7 Kebiasaan Penulis Fiksi Yang Sangat Efektif

cara menulis cerpen yang efektif

Penulis efektif ?

Berikut faktanya jika Hukum Pareto (aturan 80/20) berlaku pada penulis fiksi :

80 % keberhasilan Anda sebagai penulis fiksi berasal dari 20 % aktifitas yang anda lakukan.

Dengan kata lain…

Anda sebagai penulis lebih banyak melakukan aktifitas yang tidak efektif.

Tapi jangan khawatir…

Tidak sulit bagi Anda mengubah kebiasaan menjadi lebih efektif.  Kita akan meminjam konsep 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif (1989) dari Dr. Stephen R. Covey.

Konsep Covey berlaku umum, namun luwes. Novelis atau cerpenis juga bisa mengadaptasi konsep itu kedalam aktifitasnya.

Saya tahu karena secara sadar dan tidak, telah menggunakannya selama bertahun-tahun –sejak tahun 1995. …Dan disini saya akan berbagi dengan Anda.

Tapi sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa pada tanggal 16 Juli 2012 lalu, Stephen R. Covey meninggal dunia di usia 79 tahun.

Jadi setelah semua, posting ini sekaligus untuk menghormati jasanya.

7  Kebiasaan Penulis Fiksi Yang Sangat Efektif

1. Menjadi Proaktif  (Cara TEPAT Mengatasi Writer’s Block)

Apa kosa kata paling klise di ranah penulisan fiksi ?

Writer’s block.

Begitu klisenya hingga anda bisa membaca puluhan tips yang berjanji bisa mengeluarkan anda dari kebuntuan menulis. Seperti mendengar musik, berjalan-jalan di taman, membaca tulisan orang lain, dan seterusnya…

Anda mengikuti saran mereka –saya juga. Tidak ada perubahan…Karena mereka menyarankan mencari solusi dari luar. Sementara masalahnya terletak di dalam diri Anda.

Anda harus proaktif, kata Covey. Ada kehendak bebas diantara stimulus dengan respon Anda.

Jadi ada 2 pilihan bagi Anda saat writer’s block menyerang :

Anda memilih kalah dan mencari pembenaran;  Nggak mood; Rumah bising: Hawa gerah, Tunda sampai inspirasi datang, dsb…

Atau … anda memilih untuk TETAP MENULIS.

2. Memulai Dengan Akhir di Pikiran (Buat Outline Sebelum Menulis)

Ada  penulis yang mengaku tidak perlu tahu akhir cerpen yang ditulisnya. Mereka yakin karakter dalam perjalanan akan menemukan tujuannya sendiri.

Ada penulis yang berhasil memakai cara itu..

Tapi faktanya tetap, Itu bukan kebiasaan efektif.

Cerpen sebaiknya telah selesai dalam kepala anda sebelum anda mulai menulisnya.

Jika anda tidak punya tujuan akhir, anda berpotensi kehilangan banyak waktu. Setiap saat Anda terpaksa berhenti untuk berpikir, dan bertanya apa lagi yang harus dilakukan oleh karakter ?

3. Mendahulukan Yang Utama  (Prioritaskan Menulis Dalam Jadwal Anda)

Saya sering mendapat email pembaca yang mengaku sulit menemukan waktu menulis cerpen.

Tapi saya yakin mereka selalu punya waktu bergaul di facebook 🙂

Jadi saya katakan kepada mereka :

Menulis bukan perkara Anda punya waktu atau tidak. Menulis adalah pilihan.

Jika menulis penting bagi Anda, maka prioritaskan menulis dalam agenda kegiatan Anda.

4. Berpikir Menang – Menang  (Cara CEPAT Menjual Buku Lebih Banyak)

Saya akan berterus terang tanpa menyebut nama 🙂

Indonovel sering mendapat email dari pembaca yang baru saja menerbitkan kumcer atau novel. Umumnya meminta kami menulis review -Sekali pernah seseorang meminta kami mewawancarainya.

Tapi isi emailnya cuma itu. Tidak ada yang menanyakan alamat pos dan berkata :

“ Saya akan mengirimi Indonovel satu salinan buku saya.”

Beberapa email ada yang sekaligus meminta tips bagaimana cara memasarkan buku secara online.

Lalu kami mengajurkan agar mereka membagikan minimal 10 – 15 buku secara gratis kepada blogger-blogger populer untuk direview.

Tapi sayang belum satupun yang mengabarkan telah melakukannya.

Jadi apa moral cerita diatas ?

Ketika masuk ke tahap penjualan, penulis buku di Indonesia umumnya tidak efektif. Promosi dianggap sebagai beban ketimbang investasi.

Jika Anda ingin resensi novel gratis, pastikan peresensi mendapatkan novel Anda gratis.

Itulah yang dimaksud dengan prinsip menang-menang oleh Covey. Anda tidak layak ‘menang’ sementara mitra anda ‘kalah’.

Salah satu contoh bagus praktek Menang-Menang adalah sistem penjualan afiliasi di internet (misalnya  di situs ClickBank).

Disana Anda bisa menemukan banyak  produk (khususnya eBook) yang menawarkan komisi antara 30 – 50 % kepada affiliate-nya.

Dengan berbagi keuntungan, penulis eBook berpotensi mendapatkan lebih banyak. Semakin banyak affiliate berarti semakin luas jangkauan pemasaran buku anda –plus review gratis dimana-mana.

5. Berusaha Mengerti (Pembaca) Sebelum Minta Dimengerti

Seberapa sering naskah Anda ditolak editor Kompas minggu ? Saat itu terjadi, Anda malah menuduh editor cerpen kompas subjektif & pilih kasih.

Atau..

Seberapa sering anda membaca review buruk buku anda ?.Atau tidak ada pembaca yang mengomentari cerpen di blog Anda ? Lalu anda balik menilai pembaca yang justru  tidak mampu mencerna kedalaman karya anda.

Jika benar, maka keterampilan menulis fiksi Anda bakal jalan di tempat.

Penulis yang baik berusaha memahami orang lain sebelum minta dirinya dipahami.

Misalnya…

Pembaca mengatakan resolusi anda gampang ditebak. Itu tandanya anda perlu belajar membuat twist ending.

Editor mengatakan plot anda terlalu datar, maka anda harus menambahkan suspense.

Penerbit mengatakan novel anda belum layak, maka anda perlu merombaknya…atau menulis naskah baru.

Kadang manusia terlalu dekat dengan pohon untuk melihat hutan —> Click to tweet

6. Sinergi  (Interdependensi Penulis Dengan Penerbit)

Di masa lalu penulis tergantung (dependen) pada penerbit. Bentuk kerjasama ini cenderung timpang karena penulis hanya mendapat royalti sekitar 10 %.

Kemudian penulis mencoba mandiri menerbitkan bukunya (independen). Modal pribadi, namun keuntungan 100 % masuk ke kocek sendiri.

Menurut Anda mana yang terbaik ?

Menurut Covey, yang terbaik dari semua bentuk kerjasama adalah interdependensi (saling ketergantungan).

…Karena dua atau lebih pihak yang bersinergi, akan menghasilkan nilai keseluruhan yang lebih besar daripada jumlah setiap bagiannya :

Sinergi = 1 + 1 > 2  —–>   Click to tweet

Dalam kasus penerbitan saya melihat penerbitan sistem print on demand cukup mewakili konsep ini.

Penulis mendapat bagian 60 %  dari laba (lebih besar dari penerbit mainstream). Disisi lain mereka tidak perlu repot menangani pemasaran dan distribusi seperti penulis indie.

Sekarang mari kita lihat kebiasaan terakhir…

Jika anda harus memilih satu saja kebiasaan efektif untuk dilakukan, maka kebiasaan tersebut adalah :

Kebiasaan No. 7 : Mengasah Gergaji (Mengasah Pena)

Mengapa penebang kayu kerap berhenti untuk mengasah gergaji ?

Karena ketajaman gergajinya berkurang seiring waktu….akibatnya proses menebang kayu menguras lebih banyak energi & waktu.

Seorang penulis juga perlu mengasah pena demi menjaga ketajaman menulisnya

Anda perlu berhenti dari menulis cerpen terus menerus. Sisihkan waktu membaca dan mempelajari teknik penulis lain.

Asahlah keterampilan menyusun outline jika anda mulai kesulitan merangkai adegan…

Sewa film thriller, lalu pelajari cara sutradaranya menampilkan ketegangan jika anda mulai kesulitan membuat suspense.

Saat kembali menulis, Anda mungkin terkejut dengan peningkatan kualitas & kuantitas tulisan anda.

Bonus Dari Saya, Kebiasaan No.8 …

Saya ingin mendengar tanggapan Anda atas posting ini pada kolom komentar dibawah.

Tapi sebelumnya….

Saya ingin menambahkan satu kebiasaan lagi, yaitu :

Kebiasaan no.8 ; Senang berbagi informasi bermanfaat

Dan diantara semua, kebiasaan no.8 paling mudah dilakukan.

Anda bisa mulai sekarang dengan membagikan posting ini kepada teman-teman anda di twitter, facebook dan google+.

Terima kasih 🙂

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia