“ Cerita fiksi itu cuma 6 kata. Selebihnya imajinasi (Ernest Hemingway) “
Sungguh provokatif. Tapi tahukah anda, Hemingway telah menciptakan rumus dasar menulis cerita fiksi saat mernyatakan itu.
Rumus itu menekankan pada kesederhanaan, kelugasan, kejelasan, ketuntasan, mudah dimengerti & tentu saja menghibur, alih-alih berkutat dengan rentetan kalimat artifisial & literer yang berpotensi mengaburkan tujuan cerita.
Hemingway mengajak para penulis kembali ke kittah.
Fiksi adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka (Wikipedia).
Suatu waktu mungkin kita tanpa sadar telah keliru menafsirkan definisi ini.
Kerap kita menulis cerita fiksi dengan alur kesana kemari, meluas, melebar, tak jelas juntrungannya.
Bahkan di genre fantasy, pembaca menginterpretasi ceritanya berdasarkan pengalaman dunia nyata.
Pembaca menuntut cerita yang logis, dapat dipercaya, serta mudah dibandingkan dengan kenyataan.
Ini penekanan rumus Hemingway.
Lupakan aksesoris & ornamen yang tidak berkontribusi memajukan cerita: Ayahku matahari. Ibuku bumi. Semesta membesarkan aku dengan cinta seterang bulan purnama.
Guna membuktikan kebenaran teorinya, Hemingway merilis fiksi yang terdiri dari 6 kata saja di tahun 1920. Itulah novel terpendek sedunia:
For sale: baby shoes, never worn.
* * *
Mendadak saya teringat sesuatu saat merenungkan kembali teori Hemingway.
Berabad-abad sebelum dia merilis novel terpendeknya, sebenarnya telah lahir lebih dahulu sebuah fiksi pendek karya Gaius Julius Caesar :
I came, I saw, I Conquered.
Memang Julius Caesar tidak bermaksud menulis cerita fiksi. Enam kata itu lebih merupakan ungkapan atas refleksi perjalanan hidup sang penakluk dunia.
Sejarahlah yang kemudian secara alamiah mempopulerkannya lewat tradisi lisan keseluruh dunia.
Fakta hari ini membuktikan ungkapan itu telah menjelma sebagai salah satu karya literer terpopuler.
Hebatnya lagi, karya itu dalam versi aslinya hanya disusun oleh 3 kata; Veni, Vidi, Vici. (yakin pernah mendengar pemeo ini ?
)
* * *
Fiksi Panjang & Pendek Intinya Sama Saja
Pertanyaannya kemudian : “ apakah 6 kata itu layak disebut cerita fiksi ? “
Disadari atau tidak, generasi kita besar dalam pemahaman keliru. Kita terlanjur memahami fiksi sebatas karya-karya tradisional berbentuk novel atau cerpen, minimal terdiri dari 1.000 kata.
Logika kita serta merta menolak kemungkinan adanya ceritafiksi yang disusun oleh 6 kata saja. Boleh jadi Hemingway berniat mengolok-olok kita.
Tapi tidak kawan…Hemingway sungguh serius.
Saya belum menemukan literatur yang menyebutkan jumlah kata pada tulisan sebagai syarat penulisan cerita fiksi.
Panjang pendeknya cerita sekedar kategorisasi produk di industri penerbitan. Misalnya, 1.000 – 7.500 (cerpen), 7.500 – 20.000 (novelette), 50.000 – 110.000 (novel).
Lila Guzman, pengarang Ask the Author, mengatakan; Cerita yang lengkap adalah sebuah awal, tengah dan akhir.
Di sekolah kita juga diajari, bahwa sebuah cerita fiksi yang utuh, plotnya harus mengandung empat elemen cerita, yakni : karakter, setting, konflik, & resolusi.
Selama sebuah cerita memenuhi seluruh persyaratan itu, ia layak disebut cerita fiksi.
Sekali lagi, bukan karena panjang atau pendeknya. Kalau Hemingway mengatakan cuma 6 kata saja, karena mungkin menurutnya itu ambang minimal cerita fiksi dalam bahasa ibunya bisa memuat seluruh persyaratan tersebut.
Baiklah, untuk menyamakan persepsi, mari kita membedah karya Julius Caesar :
Aku datang, Aku lihat, Aku menang.
Cerita ini secara gamblang memperlihatkan awal, tengah & akhir.
Karakternya Julius Caesar (point of view orang pertama tunggal), konfliknya berupa peperangan antara pihak yang datang versus yang didatangi, settingnya bertempat di medan peperangan & berlatar zaman kejayaan kekaisaran Roma dibawah Julius Caesar.
Resolusinya juga jelas menyebutkan Julius Caesar sebagai pemenang setiap peperangan.
Tapi…
Yah, anda mau protes kan, sebab konflik & setting tidak eksplisit tertera dalam cerita.
Tapi anda tentu masih ingat teori Hemingway “ … selebihnya hanya imajinasi”.
Seorang penulis bisa membubuhkan imajinasi sampai beribu-ribu halaman guna menulis epos hidup Julius Caesar.
Berpangkal dari 6 kata itu, ribuan kalimat selanjutnya bisa berupa sekumpulan karakter pendamping, tempat-tempat peperangan, jalannya peperangan demi peperangan, tapi tidak dapat memungkiri kenyataan kalau epos itu sebenarnya tetap bisa diceritakan oleh 6 kata saja.
Malah karya Julius Caesar itu bisa diadaptasi kedalam beragam cerita fiksi lainnya.
Enam kata; I came, i saw, i conquered, dalam imajinasi seorang sutradara menjelma jadi skenario film Troy; Tentara Yunani (Achiles cs) mendatangi kota Troya, melihat situasi sebelum merancang strategi kuda troya dan akhirnya memenangkan perang.
Tolkien sadar tidak sadar juga memakai teori 6 kata + imajinasi Hemingway ketika menulis Lord of The Ring;
Frodo cs datang dari Shire ke Mordor, melihat-lihat situasi agar bisa membawa cincin ke kawah gunung api sebelum bisa mengalahkan mata jahat Sauron.
Harry Potter pun sebenarnya ditulis JK. Rowling menggunakan rumus ini;
Harry datang ke dunia sihir, Melihat-lihat situasi (Hogwarts), dan memenangkan pertempuran melawan Lord Voldemort ( Upps, maaf. Seharusnya dia-tak-boleh-disebut-namanya
).
* * *
Kelahiran Flash Fiction
Sejarah penerbitan tak lagi berpihak pada fiksi pendek pasca Hemingway. Kita memaklumi mengapa media cetak tradisonal (koran) tak menyisakan minat (dan kolom tentu saja) pada genre ini.
Kolom-kolom pada koran yang luas memang sengaja didesain untuk cerpen (termasuk cerbung) dengan kuota minimal 1.000-2.500 kata.
Lalu tiba-tiba, Bumm !
Manusia menemukan internet. Era kedigdayaan koran pun runtuh. Internet dengan segala fiturnya memungkinkan setiap orang bisa mempublikasikan karya fiksinya sendiri.
Dan berita bagusnya adalah; Gratis !
Fiksi pendek ala Hemingway seolah bangkit kembali dari tidur panjangnya, dan menemukan wadah yang sangat tepat di internet berkat kemunculan salah satu fitur microblog bernama Twitter.
Twitter adalah kegiatan nge-Blog dengan karakter terbatas (mikro), yakni 140 karakter.
Twitter memungkinkan penggunanya (Tweeple) mengirim pesan tertulis (tweet) dalam kuota 140 karakter yang bisa diakses para followers-nya.
Tweet dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi : Menciak (dari kata dasar ciak).
Ciak menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern (Muhammad Ali, Pustaka Amani/Jakarta) diartikan sebagai bunyi seperti bunyi/kicau anak burung menciap); Tuwit..tuwit….
Media sosial ini dilirik oleh mereka yang hobby menulis fiksi guna menghidupkan kembali tradisi menulis fiksi pendek ala Hemingway.
Tweeps berlomba-lomba mengicaukan karya-karya fiksi mereka di twitosphere.
Bahkan ada akun bernama @fiksimini yang khusus menayangkan fiksi pendek yang di-retweet (RT) dari para followersnya.
Disatu sisi twitter memungkinkan para penulis fiksi melatih teknik memadatkan cerita. Pembaca disisi lain, menemukan keasyikan tersendiri saat membaca fiksi-fiksi mungil semacam ini.
Kesingkatan dan kesekejapannya terasa menggugah dan punya estetika tersendiri. Dibaca sekejap namun menimbulkan kesan mendalam dan lama, sama seperti kita membaca fiksi panjang (cerpen & novel).
Setahun belakangan ini, trend menulis fiksi mungil via twitter menjadi kategori tersendiri dikalangan penulis dan pembaca fiksi tanah air, hingga mulai disosialisasikan dengan nama fiksi mini.
Saya sendiri kurang sepakat dengan pemberian nama fiksi mini. Sebutan tu tidak punya differensiasi tegas.
Selama ini frasa cerita/fiksi mini terlanjur dipakai untuk menamai fiksi pendek 1.000 kata yang populer di koran-koran dengan nama cermin (cerita mini).
Saya lebih suka menamai cerita fiksi dalam 140 karakter dengan sebutan : tweetfiction. Nama ini menarik garis demarkasi yang jelas antara fiksi maksimal 140 karakter dengan cerita/fiksi mini ala koran.
Nama ini juga membatasi dirinya hanya pada fiksi yang dipublikasikan (di-tweet) dari dan oleh pengguna twitter.
Singkatnya, definisi tweetfiction adalah cerita fiksi maksimal 140 karakter yang dipublikasikan (di-tweet) penulisnya melalui twitter.
Contoh & tips menulisnya diulas di artikel tips menulis tweetfiction..
Sayangnya semangat untuk memasyaratkan tweetfiction tidak dibarengi disiplin yang ketat.
Karena kesekejapan & kesingkatannya sehingga terkesan digampangkan. Syarat awal, tengah, akhir + 4 elemen cerita kerap diabaikan.
Tak ayal lagi, sering kita temui tweet berupa; puisi, cukilan ide, sketsa gagasan, adagium, pemeo, jargon, potongan dialog, yang diklaim penulisnya sebagai tweetfiction.
Tapi apapun itu, trend menulis tweetfiction sungguh hal yang sangat positif.
Mari kita awali dengan kuantitas. Kualitas akan menyusul kemudian dengan sendirinya.
* * *
copyright @2010 by Rusdianto

Terimakasih infonya…
Aww… jadi lebih tepatnya tweetfiction ya? Boleh juga…
lalu berarti fikmin tidak ada sama sekali,,,,?
mungkin karena kaburnya dari segi kuantitas karakter pada penulisannya inilah yang pada akhirnya membuat sulit menarik batas garis batasan mana fiksi mini atau tidak, karena dengan singkatnya twitfiction tetap dapat diselesaikan,,,,,
fiksi mini jd induk, yg memayungi semua jenis fiksi dgn karakter atau kata berkategori mini. termasuk diantaranya cerita mini (cermin) ala koran ; -500 kata, flash fiction : – 100 kata & tweetfiction : -140 karakter…
makasih banget infonya, Mas. Mari berlatih menulis Tweetfiction! (FiksiCiak mungkin ya kalo dibahasa Indonesia keun hihi
)
sama2.. iya, fiksi ciak.. cuma adaptasi istilah asing ke dalam bahasa Indonesia akan lebih baik dlm rangka pengayaan bahasa kita…