap semoga juga bisa bekerja membantu menulis <em>cerita mini</em> anda.</p>
<p style="text-align: left;">Berikut tahapan-tahapannya :</p>
<h2><strong><em>Tahap Perencanaan Flash Fiction</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Tahap ini dimulai dikepala, saat sebuah ide terlintas. Ide itu kadang berbentuk humor, satir, sarkasme, pesan moral, fabel, kisah nyata, dsb.</p>
<p style="text-align: left;">Kadang saya dapatkan dari obrolan di kafe, membaca majalah, menonton TV, saat pergi-pulang kerumah, atau bila sedang duduk sendiiri.</p>
<p style="text-align: left;">Kadang-kadang ide itu berupa cerita utuh dari awal sampai akhir. Ide jenis ini seperti harta karun, makanya jarang muncul.</p>
<p style="text-align: left;">Lebih sering ide hanya berupa sketsa gagasan; sebuah pesan moral yang hendak saya sampaikan; atau kritik sosial yang ingin saya suarakan ke publik. Ide seperti ini butuh pengolahan lebih lanjut.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Flash fiction</em> berjudul Iring-Iringan Penguasa adalah contoh yang saya bangun dari sketsa gagasan (<em>silahkan baca flash fiction tersebut sebelum lanjut</em>) :</p>
<p style="text-align: left;">Waktu itu stasiun TV ramai memberitakan arogansi patwal presiden dijalan raya ibukota. Saat bersamaan sebuah kisah tentang Raja Sulaiman muncul dikepala saya (<em>ini adalah buah dari kegemaran membaca sejak kecil</em>);</p>
<p style="text-align: left;">Alkisah Raja Sulaiman sedang berkonvoi bersama balatentaranya, melintasi sebuah jalan dimana sekawanan semut hendak menyeberangi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Raja yang bijak itu memerintahkan pasukannya berhenti sampai kawanan semut itu tiba dengan selamat diseberang jalan.</p>
<p style="text-align: left;">Situasi paradoks dengan tabiat penguasa dizaman sekarang. Korelasi kisah beda zaman inilah yang saya jadikan titik tolak untuk merangkai sebuah <em>flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Yang pertama saya lakukan adalah mereka-reka sebuah kerangka cerita dari awal sampai akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Tahap ini mungkin membutuhkan sebuah kertas guna mencatat setiap kemungkinan skenario cerita (<em>sekarang saya cukup melakukannya didalam kepala saja</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Saya ingin membawa kisah kawanan semut itu kezaman modern, dimana mereka hendak menyeberangi jalan ketika rombongan Patwal Presiden sedang melintasi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;">Apakah semut itu selamat sampai keseberang ?</p>
<p style="text-align: left;">Apakah rombongan presiden itu punya kualitas kebijakan yang sama dengan raja Sulaiman ?</p>
<p style="text-align: left;">itulah akhir sekaligus moral cerita yang hendak saya sampaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya berasumsi kisah ini cukup populer, khususnya dikomunitas Muslim.  Jadi memudahkan pembaca dalam memahami ceritanya.</p>
<p style="text-align: left;">Sampai disini kerangka plot telah jadi, lengkap dengan elemen konflik (<em>semut vs patwal presiden, mahluk kecil vs penguasa</em>), karakter (<em>semut</em>), setting (<em>jalan raya</em>) &amp; resolusi (<em>pesan buat penguasa agar belajar pada kebajikan raja Sulaiman</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Saya juga beranggapan kalau cerita ini akan lebih baik jika diceritakan melalui sudut pandang semut (personifikasi).</p>
<p style="text-align: left;">Namun itu baru bahan mentah untuk melangkah ketahap selanjutnya.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“ Kembangkan ide/tema cerita anda dalam satu kerangka cerita yang utuh dari awal sampai akhir. Cukup satu konflik saja dalam satu cerita. Tetapkan jumlah karakter yang layak hadir  berdasarkan konflik tersebut. Tentukan latar tempat dan waktu terjadinya cerita (setting). “</em></p>
</blockquote>
<h2><em><strong>Tahap Penulisan Flash Fiction</strong></em></h2>
<p style="text-align: left;">Rahasia menulis flash fiction 100 kata ada pada pembukaan. Banyak <em>flash fiction</em> gagal karena penulisnya tergoda memulai kalimat pertama dengan deskripsi, serta narasi berlebihan mengenai latar belakang cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Jangan lakukan itu kecuali anda ingin menulis <a href="http://antojournal.com" target="_blank">cerpen</a> atau novel.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita sebaiknya lansung dimulai dengan konflik yang telah kita tentukan ditahap perencanaan. Supaya lebih ringkas lagi, cerita lansung dimulai disaat krisis (puncak konflik), tepat ditempat (setting) konflik terjadi.</p>
<p style="text-align: left;">Cara ini saya terapkan pada <a href="http://antojournal.com" target="_blank">flash fiction</a> berjudul <em>Iring-iringan Penguasa</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Tema cerita yang membandingkan tabiat penguasa dahulu dengan sekarang menciptakan konflik, berupa perbedaan pendapat diantara semut.</p>
<p style="text-align: left;">Krisis (puncak konflik) terjadi saat kawanan semut hendak menyeberangi jalan sementara suara sirene patwal presiden terdengar semakin dekat (<em>tercipta suspense</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Semut tua memilih untuk menyeberang, karena yakin penguasa sekarang (presiden) sama baiknya dengan Raja Sulaiman. Bahwa rombongan presiden akan berhenti, menunggu sampai kawanan semut tiba diseberang jalan. Semut muda berkeyakinan sebaliknya.</p>
<p style="text-align: left;">Saya lalu menulis pembukaan dalam bentuk dialog semut tua yang beroposisi biner dengan dialog semut muda.</p>
<p style="text-align: left;">Kemudian saya selingi dengan satu baris narasi pendek yang melukiskan situasi mereka hendak menyeberangi jalan disaat bersamaan rombongan presiden juga ingin melintasi jalan yang sama.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Flash fiction 100 kata</strong> tidak memungkinkan saya untuk menulis pengantar cerita mengenai kenapa semut itu sampai dijalan, apa maksud mereka menyeberangi jalan, berapa jumlah mereka, bagaimana situasi jalan saat itu, cuaca cerah, mendung atau hujan.</p>
<p style="text-align: left;">Tidak mungkin pula menulis tentang berapa jumlah rombongan presiden, apa kendaraan mereka, dari mana asal mereka dan kemana tujuannya, Selalu berpatokan bahwa ketidakhadiran deskripsi semacam itu tidak akan menggagalkan tujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Pembukaan telah selesai. Pertengahan cerita saya isi dengan satu dialog dari semut tua yang mengambil keputuan untuk tetap menyeberangi jalan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya cuma perlu satu lagi narasi pendek untuk mengakhiri cerita yaitu; rombongan presiden ternyata tidak berhenti dan melindas mati semua kawanan semut.</p>
<p style="text-align: left;">Ending berupa resolusi ini menyampaikan moral cerita kepada pembaca bahwa tabiat penguasa sekarang tidak meneladani Raja Sulaiman yang begitu menyayangi mahluk kecil (rakyat jelata).</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“ Pembukaan cerita harus dimulai disaat krisis (puncak konflik). Konflik bisa dilukiskan dalam bentuk satu baris narasi pendek, atau masing-masing satu dialog/ucapan antara dua pihak. Konflik antar karakter yang berbentuk bentuk dialog, dilukiskan cukup dalam satu atau maksimal dua dialog dari masing-masing karakter dengan tanda petik ( “ ….“ ). Narasi pendek sebaiknya maksimal satu baris diawal, tengah dan akhir, yang menyelingi dialog-dialog antar karakter. Kalimat terakhir, baik berbentuk dialog maupun narasi hendaknya menjadi pengikat cerita secara keseluruhan (resolusi)”</em></p>
</blockquote>
<h2><strong><em>Tahap Pengeditan Flash Fiction</em></strong></h2>
<p style="text-align: left;">Menulis di microsoft word memudahkan kita mengetahui jumlah kata yang telah terpakai (<em>coba tengok disudut kiri bawah</em>). Hasil tulisan anda yang lebih dari 100 kata merupakan pertanda supaya mulai mengedit.</p>
<p style="text-align: left;">Rata-rata hasil tulisan saya berlebih sekitar 10-20 kata selama menerapkan teknik diatas. Cara untuk mengetahui kata yang harus dibuang cukup mudah.</p>
<p style="text-align: left;">Seperti saya kemukakan sebelumnya bahwa, konflik cukup dilukiskan dalam satu atau maksimal dua kali dialog/ucapan antar karakter yang berbeda pendapat.</p>
<p style="text-align: left;">Isi dialog lansung kepokok masalah yang mereka pertentangkan.</p>
<p style="text-align: left;">Dialog yang sekedar basa basi harus dibuang, contohnya; <em>selamat pagi; apa kabar;  tolong jelaskan maksud anda; baiklah akan saya jelaskan mengapa saya berbeda pendapat denganmu, dsb</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Intinya dialog hanya berisi ucapan-ucapan yang mengarah lansung ketujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Kata lain yang harus dibuang adalah kata keterangan yang biasanya mengikuti akhir dialog; ..<em>kata semut muda dengan nada jengkel; .. teriak semut tua dengan keras; ..kata di fulan sambil bersungut-sungut</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Kata <em>jengkel, teriak, dengan keras, bersungut-sungut</em> adalah jenis kata yang hadir tidak menambah, hilang tidak mengurangi.</p>
<p style="text-align: left;">Jika isi dialog anda kuat, maka pembaca bisa merasakan kejengkelan, kemarahan dan alasan si penutur dialog bersungut-sungut, tanpa perlu dituliskan.</p>
<p style="text-align: left;">Jenis kata yang sama kerap pula dijumpai pada narasi, semisal; <em>..mata mereka melihat; dia mendengar dengan telinganya sendiri; patwal presiden itu melaju diatas jalan raya yang mulus</em>. (Anda tentu tahu kata mana yang harus ditendang keluar dari cerita).</p>
<p style="text-align: left;">Kadang-kadang juga kita hanya perlu mengganti kalimat yang panjang dengan satu kata bermakna rangkap, contohnya; … <em>pencuri itu melangkah diam-diam dan hati-hati agar tidak ketahuan sipemilik rumah</em>, diganti dengan <em>.pencuri itu mengendap-endap</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Coba terapkan tips ini dan temukan betapa jumlah kata berkurang signfikan tanpa merubah jalan cerita.</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>“isi dialog sebaiknya lansung kepokok permasalahan, tanpa basa-basi. Hati-hati dengan kata keterangan yang mengikuti setiap akhir dialog. Buang setiap kalimat pada narasi yang sifatnya menjelaskan apa yang sebenarnya sudah jelas.”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Satu teknik menulis umumnya hanya cocok bagi satu sudut pandang penceritaan.</p>
<p style="text-align: left;">Silahkan cari teknik yang sesuai bila anda mencoba menceritakan kisah dari sudut pandang berbeda.</p>
<p style="text-align: left;">Namun substansi tips diatas rata-rata membantu saya untuk menulis <em>flash fiction</em> dari sudut pandang apa saja.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu saja dengan sedikit penyesuaian praktis yang bersifat kasuistis.</p>
<p style="text-align: left;">Saya menganjurkan agar anda senantiasa luwes dan berani mengeksplorasi seluas-luasnya teknik bercerita anda sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Bagus tidaknya cerita tergantung pada gaya bahasa dan kekuatan tema, bukan pada sedikit banyaknya jumlah kata yang dipakai.</p>
<p style="text-align: left;">Mari menulis <strong><a href="http://antojournal.com" target="_blank">fiksi mini</a> 100 kata</strong> (<em>flash fiction</em><em>)</em>, sekarang juga.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by <a href="http://twitter.com/daeng_anto" target="_blank"><strong>Rusdianto</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tiga-tahap-menulis-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakter Dalam Flash Fiction</title>
		<link>http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 12:06:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[100 kata]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Kehadiran karakter wajib hukumnya dalam sebuah cerita fiksi, tanpa kecali flash fiction 100 kata. Pembaca mencari seseorang didalam cerita, bahkan jika ‘seseorang’ itu adalah hewan atau tumbuhan yang dipersonifikasikan. Karakter hadir dalam sebuah cerita melalui motif/tujuan yang hendak dicapainya, tantangan/konflik yang dihadapinya (eksternal &#8211; internal) dan, perubahan yang dialami karakter bersangkutan diakhir cerita (apakah dia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Kehadiran karakter wajib hukumnya dalam sebuah cerita <em>fiksi</em>, tanpa kecali <em>flash fiction</em> <strong>100 kata</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca mencari seseorang didalam cerita, bahkan jika ‘<em>seseorang</em>’ itu adalah hewan atau tumbuhan yang dipersonifikasikan.</p>
<p style="text-align: left;">Karakter hadir dalam sebuah cerita melalui motif/tujuan yang hendak dicapainya, tantangan/konflik yang dihadapinya (eksternal &#8211; internal) dan, perubahan yang dialami karakter bersangkutan diakhir cerita (apakah dia berhasil mencapai tujuan, serta dampak yang dialaminya atas perubahan tersebut).</p>
<p style="text-align: left;">Pengalaman saya <strong>menulis fiksi</strong> sejak bulan maret 2010 menunjukkan beberapa hal mengenai karakter dalam flash fiction. Termasuk yang membedakannya dari kategori fiksi yang lebih panjang.</p>
<p style="text-align: left;">Pada fiksi yang lebih panjang, karakter bisa menjadi <em>cerita itu sendiri</em>, karena leluasa dieksplorasi lebih detil dan mendalam. Eksplorasi  mulai dari masa lalu karakter, ciri fisik dan psikisnya, serta keunikan yang membedakan tiap karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Sementara, <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><em>fiksi mini</em></a> <em>100 kata</em> sepintas lalu menempatkan karakter sebagai pemeran cerita belaka, alih-alih menjadi cerita itu sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis sekedar memperalat karakter untuk menyampaikan tema atau moral cerita yang hendak disampaikannya.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Perbedaan ini dipengaruhi oleh 2 hal</strong>;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>1. </strong>Tidak mungkin menayangkan latar belakang (<em>backstory</em>) karakter bersangkutan dalam <em>flash fiction</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada ruang untuk menceritakan masa lalu karakter; apa yang menyebabkan dia memiliki motif tertentu; apa peristiwa masa lalu yang membentuk karakteristiknya dan; membuatnya terlibat dalam konflik.</p>
<p style="text-align: left;">Seolah menjadi hukum tak tertulis, kalimat pertama pada flash fiction 100 kata diawali dipertengahan aksi, dimana karakter lansung ditayangkan terlibat dipuncak konflik.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2. </strong>Sosok karakter pada <em>flash fiction</em> cenderung dua dimensi, sehingga pembaca tidak merasa intim dengan karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Ini disebabkan oleh kemustahilan melukiskan daftar ciri-ciri fisik (wajah, bentuk tubuh) serta tabiat khas (misalnya; gaya berpakaian, kebiasaan mengupil, menggaruk kepala, etc), pada cerita yang dibatasi maksimal 100 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Namun begitu, pembatasan maksimal 100 kata bukan alasan untuk memposisikan elemen karakter sekedar pelengkap belaka.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis tetap harus berhati-hati dalam memilih karakter, menentukan jumlah karakter, memberinya peran, dan memerankannya sesuai dengan tujuannya hadir didalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Berhasil tidaknya tema atau moral cerita sampai kebenak pembaca tetap tergantung pada keberhasilan karakter dalam memerankan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Susah-susah gampang, tapi <strong>berikut ini beberapa tips menulis fiksi yang mungkin bisa membantu anda :</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>1.</strong> Pertama-tama, harus dipahami bahwa karakter hadir dalam cerita untuk memenuhi sebuah fungsi &amp; tugas tertentu. Tak ada karakter yang hadir tanpa kepentingan dalam cerita, apakah karakter bersangkutan tokoh dominan dalam cerita atau pendukung, protagonist atau antagonis ?</p>
<p style="text-align: left;">Setiap karakter <em>hanya</em> hadir untuk memerankan sebuah adegan/tindakan, atau dialog, yang fungsinya membawa alur cerita bergerak kedepan.</p>
<p style="text-align: left;">Setiap karakter dalam <a href="http://antojournal.com" target="_blank"><em>flash fiction</em></a> sama pentingnya (kecuali jika cerita anda hanya berkisah tentang konflik internal satu orang tokoh).</p>
<p style="text-align: left;">Cerita saya yang berjudul Tersangka menghadirkan sekitar 5 karakter sekaligus, yang sama pentingnya, dan masing-masing bertugas mengucapkan satu baris dialog dan satu tindakan. Kesemuanya mengantar pembaca memahami tujuan cerita yang hendak saya sampaikan.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>2.</strong> Sebuah dialog menandakan kehadiran karakter, bahkan jika nama karakter bersangkutan tidak disebutkan selama dialog berlansung.</p>
<p style="text-align: left;">Makanya, dialog adalah cara terbaik untuk menghadirkan karakter, sekaligus cara termudah untuk<em> menunjukkan, bukan mengatakan</em> (<em>show don’t tell</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Ketimbang memakai narasi, dialog lebih dianjurkan sebab bisa menampakkan karakteristik tokoh, sifat &amp; motifnya, melalui kalimat, diksi, &amp; gaya bahas tokoh.</p>
<p style="text-align: left;">Karakter bisa diidentifikasi pembaca melalui ucapan-ucapannya, apakah dia karakter baik, jahat, pesimis, optimis, lembut, pemarah, ketus, sinis, dsb. Intinya, karakter dalam cerita bisa tampil  tiga dimensi dengan pemakaian dialog.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>3.</strong> Ada banyak <em>flash fiction</em> 100 kata yang menyelipkan narasi pendek, sebanyak 2 atau 3 baris kalimat disela-sela dialog.</p>
<p style="text-align: left;">Narasi itu bisa berupa tindakan, gestur, atau mimik yang diperagakan oleh karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Adegan dalam narasi sedapat mungkin tidak terkesan datar, tapi dimanfaatkan guna memperdalam karakteristik tokoh cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Disinilah perlunya memilih kata konotatif, bermakna ganda, untuk memberi tekanan emosional tertentu.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya kata <em>berjalan,</em> bisa diganti dengan; <em>berjinjit</em>, yang menampilkan kesan karakter sedang berhati-hati, awas, waspada; <em>Tertatih-tatih</em>, yang melukiskan kesan tak berdaya, cedera/sakit, umur tua; <em>Mengendap-endap</em>, memberi nuansa ketakutan, pencuri, musuh, gelap, malam, niat jahat.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>4.</strong> Dengan asumsi keterbatasan kata, ada banyak artikel tips menulis di internet yang membatasi maksimal 2 &#8211; 3 karakter saja dalam <em>flash fiction</em> <em>100 kata</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya kurang mengerti apa maksudnya. Sebenarnya, selama kita kreatif mengolah tema &amp; sudut pandang penceritaan, jumlah karakter utama maupun karakter pendukung bisa lebih dari itu.</p>
<p style="text-align: left;">Pengalaman saya menentukan jumlah karakter yang dipakai, tergantung pada jenis konflik yang hendak dibangun &amp; resolusi yang hendak dicapai.</p>
<p style="text-align: left;">Contohnya bisa anda lihat pada Tersangka &amp; Anonim.</p>
<p style="text-align: left;">Menampilkan karakter yang lebih hidup dalam <em>flash fiction</em> merupakan kreatifitas tersendiri, sering tidak ditemukan pada jenis <strong>fiksi</strong> yang lebih panjang.</p>
<p style="text-align: left;">Selalu ingat bahwa <em>flash fiction</em> <strong>100 kata</strong> hanya membatasi maksimal jumlah kata, bukan kreatifitas anda.</p>
<p style="text-align: right;">Copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/karakter-dalam-flash-fiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

