Menulis Fiksi Mini a la Penulis Manis Dee Dee Sabrina

penulis cerpen & flash fiction

Baru saja saya selesai membaca sebuah buku indie

Seperti halnya pada industri musik, jalur indie di indsutri literature tanah air kerap menjadi saluran bagi para penulis cerpen yang menolak didikte oleh ‘pasar’.

Bagi saya, buku indie selalu menawarkan orisinalitas, karena penulis bisa membebaskan kreatifitasnya dari tuntutan trend, dan intervensi penerbit.

Itulah salah satu alasan mengapa saya menggemari buku indie,  antara lain kumpulan cerpen ISI; Antologi Fiksi karya Dee Dee Sabrina.

Sedikit Tentang Dee Dee

Saya mengenal Dee Dee Sabrina saat bergabung di blog social media; Kompasiana. Dia termasuk salah satu kompasianer (sebutan untuk anggota) teraktif, dengan mutu tulisan yang relatif terjaga.

Dee Dee Sabrina paham teknik menulis cerpen , itu tercermin pada setiap karya-karyanya. Tentu saja, kualitas & orisinalitas gagasan juga menjadi ciri khas setiap tulisan terbarunya.

Cerpen Kalau Aku Lelaki adalah karya perempuan kelahiran Medan, 4 Februari 1989 ini yang pertama kali diterbitkan dalam antologi cerpen Q!stories.

Dengan bantuan teman-temannya yang tergabung dalam komunitas penulis muda; SPASI, Dee Dee Sabrina berhasil menerbitkan antologi fiksi pendeknya sendiri, Hal yang menggembirakan bagi penggemar tulisan-tulisannya selama ini didunia maya.

Tips Praktis Menulis Fiksi Mini (dan Cerpen) a la Dee Dee

Sebagai pembaca yang juga hobby menulis, saya merasa beruntung saat Dee Dee Sabrina bersedia membagi ilmunya.

Dia melayani permintaan wawancara saya (secara online) dengan keramatamahan khas orang melayu.

Dia menitip harapan agar kawan-kawan penulis muda bisa termotivasi untuk menerbitkan bukunya sendiri. Berikut petikannya buat pembaca :

Jumlah kata dalam flash fiction masih diperdebatkan, apa pendapat anda ?

Menurutku seperti istilahnya flash fiction bisa diartikan sebagai fiksi sekilas lalu.

Bagian terpenting dari flash fiction bukan berada di jumlah kata, tapi cara penuturan bercerita dan kejadian dalam kisah itu sendiri, yang harus betul-betul mewakili kejadian sekilas pada satu waktu. Informasi yang disampaikan tentunya juga tidak sebanyak sebuah cerita pendek dalam format asli.

Boleh anda jelaskan, tahap-tahap penulisan yang anda lalui dalam menulis flash fiction ?

Biasanya yang tergambar di ingatan saya adalah adegan terakhir dari sebuah flash fiction. Lalu saya mulai membuka laptop, menghadapi layar kosong, menggambarkan karakter sang tokokh dalam kepala, dan semua mengalir begitu saja.

Bagaimana dengan menulis cerpen ?

Ini sedikit lebih kompleks. Biasanya saya akan lebih dulu menentukan konflik seperti apa yang akan ditampilkan. Lalu mencari karakter seperti apa yang kira-kira mungkin menghadapi permasalahan seperti itu. Lalu saya mulai merangkai setting tempat dan waktu, lagi-lagi hanya di dalam kepala.

Persiapan seperti itu biasanya memakan waktu 15-30 menit. Kemudian saya mulai menulis cerpen.

Anda termasuk penulis yang membuat perencanaan awal (outline) sebelum menulis cerpen atau mengalir begitu saja ?

Tentu membuat perencanaan. Karena bercerita tak boleh sembarangan, bukan? Tapi saya tidak pernah benar-benar menerapkan konsep outline.

Saya menyimpan semuanya secara garis besar di dalam kepala saja dan menyesuaikannya dengan tangan saya.

Yang paling penting adalah mempertahankan mood saya saat sedang menulis cerpen.

Sebelum menulis, anda sudah menetapkan terlebih dahulu bagian opening & ending tulisan anda ?

Ending. Biasanya saya sudah menggambar ending di dalam kepala saya. Tapi untuk beberapa cerita seperti Tetralogi Roman, saya belum benar-benar memutuskan ending sampai di cerita keempat.

Ada kalanya saya ingin mengikuti saja sampai di mana batas jelajah imajinasi saya.

Jumlah kata yang dipakai dalam fiksi mini (khususnya flash fiction) tentu terbatas. Bagaimana anda menyiasatinya ?

Dengan memainkan tempo cepat dalam bercerita, tidak bertele-tele dalam menyampaikan ide yang dimaksud. Flash fiction ditujukan untuk pembaca dewasa, jadi perlakukan pembaca selayaknya mereka orang dewasa yang cerdas.

Bagaimana cara anda menciptakan karakter yang kuat dalam fiksi mini dengan jumlah kata terbatas ?

Dengan menggambar segala detail di kepala saya. Saat kita sudah bisa membayangkan secara sempurna bagaimana tokoh di dalam cerita itu, maka kita bisa dengan mudah mengira-ngira, dialog seperti apa yang akan dia sampaikan, bagaimana cara berbicaranya, dan pola berpikirnya.

Informasi fisik dapat diselipkan dalam dialog atau narasi secara sekilas.

Apa anda menuliskan cerita berbasis plot atau karakter ?

Karakter. Karena setelah menentukan karakter, baru saya bisa menentukan plot, termasuk konflik seperti apa yang mungkin terjadi di sekitar karakter.

Jenis konflik mana yang lebih menarik ditonjolkan; internal atau eksternal ?

Internal selalu lebih menarik. Karena manusia pada dasarnya selalu lebih menyukai cerita tentang dirinya sendiri.

Seberapa penting deskripsi menurut anda dalam penulisan fiksi mini ?

Deskripsi selalu perlu. Tapi jika terlalu banyak dipadatkan dalam satu fiksi pendek, tentu pembaca akan menjadi jengah karena terlalu banyak informasi yang coba diserapnya.

Dalam fiksi pendek, detail deskripsi seharusnya memakai ‘metode selipan’ agar pembaca tak merasa dicekoki.

Kebanyakan narasi cenderung melambatkan cerpen, menurut anda ?

Betul narasi cenderung melambatkan cerita, tapi tak pula selamanya. Repetisi dalam narasi bisa dipergunakan untuk mempercepat tempo, karena pada dasarnya narasi digunakan untuk menjabarkan informasi.

Dengan adanya pengulangan-pengulangan informasi tertentu, dari awal pembaca akan tahu mencermati informasi tersebut dan menanti-nanti apa yang sebenarnya coba disampaikan sehingga tempo tidak lagi terasa terlalu lambat, seperti yang saya praktekkan di Rokok Pembunuh (ISI;Antologi Fiksi).

Apa tips anda untuk membuat paragraph pembukaan yang lansung menarik perhatian pembaca ?

Permulaan cerita selalu menarik jika dibuka dengan detail setting, baik itu tempat ataupun waktu, disambung dengan pengenalan tokoh secara singkat, baik melalui dialog ataupun paragraf narasi.

Hal ini menurut saya bisa memancing daya imajinasi pembaca untuk menggambar kisah sejak awal di dalam kepalanya.

Bagaimana cara anda mengatur tempo cerita,; kapan harus lambat dan dibagian mana harus cepat ?

Begini, saat anda selesai menulis cerpen, coba baca kembali cerita anda dengan suara (bukan dalam hati).

Berdongenglah pada diri sendiri. Anda akan tahu kapan harus bercerita dengan santai, dan kapan waktunya menggebu-gebu, bukan? Menurut saya begitulah menulis. Bercerita, berdongeng.

Jadikan aksara sebagai suara.

Mana yang lebih baik menurut anda; memunculkan karakter melalui tindakan/aksi/adegan atau melalui isi pikiran/kepala ?

Keduanya perlu. Tapi akan lebih mudah jika kita klasifikasikan saja. Cara berpikir ditunjukkan melalui pengadeganan, dan perasaan si karakter melalui penjabaran isi kepala.

Saya suka ironi begini, karena seharusnya apa yang dirasakan bisa ditunjukkan secara impulsif melalui tindakan, sementara pemikiran cenderung disimpan dalam kepala.

Tapi kita sedang menulis fiksi, kan? Tugas kita membalikkan realita.

Bagaimana cara anda memilih/menentukan setting (tempat & waktu) yang sesuai/tepat untuk plot ?

Gampang. Tentukan setting terlebih dahulu, maka plot cerita akan mengalir mengikutinya.

Apa saran anda mengenai cara menulis dialog cerpen yang tepat, orisinil dan tidak klise ?

Saat menulis, coba bayangkan ada seseorang dengan karakter si tokoh sedang berbicara seperti itu pada anda.

Kalau anda tidak sampai ingin muntah dan menendang kepalanya, berarti dialog anda cukup aman dan tidak klise.

Di tahap pengeditan naskah buku, apa saja yang anda kerjakan ?

Membaca ulang buku pelajaran Bahasa Indonesia saya kelas 1 – 3 SMA. Merayu beberapa kawan untuk memberikan bala bantuan.

Saya tidak teliti, dan kesalahan pengetikkan selalu menjadi masalah utama. Saya butuh orang lain ! (tertawa)

Mengenai self publishing (indie) : Prediksi anda tentang prospeknya dimasa depan

Saya rasa pergerakannya akan sama seperti masa awal band-band indie. Tak lama lagi akan merebak di mana-mana.

Selamat datang penulis muda !

Apa kelebihan dan kekurangannya dibanding penerbitan konvensional

Kelebihannya; Tak perlu bingung dengan permintaan bertele-tele soal penyesuaian cerita agar bisa dinikmati pembaca, sesuai selera pasar. Bebas menyampaikan hal-hal bahkan secara vulgar.

Kekurangannya; Nama dan penghasilan anda tidak akan sebesar mereka yang dinaungi penerbit besar. Itu saja.

Bisakah profesi penulis penuh waktu dijadikan sumber pendapatan utama ?

Tentu saja. Kenapa tidak ? Asal pintar berhitung dan yakin benar bahwa tulisan anda layak baca.

Caranya, Belajar sombong saja !

Bagi pembaca yang tertarik dengan buku ISI; Antologi Fiksi, silahkan membaca sinopsis ISI, dan selanjutnya bisa memesan buku kumpulan cerpen tersebut lansung kepada penulisnya dee.dee.sabrina@live.com

copyright @2010 indonovel.com

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. hai kakak abang aku ina dari medan
    aku kadang2 nulis beberapa cerpen, tp aku liat gak terlalu menarik, aku masih butuh belajar cara buat cerpen menarik,
    tips nya dong :)

  2. Murni Oktarina says:

    Saya termasuk salah satu yang menerbitkan novel melalui self publishing, hehe :D
    Makasih ya info nya ^_^

  3. infonya keren banged!! saya masih belajar menulis flash fiksi…

    makasih postingannya bang! :D

  4. Santy Novaria says:

    Iya, dia memang jago. Bangga punya teman hebat. :)

  5. biro jasa says:

    dosen sastra pun kalah, kalo ulasannya spt ini he he

Speak Your Mind

*