Vira Cla : Print on Demand itu Passive Income

” Self Publishing model print on demand (PoD) bisa dijadikan sebagai passive income. Kita seperti punya investasi, tiap ada yang beli, kita pun jadi tambah pemasukan. Waktunya tidak terbatas. Sampai kapan pun kita mau, kita tetap bisa mencetak dan menjualnya. Tidak ada alasan “sudah tidak cetak lagi” seperti di penerbit mainstream “

self publishing, print on demand, penerbitan buku,

Saya sampai harus hela napas panjang, hmm, it’s a really-really-really…

Vira Cla termasuk salah satu pionir print on demand di Indonesia.

Dokter gigi jebolan Universitas Indonesia ini, salah seorang penulis yang berhasil menjawab tantangan 99 Writers in 9 Days yang diselenggarakan oleh Nulisbuku.com, beberapa waktu lalu.

Karena itu, saya mencoba mengundangnya menjadi tamu di Indonovel.

..dan perempuan cantik kelahiran Padang ini mengiyakan.

Dengan senang hati, dia berbagi seluruh pengalamannya disini buat Anda semua.

Jadi bagi Anda yang berencana menerbitkan buku di jalur print on demand, silahkan cermati.

Banyak hal mengenai print on demand terungkap dalam obrolan kami.

Berikut petikannya….

Apa motivasi Anda menerbitkan buku di jalur PoD ?

Kesempatan. Sebuah layanan jasa self-publishing yang saya kenal lewat twiter yaitu @nulisbuku mengadakan acara “99 Writers in 9 Days”.

Acara ini menantang penulis pemula maupun profesional untuk menyiapkan naskah siap cetak termasuk desain cover dalam tenggat waktu 9 hari.

Kebetulan saya punya beberapa cerpen yang secara garis besar setema, ya sudah, saya kumpulkanlah menjadi naskah buku.

Jadi, ya, buku tersebut memang sebagai jawaban atas tantangan itu, selain karena saya sebenarnya juga pernah niat mau membukukan kumpulan cerpen saya.

Ada kesan PoD tidak ketat dalam soal mutu ?

Penyeleksian mutu tidak ketat ya mungkin, tapi tetap ada, kok.

Saat itu saya punya beberapa cerpen, tetap saja saya harus memilah mana yang kira-kira layak “dijual”.

Intinya jaminan mutu memang dari penulis saja. Sehingga siapa pun bisa menerbitkan buku.

Persepsi bahwa produk penerbit mainstream lebih bermutu ?

Kalau dibilang mutu produk penerbit mainstream lebih terjaga, bisa jadi karena ekspansi pasarnya luas. Masyarakat lebih banyak disuguhkan produk-produk mainstream dengan penulis-penulis yang sudah punya nama.

Kesannya ya itulah yang bermutu.

Padahal produk self-publishing nggak kalah, lho, mutunya.

Anda tidak merasa nulisbuku.com memindahkan biaya promosi dan distribusi ke tangan penulis ?

Namanya juga self-publishing.

Nulisbuku.com hanya jasa layanan bagi penulis yang tidak punya modal untuk menerbitkan bukunya ( self publishing company ), karena itu ia pakai sistem Print on Demand, walaupun ongkos produksi tentu lebih mahal daripada cetak banyak di tempat percetakan.

Selain itu, semua hal yang terkait penerbitan buku jadi kerjaan kita sendiri. Mengambil langkah self-publishing berarti kita sudah siap untuk jadi writerpreneur sejati. Kita menulis, kita pun menjual.

Biaya promosi dan distribusi akan kita tanggung sendiri, atau kalau “pinter” bisa ditanggung pembeli buku kita. Hehehe..

Keuntungan terbesarnya ya kita bisa menerbitkan buku apa saja tanpa harus menunggu berlama-lama naskah kita “diendapkan”  di meja redaksi penerbit mainstream.

Betulkah motif penulis PoD semata-mata demi kepuasan pribadi & bukan motif ekonomi ?

Bagi saya, ya ini kepuasan pribadi. Saya telah diberi kesempatan untuk berkarya dan untuk menyajikan karya tersebut kepada siapa pun.

Sebagai seorang yang ingin jadi penulis profesional, inilah langkah awal saya untuk menuju dunia kepenulisan serius. Dan, kesempatan itu datang lewat Nulisbuku.com.

Kalau saya melewatkan kesempatan itu, mungkin saat ini saya belum menerbitkan buku apa pun. Hahaha..

Ada kecenderungan PoD dijadikan batu loncatan untuk menembus penerbit mainstream ?

Ya. Saya tidak membantah pernyataan ini.

Saya tetap ingin menembus penerbit mainstream.

Selain ekspansi pasarnya lebih luas, buku kita juga dicetak dalam skala besar, masyarakat juga masih percaya dengan kualitas yang terjamin dari penerbit mainstream.

Produk self-publishing, apalagi dengan sistem Print on Demand, masyarakat tampaknya masih setengah hati menerima.

Betulkan penulis yang memilih POD karena tidak mampu mengakses penerbit mainstream ?

Masalah kesempatan saja kali, ya.

Ada penulis yang ketemu peluangnya di online publisher, nggak sabar pengen nerbitin buku, ya jadilah nerbitin buku lewat online publisher, seperti saya ini.

Ada juga penulis yang memang niat dari awal harus di penerbit mainstream.

Selain itu, masalah prioritas pilihan juga.

Kalau sudah usaha menembus penerbit mainstream tapi nggak lolos juga, tapi tetap mau terbitin buku, ya lewat online publisher atau self-publishing.

Sebenarnya, buku apa saja, menurut saya pantas untuk diedarkan.

Masalahnya, penerbit mainstream sudah punya batasan tersendiri berapa banyak buku yang bisa diterbitkan, padahal jumlah naskah yang masuk melebihi kuota dari penerbit. Ya sudah, jadilah banyak naskah yang ditolak.

Belum lagi, penulis Indonesia harus bersaing dengan penulis impor untuk mendapatkan kuota dari penerbit. Apalagi naskah dari penulis yang tak punya nama, semakin sulitlah untuk membuka akses ke penerbit mainstream walaupun peluang itu selalu ada.

Kenapa Anda masih berharap bisa menembus penerbit mainstream ? Apa karena kurang prestisius ?

Kurang prestisius ? Nggak juga. Saya tetap bangga, kok, bisa nerbitin buku dengan sampul depan ada nama saya.

Saya tetap berharap bisa menembus penerbit mainstream karena saya ingin buku saya tak hanya dibaca oleh segelintir orang. Saya ingin buku saya dicetak banyak, lalu disebarkan ke seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Saya juga ingin punya peluang untuk mengenalkan nama saya sebagai penulis.

Saya ingin terkenal karena karya saya seperti Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Clara Ng, Dee Lestari, dan menjadi inspirasi buat orang-orang untuk berkarya.

Intinya, sih, saya ingin karya saya dibaca banyak orang. Hehehe… Kalau masalah ongkos produksi vs royalti, lewat self-publishing bisa lebih untung, lho, asal pinter ngitung. Lagian, saya capek ke kantor pos mulu. Hahaha…

Apa kendala terberat PoD (Nulisbuku.com) ?

Promosi dan distribusi. Buku saya memang terpajang di online store nulisbuku.com, tapi untuk mempromosikan harus dari saya yang proaktif.

Sejauh ini, saya hanya mempromosikan lewat social media yang saya punya.

Lewat twitter dengan follower hanya 200-an.

Lewat facebook dengan jumlah teman 800-an, lewat kompasiana dengan orang-orang yang membacanya sambil lalu.

Jadi, bayangkan saja, hanya kepada kesekian orang itulah saya gencar jualin buku.

Dan, bagi saya ini tantangan berat, bagaimana lagi caranya untuk menyebarkan info buku saya ke jejaring-jejaring maya lainnya. Karena, lewat social media atau apa pun selagi di dunia maya ini, berita itu lebih cepat tersebar dan jangkauannya bisa jadi sangat luas.

Ini yang saya harapkan bisa kesampaian untuk buku yang terbit di nulisbuku.com.

Kemudian untuk distribusi, haduh, capek deh kirim lewat pos. Ketemunya Pak Pos lagi, Pak Pos lagi.. Pak Pos sampai bosan sama saya kirim paket melulu. Hahaha…

Kendala lainnya, masyarakat kita tuh masih malas beli lewat online.

Kalau saya perhatikan, cukup banyak yang tertarik beli buku “Lajang Jalang”, mereka bertanya-tanya apakah dijual di toko-toko buku, kalau sudah dapat jawaban ‘tidak’, yah, saya pun harus siap-siap kemungkinan kehilangan calon pembeli.

Maaf, saya curcol. Hehehe..

Bagi anda yang berminat membaca antologi cerpen’ Lajang Jalang’ karya Vira Cla, bisa memesannya secara online di nulisbuku.com , atau lansung menghubungi Vira Cla.

Print on Demand (PoD) memudahkan  penerbitan, tapi menyulitkan dalam pemasaran ?

Solusinya hanya satu, ikhlaskan saja. Hahaha..

Percayalah, kerelaan kita memasarkan buku ini akan membuahkan hasil suatu saat nanti. Lakukan saja dengan hati riang.

Penulis yang baik itu adalah pemasar yang baik. Jadilah writerpreneur. Yang bukunya terbit di penerbit mainstream aja tetep ikut memasarkan bukunya, kok. Lihat saja Raditya Dika.

Mungkinkah PoD bertumbuh signifikan ditengah dominasi penerbit mainstream ?

Pasti bertahan! Dan akan bisa bertumbuh menyaingi penerbit konvensional.

Masyarakat diharapkan makin giat membaca. Kebutuhan akan buku makin meningkat.

Banyak juga yang kian rajin menulis, lihat saja gejala blogging, tulisan-tulisan yang selayaknya dibukukan.

Tentu dengan kuota terbatas yang dimiliki penerbit konvensional, mau tak mau online publisher sistem PoD akan jadi pilihan.

Dapatkah penulis mengharapkan penghasilan signifikan dari PoD ?

Penghasilan yang signifikan untuk hidup mewah?

Tentu tidak !

Hahaha…

Self-Publishing model PoD hanya bisa dijadikan sebagai passive income.

Kita seperti punya investasi, tiap ada yang beli, kita pun jadi tambah pemasukan.

Waktunya tidak terbatas. Sampai kapan pun kita mau, kita tetap bisa mencetak dan menjualnya. Tidak ada alasan “sudah tidak cetak lagi” seperti di penerbit mainstream.

PoD hanya strategi bisnis, memanfaatkan penulis untuk membeli bukunya sendiri lalu kemudian menjualnya kembali. Anda sendiri melakukannya, bukan ? 

Ya, saya melakukan itu.

Bisnis memang kejam, ya ?!

Hahaha..

Tapi, saya nggak ambil pusing masalah itu. Mereka melakukan pekerjaan mereka sebagai pebisnis semata.

Saya pun melakukan pekerjaan saya sebagai penulis, juga pebisnis. Saya rasa cukup adil.

Buku “ Lajang Jalang “ sudah laku berapa ?

Wah, rahasia perusahaan, nih!

Hmm, saya kurang tahu, apakah jumlah ini menyedihkan atau cukup menyenangkan bagi anda.

Tapi setidaknya sudah lewat angka 50 sejak terbit Oktober 2010 lalu.

Berapa perbandingan penjualan via nulisbuku.com dengan  yang anda pasarkan sendiri ?

Saya belum dapat info terbaru dari nulisbuku.com.

Tapi, sejauh ini, perbandingannya 3 : 51.

Yah, ketahuan deh sudah kejual berapa. Hahaha…

Saya sendiri waktu tahu berapa  yang terjual lewat nulisbuku.com cukup kaget. Saya sampai harus hela napas panjang, hmm, it’s a really-really-really self-publishing.

Perlu diketahui, nulisbuku.com sendiri sudah dapat pembagian 40% dari keuntungan buku yang terjual.

Jadi, misalkan harga buku 30.000, ongkos produksi 20.000, sisanya 10.000 dibagi 4.000 untuk nulisbuku.com dan 6.000 untuk penulis.

Well, penulis harus membayar 4.000 untuk memajang bukunya di online store nulisbuku.com.

Jika tidak sesuai target, apakah anda masih berniat menerbitkan lagi melalui nulisbuku.com ?

Untuk buku “Lajang Jalang” saya akan bertahan terus di Nulisbuku.com kalau tidak ada penerbit mainstream yang datang sendiri ke saya untuk menerbitkan buku ini. Saya sudah jadikan buku ini sebagai salah satu passive income saya.

Selain itu, ya, saya tetap usaha menembus penerbit mainstream.

Nulisbuku.com biarlah jadi pilihan kedua. Hehehe…

Karena, dari kultwit @hesti seorang editor di penerbit mainstream, kalau kita sudah kelamaan jadi penulis self-publishing lebih dari 2 buku, penerbit mainstream biasanya sudah malas menerbitkan buku kita.

Kecuali buku self-publishing sudah terjual lebih dari 800 eksemplar, angka kesuksesan seorang self-publisher, itu bisa jadi posisi tawar yang bagus untuk diterbitkan penerbit mainstream.

Apa pesan anda bagi penulis yang ingin menerbitkan buku PoD ?

Bersiaplah jadi pebisnis. You’re not only a writer, but you’re also an entrepreneur. Be a writerpreneur.

Dan, selayaknya bisnis. Anda bisa jadi rugi, atau malah untung besar !

Perlu keberanian untuk itu.

Self publishing model Print on Demand di Nulisbuku.com ini cocok untuk anda yang ingin “berbisnis” tanpa mengeluarkan modal.

Jadi, nggak ada ruginya, kan ?!

Hehehe..

Oke, terima kasih Vira.

Bagi anda yang berminat membaca antologi cerpen’ Lajang Jalang’ karya Vira Cla, bisa memesannya secara online di nulisbuku.com atau lansung menghubungi Vira Cla.

Selanjutnya Untuk Anda…

Apa tanggapan Anda atas pengalaman Vira Cla diatas ? Saya ingin mendengarnya pada kolom komentar dibawah…

..dan jangan lupa berbagi artikel bagus ini kepada teman Anda via twitter & facebook…

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. Noor Cholis says:

    bermanfaat untuk pemula seperti saya. Terima kasih.

  2. Rasibook says:

    Self publishing sebagai salah satu alternatif bagi penulis untuk menerbitkan bukunya :)
    artikel yang menarik

  3. Ketut Sugiartha says:

    PoD itu sesuatu yang baru buat saya. Walaupun sudah menerbitkan 3 kumpulan cerpen dan 3 novel di penerbit mainstream, saya ingin coba juga seperti apa sih PoD? Sesuai pengalaman saya, menerbitkan buku di penerbit mainstream tidak menjamin kepuasan. Ada penerbit mainstream di luar sana yang mainnya tidak transparan, seperti misalnya diam-diam tidak membayarkan uang muka 10% yang menjadi hak penulis atau tidak teratur mengirimkan laporan atas penjualan buku yang diterbitkandan bahkan ada yang menunggak pembayaran royalty tanpa alasan yang jelas.

    • Anto (Rusdianto) says:

      senang mendapat wawasan dr orang yang pernah merasakan lansung suka-duka penerbitan mainstream seperti Anda, Bung Ketut.
      Terimakasih… dan semoga sukses dengan PoD-nya.

  4. Jadi jika PoD itu, jika ada pembelian buku baru turun cetak dan dikirim secara konvensional atau materi buku bisa langsung didownload oleh si pembeli ?
    Terima kasih atas pencerahannya.

  5. Jujur,, sebentar lg buku sy terbit disalah satu penerbit indie (self publishing) dan setelah membaca tulisan d atas,, lgsg sy menelan ludah,, siap untung dan siap rugi.

    • Rusdianto says:

      di penerbit mainstream pun resikonya sama, mas :)
      nasib sebuah buku di pasaran kadang tdk bisa diprediksi.
      tapi jika bukunya berkualitas, ditambah aktifitas pemaaran yang tepat, saya kira buku anda tetap punya peluang berhasil di pasaran.
      semoga sukses.

  6. @hesti?? Mohon dicek ulang yaa :)

  7. Laura Khalida says:

    menarik sekali. saya salut dengan keberaniannya. great

  8. Self Online publishing memungkinkan kualitas/mutu akan terseleksi dengan sendirinya yakni melalui “Follower”, “LIKE”, “Comment”, “Alexa Rank”, “Google Rank”, dll. Kolaborasi antara online dan offline, antara mainstream dan self publishing akan menghasilkan penulis bermutu yang benar-benar objektif.
    Bukan begitu?

    Anyway, good job. Keep writing man!

Speak Your Mind

*