Perlukah Seorang (calon) Penulis Ikut Kursus Menulis ?

” dengan mengambil kursus menulis tentunya ada hal-hal tambahan yang bisa kita dapatkan, termasuk mengenal dimana letak kekurangan dan kelebihan kita sebagai penulis, bagaimana mempromosikan/menjual tulisan, hukum-hukum yang berlaku di dunia jurnalistik, sampai… “

kursus menulis online, online writing courseSebagian besar orang tua mungkin akan mengernyitkan dahi, bila ada anaknya minta diikutkan kursus menulis. 

Mengapa bukan menjahit, montir, atau komputer ?

Iya, menulis belum dianggap sebuah keterampilan teknis yang bermanfaat nyata –baca; Menghasilkan-.

Beda dengan misalnya membuat kue, minimal berguna bagi orang dirumah.

Namun bagi Asrini Indah,  menulis adalah keterampilan hidup yang penting.

Lebih jauh dia mengatakan bahwa, tanpa menulis, tidak ada yang namanya peradaban.

Asrini Indah salah seorang blogger di blog social media terpopuler di Indonesia; Kompasiana. Dia adalah kompasianer (sebutan bagi blogger Kompasiana), yang tulisannya kerap masuk Headlines (HL).

Tulisan yang tayang di HL Kompasiana sendiri merupakan hasil seleksi admin dari sekian banyak tulisan yang masuk.

Boleh jadi memang Asrini terlahir membawa ‘bakat menulis’. Tapi mengapa dia –tetap- merasa perlu ikut sekolah menulis online, juga menarik untuk dipahami.

Kami merasa perlu mengorek perihal perlu tidaknya seorang penulis mengikuti kursus menulis; apa manfaatnya bagi (calon) penulis; dan bagaimana sistem belajar menulis via online di luar negeri. Maka dari itu, indonovell.com (INC) mencoba mewawancarai perempuan yang kini menetap di Warsawa Polandia itu.

Berikut petikannya :

INC : Anda kuliah International Studies di tahun 2006, tahun 2008 anda mengambil jurusan Polish Language, lalu tahun 2009 anda lulus kelas Freelance & Feature Writing. Anda ini ingin jadi apa sebenarnya ?

Asrini : Tepatnya pada tahun 2003, saya mendapatkan beasiswa S1 untuk belajar ke Selandia Baru mengambil jurusan International studies dan lulus pada tahun 2006.

Kemudian sempat bekerja di Indonesia, dan pada tahun 2008 bersama suami, kami pindah ke Polandia mengingat tuntutan pekerjaan beliau.

Di tahun inilah saya mengambil sekolah bahasa Polandia di Polonicum, University of Warsaw selama kurang lebih satu tahun.

Karena memiliki begitu banyak waktu luang dan keinginan saya memahami dunia jurnalistik, maka ditahun berikutnya saya mengambil sekolah Diploma dengan jurusan Freelance and Feature Writing, yaitu belajar secara online  di London School of Journalism, Inggris kemudian lulus pada akhir tahun 2009.

Jika ditanya ingin menjadi apa, setelah lulus kuliah saya dulu sempat terbesit untuk  menjadi seorang diplomat.

Namun mengingat suami saya yang bukan seorang WNI maka niat tersebut terpaksa saya urungkan, dan keinginan saya saat ini adalah menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar saya.

Mungkin di waktu mendatang jika ada kesempatan untuk bisa bekerja di NGO (non-governmental organisation), maka saya tidak menolaknya.

INC : latar belakang profesi anda diplomat, bukan ? Mengapa anda tiba-tiba tertarik mengambil kelas menulis (freelance & feature writer) ?

Asrini :  Bukan, profesi saya sebelumnya adalah Consular Officer atau bagian konsuler di Kedutaan Selandia Baru di Jakarta.

Tugas saya adalah memberikan bantuan bagi  WN Selandia Baru di Indonesia dalam hal-hal yang berhubungan dengan konsuler. Mulai dari pengurusan passport, pernikahan, perjalanan diplomat Selandia Baru dalam dan luar negeri, pertemuan formal antara diplomat Selandia Baru dengan pejabat Indonesia, dsb.

Ketertarikan saya dengan dunia jurnalistik sebetulnya sudah ada sejak saya masih berada di bangku sekolah, namun saya tidak memiliki kesempatan untuk mendalaminya sampai saya berada di Polandia.

INC : Mengapa mengambil kelas jarak jauh (online/long distance), dan mengapa memilih lembaga pendidikan di Inggris, ada pertimbangan khusus ?

Asrini : Pertimbangan saya memilih London School of Journalism (LSJ) di Inggris adalah mengingat di Polandia sendiri tidak ada jurusan jurnalistik, khususnya freelance writer yang tersedia dalam bahasa inggris, dan letak negara tersebut yang secara geografis dekat dengan Polandia.

Sempat terpikir untuk mencari sekolah onlinelong distance di Amerika atau Australia, tapi kembali ketertarikan saya adalah untuk mempelajari cara menulis English-English bukan American-English.

Pertimbangan lainnya adalah, biaya sekolah LSJ yang lebih terjangkau, dibandingkan universitas ternama di negara tersebut yang juga menawarkan program serupa.

..Tentu saja, sekarang Asrini Indah cukup kompeten menulis dalam English-English. Namun, saat mengetahui orang yang mewawancarainya adalah orang Bugis-Makassar, perempuan berdarah Pare-Pare & Sidenreng Rappang ini tiba-tiba berusaha berimprovisasi, menulis dalam logat & bahasa Bugis-Makassar yang lumayan ’memprihatinkan’ 🙂 Saya berharap, kapan waktu dia punya kesempatan pulang kampung untuk –juga- merekonstruksi kemampuan bahasa leluhur-nya .. 🙂

INC : Bisa dijelaskan sistem belajar yang anda ikuti ? kelebihan, dan kekurangannya ?

Asrini :  Sistem sekolah jarak jauh atau long distance learning di LSJ ini terbagi menjadi dua yaitu; secara email dan melalui pengiriman pos.

Sistem yang saya pilih pada waktu itu adalah melalui email. Durasi belajar berkisar mulai dari 9-15 bulan dengan dikirimkannya materi bacaan serta tugas melalui email oleh pihak sekolah setiap bulannya.

Kelebihan dari sistem belajar on-line seperti ini adalah; kita diberikan keluasan dalam mengerjakan tugas tanpa harus menghadiri kelas, sangat cocok dengan situasi  saya yang saat ini juga merupakan Ibu rumah tangga.

Kelebihan kedua di kursus ini yaitu; kita diberikan satu orang pembimbing dengan kata lain dosen tersebut bisa fokus dengan pekerjaan kita, dan tidak ada kendala atau kesulitan untuk ‘bertemu’ dengan dosen.

Namun sistem belajar on-line seperti ini juga memiliki kekurangan;

hal tersebut terletak pada tidak adanya interaksi secara langsung atau face to face dengan dosen atau murid lainnya dan;

pertanyaan untuk dosen kita terlebih dahulu harus ditujukan kepada pihak sekolah yang kemudian akan dijawab oleh si pembimbing setelah mengevaluasi tugas kita.

Akan tetapi, LSJ sendiri memiliki forum online khusus bagi mahasiswanya dan disanalah mereka bisa saling bertanya dan berbagi masukan mengenai sebuah tugas yang diberikan.

London School of Journalism (LSI) didirikan pada tahun 1919, dan siswa pertamanya menyelesaikan program mereka pada tahun 1920. Sejak itu, LSJ telah berada di garis depan dalam pelatihan wartawan dan pengajaran penulis kreatif. Mereka telah melatih siswanya untuk menjadi penulis sukses selama lebih dari 85 tahun, dan terkenal di dunia untuk sistem pelatihan dengan metode belajar di rumah, mencakup penulisan kreatif serta jurnalistik dalam segala bentuknya.

INC : Dari segi waktu terdengar efisien. Tapi efektifitas, apa signifikan pengaruhnya pada kualitas menulis anda setelah mengambil kelas itu ?

Asrini : Setelah mempelajari lebih dalam mengenai Freelance and Feature Writing, pengetahuan saya mengenai dunia jurnalistik semakin bertambah dan, kualitas menulis saya berdasarkan evaluasi dosen juga mengalami peningkatan.

Dengan menggunakan teknik yang saya pelajari di sekolah, dan kembali sekedar mengisi waktu luang, beberapa kali tulisan saya di blog social media Kompasiana, sempat berada di halaman utama (headlines).

Dosen saya pernah berpesan untuk menulis bukan berdasarkan apa yang anda ingin orang lain ketahui, tapi apa yang orang lain ingin ketahui dari anda, karena ada penulis yang cenderung –istilahnya- melantur, bukan justru memberikan informasi, dengan ketiga elemen berikut; ABC (accurate, Balance and Care), dimana akurasi, keseimbangan dan perhatian dalam suatu artikel  sangatlah penting.

INC : saya sendiri sepakat dengan pomeo menulis itu 1 % bakat dan 99 % latihan/belajar/kerja keras. Menurut anda, apa perbedaan penulis yang semata-mata mengandalkan ‘bakat alam’ dengan yang –pernah- mengambil kelas menulis kreatif.

Asrini :  Menurut saya pribadi, dimana ada keinginan disitulah ada jalan. Orang yang memiliki kegigihan dan kesungguhan dalam mempelajari suatu ilmu bermanfaat, hasilnya juga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Saya pribadi mungkin tergolong orang yang hanya menulis mengandalkan bakat, karena menulis tidak hanya memerlukan teknik tapi juga satu syarat pasti yaitu; semangat atau passion.

Jelasnya, dengan mengambil kelas menulis tentunya ada hal-hal tambahan yang bisa kita dapatkan termasuk mengenal dimana letak kekurangan dan kelebihan kita sebagai penulis, bagaimana mempromosikan/menjual tulisan, hukum-hukum yang berlaku di dunia jurnalistik, sampai teknik wawancara untuk mendapatkan sebuah informasi.

INC : Freelance & feature writer, boleh dijelaskan apa saja yg dipelajari di kelas itu ?

Asrini :  Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, Freelance and Feature Writing menambah wawasan saya mulai dari apa itu berita, bagaimana cara menulis artikel yang baik, teknik wawancara, menulis sinopsis untuk broadcasting radio, jurnalistik dan hukum yang berlaku -dalam hal ini hukum di negara Inggris tentunya-, bagaimana agar tulisan anda bisa terjual/terpublished dan diterima editor, istilah atau kosa kata dalam bahasa Inggris – Inggris, dsb.

INC: anda mengambil kelas diploma 1 tahun ? Mengapa bisa selama itu ?

Asrini :  Jurusan ini mempunyai 12 silabus atau mata pelajaran dengan material bacaan beserta tugas yang diberikan setiap bulannya, dan 9 bulan adalah durasi minimal pembelajaran yang diberikan oleh pihak sekolah.

Ada beberapa tugas yang memakan waktu cukup lama untuk diselesaikan, karena yang paling menantang dalam menulis adalah pencarian sebuah ide.

INC : Anda bercita-cita menjadi penulis professional ? Sekedar hobby, atau pengayaan semata untuk menunjang karier anda kedepan ?

Asrini :  Kelebihan dari menjadi seorang Freelance Writer adalah anda bekerja dari mana saja dengan latar belakang apa saja, mulai dari mahasiswa, dokter, pegawai bank, sekretaris, hingga ibu rumah tangga.

Yang diperlukan hanyalah bagaimana menghasilkan suatu artikel untuk bisa diterbitkan. Menjawab pertanyaan anda, saat ini dunia menulis atau jurnalistik merupakan hobi dan sebuah hasrat.

Terus terang, saya pribadi selama ini tidak menjual artikel saya melainkan sekedar menulis, dan berharap bisa menghasilkan sebuah manfaat atau hikmah bagi pembacanya.

Bagaimanapun juga, menjual berarti harus memiliki keinginan untuk bisa komersil, dan terkadang hal ini yang mungkin masih menjadi pertimbangan saya.

INC : Terakhir, apa manfaat menulis bagi anda ?

Asrini :  Kemampuan menulis seseorang merupakan anugerah, dan tidak akan terbentuk suatu peradaban tanpa adanya sebuah tulisan.

Bagi saya pribadi menulis memberikan satu pencerahan untuk jiwa ini, dan seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa, semua tergantung apa yang kita tuliskan, karena tulisan yang baik akan mendatangkan begitu banyak manfaat, tidak hanya bagi sang penulis tapi juga para pembaca.

Belajar Menulis juga terus membantu saya dalam memahami letak kekurangan pribadi, dan berusaha untuk memperbaikinya, karena bagaimanapun juga manusia tak luput dari kesalahan.

INC : Terima kasih

Asrini : Terima kasih.

Copyright @2011 Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia