<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonovel.com&#187; Ernest Hemingway</title>
	<atom:link href="http://indonovel.com/tag/ernest-hemingway/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonovel.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 02:48:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Menulis Cerpen a la ‘Kucing Kehujanan’ Ernest Hemingway</title>
		<link>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/</link>
		<comments>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 09:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[cara menulis cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Ernest Hemingway]]></category>
		<category><![CDATA[menulis cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tempayan berisi lautan. Demikian pengibaratan yang kuberikan pada –satu lagi- cerpen karya peraih nobel prize bidang kesusateraan tahun 1954 asal USA, Ernest Hemingway. &#8221; Cat In The Rain&#8221; , atau Kucing Kehujanan diambil dari buku Ernest Hemingway Short Stories (hal. 265-268). Hemingway dengan gemilang merangkum satu tema luas cuma dalam cerita pendek sepanjang 3 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Seperti tempayan berisi lautan.</p>
<p>Demikian pengibaratan yang kuberikan pada –satu lagi- cerpen karya peraih nobel prize bidang kesusateraan tahun 1954 asal USA, <strong>Ernest Hemingway.</strong></p>
<p>&#8221; Cat In The Rain&#8221; , atau Kucing Kehujanan diambil dari buku <em>Ernest Hemingway Short Stories</em> (hal. 265-268).</p>
<p>Hemingway dengan gemilang merangkum satu tema luas cuma dalam cerita pendek sepanjang 3 halaman.</p>
<p>Hal itu memungkinkan karena Hemingway paham <strong>cara menulis cerpen </strong>yang baik. Hemingway sangat disiplin menjaga, agar imajinasi berlebihan yang kerap menyandera penulis tidak menjangkitinya.</p>
<p>Walhasil, kalimat-kalimat yang tampil pada setiap paragraf dalam cerpen ini hanya yang berkepentingan untuk memajukan alur cerita,</p>
<p style="text-align: left;">Melalui cerpen-cerpennya, Hemingway seolah ingin mengatakan bahwa, mengusung tema besar tidak tergantung pada panjang pendeknya sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align: left;">Hal itu lebih berkaitan dengan keterampilan menulis.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis yang royal dalam kalimat yang bertele-tele, gemar menginyervensi cerita melalui sudut pandangnya sendiri, potensial mengkhianati pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Penulis ibarat sutradara, hanya boleh menayangkan cerita. Lalu ‘<em>cerita</em>’ itu sendiri yang akan bercerita kepada pembaca.</p>
<p style="text-align: left;">Kasus mana yang lebih menarik bagi anda; <em>Pertama</em>, menonton sebuah panggung drama melalui adegan-adegan para aktornya atau;</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kedua</em>, mendengar seorang narrator berdiri –atau duduk- ditengah panggung, bermonolog, menceritakan kisah dari awal sampai akhir ?</p>
<p style="text-align: left;">Dalam versi <strong>cerpen</strong>, <em>Cat In The Rain</em> adalah contoh dari kasus pertama.</p>
<h2 style="text-align: left;"><strong>Metafora kucing dalam cerpen<br />
</strong></h2>
<div id="lw_context_ads" style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Semua tahu, kucing takut air.</p>
<p style="text-align: left;">Dari atas jendela kamar hotel, tampak  kucing kehujanan, sendirian, tanpa tempat berteduh, memicu rasa kasihan seorang istri yang tengah menginap bersama suaminya.</p>
<p style="text-align: left;">Sang suami tidak peduli akan keprihatinan istrinya pada kucing itu, terus membaca sambil tidur. Dia tidak menemani istrinya turun kebawah untuk menyelamatkan kucing tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Atas suruhan sang pemilik hotel, seorang pelayan menemani, memayungi sang istri menerbos hujan, namun kucing itu telah hilang.</p>
<p style="text-align: left;">Namun, sang istri sedikit terhibur, karena terkesan dengan perhatian dari pria si pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;">Kembali kekamar, sang istri mencurahkan isi hatinya pada sang suami.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri mengatakan dirinya telah lama ingin memelihara kucing,</p>
<p style="text-align: left;">Suaminya mengomentari seadanya, dan terus membaca.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri juga mengungkapakan hasratanya –sambil bercermin- ingin memanjangkan rambut, makan malam dengan piring perak dan lilin, juga baju-baju baru.</p>
<p style="text-align: left;">Suaminya terus membaca, hanya menimpali sekedarnya dan mengangap itu hanya ocehan sambil lalu dari istrinya.</p>
<p style="text-align: left;">Ketika sang istri kembali mengungkapkan hasratnya ingin memiliki kucing, suaminya tetap acuh, malah menganjurkannya untuk ikut membaca buku.</p>
<p style="text-align: left;">Saat itulah, pelayan hotel tadi mengetuk pintu kamar, masuk, mengantarkan boneka kucing dari kulit kura-kura buat sang istri, hadiah dari pria pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;">Cerita berakhir!</p>
<p>Hemingway menampakkan apa yang ‘didalam’ melalui tindakan/adegan. Teknik yang sudah langka ditemui pada kebanyakan karya <em>fiksi</em> penulis dewasa ini.</p>
<p>Tanpa deskripsi atau narasi yang menceritakan kondisi serta situasi psikologis sang istri, pembaca bisa memahami beban perkawinan yang dialami perempuan itu melalui adegan penyelamatan kucing dari hujan.</p>
<p>Wanita itu seolah merasakan penderitaan yang sama dengan kucing, seperti dalam satu ucapannya :</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">“Sungguh tidak enak menjadi seekor kucing yang malang dan kehujanan di luar sana.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Perempuan itu telah mengidentifikasi dirinya yang sekarang dengan si kucing.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ada plot yang rumit. Hanya tindakan melihat kcuing dari jendela kamar hotel. Sang istri turun menerobos hujan untuk menyelamatkannya, gagal dan kembali kekamar. Sang istri kembali kekamar, mengobrol dengan suaminya yang sibuk membaca sambil tiduran, dan menimpali kata-kata istrinya dengan basa-basi.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam kehidupan nyata, <em>cerita pendek</em> itu kira-kira hanya berdurasi 15 menit. Namun cukup untuk mengungkap betapa perkawinan suami istri Amerika itu tidak seperti apa yang terlihat dari luar.</p>
<p style="text-align: left;">Sang istri kecewa dengan kehidupan rumah tangga yang dijalaninya. Secara tersirat dia ‘memakai kasus kucing untuk memperoleh perhatian suaminya.</p>
<p style="text-align: left;">Suami, seperti umumnya pria, cenderung tidak peka dengan pesan-pesan yang tersembunyi dibalik ucapan wanita, menganggap itu hal sepele.</p>
<p style="text-align: left;">Padahal, wanita itu haus kasih sayang. Lihatlah bagaimana gembiranya sang istri mendapat perhatian ‘kecil’, dalam adegan pemberian payung dan boneka kucing dari pria pemilik hotel.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Ernest Hemingway</strong> paham psikologi manusia.</p>
<p style="text-align: left;">Ditangan penulis berbeda, kasus rumah tangga diatas bisa jadi disajikan terburu-buru.</p>
<p style="text-align: left;">Karakter sang istri yang haus perhatian akan diceritakan lewat kalimat berisi segala pikiran dan isi hatinya. Alih-alih melalui adegan (tindakan dan dialog).</p>
<p style="text-align: left;">Menurut saya, kejeniusan seorang <strong>penulis cerpen</strong> akan terlihat jika mampu menampilkan isi hati dan pikiran karakter melalui adegan.</p>
<p style="text-align: left;">Dalam ‘kucing kehujanan’, Hemingway tidak sekalipun menuliskan secara tersurat betapa sang istri terbebani dengan kehidupan perkawinannya, juga tidak dikatakan sang istri sangat haus akan kasih sayang dari suaminya yang acuh.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway hanya menayangkan adegan, ucapan dan tindakan.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca dimanjakan dengan kemewahan, karena bisa memahami plot, karakter &amp; moral cerita tanpa diintervensi oleh penulis. Rasanya seperti menonton sebuah sinema.</p>
</div>
<p style="text-align: left;">Membaca setiap <strong><em>cerpen</em></strong> <em>Ernest Hemingway</em> membuatku berkesimpulan bahwa;</p>
<blockquote style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Cita-cita tertinggi sastra adalah menjadi sinema !</p>
</blockquote>
<p style="text-align: right;"><em><strong>tips menulis cerpen </strong></em>copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Hemingway Ke Twitterland</title>
		<link>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/</link>
		<comments>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 06:10:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips menulis flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[Ernest Hemingway]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi mini]]></category>
		<category><![CDATA[menulis fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “ Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Ernest Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis fiksi saat mernyatakan itu. Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &#38; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &#38; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: left;">“ <em>Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi</em> (Ernest Hemingway) “</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, <strong>Ernest Hemingway</strong> telah menciptakan rumus dasar <strong><a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis fiksi</a></strong> saat mernyatakan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti &amp; tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial &amp; literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Ernest Hemingway mengajak para penulis kembali ke kittah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Fiksi</em> adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka (Wikipedia).</p>
<p style="text-align: left;">Suatu waktu mungkin kita tanpa sadar telah  keliru menafsirkan definisi ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kerap kita menulis cerita fiksi dengan alur kesana kemari, meluas, melebar, tak jelas juntrungannya.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan di genre fantasy, pembaca menginterpretasi ceritanya berdasarkan pengalaman dunia nyata.</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca menuntut cerita yang logis, dapat dipercaya, serta mudah dibandingkan dengan kenyataan.</p>
<p style="text-align: left;">Ini penekanan rumus Ernest Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Lupakan aksesoris &amp; ornamen yang tidak berkontribusi memajukan cerita: <em>Ayahku matahari. Ibuku bumi. Semesta membesarkan aku dengan cinta seterang bulan purnama</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Guna membuktikan kebenaran teorinya, Ernest Hemingway merilis fiksi yang terdiri dari 6 kata saja di tahun 1920. Itulah <em>novel</em> terpendek sedunia:<strong><em></em></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em> For sale: baby shoes, never worn.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: left;">Mendadak saya teringat sesuatu saat merenungkan kembali teori Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Berabad-abad sebelum dia merilis novel terpendeknya, sebenarnya telah lahir lebih dahulu sebuah <em>fiksi mini</em> karya Gaius Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><em>I came, I saw, I Conquered</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Memang Julius Caesar tidak bermaksud <em>menulis</em> <em>fiksi</em>. Enam kata itu lebih merupakan ungkapan atas refleksi perjalanan hidup sang penakluk dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Sejarahlah yang kemudian secara alamiah mempopulerkannya lewat tradisi lisan keseluruh dunia.</p>
<p style="text-align: left;">Fakta hari ini membuktikan ungkapan itu telah menjelma sebagai salah satu karya literer terpopuler.</p>
<p style="text-align: left;">Hebatnya lagi, karya itu dalam versi aslinya hanya disusun oleh 3 kata; <strong>Veni, Vidi, Vici</strong>. (<em>yakin pernah mendengar pemeo ini ?</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Fiksi Panjang &amp; Pendek Intinya Sama Saja</h3>
<p style="text-align: left;">Pertanyaannya kemudian : “ apakah <em>6 kata itu layak disebut cerita fiksi ?</em> “</p>
<p style="text-align: left;">Disadari atau tidak, generasi kita besar dalam pemahaman keliru. Kita terlanjur memahami fiksi sebatas karya-karya tradisional berbentuk<strong> novel</strong> atau <strong>cerpen</strong>, minimal terdiri dari 1.000 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Logika kita serta merta menolak kemungkinan adanya cerita fiksi yang disusun oleh 6 kata saja. Boleh jadi Hemingway berniat mengolok-olok kita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi tidak kawan<em>…</em>Hemingway sungguh serius.</p>
<p style="text-align: left;">Saya belum menemukan literatur yang menyebutkan jumlah kata pada tulisan sebagai syarat penulisan fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Panjang pendeknya cerita sekedar kategorisasi produk di industri penerbitan. Misalnya, 1.000 – 7.500 (cerpen), 7.500 – 20.000 (novelette), 50.000 – 110.000 (novel).</p>
<p style="text-align: left;">Lila Guzman, pengarang <em>Ask the Author</em>, mengatakan; Cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Di sekolah kita juga diajari, bahwa sebuah cerita fiksi yang utuh, plotnya harus mengandung empat elemen cerita, yakni : <em>karakter</em>, <em>setting</em>, <em>konflik</em>, &amp; <em>resolusi</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Selama sebuah cerita memenuhi seluruh persyaratan itu, ia layak disebut cerita fiksi.</p>
<p style="text-align: left;">Sekali lagi, bukan karena panjang atau pendeknya. Kalau Ernest Hemingway mengatakan cuma 6 kata saja, karena mungkin menurutnya itu ambang minimal cerita fiksi dalam bahasa ibunya bisa memuat seluruh persyaratan tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Baiklah, untuk menyamakan persepsi, mari kita membedah karya Julius Caesar :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong><em>Aku datang, Aku lihat, Aku menang.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Cerita ini secara gamblang memperlihatkan awal, tengah &amp; akhir.</p>
<p style="text-align: left;">Karakternya Julius Caesar (<em>point of view</em> orang pertama tunggal), konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi, settingnya bertempat di medan peperangan &amp; berlatar zaman kejayaan kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar sebagai pemenang setiap peperangan.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi…</p>
<p style="text-align: left;">Yah, anda mau protes kan, sebab konflik &amp; setting tidak eksplisit tertera dalam cerita.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi anda tentu masih ingat teori Hemingway “ … <em>selebihnya hanya imajinasi</em>”.</p>
<p style="text-align: left;">Seorang penulis bisa membubuhkan imajinasi sampai beribu-ribu halaman guna menulis epos hidup Julius Caesar.</p>
<p style="text-align: left;">Berpangkal dari 6 kata itu, ribuan kalimat selanjutnya bisa berupa sekumpulan karakter pendamping, tempat-tempat peperangan, jalannya peperangan demi peperangan, tapi tidak dapat memungkiri kenyataan kalau epos itu sebenarnya tetap bisa diceritakan oleh 6 kata saja.</p>
<p style="text-align: left;">Malah karya Julius Caesar itu bisa diadaptasi kedalam beragam cerita fiksi lainnya.</p>
<p style="text-align: left;">Enam kata; <em>I came, i saw, i conquered</em>, dalam imajinasi seorang sutradara menjelma jadi skenario film <em>Troy;</em> Tentara Yunani (Achiles cs) <span style="text-decoration: underline;">mendatangi</span> kota Troya, <span style="text-decoration: underline;">melihat</span> situasi sebelum merancang strategi kuda troya dan akhirnya <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> perang.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tolkien</em> sadar tidak sadar juga memakai teori 6 kata + imajinasi Hemingway ketika menulis <em>Lord of The Ring</em>;</p>
<p style="text-align: left;">Frodo cs <span style="text-decoration: underline;">datang</span> dari Shire ke Mordor, <span style="text-decoration: underline;">melihat-lihat</span> situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa <span style="text-decoration: underline;">mengalahkan</span> mata jahat Sauron.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Harry Potter</em> pun sebenarnya ditulis <em>JK. Rowling</em> menggunakan rumus ini;</p>
<p style="text-align: left;">Harry <span style="text-decoration: underline;">datang</span> ke dunia sihir, <span style="text-decoration: underline;">Melihat-lihat</span> situasi (Hogwarts), dan <span style="text-decoration: underline;">memenangkan</span> pertempuran melawan Lord Voldemort ( Upps, maaf. Seharusnya <em>dia-tak-boleh-disebut-namanya</em> <img src='http://indonovel.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<h3 style="text-align: left;">Kelahiran Tweetfiction</h3>
<p style="text-align: left;">Sejarah penerbitan tak lagi berpihak pada fiksi mini pasca Hemingway. Kita memaklumi mengapa media cetak tradisonal (koran) tak menyisakan minat (dan kolom tentu saja) pada kategori ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kolom-kolom pada koran yang luas memang sengaja didesain untuk cerpen (termasuk cerbung) dengan kuota minimal 1.000-2.500 kata.</p>
<p style="text-align: left;">Lalu tiba-tiba, Bumm !</p>
<p style="text-align: left;">Manusia menemukan internet. Era kedigdayaan koran pun runtuh.   Internet dengan segala fiturnya memungkinkan setiap orang bisa mempublikasikan karya fiksinya sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">Dan berita bagusnya adalah; Gratis !</p>
<p style="text-align: left;">Fiksi pendek ala Hemingway seolah bangkit kembali dari tidur panjangnya, dan menemukan wadah yang sangat tepat di internet berkat kemunculan salah satu fitur microblog bernama Twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter adalah kegiatan nge-Blog dengan karakter terbatas (mikro), yakni 140 karakter.</p>
<p style="text-align: left;">Twitter memungkinkan penggunanya (Tweeple) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para followers-nya.</p>
<p style="text-align: left;">Tweet dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi : <span style="text-decoration: underline;">Menciak</span> (dari kata dasar <strong>ciak</strong>).</p>
<p style="text-align: left;">Ciak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Muhammad Ali, Pustaka Amani/Jakarta) diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap); Tuwit..tuwit….</p>
<p style="text-align: left;">Media sosial ini dilirik oleh mereka yang hobby menulis fiksi guna menghidupkan kembali tradisi menulis fiksi pendek ala Hemingway.</p>
<p style="text-align: left;">Tweeps berlomba-lomba mengicaukan karya-karya <em>fiksi </em>mereka di twitosphere.</p>
<p style="text-align: left;">Bahkan ada akun bernama <a href="http://twitter.com/fiksimini" target="_BLANK">@fiksimini</a> yang khusus menayangkan fiksi pendek yang di-retweet (RT) dari para followersnya.</p>
<p style="text-align: left;">Disatu sisi twitter memungkinkan para penulis fiksi melatih teknik memadatkan cerita. Pembaca disisi lain, menemukan keasyikan tersendiri saat membaca fiksi-fiksi mungil semacam ini.</p>
<p style="text-align: left;">Kesingkatan dan kesekejapannya terasa menggugah dan punya estetika tersendiri. Dibaca sekejap namun menimbulkan kesan mendalam dan lama, sama seperti kita membaca fiksi panjang (<em><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">cerpen</a></em> &amp;<em> novel</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter menjadi kategori tersendiri dikalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air, hingga mulai disosialisasikan dengan nama <strong>fiksi mini</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Saya sendiri kurang sepakat dengan pemberian nama <strong><a href="http://indonovel.com/5-sumber-cepat-dan-praktis-untuk-menemukan-ide-menulis-flash-fiction/" target="_blank">fiksi mini</a></strong>. Sebutan tu tidak punya differensiasi tegas.</p>
<p style="text-align: left;">Selama ini frasa cerita/fiksi mini terlanjur dipakai untuk menamai fiksi pendek 1.000 kata yang populer di koran-koran dengan nama cermin (cerita mini).</p>
<p style="text-align: left;">Saya lebih suka menamai fiksi mini dalam 140 karakter dengan sebutan :  <strong>tweetfiction</strong>. Nama ini menarik garis demarkasi yang jelas antara fiksi maksimal 140 karakter dengan <strong>cerita mini</strong> ala koran.</p>
<p style="text-align: left;">Nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi mini yang dipublikasikan (di-tweet) dari dan oleh pengguna twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Singkatnya, definisi<em> tweetfiction</em> adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan (di-tweet) penulisnya melalui twitter.</p>
<p style="text-align: left;">Contoh &amp; tips menulisnya diulas di artikel  <a href="http://indonovel.com/tips-menulis-tweetfiction" target="_blank">tips menulis tweetfiction..</a></p>
<p style="text-align: left;">Sayangnya semangat untuk memasyaratkan tweetfiction tidak dibarengi disiplin yang ketat.</p>
<p style="text-align: left;">Karena kesekejapan &amp; kesingkatannya sehingga terkesan digampangkan. Syarat awal, tengah, akhir + 4 elemen cerita kerap diabaikan.</p>
<p style="text-align: left;">Tak ayal lagi, sering kita temui tweet berupa; puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, potongan dialog, yang diklaim penulisnya sebagai <strong>tweetfiction</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi apapun itu, trend menulis<em><a href="http://antojournal.com" target="_blank"> tweetfiction</a> </em>sungguh hal yang sangat positif.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>* * *</strong></p>
<p style="text-align: right;">copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> by Rusdianto<strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/definisi-dan-sejarah-tweetfiction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menulis Cerita Pendek Kehidupan a la Ernest Hemingway</title>
		<link>http://indonovel.com/resensi-novel-ernest-hemingway/</link>
		<comments>http://indonovel.com/resensi-novel-ernest-hemingway/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 00:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rusdianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Ernest Hemingway]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerpen terbaik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonovel.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Resensi kumpulan cerpen terbaik Ernest Hemingway Judul                :  The Fifth Column (Angkatan Kelima) Pengarang      : Ernest Hemingway Penerjemah   : Ahmad Najib, Abd. Mukhid Penerbit          : Penerbit Pedati, Pasuruan Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2003 Tebal Buku      : 293 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Resensi<strong> kumpulan cerpen terbaik Ernest Hemingway</strong></p>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Judul                :  The Fifth Column (Angkatan Kelima)</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Pengarang      : Ernest Hemingway</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Penerjemah   : Ahmad Najib, Abd. Mukhid</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Penerbit          : Penerbit Pedati, Pasuruan</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2003</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Tebal Buku      : 293 hal</div>
<blockquote>
<p style="text-align: left;">&#8221; Pada jaman dulu mereka menulis betapa manis dan terhormat orang yang mati demi negaranya. Tapi dalam perang modern kematianmu tidak lagi manis dan terhormat. Seperti seekor anjing kau akan mati tanpa alasan yang jelas.. (<em>Notes for the Next War</em>, Ernest Hemingway) &#8220;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: left;">Melalui 3 baris kalimat <em>notes</em>-nya diatas, <strong>Ernest Hemingway</strong> mencoba mengidentifikasi makna perang di era modern sebagai latar 1 karya drama &amp; 4 <strong><a href="http://antojournal.com" target="_blank">cerita pendek</a> kehidupan</strong> dalam bukunya ini.</p>
<p style="text-align: left;">Bagi yang pernah menonton film bersetting perang semacam <em>Brave Heart</em>, <em>Lord of The Ring</em>, <em>The Last Samurai</em>, maka bersiaplah untuk kecewa saat membaca buku <strong>kumpulan cerita pendek</strong> ini.</p>
<p style="text-align: left;">Anda takkan menemukan seorang pun pahlawan didalamnya.</p>
<p style="text-align: left;">Perang yang ‘seharusnya’ mengisahkan tokoh pejuang, pemberani, ditangan Hemingway malah diisi oleh para penakut, pengecut &amp; pengkhianat sebagai tokohnya.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi disinilah kekuatan utamanya.</p>
<p style="text-align: left;">Peraih <strong>Nobel</strong> Kesusateraan tahun 1954 ini membawa kita hadir ditengah kancah Perang Sipil Spanyol tahun 1937 untuk menyaksikan betapa perang hanya semata aktivitas saling membunuh antar manusia. Tak kurang, tak lebih.</p>
<h2 style="text-align: left;">Tema Besar dalam Gambaran Kecil</h2>
<p style="text-align: left;">Pada cerpen PENGADUAN (Hal.161-183), tokoh Aku (sudut pandang orang pertama subjektif) bersama seorang Waiter Bar terjebak dalam konflik bathin.</p>
<p style="text-align: left;">Keduanya terpojok pada keharusan mengadukan seorang kawan lamanya (Luis Delgado) yang dalam perang tersebut berdiri dipihak lawan mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Tokoh Aku dan Waiter bar diawal cerita saling mengharap dan menekan satu sama lain untuk memikul tanggung jawab mengadukan Lusi Delgado pada markas polisi pemerintah.</p>
<p style="text-align: left;">Mereka pada satu sisi terbebani dengan keberanian Luis Delgado yang hadir di Bar tersebut yang notabene berada dalam wilayah demarkasi mereka.</p>
<p style="text-align: left;">Disisi lain mereka tidak mau dianggap berkhianat karena tidak melaporkan keberadaan sang musuh tersebut kepada polisi.</p>
<p style="text-align: left;">Dengan cara bertutur yang kuat dan cepat khas Hemingway kita juga disodori oleh deskripsi Bar Chicote’s sebagai latar tempat.</p>
<p style="text-align: left;">Meminjam Bar tersebut, Hemingway menelanjangi sisi kemanusiaan kita yang cenderung tidak masuk diakal. Bagaimana para pengunjung bar yang baru saja membunuh dipagi hari atau mereka yang dijadwal untuk maju ke garis depan esoknya bisa terlibat dalam pembicaraan dengan topik-topik ringan khas obrolan antar tetangga di waktu damai.</p>
<p style="text-align: left;">Bagaimana seorang Luis Delgado yang berani mengambil resiko mati dengan pergi ke Bar tersebut yang berada dalam wilayah kekuasaan lawannya, hanya untuk memenuhi hasrat manusiawinya; yaitu bertemu dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat lamanya.</p>
<p style="text-align: left;">Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh <em>Ernest Hemingway</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Perang bagaimanapun ganasnya tak mampu membunuh sisi-sisi kemanusiaan seseorang sebagai <em>homo socius</em>.</p>
<p style="text-align: left;">Dan pada akhir cerita, tokoh Aku menelpon polisi yang akhirnya menangkap Lusi Delgado, Memintanya memberitahu Luis Delgado bahwa dialah (Aku), sahabat lamanya yang mengadukannya.</p>
<p style="text-align: left;">Tokoh Aku ingin menegaskan bahwa dia –sebagai sahabat- masih punya sisi kemanusiaan yaitu, Rasa Bertanggung jawab.</p>
<p style="text-align: left;">Di 3 Cerpen berikutnya<em>; Kupu-kupu dan Tank, Malam Sebelum pertempuran, Di atas Punggung Bukit</em>, Hemingway kembali menggunakan sudut pandang tokoh Aku dalam melukiskan konflik-konflik kecil para tokoh ceritanya sebagai media penyampaian pesan.</p>
<p style="text-align: left;">Konflik kecil yang seolah tak ada artinya dihadapan perang besar dimasa itu justru diolah sebagai tema besar dalam mendefinisikan makna sejati perang itu sendiri.</p>
<h3 style="text-align: left;">Show Don&#8217;t Tell</h3>
<p style="text-align: left;">Buku yang isinya ditulis tahun 1937 ini sebenarnya sangat cocok bagi para penulis pemula yang hendak <strong><a href="http://indonovel.com/tips-menulis-cerpen-hemingway/" target="_blank">belajar menulis fiksi</a></strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway mengajar kita teknik menggiring pembaca seolah hadir sendiri dalam latar waktu &amp; tempat terjadinya peristiwa.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kalimat singkat, paragraf singkat, kalimat aktif &amp; positif</em>, itulah 3 rumus dasar Hemingway dalam <strong><em><a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">menulis cerpen</a></em></strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Kita juga bisa meniru cara dia menyisipkan pesan/moral cerita secara tersirat.</p>
<p style="text-align: left;">Hemingway tidak menaruh pesan secara kasar &amp; amatir lewat tuturan dialog atau di ending cerita sebagaimana kebiasaan banyak penulis sekarang.</p>
<p style="text-align: left;">Dia justru menyisipkannya secara halus dan hati-hati, tersebar merata pada semua paragraf dengan jalan menunjukkan (<em>Show</em>), bukan mengatakan (<em>Don’t Tell</em>).</p>
<p style="text-align: left;">Pembaca akan terkejut dengan kecerdasannya sendiri, saat berhasil menemukan pesan/moral cerita begitu selesai membaca tanpa merasa digurui oleh si pengarang.</p>
<p style="text-align: left;">Tak salah kalau Erza Pound menyebut <strong><em><a href="http://indonovel.com/3-tips-menulis-fiksi-pendek-rahasia-dibalik-nobel-hemingway/" target="_blank">Ernest Hemingway</a></em></strong> sebagai ‘Penulis prosa dengan gaya terbaik di dunia’.</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Resensi buku fiksi</strong> copyright <a href="http://twitter.com/2010" target="_BLANK">@2010</a> oleh Rusdianto</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonovel.com/resensi-novel-ernest-hemingway/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

