Menyoal Selera Editor Cerpen Kompas Minggu

editor cerpen harian kompas, syarat mengirim cerpen untuk harian kompas

Betulkah Kompas memuat cerpen yang sesuai dengan selera baca editornya ? Berikut jawabannya…

Awal Mei kemarin saya turut menyaksikan blogosphere ramai oleh olok-olokan terhadap Sitok Srengenge.

Pangkalnya adalah cerpen penyair ternama tersebut yang dimuat di halaman cerpen Kompas Minggu, 8 Mei 2011.

Judulnya Bendera (saya harap anda juga membacanya).

Salah seorang penulis senior yang ikut mengolok mengatakan kalau karya Sitok itu sebenarnya dimaksudkan untuk rubrik Kompas Anak. Hanya sayang, nyasar ke rubrik seni.

Pola Berulang

Usaha Sitok Srengenge untuk juga menulis cerpen patut kita apresiasi.

Hanya saja, publik terlanjur menganggap cerpen kompas sebagai salah satu barometer cerita pendek (cerpen) di Indonesia.

Pembaca fiksi mengharapkan ‘karya’ dengan mutu relatif sama dengan cerpen-cerpen sebelumnya, ketimbang ‘nama’. Mungkin pembaca menganggap cerpen Sitok gagal memenuhi harapan mereka.

Soal inilah kiranya yang memicu olok-olokan.

Kasus ‘Bendera’ Sitok tiba-tiba meransang saya untuk menuliskan artikel ini. Alih-alih membahas cerpen sitok, saya justru lebih tergelitik untuk menyoal media penayangnya, harian Kompas (Minggu). Media yang dianggap sebagai salah satu peletak standarisasi mutu cerpen koran di Indonesia.

Seingat saya, bukan sekali ini Kompas Minggu mendapat sorotan perihal karya yang dimuatnya.

Sebelumnya ada kasus cerpen Kemarau karya Andrea Hirata. Publik menilai cerpen itu hanya saduran (dengan sedikit kutak-katik) dari dwilogi Padang Bulan & Cinta Dalam Gelas karya penulis yang sama. Wajar bila puluhan atau mungkin ratusan penulis yang bersusah payah mengirim cerpen ke kompas minggu itu merasa tersinggung. Cerpen orisinil mereka disisihkan demi promosi novel terbaru sang penulis.

Merunut lebih ke belakang lagi…..

Saya juga teringat dengan bisik-bisik di komunitas penulis dan pembaca fiksi perihal cerpen’ ulang tahun’ di harian Kompas, 17 Oktober 2011.

Publik menengarai waktu penayangan cerpen yang ‘kebetulan’ bertepatan dengan hari ulang tahun penulisnya bukan kebetulan semata.

Publik mencurigai pemuatan cerpen itu lebih karena faktor kedekatan sang editor dengan si penulis. Yah, semacam kado ulang tahun.

Jujur, saya sendiri sempat terprovokasi oleh ‘bisik-bisik’ itu setelah cermat menyigi mutu cerpen bersangkutan dari berbagai segi.

Tapi tentu saja, kita tidak seharusnya menaruh syak berdasarkan bisik-bisik perihal kedekatan editor dengan sang penulis.

Tidak adil melibatkan pribadi penulis atas penilaian terhadap karyanya. Ghalibnya kita (pembaca dan penulis) hanya berhak mengira-ngira, parameter apa gerangan yang diacu oleh sang editor saat menyeleksi naskah-naskah yang masuk.

Objektifitas atau selera (editor) ?

Cerpen Rasa Editor

Sepertinya kita sulit membedakannya.

Lepas dari segala kompetensi kita, baik editor, penulis, kritikus, atau sekedar pembaca awam, pada akhirnya penilaian kita terhadap cerpen hanya soal selera, belaka.

Belum ada konvensi dalam fiksi yang menjadi rujukan untuk menentukan sebuah cerpen bagus atau buruk.

Penilaian setiap orang atas setiap karya fiksi bersifat khas. Sebagai salah satu varian seni (bahasa), tafsir atas produk kerajinan kata-kata sejatinya bersifat individual. Kiranya tidak satu pun penilaian yang lebih tinggi di atas yang lain.

Dihadapan satu karya fiksi, kapasitas semua orang mestilah sama…

Entah itu Anda pembaca sahaja, dosen sastra, ibu rumah tangga… atau kritikus Bentara.

Dan bila kita jeli membaca kumpulan cerpen kompas yang dimuat regular setiap hari minggu, memang  terasa ada kemiripan ‘cita rasa’ pada setiap cerpen tersebut.

Boleh jadi, rutinitas membuat alam bawah sadar seorang editor perlahan berubah mekanis dalam menyeleksi. Lalu terbuka peluang dimana objektifitas hanya sebagian kecil faktor yang melatarbelakangi terpilihnya sebuah cerpen untuk dimuat.

Pada akhirnya kita (pembaca) akan sadar, bahwa setiap cerpen yang dimuat sebenarnya hanya representasi dari selera bacaan editor bersangkutan. Tidak kurang, tidak lebih.

Semoga tidak!

photo credit {creative commons}

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia