Internet telah merubah aturan main cara menerbitkan buku.
Sedikitnya ada 2 alasan yang menopang pernyataan diatas;
Pertama, kini semua orang punya peluang yang sama untuk menjadi penerbit buku -selama mempunyai tulisan- tanpa perlu sokongan dana besar.
Kedua, Internet memangkas waktu & birokrasi penerbitan yang berbeli-belit. Sekarang ini penulis tinggal mengunggah naskah ke situs penyedia layanan online self publishing, dan pada hari yang sama, idealnya buku juga bisa lansung dicetak.
Ketiga, penjualan buku tidak memerlukan tempat/toko fisik. ‘Buku’ cukup dipajang di sebuah online store, dimana pembeli memesan dan membayar harga buku hanya dengan menekan mouse.
Yah, kita telah tiba di era online self publishing yang mengaplikasikan sistem print on demand (PoD).
Salah satu pemain global terbesar di bisnis online self publishing yang mengaplikasikan sistem PoD, adalah www.lulu.com, didirikan tahun 2002 oleh Bob Young. Oktober 2010 kemarin, layanan yang sama juga muncul di tanah air, melalui www.nulisbuku.com. Dalam 2 bulan terakhir, saya mengikuti antusiasiasme para penulis menyambut kehadirannya, khususnya yang bergiat di jalur indie.
Per 4 januari 2011 saya mencatat ada 176 judul buku dari semua semua kategori terpajang di marketplace-nya nulisbuku.com Luar biasa. Saya menginventarisir sedikitnya ada 7 alasan dibalik antusiasme para penulis buku tersebut :
1. Buku produk online self publishing adalah passive income.
Produksinya tidak terbatas dan selalu tersedia sepanjang penulisnya masih ingin menjualnya. Aturan ini tidak berlaku pada produk penerbit mainstream yang dibatasi ‘jam tayang’-nya.
2. Proses penerbitan tidak birokratis.
Konon, penulis yang mengirim naskah buku kepada editor penerbit mainstream, paling tidak membutuhkan 3 bulan untuk memperoleh kepastian bukunya layak cetak atau ditolak. Sementara bila menempuh jalur online self publishing, ibarat naskah anda mengendarai mobil di jalan tol lansung ke mesin cetak.
3. Kendali Penuh di Tangan Penulis
Situs penyedia layanan online self publishing sejatinya bukan penerbit. Penulis sendirilah yang jadi ‘penerbit’. Semua kendali ada ditangan penulis bersangkutan, mulai dari; isi, judul, desain isi, sampul, jumlah halaman, bahkan promosi sampai pemasaran pun boleh ditangani lansung penulis bersangkutan.
4. Modal Awal penerbitan buku relatif murah
Untuk tidak mengatakannya gratis. Di nulisbuku.com misalnya, anda cukup menimpa naskah diatas template (termasuk sampul) yang telah disediakan à convert ke PDF à unggah. Selanjutnya naskah akan dicetak 1 (satu) eksemplar, dan anda diminta untuk membelinya. Bila anda puas dengan prototype buku tersebut, selanjutnya anda praktis hanya mempromosikan buku anda itu, lalu buku ke-2 dan seterusnya hanya akan dicetak jika ada pembeli.
5. Waktu penerbitan buku cepat
Ini berkaitan erat dengan point 3. Lama pendeknya waktu penerbitan, tergantung sepenuhnya pada keuletan penulis sendiri.
6. Royalty penulis buku relatif besar
nulisbuku.com memberi royalty bagi penulis sebanyak 60 % dari laba (harga jual dikurangi ongkos produksi). lulu.com malah berani memberikan sampai 80 %. Bandingkan saja dengan penerbit mainstream yang secara umum mematok royalty rata-rata 8 – 10 %.
7. Tidak Mengenal Istilah Kelebihan Stock Buku
Namanya juga print on demand (PoD), dicetak –hanya- bila ada pemesanan. Strategi ini cukup jitu, mengingat pasar buku, khususnya kategori fiksi sukar diprediksi. Jadi praktis buku tidak memerlukan gudang penyimpanan. Konsekuensi positif lainnya adalah limbah yang dihasilkan oleh proses produksi, juga sedikit.
Anda penulis, tertarik mempelajari cara menerbitkan buku dijalur ini ?
Tunggu dulu.
Karena tidak ada sistem yang sempurna, jadi saya harap anda juga menyempatkan membaca artikel 7 kelemahan online self publishing sistem print on demand.
copyright @2011 Rusdianto

makasih atas infonya daeng, anto.
sepertinya saya mengenal nama rusdianto, anak sosek unhas 95. mudah2 saya tidak salah.
fajar soil’ 95 ? saya kenal..
bagaimana kabar tamin, yudi, ade bagus, dkk..
salam….