3 Penyebab Mengapa Mutu Cerpen Online Dipertanyakan

Penulis cerpen tentu saja salah satu yang paling diuntungkan oleh revolusi dunia publikasi

Pada masa lalu, naskah cerpen bertumpuk dimeja redaksi ibarat keran macet. Lalu tiba-tiba, boom ! Internet datang membuka keran tersebut.

Masyarakat tiba-tiba dibanjiri oleh ribuan karya fiksi yang terbit setiap hari di dunia maya, terentang mulai dari kategori tweetfictionflash fictioncerpencerbung – novelette, sampai novel.

Namun saya mencermati dalam 2 tahun terakhir, fakta malah menunjukkan gejala dimana mutu karya fiksi dunia maya justru semakin merosot dimata pembaca. Kuantitas kembali berbanding terbalik dengan kualitas. Volume cerpen yang terbit tidak dibarengi dengan cara penulisan cerpen yang mumpuni.

Jarang terdengar ada kritikus kompeten yang ‘ikhlas’ mereview karya fiksi terbitan media online.

Coba anda selidik, ada berapa karya fiksi terbitan media online yang pernah dinominasikan mendapat award oleh institusi kredibel dibidang ini ?

Mengapa ?

Menelusuri jejak pertanyaan diatas akan membawa kita pada akar permasalahan. Kemudahan publikasi yang ditawarkan oleh internet ternyata menjadi bumerang disisi lain.

Sedikitnya, saya menginventarisisr 3 penyebab mengapa kemewahan publikasi yang ditawarkan jagat maya, malah membuat para penulis cerpen abai dalam mengasah teknik menulis cerpen.

1. Subjektifitas Dalam Mengedit Tulisan

Media personal semacam blog, menempatkan pemiliknya sekaligus editor atas tulisannya sendiri. Subjektif tentu saja, pun bila penulis menunda postingannya selama 1-2 hari untuk menjaga jarak.

Mengedit berbeda dengan menulis. Itu butuh skill tersendiri. Membenarkan ejaan cuma bagian terkecil dari proses editing.

Menjadi editor menuntut objektifitas menilai karya secara utuh, mulai dari; tema, plot, karakter, setting, konflik & resolusi. Tidak terkecuali dialog, tempo & gaya bahasa. Rasa-rasanya, itu mustahil dipenuhi oleh penulisnya sendiri.

2. Fiksi Terlalu Bersifat Personal

Blog sejatinya adalah diary online . Ciri ‘catatan harian’ ini masih kental terbaca pada kebanyakan tulisan fiksi yang diposting di blogosphere.

Ada banyak ditemukan curahan hati yang diposting berkedok karya fiksi (curcol).

Pengalaman pribadi hanya salah satu sumber gagasan menulis cerpen.

Penulis yang cerpennya melulu bersumber dari curahan hati,  seolah-olah berusaha menutupi ketidakmampuannya menulis tema lain.

3. Karya Fiksi Tidak Kompetitif

Kebanyakan karya cerpen yang diposting di blog bersumber dari satu penulis saja, yaitu pemilik blognya sendiri.

Selama blogger bersangkutan merasa percaya diri –ditambah sedikit rasa tidak peduli-, karya fiksi diposting tanpa ada seleksi.

Tidak ada kompetisi, selayaknya seleksi naskah fiksi yang dimuat dimedia cetak tradisional.

Cerpen –tidak semua, sih- yang misalnya dimuat di koran Kompas edisi hari minggu, paling tidak adalah pemenang dari proses seleksi yang diikuti oleh ratusan karya fiksi sejenis.

Bagaimana menurut anda, pembaca ?

Article copyright @2011 Rusdianto

Langganan Indonovel (Gratis)

Pastikan Anda membaca setiap posting Indonovel berikutnya. Segera berlangganan (gratis) via email sekarang :

.
About Daeng Anto

Founder indonovel.com™. Penggemar Sting, Levi's, nonton tinju, molen bandung, warna abu-abu & angka 7. Kini dia betah bermukim di Makassar...oleh sebab -katanya- sunset di Makassar juara satu sedunia