4 Aturan Menghadirkan Karakter Dalam Flash Fiction

Teknik karakterisasi dalam flash fiction 100 kata

Hmmm….karakter orang seperti dia ?

Anda sudah tahu, karakter merupakan salah satu unsur wajib dalam cerita fiksi

Pembaca mencari seseorang didalam cerita, bahkan jika ‘seseorang’ itu adalah personifikasi dari hewan atau tumbuhan.

Tapi menampilkan…apalagi mengeksplorasi karakter dalam  100 kata, mungkin bukan perkara mudah.

Karakter dalam fiksi mini Vs. fiksi panjang

Saya mulai menulis fiksi mini 100 kata (flash fiction) sejak bulan maret 2010.

..dan saya menemukan perbedaan mencolok mengenai karakter dalam flash fiction, yang membedakannya dari kategori fiksi yang lebih panjang.

Pada fiksi yang lebih panjang, karakter bisa menjadi cerita itu sendiri.

…..Anda bisa leluasa mengeksplorasi karakter lebih mendalam.

…..Anda bahkan bisa mengurai secara detil masa lalu karakter, ciri fisik dan psikisnya, serta keunikan yang membedakan tiap karakter.

Sementara, fiksi mini 100 kata sepintas hanya menempatkan karakter sebagai pemeran cerita belaka.

Flash fiction cenderung hanya  memperalat karakter untuk menyampaikan tema atau moral cerita.

Mengapa bisa terjadi seperti itu ?

2 latar belakang penyebab terjadinya perbedaan

1. Tidak mungkin menayangkan latar belakang (backstory) karakter dalam flash fiction

Tak ada ruang untuk menceritakan masa lalu karakter; apa yang menyebabkan dia memiliki motif tertentu; apa peristiwa masa lalu yang membentuk karakteristiknya dan; membuatnya terlibat dalam konflik.

Seolah menjadi hukum tak tertulis, kalimat pertama pada flash fiction 100 kata selalu diawali dipertengahan aksi (puncak konflik)

2. Sosok karakter pada flash fiction cenderung dua dimensi, sehingga pembaca tidak merasa intim

Ini disebabkan oleh kemustahilan melukiskan daftar ciri-ciri fisik (wajah, bentuk tubuh) serta tabiat khas (misalnya; gaya berpakaian, kebiasaan mengupil, menggaruk kepala, dll), pada cerita  100 kata.

Tapi meski demikian….

Karakter bukan sekedar unsur pelengkap

Pembatasan maksimal 100 kata bukan alasan bagi Anda memposisikan karakter sekedar pelengkap belaka.

Penulis tetap harus berhati-hati dalam memilih karakter…., menentukan jumlah karakter…., memberinya peran…., dan memerankannya sesuai dengan tujuan kehadirannya dalam cerita.

Berhasil tidaknya moral cerita sampai kebenak pembaca tergantung pada keberhasilan karakter memerankan cerita.

Kedengarnnya susah-susah gampang ? 🙂

Tapi tenang…

Saya punya beberapa tips untuk membantu anda :

4 Tips menghadirkan karakter dalam flash fiction

#1 : Karakter harus melayani tungsi & tugas tertentu

Pertama-tama, Anda harus memahami bahwa karakter hadir dalam cerita untuk memenuhi sebuah fungsi & tugas tertentu.

  • Tidak ada karakter yang hadir tanpa kepentingan dalam cerita. Apakah karakter bersangkutan tokoh dominan dalam cerita, atau hanya pendukung ?
  • Setiap karakter hanya hadir untuk memerankan sebuah adegan/tindakan, atau dialog, yang fungsinya membawa alur cerita bergerak kedepan.
  • Setiap karakter dalam flash fiction sama pentingnya (kecuali jika cerita anda hanya berkisah tentang konflik internal satu tokoh).

Cerita saya yang berjudul Sebab Akibat menghadirkan sekitar 5 karakter sekaligus.

Peran kelima karakter sama pentingnya.  masing-masing bertugas mengucapkan satu baris dialog dan satu tindakan…. dan kelimanya mengantar pembaca memahami tujuan cerita yang hendak saya sampaikan.

#2 : Sebuah dialog menandakan kehadiran karakter

Bahkan jika Anda tidak menyebutkan nama karakter bersangkutan selama terjadinya dialog.

Makanya, dialog salah satu cara terbaik untuk menghadirkan karakter.

Dialog juga sekaligus cara termudah untuk menunjukkan, bukan mengatakan (show don’t tell) karakterisasi

Ketimbang memakai narasi, Anda bisa menunjukkan karakteristik, sifat, dan motif karakter, melalui kalimat, diksi, & gaya bahasa yang dipakai tokoh dalam berdialog.

Pembaca lebih mudah mengidentifikasi karakter melalui ucapan-ucapannya. Dengan kata lain, karakter lebih memungkinkan tampil  tiga dimensi lewat dialog.

#3 : Manfaatkan narasi

Banyak flash fiction 100 kata yang menyelipkan narasi 2 atau 3 baris kalimat pendek disela-sela dialog.

Narasi itu bisa berupa tindakan, gestur, atau mimik yang diperagakan karakter.

Jika Anda ingin menggunakan narasi, pastikan narasi itu bisa memperdalam karakteristik tokoh.

Karena itu, Anda sebaiknya memilih kata konotatif dan bermakna ganda, untuk memberi tekanan emosional tertentu.

Contohnya, mengganti kata Berjalan dengan :

  • Kata berjinjit, yang menampilkan kesan karakter sedang berhati-hati, awas, waspada
  • Kata Tertatih-tatih, yang melukiskan kesan tak berdaya, cedera/sakit, umur tua
  • Kata Mengendap-endap, memberi nuansa ketakutan, pencuri, musuh, gelap, malam, niat jahat

#4 : Jangan batasi jumlah karakter

Saya menemukan banyak artikel tips menulis di luar sana yang membatasi penggunaan karakter dalam flash fiction maksimal 2 – 3 karakter saja.

Saya kurang mengerti apa maksudnya.

Sebenarnya, selama Anda kreatif mengolah tema & sudut pandang penceritaan, jumlah karakter utama maupun karakter pendukung bisa lebih dari itu.

Jumlah karakter Anda tergantung pada jenis konflik yang hendak  Anda bangun, atau resolusi yang hendak Anda tuju.

Tidak perlu khawatir….  Anda bisa melihat penggunaan karakter sampai 6 orang pada flash fiction saya yang berjudul Sebab Akibat

Selanjutnya…

Bagaimana menurut anda ? Apakah anda punya pengalaman tentang cara menghadirkan karakter dalam fiksi ?

Saya ingin mendengar tanggapan Anda pada kolom komentar dibawah.

…dan jangan ragu berbagi artikel bermanfaat ini kepada teman Anda via facebook & twitter.

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia