Flash Fiction; 100 Kata atau Lebih ?

Flash fiction merupakan kategori fiksi yang tidak stabil.

Istilah flash fiction memiliki beragam padanan yang kesemuanya merujuk pada bentuk cerita fiksi yang bisa dibaca -dalam pengibaratan- sekilat.

Seperti; sudden fiction, microfiction, micro-story, postcard fiction, dan short short story.

Selain nama, ketidakstabilan paling menonjol dikategori ini adalah persyaratan maksimal jumlah kata yang dipergunakan.

Konvensi para penulis fiksi mendefinisikan flash fiction sebagai cerita pendek yang lebih pendek dari cerita pendek tradisional (cerpen).

Permasalahan muncul karena jumlah kata pada cerpen tradisional cenderung fleksibel.

Beberapa koran –edisi hari minggu- mensyaratkan jumlah maksimal 1.000 kata bagi naskah yang ingin dimuat dihalaman cerpen.

Harian Kompas sendiri -dari beberapa sumber-  mensyaratkan maksimal 12.000 karakter termasuk spasi.

Kita bahkan bisa menemukan cerpen 10.000 kata lebih dalam banyak antologi.

Fleksibilitas cerpen pada akhirnya diwarisi komunitas penulis flash fiction Indonesia. Secara umum umum flash fition di Indonesia terbagi kedalam 4 kelompok besar, yang berbeda perspektif dalam menetapkan persyaratan maksimal jumlah kata.

Kelompok pertama menganggap kisaran 1.000 kata masih layak disebut flash fiction.

Contohnya bisa ditemui pada tags #flashfiction di kompasiana;

Kelompok kedua memberi batasan maksimal 350 kata (termasuk kedalam kelompok ini adalah Ubud Writer & Readers Festival 2010.

Mereka mensosialisasikan flash fiction melalui lomba The lash Fiction Challengesayang, panitia lomba tidak menjelaskan alasan menentukan syarat maksimal 350 kata-;

Kelompok ketiga memberi batasan maksimal 100 kata, diluar judul & nama pengarang, Contohnya bisa dilihat pada blog antojournal.com, dan;

kelompok keempat, yang dimotori olehAgus Noor mematok jumlah maksimal 50 kata.

Kelompok terakhir cenderung mencampurbaurkan (untuk tidak mengatakan; menyamakan) flash fiction dengan jenis fiksi imut a la novel 6 kata Hemingway; Dijual; Sepatu bayi.Belum pernah dipakai.

Belakangan, fiksi jenis ini semakin populer dengan sebutan fiksi mini berkat publikasi di mikroblog Twitter. (Saya sendiri lebih sepakat menamainya tweetfiction yaitu, fiksi mini maksimal 140 karakter yang dirilis melalui Twitter).

Tweetfiction jelas berbeda dengan flash fiction. Tweetfiction telah mapan dan berdiri sendiri dengan definisi (batasan) yang jelas (kecuali admin twitter.com merubah batas maksimal jumlah karakter dalam setiap postingan pengguna).

Maka, flash fiction mestilah cerita fiksi yang berada diantara tweetfiction dengan cerpen tradisional.

Saya mencermati flash fiction dengan jumlah maksimal 100 kata sepertinya yang paling massif, baik didalam maupun diluar negeri. Saya sendiri mengikutkan diri kedalam arus massif ini dengan dua alasan.

Pertama, angka 1.000 kata lebih, terlanjur disepakati oleh khalayak dengan sebutan cerpen.

Begitu pula dengan cerita fiksi antara 350 – 1.000 kata masih lazim kita temukan di koran-koran dengan nama cerita mini (cermin). Menamakannya kemudian dengan flash fiction tentu akan membingungkan pembaca.

Sementara, batas 50 kata juga masih terasa tanggung, dimana tingkat kesulitan –seni penulisannya- dengan cerita 100 kata, hampir sama. Tingkat kesulitan atau seni penulisan inilah yang menjadi alasan kedua saya;

Saya kira kelahiran flash fiction dipicu lebih karena para penulis hendak menguji kreatifitasnya untuk melahirkan karya dengan jumlah kata seminim mungkin.

Akarnya bisa ditelusuri pada proses kelahiran novel 6 kata Hemingway yang saya sebutkan sebelumnya (konon, awalnya Hemingway bertaruh pada temannya bahwa dia sanggup menciptakan novel hanya dalam 6 kata).

Para penulis ingin menjawab kemustahilan melahirkan cerita fiksi dalam jumlah kata terbatas, namun tetap memuat semua elemen cerita sebagaimana adanya cerita fiksi yang lebih panjang (cerpen, novelette, novel, epik) yaitu;  ada awal, tengah, & akhir; Menghadirkan karakter, setting, konflik, & resolusi.

Rata-rata penulis tidak menemui tantangan berarti dalam upayanya menulis cerpen pada kisaran 1.000 kata, atau cermin 350 kata.

Jumlah kata dalam kisaran demikian cukup longgar untuk menghasilkan cerita lengkap mulai dari awal, tengah & akhir, dan juga leluasa menghadirkan karakter, setting, konflik dan resolusi kedalamnya.

Tapi bagaimana jika anda ditantang menulis cerita dengan jumlah maksimal 100 kata ?

Tantangan ! Itulah maksud kelahiran flash fiction, sekaligus tiket bagi setiap penulis yang ingin memasukkan karya fiksinya kedalam kategori flash fiction.

Setiap tulisan selalu membuktikan mutunya sendiri sebelum dia membuktikan kelemahan tulisan lain (Nirwan Dewanto)

copyright @2010 by Rusdianto.

About Rusdianto

Penulis fiksi online & editor in chief indonovel.com. Kini bermukim di Makassar.
Rusdianto juga founder writepreneurs.com. Sebuah blog tips menulis posting blog, copywriting & content marketing. Anda bisa menghubungi Rusdianto via email anto@indonovel.com

Up date setiap posting terbaru kami lebih cepat & mudah dengan berlangganan via RSS Feed atau via Email. Tulis alamat email anda pada kotak dibawah lalu tekan OK.

Speak Your Mind

*