3 Fungsi Dialog Yang Menentukan Baik Buruknya Fiksi Mini Anda

” Show, don’t tell “

Saya akan terus terang.

Pemakaian narasi dalam flash fiction bisa menjebak Anda untuk bermonolog.

Gaya menulis seperti itu membosankan pembaca. Mereka merasa disingkirkan disaat mereka ingin terlibat.

Bayangkan kejadian ini :

Anda mendengarkan Parto membacakan narasi cerita dari awal sampai akhir selama 1 jam…

…Atau Anda menonton Sule, Andre, Azis & Nunung berdialog dan memerankan adegan.

Karena dialog menghidupan cerita…

Ada 3 alasan mengapa dialog lebih hidup ketimbang narasi :

1. Dialog merepresentasikan karakter

Dialog menandakan kehadiran karakter dalam cerita.

Ada ucapan, ada orang.

Dengan kata lain, dialog sebenarnya merupakan cerminan karakter itu sendiri.

  • Melalui dialognya, pembaca bisa mendalami isi pikiran, sifat-sifatnya, serta posisi karakter dalam cerita
  • Melalui dialog, pembaca juga bisa mengetahui motif dan tujuan karakter

Cerita menjadi lebih hidup, karena dialog merepresentasikan banyak hal tentang karakter.

Anda menemukan fakta ini di dunia nyata, dimana Anda bisa menilai seseorang melalui ucapan-ucapannya.

….Dan yang terpenting, Anda mustahil menjelaskan karakter lewat narasi pada flash fiction 100 kata.

Bandingkan dengan dialog.

Anda cuma butuh 1 atau 2 dialog pendek untuk menggambarkan kepribadian seorang karakter.

*Baca juga artikel berjudul  4 Aturan Karakterisasi Dalam Flash Fiction 100 Kata

2. Dialog menunjukkan konflik

Tak ada konflik, tak ada cerita.

Anda bisa membayangkan apa jadinya jika Harry Potter tidak berkonflik melawan Lord..,Dia-yang-tidak-bisa-disebut-namanya ?

Tapi ingat, konflik dalam fiksi tidak melulu pertarungan pedang antara pahlawan vs. penjahat.

Konflik juga bisa tampil dalam bentuk perbedaan pendapat. Karena itu Anda bisa dengan mudah merekayasa sebuah dialog menjadi konflik. Ketika dua atau lebih karakter saling menegasi saat mengucapkan kalimat bertentangan, maka konflik pun tercipta.

Dialog menghidupkan cerita… karena mengandung konflik yang lansung memperhadap-hadapkan karakter.

Bandingkan dengan konflik yang digambarkan melalui narasi. Pembaca tidak melihat konflik, namun mendengar narator menceritakan konflik.

3. Dialog memaksimalkan show don’t tell

Bayangkan Anda menonton sandiwara diatas panggung. Anda melihat sendiri karakternya berdialog satu sama lain.

Lalu bandingkan dengan pentas monolog, ketika seorang narrator duduk ditengah panggung, menceritakan kisah kepada Anda.

Skenario pertama menunjukkan. Skenario terakhir mengatakan.

Mana yang lebih membosankan ?

Penonton sebuah sandiwara sama saja dengan pembaca sebuah buku. Jadi aturan yang berlaku sama saja ;  Tunjukkan, jangan katakan.

*Baca juga artikel khusus mengenai Show Don’t Tell.

Bagaimana menurut Anda ?

Jangan sungkan mengutarakan pendapat Anda pada kolom komentar dibawah…

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, ingat untuk membagikannya kepada teman Anda via  facebook & twitter.

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia