Archive for the tag 'fiksi mini'

dari hemingway ke tweetfiction

Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “

Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis cerita fiksi saat mernyatakan itu. Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti & tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial & literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita. Hemingway mengajak para penulis kembali ke kittah. (yuuk mariii.. :) )

Fiksi adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka (Wikipedia). Rupa-rupanya banyak penulis keliru menafsirkan definisi ini. Ada banyak cerita fiksi diluar sana ditulis kesana kemari, meluas, melebar, tak jelas juntrungannya. Ada kalanya kita merasa dikhianati penulis saat membacanya. Read more »

tips menulis tweetfiction

Tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan penulisnya melalui twitter. Lebih jelasnya bisa dibaca pada artikel ..dari hemingway ke tweetfiction.

Berikut contoh tweetfiction :

@ Human Trafficking

Dijual; Bayi. Belum pernah dijual

@ Kamar Imajiner

Bingkai foto memenuhi kamarnya. Potret dirinya dengan siapa saja. Dikamarnya ada meja, kursi, lemari & dipan, juga dalam foto berbingkai.

@ No Action Talk Only

“ Buruk ! “. Ia menghempaskan novel itu, dan menyesal telah membelinya. Namun tiba-tiba ia mengingat novelnya yang tak pernah selesai.

@ Syukur

Mendadak ia terbangun. “Hujan sialan ! Aduh Tuhan, ributnya.” Saat mukanya mendongak keatap, “Alhamdulillah, aku masih punya rumah,” Read more »

3 kelemahan flash fiction indonesia

Sepantasnya awal abad 21 dicatat sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan sastra tanah air. Abad 21 berjasa melahirkan Istilah sastra dunia maya. Berkat internet, ribuan orang dari seluruh penjuru tanah air kini bisa merilis karya sastranya ke publik hanya dengan menekan telunjuknya.

Raib sudah kasta penulis pemula, penulis ternama. Semua penulis setara. Media-media tradisional tak lagi digdaya menentukan naskah penulis siapa yang hendak dimuat. Setiap hari masyarakat dibanjiri ratusan karya fiksi yang terentang mulai dari puisi, tweetfiction, flash fiction, cerpen, novelette sampai novel. Dan berita bagusnya adalah, pembaca bisa lansung berinteraksi dengan penulis bersangkutan disaat bersamaan tanpa batas ruang & waktu.

Pembaca juga sudah bisa mengakses jenis fiksi pendek (tweetfiction & flash fiction) yang selama ini tak pernah mendapat ruang dimedia-media tradisonal. Flash fiction tiba-tiba saja menjadi anak emas di jagat sastra dunia maya. Bentuknya yang pendek, padat, dan bisa dibaca sekejap dianggap paling sesuai dengan tipikal pengguna internet yang tidak betah berlama-lama membaca tulisan panjang dilayar komputer. Read more »

Mungkinkah Menulis Cerita Fiksi Dalam 100 Kata (bagian 2)

(Sambungan dari bagian 1)

Bila dilihat sepintas lalu, sepertinya kedua syarat pokok diatas malah menyulitkan, alih-alih memudahkan kita menulis cerita fiksi kedalam 100 kata.

Tapi tidak juga..

Ada satu kebiasaan laten penulis fiksi; cenderung tidak sadar menganggap bodoh para pembacanya. Maka, pembaca pun dijejali informasi sebanyak-banyaknya, sejelas-jelasnya, supaya bisa  mengerti apa maksud sang penulis.

Persepsi ini sungguh tidak adil buat pembaca. Sebuah tulisan fiksi (FF, cerpen, Novel) semata wadah dialogis antara penulis dengan pembacanya dalam semangat kesetaraan. Saat tulisan dipublikasikan, itu tidak lagi menjadi milik penuh siapapun. Pembaca juga ingin terlibat & dilibatkan disetiap adegan. Pembaca ingin mengidentifikasi dirinya sebagai salah satu karakter didalam cerita bermodal imajinasinya sendiri. Maka, imajinasi penulis tidak boleh mendominasi cerita hingga menutup ruang keikutsertaan mereka. Read more »