Nasib Buku Anda Ditangan Editor (Wawancara Dengan Laura Khalida)

…saya editor content. Tugas saya adalah memperbaiki gaya bahasa, mendramatisir cerita, memberikan bumbu, sentuhan keibuan (seperti pada buku Rock ‘n Roll Mom-nya Bunda Iffet Slank), bahkan bisa merombak..

editor, penulis novel, penerbit bukuLaura Khalida sepertinya sosok penulis yang serba bisa.

Selain menulis bukunya sendiri, juga menjadi ghost writer, editor, jurnalis, peneliti dan bahkan guru. Yang penting halal, kata penyuka tayangan Nanny 911 ini.

Hanya saja, dalam dua tahun terakhir, kita tidak bisa menemukan karya terbarunya dalam bentuk buku.

Warga Depok ini terlalu sibuk menjadi editor dan ghost writer.

Mungkin juga itu salah satu alasan, mengapa seorang kawan merekomendasikan namanya untuk menjadi nara sumber, saat indonovel.com (INC) berencana menurunkan artikel tentang profesi editor.

Sosoknya yang dibelakang layar, memang kerap membuat peran editor ‘tidak nampak’ di mata pembaca.

Padahal, editor adalah salah satu figur pengawal standar mutu dunia literasi.

Untuk mengungkap kerja-kerja ‘dibelakang layar’ seorang editor, perempuan kelahiran 7 April ini dengan ramah mengiyakan permintaan wawancara tertulis dari kami.

Berikut petikannya buat anda :

INC :  Sekarang anda menjadi freelance editor di penerbit Hikmah. Sepengetahuan khalayak, penerbit-penerbit mainstream itu mempekerjakan editor permanen ?

Laura Khlaida : ya, sepertinya begitu. Dari beberapa kali mengobrol dengan orang awam mereka banyak bertanya bagaimana sistem kerja editor itu, apakah bekerja tetap atau bisa dikerjakan di rumah (freelance).

Saya jelaskan bahwa bisa keduanya, tergantung kebijakan penerbitnya.

INC :  Fungsi editor itu apa sebenarnya, apa hanya mencemati isi buku agar sesuai EYD?

Laura Khalida :  setahu saya ada beberapa jenis editor dalam proses pembuatan buku.

Ada editor content (isi) dan editor EYD.

Kalau saya editor content. Tugas saya adalah memperbaiki gaya bahasa, mendramatisir cerita, memberikan bumbu, sentuhan keibuan.

Seperti pada buku Rock ‘n Roll Mom-nya Bunda Iffet Slank), bahkan bisa merombak banget-banget isi naskah, tergantung permintaan penerbit.

Kalau editor EYD tentu lebih memperhatikan EYD, struktur kalimat, dan sejenis itu.

Bisa jadi ada editor ahli pada bidang tertentu, misalnya ada buku kesehatan yang hendak dicek lagi istilah-istilah kesehatan/medis di dalamnya, atau tindakan medisnya apakah sudah benar atau belum, bisa saja dipakai seseorang yang berkecimpung di bidang tersebut untuk mengeditnya. Terutama kalau buku itu ditulis oleh penulis yang bukan berlatar belakang kedokteran.

INC :  Apa editor bisa merevisi (intervensi) isi buku, menentukan layak tidaknya buku naik cetak, termasuk memprediksi ‘nilai jual’ sebuah buku?

Laura Khalida : soal merevisi: ya ! Ini pernah saya alami, tentunya atas kehendak penerbit/person yang meminta ingin diubah seperti apa naskah itu.

Saya pernah merombak naskah yang tokohnya tadinya tidak berjilbab, menjadi dijilbabin, tentu ini dengan persetujuan penulisnya.

Kebetulan naskah ini terpilih sebuah PH untuk disinetronkan;

saya dalam hati bercanda, duooh kudunya nih novel duet gw ma si penulis, hehehe…

Untuk menentukan layak/tidaknya sebuah karya layak cetak/marketable, opini editor kadang diperlukan.

Tapi sebuah naskah yang tak layak cetak pun (karena penulisannya amburadul) namun ceritanya bagus, bisa dibumbui dan kemudian layak cetak.

Dan menurut saya ini sah-sah saja, memang di sana fungsi editor.

INC :  Apa seorang editor harus berlatarbelakang sebagai seorang penulis juga ?

Laura Khalida : Karena saya editor content dan saya berlatar belakang penulis (novel), maka saya katakan: YA.

Karena dia sudah punya pengalaman menulis (menelurkan karya) sehingga bisa berimajinasi untuk mengembangkan cerita/alur.

Buku Rumah Seribu Malaikat karya Yuli Badawi dan Hermawan Aksan saya edit (sunting) dan pada pengerjaannya sangat emosional, karena kisahnya pun inspiratif, tentang sebuah keluarga bersahaja dan sederhana yang mengangkat puluhan anak yatim/dari keluarga tidak mampu.

Waktu mengerjakannya saya terbawa emosi, ada momen saya menangis putus asa karena takut tidak bisa menyunting dengan sempurna, dan memenuhi keinginan khalayak karena cerita ini demikian menyentuh dan ada momen saya menangis terharu dan merasa salut dengan suami-istri Badawi-Yuli.

Beberapa kali saya berhubungan via telepon dengan Bu Yuli untuk mencari hal-hal pelengkap cerita dan mendapatkan ‘soul’ Bu Yuli.

Alhamdulillah hasilnya cukup baik, bahkan ada beberapa peristiwa tambahan hasil imaginasi saya yang ternyata kejadian aslinya persis ! Saya waktu itu berusaha masuk ke adegan cerita dan membayangkan apa yang terjadi.

Kalau untuk jadi editor EYD tidak berlatar belakang penulis tidak apa. Asal dia lulusan Sastra Indonesia. Tapi dari pengalaman saya, semua itu akan keasah kalau sudah sering praktek.

Dengan sedih saya mengatakan sudah 2 tahun tak menerbitkan buku sendiri, karena sibuk jadi editor dan ghost writer..

INC :  Apa jasa editor freelance tergantung pada permintaan penerbit saja, atau anda lebih banyak mendapatkan job dari klien personal ?

Laura Khalida :   Posisi freelance memungkinkan saya dapat job dari banyak sumber. Saya, selain job dari penerbit, juga ada job dari personal atau perusahaan lain, seperti perusahaan PR, PH.

Job sebenarnya banyak, cuma harus mengukur kesanggupan diri juga, dan jangan lupa: kesehatan yang utama.

Banyak job lantas sakit-sakitan karena kurang istirahat kan nggak asyik juga.

INC :  Apa kompetensi yang wajib dimiliki seorang editor. Apa ada pendidikan khusus untuk itu ?

Laura Khalida :   kalau editor content, baiknya bisa menulis dan pernah menelurkan karya.

Tapi sekarang karya tulis kan nggak hanya berbentuk buku, tapi tulisan di blog bisa menjadi karya tulis yang baik.

Kalau editor EYD baiknya ia lulusan sastra Indonesia. Saya sih belum menemukan kursus khusus editor ya, adanya kelas-kelas menulis.

Tapi di FLP (Forum Lingkar Pena) Depok sudah ada kelas editor untuk berbagi ilmu dan pengalaman sebagai editor.

INC :  Sering terdengar kasus ketidakharmonisan penulis vs editor, khususnya di penerbit mainstream. Anda sering mengalaminya, bagaimana cara anda menyiasatinya ?

Laura Khalida : alhamdulillah saya tidak pernah mengalami itu karena karya yang saya sunting sudah mendapatkan persetujuan penulisnya.

Jadi pihak penerbit akan bertanya dulu pada penulisnya apakah karyanya boleh diedit sedemikian rupa.

INC :  Sekarang lagi trend online self publishing –murah, mudah & cepat-. Sayang, penulis-penulis indie seolah abai pada tahap editing (penulis merangkap editor). Apa saja kelemahan sebuah buku yang tidak memakai jasa editor professional ?

Laura Khalida : saya memahami, mungkin untuk menghemat biaya dan menghindari keribetan, para penulis indie biasanya mengedit sendiri tulisannya.

Namun lebih baik pakai jasa editor lain sehingga lebih obyektif memandang karya itu.

Kalau kita mengedit karya sendiri, posisi kita ya penulis, bukan ‘pembaca’ jadi mungkin ada kekhilafan salah tulis, atau kalimat yang nggak enak dibaca, namun tidak disadari.

Biasanya pas buku sudah dicetak dan dibaca, baru ketemu kesalahan-kesalahan tersebut.

INC :  Bila seorang penulis indie (self Publishing) ingin menggunakan jasa editor professional, bagaimana caranya ? apa ada organisasi profesi editor di Indonesia ?

Laura Khalida : sepengetahuan saya penyedia editor profesional biasanya via milis ya, atau dari mulut ke mulut.

Ada beberapa milis yang isinya kumpulan penulis, editor, dan pembaca. Googling saja. Dengan cara ini juga efektif mendapatkan editor yang bagus.

Rata-rata yang memakai jasa saya juga by rekomen klien atau teman. Tapi mungkin agen literasi menyediakan jasa editor, selain penulis, disain, cetak, dan sejenisnya.

Bagi yang membutuhkan jasa penulisan, pengeditan, dan pelatihan menulis bisa lansung ke situs laurakhalida.com atau DM via @laurakhalida

INC :  Sebagai bahan pertimbangan (kalkulasi), Bisa anda sebutkan estimasi biaya yang diperlukan seorang penulis (khususnya indie) jika ingin menggunakan jasa editor professional ?

Laura Khalida : hmm… Soal honor agak sensitif nih hahaha. Kalau dari penerbit mereka sudah ada standarnya. Tergantung perlunya apa, rumit/nggak, dan tema buku.

copyright @2011 Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Anto Dachlan

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia

Comments

  1. Bobby Prabawa says:

    Nasib Buku Anda di Tangan Editor (Wawancara dengan Laura Khalida)…editor mode on

  2. abu mufidah says:

    Bismillah, Pk sy izin copy artikelnya untuk ngajar bisnis creative & akan dijadikan buku tentang Menjadi pengusaha lewat tulisan

    Maksih

    • Rusdianto says:

      maaf, artikel yang mana yah ?
      untuk hal ini silahkan mengirim permintaan lewat email.
      terima kasih.

  3. Dodi Al Misri says:

    Menarik banget maksih pak

  4. mungkin :)

Speak Your Mind

*