Kicau (140 Karakter) Jadi Buku ?

“ …Lalu, saya melirik ke Twitter saya dan naskah saya. Kebetulan, buku kumcer saya ini merupakan kumpulan cerpen yang di setiap cerpennya disematkan  prosa. Prosa-prosa tersebut hasil saya berkicau di Twitter yang telah di re-tweet oleh @puisikita… “

nulisbuku.com, online self publishing, penulis fiksi, cerpenTweet. Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Ciak; bunyi atau suara anak burung berkicau –sekarang anda tahu asal mula logo twitter -.

Bagi Nuzula Fildzah, aplikasi microblogging ini bukan sekedar ajang eksistensi diri, tweeto ergo sum (aku nge-tweet maka aku ada).

Wanita kelahiran 10 januari ini memanfaatkan jatah 140 karakter untuk menanam benih, sebuah prosa, yang kemudian tumbuh menjadi cerpen dan berbuah buku.

Bagaimana prosesnya, ikuti obrolan tertulis indonovel.com (INC) dengan penulis yang juga wirausaha prewedding berikut ini :

INC : Sebelumnya, selamat yah atas terbitnya ‘Aku Berkicau’. Bisa dijelaskan prosesnya, bagaimana sampai ‘kicauan’ anda jadi buku ?

Zula : Pada tahun 2010 lalu, memang saya punya keinginan menerbitkan kumpulan cerita saya, yang saya publish dari myjalah ( sebuah majalah elektronik ) dan yang belum di publish.

Mungkin suratan dari Ilahi, sebuah penerbit self publishing meluncurkan sebuah acara yaitu 99 writers. Dalam acara itu penerbit tersebut mencari 99 Menulis untuk menerbitkan buku yang sudah siap cetak.

Saya hanya diminta mengirimkan naskah yang sudah ready dan cover buku. Dan Alhamdulillah, saya masih medapatkan kesempatan karena saat itu belum terkumpul 99 orang.

Penerbit ini bernama nulisbuku.com bekerjasama dengan Mizan Digital, tanpa pikir panjang lagi, saya pun mengikutsertakan karya saya dan saya beri judul ” AKU BERKICAU “.

Kembali mengucap syukur, karya saya diterima teman-teman penikmat kicauan saya dan mendapat dukungan hingga sekarang.

INC : Kenapa memberinya judul ‘Aku Berkicau’ ? Apa anda terinspirasi oleh fenomena Twiter ?

Zula : Bermula dari kebingungan saya memilih judul buku kumpulan cerpen saya ini.

Saya sempat bertanya pada beberapa penulis salah satunya Mbak Zeventina, beliau awalnya menyarankan saya untuk memberi judul antologi cerpen nuzula.

Namun, saya pikir siapa saya? Saya masih penulis junior kok. Rasanya judul itu kurang Menjual.

Lalu, saya melirik ke Twitter saya dan naskah saya. Kebetulan, buku kumcer saya ini merupakan kumpulan cerpen yang di setiap cerpennya disematkan  prosa.

Prosa-prosa tersebut hasil saya berkicau di Twitter yang telah diretweet oleh @puisikita. Dari sanalah ide saya muncul membuat cover bergambar Burung yang mengicaukan cinta.

Namun, lihatlah cover saya itu, burungnya memiliki ekor yang tidak seperti ekor burung sewajarnya. Itu memiliki filosofi tersendiri loh. Ekor burung tersebut menyimbolkan kisah kehidupan yang tidak lurus, jalan kehidupan yang berkelok-kelok namun tidak luput akan sebuah rasa yaitu ‘cinta’.

INC : Kenapa memilih jalur online self publishing (nulisbuku.com) ?

Zula : Saya memilih jalur ini karena melihat masih banyak penerbit besar yang melirik genre kumcer. Mereka lebih tertarik menerbitkan novel.

Dan untuk meloloskan  planning saya di tahun 2010 untuk menerbitkan buku, tidak ada salahnya jalur indie saya pilih untuk buku pertama saya.

Walaupun, akhirnya saya memiliki dua buku yang di dalamnya ada cerpen saya berkaloborasi dengan penulis-penulis lainnya. Jadi lebih dari satu buku deh. Hehehe…

INC : Anda awalnya adalah blogger, bukan ? Jika dibandingkan dengan fiksi terbitan media konvensional. apa penilaian anda terhadap mutu karya fiksi media online ?

Zula : Saya memang berawal dari seorang gadis yang menerbangkan khayalan fiksi saya di sebuah rumah maya yaitu blog. Dari sanalah karya saya dilirik dan saya menjajahkan diri sebagai cerpenis.

Menurut saya, sebuah karya tidak bisa dinilai bagus atau tidaknya dari sana saja.

Karena, banyak juga loh karya-karya fiksi menarik yang tidak kalah bagusnya dari buku-buku kumcer fiksi yang telah diterbitkan oleh media konvensional. Seperti yang dilahirkan dari komunitas-komunitas maya, seperti kompasiana, kemudian.com, dll.

Karena banyak bibit-bibit penulis lahir dari komunitas-komunitas tersebut. Walaupun ada juga yang kurang bermutu.  Namun, tetap saja jika karya kita mau lebih diakui, patenkanlah lewat sebuah buku, tentunya karya terbaik yang kita miliki, agar pembaca puas dan merasa bahagia. Pasti lebih dihargai dan orang akan lebih nikmat membaca yang sudah tercetak.

Itu menurut saya.

….Aku Berkicau, adalah kumpulan 8 (delapan) cerita pendek bertema ‘bukan cinta biasa’, Buku setebal 112 halaman ini, terbit perdana pada acara 99 writer yang diadakan oleh nulisbuku.com – mizan digital. Setiap cerita diawali dengan prosa, yang bermula dari kicau Zula yang di retweet @puisikita. Cerita 140 karakter bisa bermetamorfosa menjadi buku, mestilah ini bukan cerita biasa…

INC : Banyak buku yang awalnya merupakan tulisan-tulisan di media online. Ada saran praktis dari anda, buat blogger yang ingin membukukan tulisan-tulisannya ?

Zula : Percaya diri untuk terus mempromosikan karyanya di dunia maya.

Blogwalking untuk saling mengomentari karya-karya teman blogger yang suka juga dalam dunia menulis.

Dari sanalah kita akan mendapatkan kerabat untuk mengoreksi, mencintai, dan mendukung karya kita 🙂

INC : Boleh minta tips, apa saja langkah yang mesti ditempuh agar tulisan-tulisan kita di blog (media online) bisa menjadi buku ?

Zula :

1.       Pastikan karya anda menarik. Tahu menarik dari mana? Tentunya dari komentar-komentar yang masuk.

2.       Tentunya Blogwalking!

3.       Mulailah merapihkan karyamu ke dalam format A4.

4.       Tentunya kalau kamu mau menawarkan karyamu ke penerbit besar, print, buat semenarik mungkin kemasannya lalu kirim! Jika ingin self publishing, tentukan yang paling oke pemasarannya. Dan langsung kirim soft naskah beserta cover!

5.       Dan tadaaaa! Jika karyamu lolos, langsung promosiin sehebring mungkin! Jangan enggak PD YA!

INC : Harus diakui, mutu editing karya fiksi di blog yang dikelola sendiri patut dipertanyakan ? Begitu juga online self publishing, dimana penulis merangkap editor (pihak  nulisbuku.com tidak menyediakan). Lalu bagaimana cara agar bisa bersaing dengan produk penerbit mainstream ?

Zula : Minta bantuan teman yang mengerti EYD dan penulisan, untuk mengoreksi editingan naskah kita 🙂

Atau sudah banyak loh jasa editor lepas, manfaatkan saja! Walau harus pakai biaya tapi wajarlah 🙂

INC : Saya mengamati, menulis fiksi di blog, juga menerbitkan buku di jalur online self publishing, semata penyaluran hobby, atau demi kepuasan pribadi. Anda sendiri  tidak bercita-cita jadi penulis professional ? atau menulis dengan motif ekonomi ?

Zula : Saya pribadi diawali dari menulis cerpen di majalah, jadi ketagihan dan jujur saya ingin menekuni dunia sastra. Tentunya seorang penulis professional.

Semoga  diluruskan jalan saya. Amin.

INC : Karena sifatnya personal, Kita banyak temukan tulisan di blog hanya ‘curahan hati’ berkedok cerpen 🙂 Saran anda, bagaimana menulis cerpen  yang baik ?

Zula : Memang bayak suatu karya fiksi cerpen mengangkat kehidupan penulisnya sendiri. Namun, saran saya jika memang ingin menjadi penulis, cobalah menulis cerpen di luar pribadi kita.

Cobalah keluar dari pemikiran wajar anda. Yang terpenting adalah menciptakan karya yang membuat orang nyaman, penasaran , dan berdecak kagum. Setidaknya membuat pembaca tersenyum bahagia.

INC : Setelah ‘Aku Berkicau”, ada rencana menerbitkan buku lagi ?

Zula : Insya Allah ada. Doakan ya !

INC : Pasti, terima kasih.

Pembaca, kini anda percaya kicau bisa jadi buku, bukan ?

Berawal dari kicauan (tweet) di twitosphere, kembang jadi cerita, dan berakhir di online self publishing.

Cepat, mudah & murah. Hanya butuh modal kemauan. Nuzula Fildzah telah membuktikannya, dan sekarang giliran anda.

Bila butuh informasi lebih lanjut, silahkan hubungi penulis yang akrab disapa Zula ini via e-mail . sheila.fildzah@yahoo.com & pesanbuku.zula@gmail.com jika anda ingin memiliki buku kumcer ‘Aku Berkicau’.

Copyright @2011 indonovel.com

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia