3 Tips Dari Novelis Ternama Untuk Memperkaya Novel Anda

cara menulis fiksi yang baik

Berikut ini cara memperkaya novel Anda seperti karya novelis ternama…

Apakah Anda sering merasa cemburu, kagum, atau heran, saat membaca novel yang bagus ?

Sampai-sampai Anda berkesimpulan bahwa menulis fiksi adalah bakat bawaan lahir.

(Alih-alih berkesimpulan itu hasil proses belajar & berlatih).

Saya sendiri memilih kesimpulan terakhir.

Saya merasa tidak punya bakat menulis.

Jadi saya lebih berusaha mempelajari bagaimana cara menulis novel yang baik seperti mereka…. Karena bila perhatikan, cukup mudah mengenali tulisan para novelis ‘berbakat’ itu -Anda mungkin menyebut itu sebagai ciri khas.

..Dan sadar atau tidak, yang dimaksud dengan ciri khas itu tersusun oleh pola-pola tertentu.

Nah, pola-pola tertentu itulah yang bisa Anda ikuti untuk bisa menulis bagus seperti mereka.

..dan berikut 3 diantara pola-pola tersebut yang sering saya temui dalam karya-karya mereka :

1. Kaya kosa kata

Imajinasi butuh medium untuk terungkap. Itulah Kata.

Menurut Gorys Keraf, semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan/ide yang dikuasainya dan yang sanggup diungkapkannya.

Penulis ‘berbakat’ kaya akan diksi (pilihan kata).

Mereka mampu memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan gagasan karena beragamnya pilihan kata –yang mereka tahu-.

Sulit menyukai tulisan yang terbangun dari kata-kata ‘pasaran’ (denotatif) saja.

Kata ‘berjalan’ misalnya, ditangan penulis ‘berbakat’ dapat diberi tekanan emosional tertentu (konotatif).

Dengan kekayaan padanan kata yang diketahuinya, mereka bisa mengganti kata ‘berjalan’ dengan ; mengendap-endap, berjinjit, melenggang, gontai, tersaruk-saruk,

2. Tajam mata (sebelum tajam pena)

Dalam Bilangan Fu, Ayu Utami begitu royal memakai istilah-istilah teknis rock climbing.

Taruhan, ‘Bilangan Fu’ tidak akan sebagus itu seandainya Ayu Utami tidak ‘mengalami’’ sendiri pemanjatan tebing.

‘Mengalami’ berbeda dengan ‘memikirkan’.

  • The Inheritance of Loss akan dipenuhi kalimat-kalimat tumpul, seandainya Kiran Desai tidak tajam ‘mengalami’ krisis identitas sebagai orang india..
  • Apa jadinya Middle Sex sekiranya Jeffery Eugenides tidak ‘mengalami’ dirinya sebagai orang Yunani di Detroit ?
  • Booker prize tidak akan diberikan pada novel Too Kill The Mocking Bird seandainya Harper Lee hanya ‘berandai-andai’ sebagai orang Alabama.

Sebagai pembaca, saya sering menemukan tulisan bagus, dan saya tahu penulisnya hanya ‘memikirkan’ namun tidak ‘mengalami’ sendiri tulisannya.

Tapi saya selalu menemukan nilai ‘lebih bagus’ pada tulisan berdasarkan pengalaman.

Pena yang tajam hampir pasti bersumber dari mata yang tajam.

Fiksi bersumber dari imajinasi. Imajinasi bersumber dari pengalaman.

Lihat bulan, lalu tulislah tentangnya. Anda akan kewalahan menerima serbuan imajinasi, tentang bulan, datang dari segala arah.

Bandingkan dengan usaha menulis tentang kuda, atau perahu pinisi, yang informasinya semata dari bacaan & tuturan orang. Hasilnya datar, kering, karena imajinasi kita datang dari sumber sekunder, Dorongan liar berimajinasi Anda akan tersandera perasaan ‘takut salah’.

Ingat, Dewi Lestari rela ‘mengalami’ jadi anak kost selama 60 hari demi menulis novel Perahu Kertas.

3. Kaya referensi (membaca sebelum menulis)

Saya curiga, penulis ‘berbakat’ itu lebih banyak membaca ketimbang menulis. Itu perilaku terbaik mereka yang bisa Anda contoh. (Kecuali ingin tulisan Anda hanya di baca oleh diri Anda sendiri).

Para penulis ternama itu tahu bahwa :

Sebuah buku pada dasarnya hanya bercerita tentang buku sebelumnya —> Click to tweet

Tentu saja tidak ada yang menyarankan Anda meniru. Juga tidak ada yang menghalangi inovasi Anda untuk menciptakan hal baru. (Memang ada hal baru dibawah kolong langit ini ?)

Otak Anda ibarat bank data.

Bacaan mengisi saldo Anda. Menulis butuh modal, yang tentu didebet dari rekening otak.

Data-data yang terekam akan menstimulasi imajinasi. Bacaan memperkaya imajinasi, imajinasi memperkaya tulisan.

Bacaan memperkaya korelasi, saat otak mampu menjangkau kesalinghubungan antara berbagai hal yang sepertinya tidak.

Novel Middle Sex kaya….hanya karena otak Jeffrey Eugenides kaya akan bacaan Sejarah, medis, psikologi, ekonomi, budaya dan seni.

Hmmmm…

Sepertinya ketiga saran menulis novel diatas lebih ditujukan kepada diri saya sendiri 🙂

Bagaimana dengan Anda ?

Saya ingin mendengar tanggapan Anda pada kolom komentar dibawah…

… Dan jika Anda merasa posting ini bermanfaat, jangan ragu untuk berbagi kepada teman Anda via facebook & twitter.

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia